
Sean mengabaikan chat Celine yang masuk berturut-turut ke ponselnya. Dia bahkan mematikan nada dering agar tidak mendengar suara berisik ponselnya yang berdering terus menerus.
Dia tidak habis pikir, kenapa cewek itu tidak mengerti bahwa dirinya sedang marah.
"Kamu bicara apa ke Mary?" kemaren dia bertanya pada Celine yang masih berdiri di tepi kolam renang.
Celine menoleh dan bahkan bertanya balik apa Mary mengatakan sesuatu padanya.
"Aku tahu dari Misha jika kalian tadi sedang bicara disini," Sean merasa ingin marah, dia sangat yakin Celine pasti berbuat sesuatu pada cewek itu.
"Apa sih maksud kamu ganggu dia?!"
Seingat Sean bukan sekali dua kali Celine selalu melabrak cewek-cewek yang dekat dengannya, meskipun hanya sebatas teman. Apa sih maunya?!
Lagipula, Mary...
Kenapa Celine melabrak Mary?
Kenapa Mary?
Apa yang Celine tahu?
Apa mungkin Celine bisa membaca hati?
"Istrimu ngechat mulu nih dari tadi, nanya kamu ada dimana?" Okan menoleh pada Sean yang menengkurapkan kepalanya di atas meja. Saat ini Sean, Okan dan Ragil sedang berada di ruang klub organisasi fakultas mereka.
"Biarin aja!" Sean menjawab ketus, tetap memajamkan mata.
"Hmm, kayaknya ada pertengkaran rumah tangga nih.." Ragil menggoda.
"Emang ada apa sih?" Okan penasaran, "Kamu kelihatan bete banget sejak tadi pagi!"
Sean menegakkan punggungnya, "Sandra kayak gitu juga gak sih?"
"Kayak gimana?" Okan tidak mengerti kenapa Sean menanyakan pacarnya.
"Apa Sandra juga suka ganggu temen-temen cewek di sekitar kamu.."
"Oh, aku ngerti.." Okan manggut-manggut menangkap maksud Sean, "Bukannya Celine emang cemburuan kayak gitu sejak dulu. Kenapa kamu baru bete sekarang?"
Sean hanya terdiam.
"Tapi aku penasaran.." Ragil menyambung, "Siapa cewek kali ini yang diganggu Celine sampai bikin kamu bete begini.."
Lagi-lagi Sean tidak menjawab. Pikirannya menerawang jauh.
"Dia kayak gitu karena dia suka banget sama kamu. Kamu harus ngerti dia.." Okan memberi nasehat untuk temannya.
"Kan, masih inget gak acara kemping di gunung waktu kita kelas 2 SMA?" Ragil bertanya pada Okan yang masih asyik menghisap rokok. "Kamu inget, Sean jatuh dari jembatan pas acara outbond?" lanjutnya.
"Tangan dia patah kan?" Okan terkekeh. Sebenarnya tidak patah, hanya terkilir namun lumayan parah. Gara-gara kejadian itu, acara outbond bahkan langsung dihentikan oleh pembina.
"Aku masih inget Celine semalaman menjaga dia di tenda. Cewek itu bahkan bikin bubur nasi yang asinnya luar biasa. Inget?"
Ragil dan Okan terkekeh mengingat kejadian itu. Sejak saat itu mereka bersumpah tidak akan mau mencicipi masakan apapun yang dibuat Celine lagi.
"Dia merawat Sean bahkan memijit kakinya semalaman.." Okan masih mengenang.
"Dan waktu itu aku bilang kalau Celine itu tipe cewek idaman buat diajak berumah tangga. Inget kan?" Ragil tertawa.
"Terus setelah itu kamu berusaha menggoda Celine kali aja dia kepincut sama kamu?" Okan kembali terkekeh melihat raut muka Ragil yang kemerahan.
"Jangan dengerin, dia bohong!" Ragil melambaikan tangannya ke Sean yang tengah duduk dengan satu kaki di atas kursi.
"Tapi Celine gak tergoda sama cowok manapun. Si Jacky anaknya gubernur aja gak digubris apalagi kamu!"
Ragil memiting leher Okan, "Brengsek. Temen macam apa kamu ini!" selorohnya.
"Dia cuma cinta mati sama Sean yang bahkan saat itu gak peduli sama sekali!" Ragil tersenyum getir.
"Tahu nggak, kamu tuh beruntung bisa dapetin Celine. Dia cantik, kaya, pinter dan setia.." lanjut Ragil sambil menatap Sean yang hanya tercenung sejak tadi, "Jadi jangan sia-siain cewek kayak gitu. Kamu bakal susah dapetin paket komplit yang kayak gitu di luaran sana.."
Tiba-tiba suara pintu berderit, Celine nyelonong begitu saja tanpa menutupnya kembali.
"Panjang umur, baru aja diomongin.." Okan bergumam sendiri.
"Sean.." Celine menghambur pada Sean.
Sementara Sean melirik Okan dengan kesal. Pasti dia yang sudah memberitahu Celine kalau dirinya ada disini.
Okan cengengesan.
"Kamu kenapa sih?" Celine menuntut penjelasan, "Kamu marah cuma gara-gara aku bicara sama cewek itu?"
__ADS_1
Sean kesal mendengarnya, "Kamu sadar tindakanmu keterlaluan nggak sih?"
"Aku cuma ngasih tahu dia kalau aku sama kamu dalam hubungan yang serius. Jadi aku minta dia hati-hati.." Celine berkata pelan.
"Hati-hati apanya. Aku dan dia gak punya hubungan apa-apa selain dia guru les Misha dan kita satu kelompok dalam tugas kuliah!"
"Emangnya aku nggak tahu kamu sering nganter dia pulang setelah mengajar Misha?" Celine bertanya sedikit keras.
"Emangnya aku nggak tahu bukan kebetulan kamu nolong dia di bioskop waktu itu?"
Sean ingin bicara, tapi dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku kenal kamu dengan sangat baik, Sean!" Kali ini suara Celine mulai bergetar, dia menatap dalam kedua mata cokelat mata pekat milik Sean, seolah dia bisa membaca di balik semuanya.
"Dan kenapa kamu ngasih dia gantungan tas yang aku kasih waktu itu?"
"Itu cuma gantungan tas. Aku bisa beliin kamu yang lebih bagus.." Sean menurunkan suaranya.
"Tapi aku nggak suka!" Kali ini Sean bisa melihat mata Celine yang memerah, "Aku nggak suka. Kamu bisa ngerti?"
"Terlalu banyak yang kamu pikirkan. Kamu terlalu cemburu untuk sesuatu yang gak mungkin.." Sean tercenung seolah kalimat yang baru saja dia ucapkan membuatnya hanyut.
"Gak mungkin?" Celine bertanya lagi,"Kamu bilang gak mungkin?" Celine terus mendesak, seolah dia harus mendengar kalimat itu lagi agar merasa yakin.
"By the way, siapa sih yang sedang kalian bicarain?" Okan cengengesan karena harus meng-loop drama yang sejak tadi ditontonnya.
"Guru les Misha?" Ragil bergumam sambil berpikir, "Itu...cewek itu kan?" Ragil teringat Mary. Dia ingat waktu itu dirinyalah yang merekomendasikan Mary pada tante Alexa, mamanya Sean.
"Siapa?" Okan tidak tahu.
"Mary.."
Okan berusaha mengingat-ingat, meskipun rasanya sulit. Dia memang tidak mudah mengingat nama orang lain jika tidak begitu mengenalnya.
"Cewek angkatan baru yang heboh karena ternyata operasi plastik.." Ragil memberi penjelasan.
"Oh.." Okan mengerti, "Cewek yang lo taksir dulu kan?"
Okan tersenyum melihat wajah Ragil yang berubah masam.
"Cel, jadi kamu cemburu karena cewek itu?" Okan bertanya pada Celine yang menahan tangis sejak tadi.
"Kenapa kamu khawatir sama cewek kayak dia sih? Dia bahkan nggak bisa dibandingin sama kamu.." Ragil menggumam pada Celine, berusaha menenangkan.
Ragil hendak membuka mulut lagi, namun entah kenapa 'diamnya' Sean seakan menghentikannya. Bukan hanya Celine yang mengenal baik cowok itu, tapi dia juga. Mereka sudah berteman sejak TK karena hubungan kedua orangtuanya, dia sangat tahu baik busuknya cowok itu luar dalam bahkan sampai ke atom-atomnya.
Celine menyentuh lengan Sean yang hanya diam. Dia juga menuntut untuk diyakinkan.
Sean berpaling ke Celine, dan melihat wajah cewek itu yang seakan berharap, hatinya sedikit trenyuh. Celine terlalu mengingatkannya pada Mamanya sendiri, perempuan yang paling dia sayangi di dunia ini.
Sean bangkit dari duduknya, dia menghadap Celine dan memegang kedua bahu cewek itu.
"Jangan khawatir.." katanya, namun terpotong karena dari balik kepala Celine dia melihat seseorang yang berdiri tegak di depan pintu ruangan sambil meremas-remas jari.
"Apa?" tuntut Celine agar Sean melanjutkan kalimatnya.
Sejenak Sean tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cewek yang masih berdiri mematung itu.
"Apa?" Celine menuntut lagi, kali ini menyentuh telapak tangan cowok itu dengan lembut. Dia masih tidak menyadari apa yang dilihat Sean saat ini.
Sean berpaling menatap Celine, dia mencoba tersenyum tipis.
"Jangan khawatir, aku gak mungkin tertarik dengan cewek seperti itu.."
Celine tersenyum lebar. Hatinya lega sekarang setelah mendengarnya sendiri dari mulut Sean.
Ragil menyadari kehadiran seseorang di depan pintu. Dia menoleh dan melihat Mary sedetik sebelum cewek itu berlalu begitu saja. Ragil spontan mengejar sampai di depan pintu, dia melongok keluar dan melihat punggung cewek itu yang setengah berlari.
Mau apa cewek itu kesini?
Ragil menoleh ke Sean yang hanya terdiam meskipun Celine bergelayut manja di lengannya.
***
Siang itu Mary melamun sepanjang kelas bahasa Inggris, dia terus menerus memperhatikan gantungan tas milik Sean yang masih tergantung di resleting tasnya. Dia masih ingat dengan baik saat Sean memberikannya sewaktu di depan minimarket malam itu.
"Aku bakal ganti gantungan tas kamu!" kata Sean waktu itu kemudian pergi ke mobilnya dan kembali dengan gantungan lucu yang berbentuk huruf L dan O. Saat itu tidak pernah terpikir dalam benak Mary bahwa dua huruf itu adalah bagian dari sebuah kata.
"Ini seribu kali lebih baik dari gantungan tas murahan yang kamu tangisi!"
Mary masih mengingat dengan baik semuanya. Dia juga ingat malam itu dia tersenyum sendirian di dalam kamar sambil memandangi gantungan tas yang diberikan Sean.
"Kamu nggak apa-apa?" Milli menyenggol lengan Mary karena sejak tadi cewek itu hanya diam seakan melamun.
__ADS_1
"Ke kantin yuk!"
Ajakan Milli menyadarkan Mary bahwa kelas bahasa Inggris sudah selesai, dia melihat dosen pengajar baru saja meninggalkan kelas.
"Nggak, kalian duluan saja. Aku ada sedikit urusan.." Mary telah memutuskan.
"Urusan apa?" tanya Milli penasaran.
"Mau ngembaliin sesuatu.." Mary mengeluarkan ponselnya dan mengangguk saat kedua temannya mengatakan akan meninggalkannya sekarang.
Mary mengetik sesuatu.
Kak Sean dimana? Bisa ketemu sebentar?
Mary menyesal kenapa dia tidak mengembalikan gantungan ini tadi sore saat bertemu cowok itu. Kenapa dia malah langsung pergi begitu saja setelah mengucapkan hal yang aneh-aneh?
"Kakak nggak khawatir aku bisa salah paham?"
Mary bisa melihat bola mata Sean yang membesar saat dia mengucapkan pertanyaan itu.
Arggggh!
Mary memeriksa ponselnya sekali lagi. Chatnya sudah terkirim, tapi belum dibaca. Cukup lama Mary menunggu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk bangkit dari duduknya.
Ya, dia harus segera mengembalikan barang ini. Atau kalau tidak, dia tidak akan bisa tenang sampai kapan pun. Semalam saja dia sampai tidak nafsu makan karena kepikiran omongan Celine.
Kenapa cewek itu menuduhnya mengganggu?
Begitu kan maksudnya?
Sean tidak ada di kelasnya saat Mary mencarinya kesana. Dia bertanya ke mahasiswa senior, tapi mereka juga mengatakan tidak tahu cowok itu ada dimana.
Mary sudah memutuskan untuk mengembalikan gantungan itu lain kali saja ketika matanya menangkap Celine yang berjalan cepat ke sebuah ruangan.
Mary hendak berbalik, tapi entah kenapa langkah kakinya justru menuntunnya membuntuti Celine.
Mary menyandarkan punggungnya ke dinding di samping pintu yang terbuka, dia bisa mendengar percakapan di dalam dengan sangat jelas.
Mereka membicarakanku.
Mereka berdua bertengkar karena aku, tapi memangnya apa yang sudah ku lakukan?
Aku tidak merebut Sean darinya kan?
Sebut saja aku memiliki perasaan untuk cowok itu, tapi bukankah itu masalahku sendiri?
Kenapa dia khawatir?
Kenapa dia khawatir Sean tertarik padaku?
Tidak mungkin kan?
Haha, tidak mungkin.
Mary teringat bayangan Sean yang menolongnya sewaktu kecil. Dia teringat cowok itu ketika menyelamatkan nyawanya malam itu. Dia kembali teringat saat cowok itu menekan kedua bahunya menyuruh diam dan berjongkok untuk mengikat tali sepatunya yang lepas. Dia kembali teringat senyum cowok itu saat mentraktirnya makan malam di steak house. Dia teringat saat cowok itu menasehatinya habis-habisan ketika mengantarnya pulang dari bioskop...
Ya, sepertinya Celine benar. Tidak mungkin aku tidak jatuh hati padanya kan?
"Kenapa kamu khawatir sama cewek kayak dia sih? Dia bahkan nggak bisa dibandingin sama kamu.."
Mary tertegun mendengarnya, tanpa sadar dia menggenggam erat gantungan tas di tangannya.
"Sean gak mungkin lah berpaling dari kamu cuma gara-gara cewek seperti itu. Iya kan?"
Mary tahu dia lebih baik segera pergi dari tempat ini, tapi kenapa seolah-olah hatinya menginginkan untuk tetap tinggal?
Kenapa dia sangat ingin mendengar jawaban Sean?
"Jangan khawatir.."
Tangan Mary menegang. Dia bisa merasakan matanya yang tiba-tiba berair.
Suatu dorongan yang kuat membuatnya bergerak ingin melihat wajah Sean saat itu juga.
Ya, aku harus melihatnya agar aku bisa mengerti dan membenahi perasaanku...
Dan dia tahu Sean melihatnya.
"Jangan khawatir, aku gak mungkin tertarik dengan cewek seperti itu.."
Mary menggigit bibir.
Dia tahu dia harus bagaimana...
__ADS_1
###