Lovable You

Lovable You
24. Malam Bazaar (2)


__ADS_3

Juan melirik Mary yang berdiri sambil memainkan vas bunga kecil yang bertengger di atas meja, sedangkan dirinya sendiri sedang membantu kakak seniornya memilih foto-foto yang akan dicetak.


"Sama yang ini juga!" Juan menunjuk salah satu foto di laptop, kemudian dia menghampiri Mary yang terlihat bosan sendirian.


"Masih lama ya?" Mary bertanya kapan foto-foto mereka selesai dicetak.


"Bentar lagi kok!" Juan menjawab, "Kenapa? Bosen ya?"


"Sedikit.."


Juan memperhatikan wajah Mary yang tercenung. "Lagi mikir apa?" tanyanya.


"Eh, ng, itu.." Mary merasa bingung ingin menjelaskannya, tapi melihat raut muka Juan yang kelihatan sabar menunggu dia bercerita, Mary merasakan suatu dorongan yang kuat untuk mengeluarkan apapun yang dipikirkannya kepada cowok itu.


"Kenapa kamu ikut klub fotografi?" Mary malah bertanya.


"Kenapa ya? Aku suka aja. Sejak dulu aku emang suka fotografi.." Juan menjawab sambil berpikir-pikir, "Emang kenapa?"


"Nggak! Aku cuma mikir kenapa orang-orang bisa melakukan sesuatu yang mereka sukai. Jeny juga, dia masuk klub tata rias karena dia menyukainya. Aku hanya berpikir, aku tidak tahu apa yang ku sukai.." Mary teringat cowok brengsek waktu itu juga bertanya apa dia tidak memiliki kegiatan-kegiatan yang dia sukai? Pertanyaan sederhana itu entah kenapa cukup mengganggunya sampai sekarang.


"Kenapa? Kamu pasti berpikir pikiranku rumit ya?" tanya Mary karena melihat Juan yang hanya tercenung menatapnya.


"Nggak kok. Aku mengerti maksud kamu.." Juan tersenyum lembut.


"Mau berkeliling sama aku? Siapa tahu kita bisa menemukan apa yang kamu sukai. Biasanya momen-momen gini sering digunain para mahasiswa senior buat promosiin klub mereka," Juan mengajak Mary pergi berkelililing yang tentu saja disambut Mary dengan mengangguk senang.


Juan mendekati kakak seniornya yang masih duduk di depan laptop, terlihat berbicara sebentar lalu kembali lagi untuk mengajak Mary pergi.


"Emang senior kamu nggak papa kamu pergi?" Mary ingin tahu.


"Nggak. Lagian aku tadi cuma mampir kok! Sudah banyak yang jaga disini."


"Terus kita kemana?"


"Kesana!"


Mereka berdua berjalan pelan-pelan sambil memperhatikan beraneka stan-stan unik yang berjajar. Mereka berhenti sebentar di depan stan musik dimana seorang cowok bernyanyi merdu diiringi petikan gitar.


Mary tahu ini adalah nada pembuka lagu perfect dari Ed Sheeran. Dan benar saja!


I found a love for me


Darling, just dive right in and follow my head


Well i found a girl, beautiful and sweet

__ADS_1


I never knew you were that someone waiting for me


Cause we were just kids when we fell in love..


Juan menatap Mary yang terus menerus tersenyum sambil menggumam seolah ikut bernyanyi. Dia senang melihat cewek itu ceria seperti sekarang.


"Ayok!" Mary menyeret lengan jaket Juan ketika terdengar suara tepuk tangan di sekitarnya pertanda lagu tadi sudah selesai dinyanyikan. Juan yang seakan baru saja dilempar ke bumi setelah melintasi berbagai lamunan, hanya menurut menyadari dirinya diseret dari kerumunan orang dengan cara seperti ini.


Mereka sempat menengok sebentar ke stand web design, namun segera pergi melanjutkan berkeliling. Kemudian ada juga stan yang memamerkan keahlian sulap yang membuat Mary tertarik untuk melihat.


"Aku masih nggak ngerti gimana caranya koin itu bisa hilang!" kata Mary seusai melihat pertunjukan sulap tadi.


"Cuma tipuan kok! Intinya pergerakan tangan harus cepet. Gimana, tertarik ikut klub sulap?"


"Nggak! Aku pasti nggak bisa.." Mary tertawa.


"Kesana yuk!" Juan menggenggam tangan Mary mengajak ke stan yang cukup ramai dikelilingi banyak pengunjung. Sepertinya ada sesuatu yang menarik di stan milik klub tata boga itu.


"Wah, Chef Caroline Poernomo!" Mary berseru girang. Hebat banget klub tata boga bisa mendatangkan chef ini, pikir Mary.


"Siapa?"


"Koki terkenal, aku sering menonton acara masaknya setiap pagi di tv. Kamu nggak tahu?"


Juan menggeleng, dia kan jarang menonton tv. Dirinya hanya menurut ketika Mary mengajaknya merangsek maju ke depan menyibak kerumunan itu untuk melihat demo masak Chef Caroline dari dekat.


Chef Caroline menyalakan kompor, dan tercium aroma wangi dari butter yang meleleh.


"Kita tumis bawang bombay dan bawang putih yang sudah kita cincang.."


"Kita masukkan smoked beef yang sudah kita potong kecil kecil.."


"Jamur.." Chef Caroline mengaduk semua bahan-bahan di panci penggorengan, "Ini option sih. Kalian bisa menggunakan selain jamur. Kacang polong juga bisa.."


"Tambahin sejumput garam. Lada hitam. Parsley.."


"Jika wangi dari bawang putih sudah keluar, kita masukkan spaghetti yang sudah kita rebus tadi.."


"Masukkan campuran susu dan telur. Aduk hati-hati sampai semuanya meresap dan mengental.."


Chef Caroline merapikan wadah-wadah kotor di depannya dan mengelap meja yang baru saja dia gunakan. Selama menunggu makanannya matang, Chef Caroline terlihat berinteraksi dengan beberapa pengunjung yang berada di depannya.


"Oke, sekarang kita plating!" Chef Caroline mematikan kompor, kemudian dia memindahkan spaghetti itu dari panci penggorengan ke atas piring putih yang telah dia siapkan sejak tadi. Chef Caroline menata makanan itu sedemikian rupa dan memberi sentuhan akhir dengan menaruh daun seledri segar ke atasnya.


"Tarraaa! Spaghetti Carbonara sudah jadi. Simple dan enak pastinya, kalian bisa mencobanya nanti di rumah!" Chef Caroline meletakkan piring yang dipegangnya ke depan agar pengunjung bisa melihat dari dekat.

__ADS_1


"Ada yang mau mencoba?"


Tidak disangka banyak yang mengangkat tangan dan Chef Caroline cukup tertarik melihat Juan, sepertinya dia satu-satunya cowok di sini yang mengangkat tangan.


"Kamu, yang paling cakep, boleh deh cobain sini! Awas bilang nggak enak ya, aku cium ntar!"


Spontan candaan dari Chef Caroline membuat gelak tawa dari para pengunjung stan. Juan menggandeng tangan Mary untuk maju ke depan, sementara Mary hanya bisa menatap bingung.


"Boleh dia yang nyoba aja nggak?" Juan menunjuk Mary setelah sampai di dekat Chef Caroline, "Dia penggemar berat Chef lho!"


"Oh pacarmu ya?"


Seketika Mary menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tapi Chef Caroline malah tersenyum nakal.


"Kalau gitu kalian boleh nyobain, tapi harus suap-suapan ya.." Chef Caroline mengedipkan mata, rasanya senang sekali menggoda pasangan mahasiswa seperti ini, mengingatkan akan masa mudanya dulu.


"Apaan sih, Chef? Kami nggak pacaran kok.." Mary bisa merasakan pipinya yang panas, malu. Dia heran, Juan malah senyam senyum nggak jelas begitu. Apa cowok itu nggak malu dilihat banyak orang seperti ini?


"Udah, nggak usah malu-malu. Ayok, cepet. Ntar aku kasih tanda tangan deh!"


Terdengar beberapa pengunjung menyemangati mereka membuat Mary rasanya ingin kabur saja dari sini. Malu sekali rasanya.


"Nih!" Juan menyodorkan sesendok spaghetti ke mulut Mary yang tetap mengatup rapat.


"Ciyeee.." Terdengar sorakan dari pengunjung ketika Mary melahap makanan yang disodorkan Juan ke mulutnya. Dan sorakan terdengar lebih riuh saat Mary melakukan hal yang sama ke cowok itu.


Sambil mengunyah makanannya, Juan tidak bisa menghentikan senyum yang tersungging di bibirnya. Lucu sekali rasanya setiap melihat pipi Mary yang memerah seperti itu. Cewek itu salting abis.


"Ini, yang tadi aku janjiin!" Chef Caroline mengulurkan apron yang tadi dipakainya memasak yang sudah dia tanda tangani.


Mary menerimanya dengan senang dan berterima kasih.


"Aku suka bikin blackforest dari resep Chef Caroline. Enak banget, itu favorit aku!" Mary memberanikan diri berbicara.


"Coba kamu mampir ke akun youtube ku. Disana banyak ku post resep cake lain yang nggak kalah enak."


"Pasti chef!" Mary tersenyum senang sebelum akhirnya pergi dari sana bersama Juan. Mary memandangi apron berwarna biru muda di tangannya.


"Gimana? Udah tahu apa yang kamu suka?" Juan bisa melihat Mary mengangguk senang. Juan ikut tersenyum.


"Aku baru tahu kamu bisa bikin cake!" kata Juan.


"Lain kali aku bikinin. Mau?"


Juan mengangguk dan berkata akan menagih janji itu jika Mary melupakannya.

__ADS_1


###


__ADS_2