
"Hihi.." Jeny terkikik saat memoleskan blush on ke pipi Mary. Milli memukul kepala Jeny pelan begitu melihat apa yang diperbuat temannya itu.
"Kamu mau membuatnya seperti ondel-ondel?" gertak Milli.
"Aku bercanda!" Jeny menghapus ruam merah di pipi Mary menggunakan tisu kemudian memperbaiki riasannya.
Mary yang merasa dirinya dikerjai Jeny merengut kesal. Katanya, "Aku tidak mau pergi kencan kalau gitu!"
"Jangan!" Milli histeris, "Kamu harus pergi kencan. He, kerjakan yang benar! Buat dia secantik mungkin sampai Richard terpesona!" Milli memukul bahu Jeny. Mereka sudah berjuang mati-matian agar Mary mau berkencan malam ini. Mereka bahkan sampai menculik cewek itu di perjalanan pulang dari kafe belajar tadi. Milli merasa geli ketika kembali mengingat Mary yang meronta-ronta ketika dirinya dibawa paksa ke dalam mobil menuju rumah Jeny.
Jeny mengoleskan maskara ke bulu mata Mary setelah sebelumnya memberi sentuhan warna soft magenta pada kelopak matanya. Kemudian Milli mengoleskan liptint berwarna senada ke bibir Mary.
"Ini liptint edisi terbatas! Pesonamu akan keluar saat memakainya!" ujar Jeny.
Mary melihat bayangan dirinya di dalam cermin. Dia tampak berbeda. Jeny pandai sekali merias, pikirnya.
"Sebentar!" Jeny merapikan rambut Mary, "Nah! Selesai! Kamu cantik sekali malam ini!"
"Aku gugup.." Mary bergumam. Dia belum pernah pergi berkencan sebelumnya. Kencan itu seperti apa?
"Jangan gugup!" Milli beranjak dari duduknya di atas ranjang, "Lihat! Kamu tuh cantik, jadi kamu harus percaya diri. Oke?"
"Ini kencan pertamaku. Aku harus bagaimana?"
Milli berpikir sejenak. "Kamu harus tampil elegan. Jika dia menceritakan sesuatu, kamu harus tampak mendengarkan dia dengan penuh minat. Sesekali berikan tanggapan untuk ceritanya. Jika dia menceritakan kisah lucu, kamu harus tertawa meskipun kamu tahu itu tidak lucu. Tertawalah dengan elegan seperti ini.."
Jeny dan Mary justru tertawa melihat contoh yang diberikan Milli.
"Kamu menyuruh Mary tertawa seperti itu?" Jeny memegangi perutnya yang terpingkal.
"Kenapa? Mary harus menunjukkan level cewek yang sopan, berkelas namun sedikit malu-malu kucing agar cowok semakin penasaran!"
"Jangan dengarkan dia!" Jeny mendorong Milli hingga cewek itu terjerembab ke tempat tidur, "Kamu jadi diri sendiri saja!" katanya pada Mary.
Mary menghembuskan nafas. Dia merasa kegugupannya sedikit berkurang karena tingkah lucu kedua temannya barusan.
***
Mary melihat seorang cowok melambai ke arahnya di depan pintu masuk gedung bioskop. Mary mempercepat langkah dan dilihatnya cowok yang dia kenal di mall tempo hari itu tersenyum padanya.
Mary merasa risih melihat cowok itu memandanginya sedemikian rupa. Mary membenarkan dress warna putih dengan kombinasi bunga mungil yang dipakainya, gugup.
"Kamu cantik sekali.." Richard memuji.
Mary tersenyum canggung. "Jadi, kita mau kemana?" tanyanya.
Richard menunjukkan 2 tiket film yang barusan dibelinya. "Tapi kita masih punya banyak waktu sebelum filmnya dimulai. Mau makan dulu?"
Mary mengangguk. Kemudian mereka pergi ke sebuah restaurant perancis yang berada tak jauh dari gedung bioskop.
__ADS_1
"Jadi apa kegiatanmu selain kuliah?" tanya Richard ketika mereka mulai menyantap makanan sambil sesekali bercakap-cakap. Ah, tidak! Sejak tadi hanya Richard yang selalu memulai pembicaraan. Cewek di depannya hanya menjawab singkat, mengangguk, menggeleng, atau tersenyum.
Kelihatannya dia masih polos ya, batin Richard.
"Mmm... Aku mengajar les privat. Selain itu, aku tidak punya kegiatan lain."
"Kamu tidak ikut kegiatan di kampus? Semisal ikut klub dance atau olahraga mungkin?"
Mary cukup lama terdiam sampai akhirnya dia menggeleng pelan.
"Tidak ada kegiatan yang kamu suka?"
Kegiatan yang ku suka? Entahlah. Mary tidak pernah memikirkannya sebelum ini. Kegiatan dia setiap hari selama ini hanya sekolah, menonton tv, makan, baca buku, ngemil, dengerin musik, kadang membantu ibunya memasak. Tapi kegiatan yang dia suka?
Tiba-tiba pertanyaan itu sedikit mengganggu hatinya. Dia berpikir, dia akan memikirkan tentang hal ini dengan keras setelah pulang nanti.
"Kamu sering keluar jalan-jalan?"
Aku hanya di rumah.
"Kemana kamu biasanya pergi nongkrong?"
Aku hanya di rumah.
Mary merasa jengah.
***
Sebenarnya dia sudah menolak tawaran cowok itu yang ingin mengantarnya pulang, tapi cowok itu terus memaksanya sejak tadi.
Bahkan Mary tidak ingat cerita film yang mereka tonton. Dia merasa pikirannya tidak fokus karena Richard berulang kali menggenggam tangannya meskipun dia berulang kali juga berusaha melepaskan diri.
Apa kencan itu seperti ini?
"Aku suka kencan kita malam ini.." kata cowok itu sebelum membuka pintu mobilnya untuk Mary.
Mary merasa tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya menggigit bibir.
"Kamu mau nggak jadi pacarku?"
Mary merasa terkejut mendengarnya. Bukankah ini terlalu awal?
"Aku suka kamu!" cowok itu berkata ringan, bagi Mary seolah kata suka bisa diucapkan sebegitu mudahnya.
"Kita kan baru kenal?" Mary mendengar suaranya tergagap.
"Kita kan baru saja berkencan.." Richard mendorong tubuh Mary pelan ke badan mobil. Mary bisa merasakan tangan cowok itu menekan pundaknya dengan sedikit keras, sementara wajahnya semakin mendekat. Mendekat.
Mary merasakan hembusan nafas hangat yang seketika membuat darahnya terasa mendidih. Sensasi ini...dia belum pernah mengalami ini sebelumnya.
__ADS_1
Mary bisa mendengar suara langkah kaki, saat itu juga dia mendorong tubuh Richard sekuat tenaga. Dia terkejut melihat Sean berdiri tak jauh darinya bersama dengan seorang cewek cantik berambut panjang yang mengenakan dress elegan.
Sean menatap Mary dengan tajam.
Mary mendekat.
"Kak Sean.." katanya sambil menarik jaket Sean.
Sean tidak tahu apa yang terjadi, tapi melihat tangan Mary yang meremas-remas jaketnya membuatnya sedikit menduga-duga.
"Apa yang terjadi disini?" tanyanya sambil menatap Richard.
"Dia cewekku bro!"
Mary melongo. Dia bahkan belum memberi jawaban tapi cowok itu seenaknya sendiri menyimpulkan.
"Dia pacarmu?" Sean berganti melihat Mary.
"Kami memang berkencan malam ini. Tapi kami tidak pacaran!" Mary tergagap.
"Jadi dia temanmu?"
Mary tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya, dia bahkan tidak mengenal Richard sampai bisa menyebut bahwa mereka berteman. Mereka kan hanya sekedar berkencan!
"Bodoh!" Sean menarik tangan Mary dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Dari dalam mobil, Mary melihat Sean mendekati Richard dan entah apa yang dibicarakan kedua cowok itu.
"Kamu harus jelaskan ada apa ini?" Celine yang sejak tadi diam sambil berdiri bersedekap menahan Sean ketika cowok itu hendak membuka pintu mobil.
"Siapa cewek di dalam?" Celine melanjutkan pertanyaannya, sedikit gusar karena Sean menggandeng cewek yang bahkan tidak dikenalnya itu tepat di depan mata Celine.
"Dia adik tingkat di jurusanku. Dia juga guru privat Misha.." Sean tahu dia harus menenangkan Celine. Sementara Celine teringat cerita tante Alexa tentang guru les privat Misha.
"Kelihatannya cowok tadi bukan cowok baik-baik. Kita antar dia pulang dulu ya?" Sean mencoba tersenyum ketika Celine menganggukkan kepala.
Sean membuka pintu mobil, dia melirik Mary yang terdiam di jok belakang lewat spion di atas kepalanya.
"Jangan lagi pergi berkencan dengan orang yang tidak kamu kenal!" kata Sean ketika dia mengantar Mary ke depan pintu rumah cewek itu. Sementara Celine hanya mengawasi dengan tajam dari dalam mobil.
"Memangnya kamu anak SMP ya sampai harus kencan buta seperti itu?!"
"Ini pertama kalinya, aku.."
"Apalagi pertama kali! Kamu tidak tahu di luaran sana banyak cowok yang lebih buas dari srigala!"
Mary merasa sedikit geli dengan konotasi yang dipilih Sean.
"Pergilah berkencan hanya dengan orang yang kamu kenal baik, yang kamu sukai, dan yang menyukaimu! Cowok yang benar-benar menyukaimu, dia tidak akan pernah menyakiti kamu. Mengerti?"
Mary merasa dirinya seperti anak kecil yang sedang dimarahi kakaknya.
__ADS_1
"Aku mengerti!" Mary menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Matanya tak bisa lepas dari cowok itu sedikit pun.
###