Lovable You

Lovable You
44. Hubungan Seperti Apa Ini?


__ADS_3

Ragil sedang membagikan kardus-kardus air mineral kepada para pengungsi yang sedang makan siang ketika dilihatnya Mary sedang menyisir rambut seorang anak perempuan.


"Anak perempuan itu harus selalu berpenampilan rapi dan cantik. Jika kamu tampil kusut dan awut-awutan begini, teman-temanmu akan menghindarimu."


Ragil yang berdiri tak jauh di belakang Mary duduk, tertegun. Entah kenapa dia penasaran ingin mendengar dan memperhatikan cewek itu dengan baik sekarang.


Dia bisa mendengar semua percakapan mereka, dia juga melihat saat Mary melepas kuncir rambutnya hingga rambutnya yang panjang tergerai bebas di punggungnya.


Dia teringat pernah tertarik pada cewek itu saat melihatnya pertama kali di auditorium kampus ketika masa orientasi. Namun rasa tertariknya itu mendadak hilang ketika dia sempat melihat foto masa lalu Mary sebelum operasi plastik yang viral di grup WA. Namun akhir-akhir ini, entah kenapa, dirinya mulai penasaran dengan cewek itu lagi setelah tahu Sean menaruh hati padanya.


Apa yang membuat Sean sampai jatuh hati pada cewek seperti dia?


Apa yang spesial?


Ragil melihat anak perempuan itu meninggalkan Mary, saat itulah dia memberanikan diri mendekat.


"Kelihatannya kamu cocok jadi guru ya?" ujarnya tiba-tiba membuat Mary menoleh dan sedikit terkejut.


"Ah, Kak Ragil dengar yang tadi ya?" Mary sedikit tersipu.


"Sedikit kok.." Ragil sengaja berbohong. Dia duduk di samping Mary.


"Kenapa nggak ngambil jurusan pendidikan aja? Kamu cocok lho jadi guru.." katanya lagi.


"Aku jadi guru? Nggak lah!" Mary tidak pernah membayangkan dirinya mengajar di depan kelas. Pasti lucu.


"Kenapa? Kamu pintar ngasih ceramah.." Ragil tertawa geli. Dia hanya bermaksud menggoda cewek itu.


Mary mengulum senyum canggung. "Sebenarnya setelah ku pikir-pikir, aku malu telah menceramahi anak tadi.."


"Kenapa?"


"Aku menyuruhnya untuk bersyukur atas hidupnya, tapi aku sendiri tidak bisa melakukan itu."


"Memang apa yang tidak kamu syukuri di hidup kamu?"


"Banyak hal!" Mary menjawab singkat sambil menatap mata Ragil.


Entah kenapa Ragil bisa melihat kesenduan, kesedihan, luka dan penyesalan di mata itu. Membuatnya ingin, ingin...melakukan sesuatu.


Ya, aneh sekali rasanya. Dia tidak bisa menjelaskan.


"Seandainya saja aku mempunyai sedikit saja rasa bersyukur atas hidupku, mungkin aku bisa melewati banyak hal lebih mudah.." Mary merenung seakan berbicara dengan dirinya sendiri, sementara Ragil hanya terdiam memperhatikan.


"Sekarang aku baru sadar, sebenarnya diri kita sendiri lah yang bisa menentukan kebahagiaan kan?"


Ragil menyetujuinya. Kali ini dia menatap Mary dengan pandangan yang berbeda.


Entah kenapa aku mulai mengerti dia...


"Aku banyak bicara omong kosong ya?" Mary baru sadar dirinya terlalu banyak bicara pada Ragil. Apa dia menganggapnya aneh?


"Nggak kok. Aku senang mendengar kamu bicara.." Ragil tersenyum.


"Kamu banyak berubah ya sekarang? Padahal aku ingat saat pertama kali mengenalmu, kamu sangat pendiam," lanjut Ragil kemudian.


Mary juga menyadari perkataan Ragil ada benarnya.


Dia merasa dirinya mulai berubah...


Sejak kapan?


Entahlah...


"Oh ya, mana Kak Sean?" Mary mengubah topik pembicaraan karena merasa tidak nyaman melihat Ragil terus memandanginya.


"Dia? Entahlah, aku tadi pencar sama dia dan balik ke posko duluan."


Mary manggut-manggut.


"Kamu ada something ya sama Sean?" Ragil memberanikan diri bertanya.


"Nggak seperti itu.."


Ragil bisa mendengar intonasi rendah dan parau di dalam jawaban itu.

__ADS_1


"Aku tahu dia punya calon istri kok. Kami hanya berteman.."


"Kalau ternyata Sean suka kamu gimana?"


"Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini. Apa kamu tahu jawabannya?"


Mary teringat malam dimana Sean menatap matanya dan bertanya demikian.


"Kalau dia suka kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Ragil merasa sangat ingin tahu jawaban Mary.


"Pasti menyenangkan disukai cowok sesempurna kak Sean.." Mary bergumam sambil meremas jarinya. "Dia tampan, tinggi, kaya dan sangat baik. Tidak mungkin perempuan tidak menyukainya kan?"


Ragil cukup lama tertegun. Dia mencoba menebak-nebak apa isi hati cewek itu.


Ragil hendak bertanya lagi namun urung karena dilihatnya Sean muncul bersama rombongan warga yang berhasil dievakuasi.


"Bawa baju ganti?" Ragil bertanya karena melihat baju Sean yang basah dan kotor, "Aku bawa baju di mobil. Kamu bisa pakai!"


"Ok," jawab Sean sambil menatap penuh terima kasih. Dia menoleh pada Mary.


"Sory ya aku tinggal lama. Bosan?" tanyanya.


"Nggak kok. Aku tadi ikut bantu ibu-ibu di dapur umum."


"Oh ya?" Sean tersenyum, matanya tidak lepas memperhatikan wajah Mary yang polos karena make up tipis di wajahnya sudah menghilang karena keringat.


Meski begitu, kenapa terlihat lebih menarik?


***


Sean menghentikan mobilnya di halaman parkir sebuah restaurant western bintang 5 tempat favorit yang sering dia kunjungi bersama Mamanya.


Dia menoleh pada Mary yang masih memejamkan mata di kursi di sampingnya. Tidak seperti terakhir kali dia mengantar Mary pulang, kali ini dia tahu cewek itu benar-benar tertidur pulas, bukan pura-pura.


Dia pasti kecapekan, batin Sean.


Sean mendekat, ingin membangunkan Mary namun ragu-ragu. Dia hanya menatap wajah itu untuk beberapa lama.


Beberapa helai rambut panjang Mary menempel di bibir cewek itu membuat Sean begitu tergoda untuk menyingkirkannya. Namun baru saja ujung jarinya menyentuh kulit pipi Mary, cewek itu membuka mata.


Untuk sejenak Sean merasa terkesiap dengan jarak sedekat ini. Entah kenapa hatinya berdesir sementara jantungnya berdegup dengan cepat.


Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain untuk beberapa lama, seolah saling menimbang perasaan.


Mary mengepalkan tangannya dengan erat ketika melihat wajah Sean semakin mendekat menyisakan jarak yang semakin tipis.


Hubungan yang seperti apa ini?


Tiba-tiba Mary membuang wajahnya ke samping membuat Sean berhenti mendekat. Dia menatap Mary dengan dalam, cewek itu sekarang sedang menggigit bibir.


"Maaf.." kata Sean menyadari hal gila apa yang baru saja akan dilakukannya. Dia menegakkan badannya kemudian berdehem pelan, salah tingkah.


"Aku baru saja mau membangunkan kamu," katanya berusaha menyembunyikan pipinya yang menghangat.


"Kita udah sampai rumahku ya?" Mary mengedarkan pandangannya keluar kaca mobil, pura-pura biasa saja padahal jantungnya nyaris copot.


"Bukan. Kita akan makan dulu!"


"Kenapa nggak langsung pulang aja?" Mary melihat jam tangannya sudah menunjukkan waktu hampir petang.


"Aku nggak pengen nganter anak orang dalam keadaan kelaparan setelah seharian aku ajak pergi.."


"Kamu laper kan?" tanyanya kemudian.


Mary memegangi perutnya. Sejujurnya iya sih.


Mary mengangguk kemudian mereka berdua turun dari mobil. Sean mensejajarkan langkahnya dengan Mary setelah menelan ludah dengan susah payah.


Apa yang sudah dia lakukan?


***


Ketika hidangan utama mereka, risotto with chicken mushroom telah habis, seorang waitress perempuan yang tinggi dan elegan kembali ke meja mereka untuk mengantarkan dessert penutup satu cup gelas kecil berisi strawberry pannacotta yang sangat menggoda.


"Cuma pesan satu?" tanya Mary pada Sean saat si waitress sudah berlalu dengan membawa piring bekas makan mereka.

__ADS_1


"Hu'um. Buat kamu," jawabnya.


Mary tersenyum kemudian mengambil sesendok kecil pannacotta yang lembut itu dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.


Enak sekali. Mary bergumam di dalam hati akan mencoba membuat dessert manis ini di rumah.


"Apa seenak itu?" tanya Sean yang semenjak tadi terus memperhatikan wajah cewek di depannya. Dia ikut mengambil sesendok kecil panna cotta dan mencobanya.


"Katanya nggak suka manis-manis?"


"Nggak suka bukan berarti nggak mau kan?" Sean ikut mengambil sesendok kecil dan menyuapkan ke mulutnya sendiri.


"Enak kan?" tanya Mary.


Sean bergumam lumayan, katanya.


"Makasih ya udah ngajak aku bakti sosial tadi.."


"Kenapa berterima kasih?"


"Kamu mungkin nggak akan mengerti, tapi aku mendapat banyak pelajaran buat hidupku dari sana.." Mary sedikit merenung.


"Kamu harus sering-sering bersosialisasi kayak gini, kamu cewek yang kurang pengalaman hidup!"


"Kamu mengejek ya?" Mary mengulum senyum geli.


"Syukurlah kalau kamu mengerti.." Sean ikut mengulum senyum bergurau.


"Jadi lain kali kamu mau mengajakku lagi?" Mary menggigit lidahnya. Pertanyaannya barusan terkesan sangat berani, padahal dia tidak bermaksud seperti itu.


"Maaf.." ujarnya pelan.


"Kenapa minta maaf?" Sean menatap lebih dalam.


"Itu agak aneh memintamu seperti itu.." Mary tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Boleh aku bertanya?" tanya Sean setelah beberapa lama. Melihat Mary mengangguk sambil mengernyitkan kening, dia melanjutkan, "Kamu pernah bilang, ada cowok baik yang sangat kamu sukai.."


Mary terkesiap.


"Itu siapa?" tanya Sean kemudian.


"Kenapa Kak Sean ingin tahu?" tanya Mary setelah cukup lama terdiam. Suasananya kenapa jadi begini?


"Karena.."


Mary tidak mengerti perasaannya seperti apa. Dia merasa ingin mendengar kelanjutan kalimat cowok itu, namun di sisi lain dia benar-benar tidak ingin mendengarnya.


"Aku hanya ingin tahu!"


Mereka saling bertatap mata, saling mengukur sesuatu yang tidak ingin diungkapkan satu sama lain. Sesuatu yang membuat tidak nyaman sekaligus mendebarkan...


"Begitu.." Mary menunduk, kali ini memainkan sisa pannacotta yang tersisa di dalam gelas.


"Kenapa?"


"Hm?" Mary mendongak.


"Kenapa kamu kelihatan kecewa?"


"Aku?" Mary menyentuh pipinya dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu berharap aku mengatakan yang lain?"


Mary mematung beberapa detik.


"Kenapa Kak Sean berpikir aku berharap kakak mengatakan yang lain?"


Mereka kembali berpandangan seolah mata bisa berbicara lebih banyak dibanding mulut. Seolah mata lebih bisa mengungkap banyak hal yang tidak bisa diurai lewat bahasa.


Sampai mereka dikejutkan sebuah suara yang Sean kenal baik. Sean cukup terkejut melihat Mamanya dan Celine tengah berdiri di samping mejanya.


"Kenapa kalian berdua ada di sini?" Mama memandang bergantian pada Sean dan Mary yang duduk gelisah di kursi masing-masing.


Sementara Celine mengulum bibirnya dengan rapat, menyembunyikan berbagai emosi yang tiba-tiba menguasai hatinya. Matanya nanar dan berselaput tipis ketika samar-samar dia melihat Sean menatapnya.

__ADS_1


###


__ADS_2