
"Capek ya?" Juan menghentikan langkah kakinya setelah hampir dua jam berkeliling stan. Dia menatap Mary, "Pulang?"
Mary berpikir sebentar, kemudian menoleh menatap sekelilingnya. Belum begitu malam untuk pulang ke rumah kan, rasanya sayang jika momen menyenangkan seperti ini dilewatkan cepat-cepat.
"Kita kesana dulu, setelah itu pulang!" Mary menarik tangan Juan dan membawanya ke dalam stan ramalan. Juan protes dan bertanya kenapa Mary tertarik dengan hal-hal seperti ini.
"Cuma penasaran kok!" Mary menjawab sambil menyuruh cowok itu itu untuk diam.
Seorang cewek berpakaian gipsy lucu menyambut mereka, dan mempersilakan duduk di kursi di depannya. Cewek itu bertanya siapa yang ingin diramal, dan Mary menjawabnya dengan perasaan cemas. Ini pertama kalinya dia ingin diramal...
Cewek gipsy itu mengulurkan beberapa kartu tarot, menyuruh Mary mengambil salah satu di antaranya. Mary merasa bingung, sebelum akhirnya dia menjatuhkan pilihan.
Cewek gipsy menarik kartu tarot yang dipilih Mary dan melihat gambar di baliknya. Mary bisa melihat tatapan cewek gipsy itu sedikit misterius, sedikit membuatnya takut.
Sedangkan Juan justru tersenyum geli. Di matanya raut muka si peramal terlalu dibuat-buat kan?
"Disini terbaca, hal buruk sebentar lagi menyambut kamu. Kamu harus menyiapkan hati kamu sebaik mungkin .."
"Mmm, begini.." Juan menyela cewek gipsy itu sambil mengerutkan keningnya, "Setelah kita pikir, kita nggak percaya ramalan! Jadi percuma aja diramal kan?"
Juan menarik tangan Mary untuk pergi setelah sebelumnya meminta maaf dan permisi ke cewek gipsy yang menatap mereka dengan bingung.
"Kamu kenapa sih? Dia kan belum selesai meramal?" Mary masih melayangkan protes meski sekarang mereka sudah duduk berselonjor di sebuah bangku. Juan mengulurkan sebotol air mineral dingin yang baru saja dia beli.
"Aku hanya pikir, cewek kayak kamu jangan mendengar hal-hal negatif kayak ramalan tadi. Darimana dia tahu coba kalau hal buruk bakal terjadi?"
Mary tercenung memikirkan omongan Juan. Juan benar, dia tipe orang yang akan kepikiran terus jika mendengar hal-hal buruk. Jadi memang lebih baik tidak usah mendengarnya, toh dia juga nggak percaya ramalan.
"Sok tahu!" Mary merasa kesal memikirkan cowok itu seakan tahu betul tentang dirinya.
"I know you so well.." Juan terkekeh.
__ADS_1
"Padahal dia belum menyelesaikan ramalannya. Siapa tahu dia tadinya akan berkata begini, 'hal buruk akan menyambutmu, tapi jangan khawatir masa depanmu akan seindah pelangi.' Tapi karena kita pergi, kita jadi nggak tahu kelanjutannya kan?"
Mary merengut lucu membuat Juan mau tidak mau tertawa kecil.
"Ya udah, anggap saja begitu. Lebih baik kamu meramal dirimu sendiri daripada membiarkan omongan orang lain mensugesti pikiranmu kan?"
"Hmmm.."
"Emang kamu percaya ramalan?" Juan bertanya setelah meneguk air minumnya.
Mary berpikir sejenak. Hal buruk yang sebentar lagi menyambut?
"Aku sebenernya nggak percaya ramalan sih," Mary memberi jeda beberapa detik sebelum melanjutkan, " Karena seringnya ramalan bintang yang aku baca di koran pas kecil dulu nggak pernah sesuai dengan apa yang aku alami.."
Mary teringat ramalan bintang yang dibacanya sewaktu kecil, disitu tertulis bahwa minggu-minggu ke depan dia akan mendapatkan kejutan dari orang terdekatnya. Dia memegang ramalan itu di dalam hati dan benar-benar berharap, tapi kenyataannya semua itu omong kosong. Rasanya Mary ingin tertawa jika mengingatnya lagi.
"Kamu?" Mary menoleh menatap Juan.
"Kamu percaya ramalan?"
"Nggak!" Juan berkata mantap. "Coba pikir, darimana dia tahu hal buruk atau baik yang bakal kita alami ke depan? Emangnya dia punya kekuatan super?"
Mary mengangguk-angguk, "Tapi tetep saja, faktanya ada orang yang bisa meramal masa depan orang lain dengan jitu kan?"
"Entahlah. Menurutku itu cuma kebetulan?" Juan menjawab cuek, "Aku nggak yakin ada orang yang bener-bener bisa meramal masa depan. Rasanya mustahil!"
"Kayaknya ada sih.."
"Oh ya? Siapa?" Juan penasaran.
"Mama Lauren?"
__ADS_1
Juan tertawa geli. Dia tahu cewek itu tidak bermaksud melucu, tapi entah kenapa Juan merasa itu lucu. Aneh. Juan berpikir selera humor setiap orang itu unik dan berbeda.
"Ada satu lagi!"
"Siapa?" Kali ini Mary yang bertanya penasaran.
"Titisan Mama Lauren akan mencoba meramalmu sekarang.." Juan mengeluarkan lembaran foto dari dalam tas punggung berwarna hitam. Itu foto Mary dan teman-temannya yang diambil tadi, tapi dia belum menyerahkan ke cewek itu.
"Anggap ini kartu tarot!" Juan membalik foto-foto itu dan menjejerkannya dengan rapi ke depan Mary, "Pilih salah satu!"
"Apanya yang kartu tarot? Itu cuma foto-foto tadi!" Mary terkekeh melihat perbuatan Juan yang menurutnya lucu.
"Anggap aja ini kartu tarot. Ayo pilih!"
Mary memilih foto paling ujung. Juan menariknya dan memandang foto itu sambil tercenung sebentar, membuat Mary penasaran apa yang dipikirkan cowok itu. Kemudian dia tersenyum lembut.
"Pilihan yang bagus!" katanya, "Disini terbaca, hari-harimu akan indah dan menyenangkan. Jadi kamu nggak perlu merisaukan segala sesuatu. Kamu hanya perlu menjalani hidup dengan percaya diri dan menjadi dirimu sendiri. Percayalah, kamu itu cewek yang pantas disukai siapa pun.."
Pantas disukai?
Mary tidak tahu harus berkata apa. Cowok itu selalu saja bersikap manis seperti ini, membuatnya tersipu,membuatnya merasakan energi positif setiap kali berada di dekatnya, membuatnya optimis...
"Masak sih?" Mary akhirnya bersuara karena tidak tahan melihat Juan yang terus menatapnya, membuatnya merasa canggung.
"Coba aku lihat foto apa yang aku pilih!" Mary merebut foto di tangan Juan, dan ikutan tercenung ketika melihatnya.
"Aku nggak ingat kita foto bareng tadi?" tanya Mary.
Tentu saja tidak ingat, karena Juan yang menyuruh kakak seniornya memotret dirinya dengan Mary diam-diam. Di foto itu, mereka berdua terlihat begitu dekat sedang memperhatikan kamera yang dia pegang. Foto itu juga lebih terlihat natural...
###
__ADS_1