
Celine menyentuh tangan kiri Sean, tapi dengan cepat cowok itu menarik tangannya ke atas kemudi setir membuat Celine tidak bisa menahan senyum. Dia begitu lucu, pikirnya.
Dia sudah mengenal Sean dalam waktu yang lama. Dia tidak sakit hati dengan sikap yang seperti itu, justru menurutnya itu menggemaskan. Celine berpikir, jika kelak Sean sudah menjadi suaminya, dia akan mengikat cowok itu di ranjang dan menyentuhnya sepuas-puas yang dia mau. Cowok itu pasti akan berontak.
Celine tersenyum geli membayangkan idenya sendiri.
Celine berpikir setelah lulus kuliah, mungkin Sean akan langsung bekerja di perusahaan ayahnya. Sementara menunggu dua atau tiga tahun, dia akan meminta cowok itu secepatnya menikahinya. Meski setelah menikah, Celine tetap akan melanjutkan study S2-nya di dalam negeri saja. Sean pasti tidak keberatan kan.
Mereka akan tinggal di rumah sendiri nanti. Bukankah ayahnya sudah menyiapkan rumah untuk mereka meskipun rasanya keluaga Djaya juga pasti telah menyiapkan rumah untuk tempat tinggal putra sulungnya setelah menikah. Tapi itu bisa diatur nanti.
Yang penting kelak mereka akan menikah. Celine merasa beruntung terlahir dari orang tua yang cukup berpengaruh di negeri ini, membuat banyak para pengusaha maupun pejabat mendekati orang tuanya untuk menjodohkan anak-anak mereka. Kakak Celine sendiri yang paling sulung sudah menikah dengan seorang perwira TNI yang sekarang telah berpangkat jenderal mayor, sedang kakak laki-lakinya juga baru saja dua bulan lalu menikah dengan putri gubernur kota ini.
Dan Celine merasa beruntung karena memiliki orang tua terpandang itulah dia bisa bertemu dengan Sean, cowok yang paling dia sukai di dalam hidupnya saat ini.
Celine ingat saat pertemuan pertama kalinya dengan Sean di pesta anniversary kedua orangtuanya yang dihadiri banyak orang-orang penting. Cowok itu dengan muka ditekuk mengikuti ayah dan ibunya di belakang menyalami kedua orang tua Celine. Orang tua Celine memuji wajah Sean yang tampan. Dan entah bagaimana ceritanya, percakapan itu menjadi awal mula basa-basi tentang perjodohan Sean dan Celine di masa depan.
Mungkin waktu itu cuma basa-basi, tapi Celine keburu senang memikirkannya. Dia memang sudah jatuh hati dengan cowok itu sejak pandangan pertama.
Sejak itu Celine selalu membuntuti Sean kemanapun termasuk masuk ke sekolah dan tempat bimbel yang sama. Dia juga mendeklarasikan pada teman-temannya bahwa dirinya adalah calon istri cowok itu.
Sean tidak menolak, meskipun juga tidak menunjukkan sikap yang sama seperti Celine.
Tapi itu tidak masalah bagi Celine. Celine seolah merasa dia sudah mengenal Sean dengan baik.
"Ada film menarik sedang tayang di bioskop," Celine melihat layar ponselnya.
"Kita nonton yuk!" lanjutnya kemudian. Dia menoleh ke arah Sean yang fokus mengemudikan mobil.
"Lain kali aja!" Sean tetap menatap ke depan, "Hari ini aku ada janji!"
Sean teringat percakapan wa grup kelompok kuliahnya bersama Mary tadi siang yang meminta mereka semua untuk berkumpul di kafe belajar setelah pulang kuliah.
"Janji apa?" Celine menyelidik.
"Cuma tugas kampus kok!"
Tidak berapa lama, mobil yang mereka kendarai sudah sampai di depan sebuah rumah berpagar tinggi yang dijaga seorang satpam.
"Nggak mampir dulu?" tanya Celine sambil membuka seatbelt-nya.
"Nggak. Titip salam aja buat mama kamu.." Sean tersenyum.
Celine menunggu.
__ADS_1
Udah gini aja, tanya Celine dalam hati. Sepertinya dia yang harus selalu memulai ya. Celine tersenyum tipis, dia mencondongkan tubuhnya ke arah Sean. Dengan lembut, dia mengecup pipi cowok itu. Menahan nafas sejenak ketika dia sedikit menjauhkan wajahnya untuk melihat reaksi Sean, kemudian dengan berani bibirnya menyapu bibir Sean dengan dalam. Cukup lama. Sementara tangannya bersandar ke pundak Sean dengan lemah.
Dia sedikit kecewa karena Sean tidak beraksi sedikit pun. Sebenarnya, dia menginginkan lebih.
Celine perlahan menjauhkan tubuhnya, dia memandang Sean dengan kesal.
"Aku duluan!" ketusnya sambil membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar. Cowok nyebelin!
Sean menghela nafas pelan, menatap Celine sampai cewek itu benar-benar menghilang di balik gerbang tinggi berwarna hitam.
Dia memutar mobilnya dan segera bergegas menuju kafe belajar tempat kelompoknya janjian. Dia masuk ke dalam kafe itu, celingak-celinguk mengamati isi kafe mencari kelompoknya berada. Dia melihat Mary melambai padanya.
"Loh, kita pikir kak Sean nggak datang!" Milli berseru, "Habisnya Kak Sean nggak keluar sekali pun di grup sih?"
"Grup yang lebih mirip terminal itu?!" Sean bertanya ringan, "Berisik sekali!"
"Aku bilang juga apa?" Jeny menimpali sambil menoleh ke arah Milli, "Udah dong, kamu sama Laura jangan berantem di grup terusan.."
"Tauk tuh! Dia selalu cari gara-gara! Emang aku salah apa?!" Laura menyambung.
"Maksudku, jangan berantem di WA, nanggung. Sekalian aja di dunia nyata.." Jeny terkikik.
"Kalian kenapa sih kejam banget sama aku! Emangnya aku takut sama kalian semua. Aku juga ogah kali berada di kelompok membosankan ini!"
"Enak aja!"
"Lagian kalo kamu ogah disini, kenapa kamu gak keluar dari kelompok kita? Kita seneng aja kok, seneng banget malahan."
Laura memonyongkan bibirnya.
"Kamu gak berani kan? Kamu gak berani dapet nilai D dari Prof. Harry kan?"
Sean tidak habis pikir kenapa dia bisa satu kelompok dengan bocil-bocil ini. Tiba-tiba sebuah tangan dengan sehelai tisu yang tergenggam terulur di depannya. Dia menoleh. Mary...
Mary tersenyum dan menunjuk ke pipi kirinya, maksud cewek itu dia memberitahu Sean jika ada noda di pipi cowok itu.
Sean mengusap pipi kirinya menggunakan tisu yang diberikan Mary. Dia melihat bercak merah tipis di tisu itu, pasti bekas lipstik Celine yang menempel saat cewek itu mengecupnya tadi. Dasar!
Sean melirik Mary. Entah kenapa dia merasa malu. Apa cewek itu tahu ini noda bekas ciuman?
"Udah yuk!" Juan yang sejak tadi berkutat dengan ponselnya berusaha melerai keributan antara cewek-cewek itu, "Kita mulai diskusinya sekarang. Aku nggak bisa lama-lama nih!"
"Oke!" Milli membenahi posisi duduknya setelah sebelumnya menatap Laura dengan tajam seolah mengatakan "urusan kita belum selesai!"
__ADS_1
"Pertama kita harus pilih ketua kelompok!" lanjutnya, "Ada sukarelawan yang mau jadi ketua kelompok?"
Diam.
"Jeny? Juan? Rambut jagung? Ah, jangan dia! Mary, kamu mau?"
Mary cepat menggeleng. Dia sadar diri dia tidak punya kemampuan sedikit pun di bidang leadership maupun manajerial, sekalipun ini cuma kelompok kecil-kecilan.
"Aku jelas nggak!" Milli berkata bahkan tanpa ada yang bertanya, "Bukan karena aku nggak mau. Aku maauu! Tapi aku ini bodoh. Kalian semua akan dapat nilai D jika aku yang mengetuai."
"Gimana kalo kak Sean aja?" Jeny menyambung, "Dia kan senior. Dia pasti bisa membimbing kita!"
"Oke." Tidak disangka cowok itu menjawab cepat, seolah tanpa berpikir lebih dulu.
"Pertama, kita bahas dulu perusahaan apa yang jadi topik kita. Ada yang punya ide?"
Diam. Sean jengkel, kenapa dia bisa mendapat kelompok yang pasif seperti ini sih?
"Kamu!" Sean menatap Mary, satu-satunya orang yang dia kenali di dalam kelompok ini. "Punya ide?"
Mary menggigit bibir. Sejak dulu, dia hanya menjadi pelengkap saja di dalam sebuah kelompok di sekolahnya. Dia tidak pernah dimintai pendapat ataupun memberi pendapat. Jadi ditanya Sean seperti itu, dia merasa sedikit gugup dan canggung meskipun sebenarnya dia punya banyak ide di kepalanya. Dia hanya merasa tidak mengerti cara untuk menyampaikan isi pikirannya itu.
"Gimana kalau perusahaan coklat Ferrero asal Itali?" Mary memberanikan diri mencoba karena melihat Sean terus menatapnya. "Perkembangan pesat perusahaan itu sampai sebesar sekarang di dunia internasional sepertinya menarik untuk dikupas kan?"
"Nggak!" Sean menyahut tajam, "Bisa dibilang proses perusahaan itu sampai puncak begitu...umum. Kita butuh topik yang berbeda!"
"Menurutku itu saran bagus!" Juan ikut berkomentar, dia melirik Mary sekilas. "Semua orang tertarik mendengar rahasia perjalanan kesuksesan seseorang ataupun korporasi."
"Kita nggak sedang memuaskan publik. Fokus kita mencuri perhatian dosen yang terkenal pelit memberi nilai. Dan gagasan tadi sangat pasaran!"
Milli menelan ludah. Entah kenapa dia merasakan aura ketegangan yang tiba-tiba muncul.
"Ck. Coba kita lihat gagasanmu!" Juan berdecak.
Sean menatap Juan dengan tajam. Dia ingat, cowok itu cowok yang sama yang dia lihat sedang berjalan pulang bersama Mary tempo hari.
Apa mereka pacaran?
"Yang akan coba kita gali adalah perusahaan rokok domestik X yang labanya tidak begitu menggairahkan beberapa tahun terakhir, tapi mereka tetap eksis sampai saat ini bahkan di mana tarif bea cukai semakin tinggi dan pesaing yang semakin banyak. Lebih mengherankan, karena mereka ikut mensponsori banyak event besar. Kita juga akan mencoba menggali lebih dalam tentang keterkaitan antara promote olahraga dan badan amal. Sedikit sulit, kita butuh banyak bahan dan materi. Tapi kalian bisa kan? Aku akan mencoba membagi tugasnya dengan adil.."
Juan berpikir, jadi buat apa cowok sok itu bertanya seperti tadi jika dia sendiri punya gagasan yang panjang lebar seperti itu.
Juan tahu, dia tidak menyukai cowok itu sejak awal. Apa mungkin karena tadi dia sempat melihat momen ketika Mary tersenyum sambil mengulurkan tisu pada cowok itu? Entah kenapa Juan merasa, senyuman dan tatapan cewek itu tadi sangat hangat. Membuatnya sedikit merasa kesal.
__ADS_1
###