Lovable You

Lovable You
8. Kamu Suka Berbagi Sendirian


__ADS_3

Milli dan Jeny sedang memulai suapan pertama mereka di kantin saat Laura ikut bergabung dengan membawa sepiring nasi goreng. Laura ber-say hello yang langsung segera dijawab kedua cewek itu.


"Hmm, kamu cari apa sih?" tanya Laura saat melihat kepala Milli celingak-celinguk seakan mencari sesuatu.


"Mmmm, aku cuma penasaran sepertinya akhir-akhir ini Mary nggak makan di kantin ya?" Milli berkata pelan sambil mengaduk-aduk jus strawberinya, dia teringat Mary yang selalu memesan jus itu setiap ke kantin. "Dia makan dimana?" tanyanya lebih ke diri sendiri.


"Kamu ngerasa juga kan?" Jeny menimpali, "Jujur aku juga kasihan. Sekarang, dia seperti menghindari semua orang, dia selalu sendirian. Dia bahkan tidak menjawab salamku tadi pagi. Fiuuuh, aku tidak berbuat salah padanya tapi entah kenapa aku merasa bersalah. Argghh...."


Milli mengangguk sepakat, dia pun merasa demikian. Dalam beberapa hal dia tahu dia sangat cocok dengan Jeny, sepertinya mereka memang ditakdirkan bertemu untuk berteman.


"Kenapa kalian memikirkannya sih?" tanya Laura sambil tetap mengunyah, "Dia emang aneh sejak dulu kok."


"Aneh?" Milli mengulang kata itu sambil menatap Laura.


Laura mengangguk, "Dia cewek aneh. Dulu kami sering melihat dia berbicara dan senyam-senyum sendirian di kelas. Aneh kan? Makanya nggak heran dulu dia sering dikucilkan..."


"Aneh ya?" Milli menyingkirkan piring dari hadapannya. Entah kenapa selera makannya tiba-tiba saja hilang. "Atau karena kalian kucilkan itu dia jadi aneh?"


"Hm?" Laura berhenti menyuap karena melihat raut wajah Milli yang berubah serius.


"Aku sedang memikirkannya sekarang. Hei, kenapa juga aku mau berteman dengan tukang bully kayak kamu!"


"Apa?"


"Suatu saat mungkin saja aku yang kamu jelek-jelekkan kan?"


"Kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba marah padaku?"


Milli memutar bola matanya. "Kamu bilang Mary aneh kan? Dia nggak aneh, tapi kalian yang membuatnya tampak aneh! Di sekolah, kalian pasti sering mengatainya jelek kan? Merundungnya? Menindasnya ya kan? Membuatnya jadi anak buangan?"


"Kenapa kita jadi bertengkar gara-gara dia sih? Kita kan berteman, kita bahkan berbagi es krim waktu itu.." Laura mengingatkan momen mereka bertiga jalan-jalan ke mall beberapa waktu yang lalu.


"Temen ya?" Milli bangkit dari duduknya, menggeser kursinya dengan kasar. "Aku nyesel tauk!"


Milli melangkah pergi diikuti Jeny yang mengekor di belakang, tapi sejurus kemudian Jeny berbalik menghadap Laura lagi.


"Aku juga nggak suka tukang bully. Ngerti?"


***


Mary duduk di sudut perpustakaan, menekuri buku di depannya sambil sesekali menggigit roti sandwich yang dia beli tadi pagi di minimarket dekat kampus.


Suasana perpustakaan yang sunyi membuatnya nyaman, dan disinilah tempat favoritnya sekarang menghabiskan waktu senggang di kampus. Sendirian. Entah kenapa dia menyukai kesendirian, atau kesendirian yang terlalu menyukainya? Karena seberapapun dia ingin mengubah kehidupannya dan seberapapun dia ingin mencari tempat di keramaian, dia akan selalu berakhir disini. Duduk di sudut seorang diri.


Menyedihkan ya...


Mary menoleh ketika dua orang cewek yang baru datang terdengar berbisik-bisik. Dia mengeluarkan earphone dari dalam tas, memasangnya ke telinga lalu menyalakan music player dari handphonenya. Begini lebih baik, pikirnya sambil tersenyum.


Suara Fabian Secon terdengar mengalun merdu, meskipun lirik lagu What Do I Live For itu seakan menyindirnya.


So alone, it's like a hold


Wrapped around your throat you can talk


Afraid to go, confront it all

__ADS_1


Soon i'm getting old, i feel as though


I'm left to die


Tiba-tiba alunan merdu itu sedikit terganggu ketika tiba-tiba seseorang mengambil earphone dari telinganya sebelah kanan. Mary menoleh, melihat Juan yang tersenyum mendengarkan alunan musik dari earphone yang barusan direbutnya dari cewek itu.


Kenapa?


Mary menjauhkan kepalanya yang terlalu dekat dengan Juan. Dia merasa tidak nyaman, karena dia teringat kembali kejadian beberapa hari yang lalu saat dia menangis di pelukan cowok itu. Waktu itu dia menabraknya ketika berlari sambil bercucuran air mata. Tapi cowok itu tidak mengatakan apapun, hanya menatapnya, dan justru mendekapnya membiarkan kausnya basah oleh air mata. Mary yang diperlakukan seperti itu, seperti menemukan tempat yang sehangat selimut tempat tidurnya dan sekokoh bahu ibunya, dia menangis dalam dekapan Juan dalam waktu yang lama. Sampai akhirnya ketika air matanya mulai mengering dia baru sadar, mendorong cowok itu dan berlari lagi...pulang ke rumah, sebaik-baik tempat yang akan menerimanya tanpa bertanya.


Tapi, waktu itu dia juga tidak bertanya kenapa dirinya menangis...


"Kenapa kamu disini?" Mary bertanya pelan. Dia tidak ingin cowok itu membahas kenapa dia menangis tempo hari. Rasanya tidak nyaman.


Juan memperlihatkan bukunya yang barusan dia ambil dari rak. Mary hampir tidak percaya melihatnya, bukannya cowok tampan tidak suka membaca?


"Seperti kamu, aku kesini untuk baca buku.."


"Aku benar-benar terkejut melihat bacaanmu.." gumam Mary.


"Kenapa?" Juan mengamati sampul bukunya sekali lagi yang berjudul Fifty Shades of Grey**. "Buku ini kelihatan bagus kok!"


"Novel erotis maksudmu?"


Juan mengerjapkan matanya yang berwarna coklat tua itu beberapa kali. Sejujurnya dia tadi hanya asal comot buku dari rak ketika dilihatnya Mary sedang duduk di sudut perpustakaan. Mana dia tahu kalau yang dia ambil adalah novel erotis. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa bacaan seperti ini ada di kampus. Dan lebih tidak habis pikir lagi melihat lembaran halaman yang nampak sudah lusuh menandakan buku itu sering dibaca.


"Kenapa? Kelihatannya menarik.." Juan berusaha mengusir rasa malunya.


"Cowok mesum.." desis Mary. Dia sudah menduga sejak pertemuan pertama mereka tempo hari jika cowok yang diidolakan mahasiswa baru angkatannya itu cowok mesum.


Mary masih menatap dengan pandangan tidak percaya.


"Lagian dari mana kamu tahu ini novel erotis? Kamu membacanya juga kan?"


Juan melihat rona merah di pipi Mary membuatnya tertawa kecil dan semakin ingin menggoda cewek itu.


Mary merasa tidak nyaman. Apa yang diinginkan cowok ini? Kenapa Juan masih mau berdekat-dekat dengannya? Apa Juan belum dengar tentang dirinya? Mana mungkin kan?


Apa tujuan cowok ini**?


Mary terkejut ketika Juan menyambar roti sandwich dari tangannya dan lebih terkejut saat cowok itu menggigit roti bekas gigitannya tadi seakan tidak merasa risih sama sekali. Kenapa?


"Kamu suka berbagi semuanya sendirian ya?" Juan tersenyum sambil menggigit sandwich isi selai strawbery itu sekali lagi.


***


Sean meringis ketika Celine mengulurkan gantungan kunci berukiran huruf L dan O dengan font yang cantik kerlap kerlip ke hadapannya. Kemudian Celine dengan cepat mengambil tangan Sean dan menaruh gantungan kunci yang dipegangnya ke telapak tangan cowok itu ketika dilihatnya Sean cuma mematung.


"Kamu ambil yang bertuliskan LO, aku ambil yang VE.." Celine terlihat sumringah sambil memperlihatkan gantungan kuncinya sendiri, "Mamaku membelikan ini waktu pergi ke China kemaren," sambungnya lagi.


Are you serious? Ingin rasanya Sean memaki Celine jika saja dia tidak ingat apa yang akan dihadapinya jika cewek manja ini menangis. Dimana otaknya sih memberikan gantungan kunci imut begini padanya? Nggak sekalian memberikannya boneka barbie?


"Biar aku simpan saja.." Sean merebut gantungan kunci itu saat Celine hendak memasangnya ke tas hitamnya.


"Jadi, kamu nyuruh aku kesini cuma buat ngasih ini?" Sean ingat saat Celine mengirimi pesan berulang kali menyuruhnya cepat datang ke kafetaria depan kampus setelah jam kuliah. Dalam hal kegigihan, Sean kesal sekaligus memuji Celine untuk hal itu. Sejak dulu Celine tidak pernah mundur selangkah pun bersamanya meski Sean seringkali bersikap dingin dan tidak peduli.

__ADS_1


"Selain itu aku juga ingin menghabiskan waktu sama kamu. Sudah lama kan kita nggak berduaan kayak gini?" Celine berkata pelan sambil mengambil sesendok kecil cake coklat di depannya dan mengulurkannya ke depan mulut Sean.


Sean memalingkan kepalanya sedikit. "Kamu tahu aku nggak suka manis," ujarnya.


"Aku tahu," Celine menjawab sambil tersenyum lalu memakan cake nya sendiri. Aku tahu, tapi tetap saja aku ingin melakukan hal-hal romantis sama kamu**.


"Mama dan Papa selalu nanyain kenapa kamu sekarang jarang main ke rumah?"


"Lain kali aku akan mampir.."


"Gimana kalau hari ini saat kamu antar aku pulang?"


"Kamu nggak bawa mobil?"


Celine menggeleng. Hari ini dia memang sengaja nggak bawa mobil karena tahu hari ini Sean nggak ada jadwal kegiatan lain setelah selesai kuliah.


"Oke," kata Sean acuh tak acuh.


"Oh ya, aku dengar sesuatu terjadi di depan kelasmu beberapa hari yang lalu.."


"Apa?"


Sean benar-benar tidak habis pikir ketika Celine menanyakan dirinya yang berlutut di depan Mary untuk membantunya mengikat tali sepatu cewek itu. Dari mana Celine tahu coba? Sampai sekarang Sean masih tidak mengerti kenapa Celine selalu mengetahui gerak-geriknya setiap hari. Dia yakin mata-mata cewek itu ada dimana-mana kan? Benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman dan membencinya.


"Jadi siapa cewek itu?" suara Celine terdengar menuntut dan waspada.


"Bukan siapa-siapa kok!"


"Tapi kenapa kamu berbuat demikian? Bukannya itu keterlaluan? Orang yang melihat bisa salah paham nanti.." Celine merengut.


"Dia bukan siapa-siapa. Aku hanya membantunya mengikat tali sepatu karena... dia tidak bisa mengikatnya sendiri.." Sean termenung memikirkan ucapannya sendiri.


Celine menghela nafas. Selalu seperti ini. Dia membenci sifat murah hati Sean yang terlalu sensitif. Sejak dulu cowok itu selalu menolong orang lain, membuat orang lain salah paham saja. Dia teringat banyak gadis saat SMA yang tergila-gila pada Sean karena sifat penolongnya, meskipun pada akhirnya mereka semua akan mundur teratur dengan sendirinya jika mengenal sifat asli cowok itu. Dingin dan menyebalkan. Tidak heran dia sering dijuluki frozen man.


Mungkin hanya Celine satu-satunya cewek yang tetap bertahan sampai sekarang..


"Kamu bisa berbuat romantis ke orang lain, tapi kamu tidak pernah seperti itu padaku.." Celine menunduk sambil memainkan cakenya.


"Kamu cemburu?"


Bodoh, kenapa harus ditanya? Sudah jelas kan? Cewek ini pecemburu nomor satu.


"Jadi kamu mau aku bagaimana? Kamu mau aku melakukannya padamu juga?"


Celine mengangguk. Matanya berbinar-binar saat Sean bangkit dari duduk dan berlutut di depannya. Celine mengubah duduknya lalu mengulurkan kakinya yang putih mulus itu ke depan Sean. Sean membuka tali ikatan sepatu berwarna putih itu dan mengencangkannya kembali. Dia berpikir dia harus melakukannya dengan cepat. Memang merepotkan, tapi akan lebih merepotkan jika Celine cemburu. Dengan berbuat ini, setidaknya cewek itu akan lupa rasa cemburunya kan?


Sementara Celine tidak henti tersenyum apalagi menyadari mereka berdua jadi pusat perhatian di dalam kafetaria itu. Dia bisa mendengar gumaman iri dari beberapa pengunjung cewek disana. Entah kenapa dia merasa bahagia, seperti anak kecil.


Sean cepat berdiri ketika tugasnya selesai. Rasanya aneh melakukan tadi, seperti bukan dirinya saja, pikirnya. Dia kembali duduk dan memandang ke luar dinding kaca kafetaria, dia melihat Mary yang melintas bersama Juan. Mary hanya diam dengan earphone di telinganya, seakan tidak mempedulikan cowok itu yang sesekali mengajaknya bicara.


Sean ingat cowok itu!


Sebenarnya ketika Mary berlalu sambil menangis dari hadapannya beberapa hari yang lalu, Sean membuntutinya. Entah kenapa, kakinya bergerak begitu saja mengikuti cewek itu sampai akhirnya dia melihat cowok itu memeluknya.


Apakah cowok itu pacarnya? Dia merasa sangat ingin tahu.

__ADS_1


###


__ADS_2