Lovable You

Lovable You
5. Kamu Tidak Tahu Cara Membalas?


__ADS_3

Mary benar-benar tidak ingin berada di dekat Laura, tapi tetap saja dirinya tidak bisa menolak Milli yang telah menyiapkan bangku untuknya di kelas Prof. Harry pagi ini. Mary melangkahkan kakinya yang terasa berat dari depan pintu, dia cukup terkejut saat melihat Sean duduk di bangku di seberangnya.


Mary ber-say hello yang cuma dibalas cowok itu dengan lirikan saja.


"Kenapa Kak Sean disini? Kakak ikut kelas ini juga?"


"Kenapa? Nggak boleh?"


Dueng! Mary merasa menyesal setengah mati telah menanyai cowok menyebalkan itu. Mary pasti membenci cowok itu sepenuh hati jika saja pertemuan pertama mereka tidak menimbulkan kesan yang berbeda di benaknya.


Gedebuk. Baru saja Mary berjalan selangkah menuju bangkunya, tiba-tiba sesuatu membuatnya jatuh tersungkur ke lantai. Ekor matanya bisa melihat kaki Laura yang pelan-pelan masuk kembali ke kolong meja. Mary menggigit bibir. Sabar, Mer. Dia tahu beberapa hari ini Laura memang sengaja mengganggunya, membuatnya kesal tentang apapun.


"Kamu nggak papa?" Milli bertanya khawatir sambil membantu temannya bangkit, "Kok bisa jatuh sih?"


"Entahlah!" jawab Mary acuh tak acuh sambil membersihkan celananya yang kotor. Dia enggan melirik Laura, sekarang cewek itu pasti sedang tersenyum puas kan?

__ADS_1


Meski begitu, tetap saja hal ini mengganggu fokusnya mendengarkan kuliah Prof. Harry. Jika mau jujur, dia sangat merasa sedih diperlakukan seperti ini lagi. Apa yang membuatnya pantas dibully? Karena dia jelek. Well, tapi bukankah sekarang dia sudah cantik?


Kenapa dia selalu dibenci? Diperlakukan seperti ini?


"Ke kantin?" tanya Milli pada teman-temannya setelah sesi kuliah Prof. Harry selesai. Jeny dan Laura setuju.


"Aku mau ke perpus.." Mary bersyukur kali ini mulutnya mau mengatakan apa yang hatinya inginkan.


Saat itulah sesuatu yang tidak terduga terjadi. Tiba-tiba Laura terjerembab ke depan saat cewek itu mulai berjalan beberapa langkah.


Sean bangkit dari duduknya dan menatap mereka satu per satu sampai akhirnya dia berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


***


Sean sedang mengambil catatan kuliah di lemari lokernya saat dilihatnya Mary melakukan hal yang sama di sampingnya. Aneh. Entah kenapa cewek itu selalu muncul di sekitarnya beberapa waktu belakangan ini. Membuatnya kesal saja.

__ADS_1


Kesal?


Sean tidak bisa menjelaskan, tapi dia selalu merasa aneh setiap melihat Mary, ada emosi tak bernama yang campur aduk di hatinya. Dia teringat wajah cewek itu saat bercermin di kaca mobilnya, berbicara sendiri. Dia tidak mengerti, kenapa kesan pertama itu sangat membekas di benaknya.


Dia teringat kejadian kemaren di kantin dan hari ini di kelas, cewek jahat yang sama telah memperlakukanya seperti itu tapi Mary hanya diam saja. Membalas pun tidak. Benar-benar membuatnya kesal.


Benar-benar bodoh!


"Kak, waktu itu makasih sudah nganter sampe rumah.."


Dia juga tidak mengerti kenapa cewek ini selalu membahas hal-hal nggak penting yang sudah berlalu.


"Kamu tipe yang tidak tahu cara membalas ya?" Sean bisa melihat mulut Mary yang bergerak-gerak kebingungan. Cewek ini sangat kikuk sekali. Membuatnya semakin kesal. Meski begitu dia enggan menjelaskan lebih jauh tentang maksud kalimatnya. Biar saja cewek itu berpikir.


###

__ADS_1


__ADS_2