Lovable You

Lovable You
22. Hutangku Sangat Banyak


__ADS_3

Mary baru saja keluar dari rumah keluarga Djaya, ketika dia melihat kucing putih yang dulu pernah dia tolong sedang tiduran santai di depan teras super luas itu sambil menggoyang-goyangkan ekornya yang sedikit berwarna keabu-abuan.


Mary tertegun melihatnya dan tersenyum sinis.


"Enaknya jadi kucing.." Mary berjongkok dan mengambil kucing itu, dan meletakkan ke atas pangkuannya. Dia membelai lembut badan kucing itu yang berwarna putih bersih. Bulunya halus sekali.


"Kerjamu setiap hari pasti cuma makan, tidur dan bersantai begini ya? Ck ck ck, dasar kucing pemalas!" Mary mengajak kucing di pangkuannya berbicara. Sementara si kucing dengan polosnya hanya memejamkan mata sambil terus menggoyangkan ekor. Sesekali mata kucing itu membuka menyipit seolah keenakan dibelai seperti itu.


"Pantas kamu gemuk begini!" Mary menimbang-nimbang kucing itu di udara, "Majikanmu pasti merawatmu dengan baik ya?"


Mary membayangkan apa mungkin Sean juga sering menggendong kucing ini?


"Kamu harus berterima kasih padaku! Gara-gara aku lho kamu bisa sampai sini!"


"Enak kan disini? Rumahmu besar, makananmu pasti enak-enak! Kamu juga punya majikan sangat tampan!"


"Aku mau tukar tempat denganmu!"


Meeoong.


"Dasar kucing!" Mary pura-pura mengetuk kepala kucing itu, tetapi tidak jadi. Dia memeluk kucing itu ke dadanya dan menciumi kepalanya. Bahkan kucing saja wangi seperti ini, batinnya.


"Kamu bikin iri saja!"


Mary menoleh dengan terkejut ketika mendengar suara decakan keras di belakangnya. Dilihatnya Sean tengah bersandar di bingkai pintu dengan tangan melipat ke dada. Cowok itu tersenyum sinis! Sejak kapan cowok itu disini? Uh, malunya!


"Kak Sean.." gumam Mary sambil bangkit berdiri.


"Aku baru tahu bakatmu selain nangis, kamu bisa ngomong sama binatang!" Sean mengejek dengan salah satu sudut bibir tertarik ke atas.


"Terus, maksudmu majikan sangat tampan itu aku?" lanjut Sean lagi membuat Mary memejamkan mata saking malunya.


Mary menunduk memandangi ubin di bawah kakinya. Sementara kucing di tangannya tiba-tiba melompat dan berganti mengelilingi kaki Sean, menggesek-gesek bulunya yang lembut ke kaki panjang itu. Mary berpikir kucing itu pasti kucing betina!


Sean mengambil kucing di bawah kakinya dan menggendongnya.


"Kamu harus berterima kasih padaku, karena aku menyelamatkanmu dari tangan cewek bodoh malam itu!" Sean menyindir dengan mengajak kucing itu berbicara.


Dia menatap Mary yang masih terpekur menunduk. Cewek itu sedang memilin-milin ujung bajunya sampai kusut.


"Kamu nggak pulang?" Sean bertanya pelan. Dia tidak habis pikir, kenapa emosinya tidak stabil setiap berhadapan dengan cewek ini? Kadang dia merasa sangat keras, kadang melunak. Kenapa?


"Pulang," Mary menjawab pelan.


"Sekalian bareng aku aja," Sean memasukkan kucing di tangannya itu ke dalam rumah, lalu menutup pintu.


Mary mengangguk. Dia mengikuti Sean menuju mobil. Dia teringat lagi momen saat cowok itu menceramahinya setelah mengantarnya pulang kemarin malam.

__ADS_1


Mary tersipu mengingatnya.


"Kamu akan melewatkan banyak hal manis jika selalu merasa rendah diri begitu..."


Ya, apa salahnya mencoba apa kata Juan.


"Aku ingat punya hutang sama kamu.." Mary menoleh menatap Sean yang fokus menyetir.


"Hutangmu banyak!" Sean mengingatkan.


Mary tersenyum simpul, "Akan ku bayar malam ini. Mau makan malam sama aku?"


Kalau dia nolak gimana? Duhhh, deg-degan!


"Emang kamu berani ntraktir aku apa?"


"Apa ya?" Mary bergumam. Dia lupa, uang gajiannya mengajar Misha tetap saja masih kurang jika harus mengganti makan malam waktu itu. Haha..


Melihat Mary berpikir keras, Sean justru tersenyum geli. Kenapa cewek itu benar-benar berpikir dirinya akan menagih makanan mahal?


Sean membelokkan mobilnya ke depan minimarket.


"Belikan aku kopi dingin saja!" katanya.


"Padahal aku ingin ntraktir kamu makanan enak!"


Sean merasa ingin tertawa mendengarnya. Seakan cewek itu punya banyak uang saja!


Dia keluar dengan setumpuk makanan di tangannya, dia melihat Sean sudah duduk menunggunya di bangku depan toko itu.


"Banyak banget yang kamu beli!" tegur Sean, "Kamu bisa menghabiskan semua ini?"


"Makanya bantu habiskan!" Mary meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja berikut tas selempangnya. Mary menyerahkan sebotol kopi dingin ke depan Sean. Sementara dia membuka roti isi coklat dan mulai menggigitnya. Enak sekali, batin Mary.


Dia melihat Sean sedang melihatnya tanpa berkedip.


"Aku beli banyak kok!" Mary mengira cowok itu kepingin roti yang sedang dimakannya. Mary menggeser roti lainnya ke depan Sean.


"Aku nggak suka roti!" Sean meneguk kopinya. Malam ini tidak begitu pahit, Sean berbicara dalam hati.


"Jadi, yang kamu suka apa?" Mary merasa ingin mengetahui Sean lebih jauh. Cowok ini tidak menyukai banyak hal...


"Apa aja! Kecuali sesuatu yang manis.." Sean membuka keripik kentang, dan memasukkannya ke dalam mulut.


Kriuukk kriuukk.


Mary tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya. Akhirnya dia tahu sesuatu hal tentang cowok itu.

__ADS_1


"Hutangku sekarang pasti sudah berbunga banyak ya?" gumam Mary seakan sedang mengingat sesuatu yang jauh.


"Kamu sudah membayarnya sekarang!" Sean meneguk kopinya lagi.


"Aku masih berhutang banyak, karena kamu selalu menolongku!"


Apa dia ingat aku?


"Kamu harus lebih rajin lagi mengajar Misha, biar mamaku ngasih banyak uang ke kamu. Jadi kamu bisa ntraktir aku lagi kayak gini.."


Aku cuma anak kecil jelek yang kebetulan dia tolong.


"Aku akan ntraktir makanan yang enak lain kali!"


"Oke. Aku tunggu!"


Tring tring.


Sean membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Pasti dari Celine.


Benar saja!


Lagi ngapain?


Sean melirik Mary. Perasaan apa ini?


Minum kopi


Sean menekan tombol send dan secepat kilat cewek itu sudah membalas pesannya.


Sendiri? Atau sama siapa?


Perasaan ini, seolah dirinya sedang berselingkuh diam-diam dari Celine. Aneh sekali rasanya.


Sendiri..


Sean menghabiskan keripik kentang terakhirnya. Dia bangkit berdiri dan mengajak Mary pulang. Mary membersihkan bekas-bekas bungkus snack di meja. Saat itulah dia menjatuhkan tasnya ke lantai.


Kreees.


Sean melihat ke bawah sepatunya. Sesuatu berbentuk seperti kaca baru saja dia injak menggunakan kakinya yang besar.


"Gantungan tasku.." Mary menjerit kecil melihat benda berbentuk bola lampu lucu itu telah hancur berkeping-keping di kaki Sean.


Sean tidak habis pikir melihat wajah Mary sesedih itu hanya gara-gara sebuah gantungan lucu yang kelihatan murahan.


"Bukan masalah harganya, tapi nilainya!" Mary protes. Gantungan tas ini kan dia beli kembaran bersama Milli dan Jeny di mall waktu itu. Dia sangat menyukai gantungan ini, karena setiap melihatnya dia akan mengingat momen yang seru dan menyenangkan yang pernah dia lakukan bersama orang lain.

__ADS_1


"Akan ku ganti!" Sean kesal karena melihat wajah Mary yang semakin ditekuk.


###


__ADS_2