Lovable You

Lovable You
38. Suasana Aneh


__ADS_3

"Aku duluan.." Juan setengah berlari meninggalkan Mary saat melihat sebuah taxi berhenti di pinggir jalan. Cowok itu tadi berkata dia ada pemotretan setelah pulang kuliah dan kelihatan cowok itu sedang terburu-buru sekarang.


Mary mendesah. Kenapa Juan bisa bersikap biasa saja bahkan setelah kejadian semalam? Kenapa cowok itu tetap memperlakukannya seperti biasa?


Kenapa seperti itu?


Apa dia benar-benar menyukaiku?


Mary terus memikirkannya bahkan sampai ketika dia sudah berdiri di dalam kereta yang akan membawanya pulang.


Badan Mary sedikit terhuyung ketika seseorang lewat dan menyenggol bahunya di dalam kereta yang tidak begitu sesak ini. Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya mendekatinya dengan raut muka yang memelas.


"Dek, tolong pinjemin saya uang 50 ribu untuk pulang. Saya salah naik kereta, saya sudah tidak punya uang lagi.."


Hah.


"Saya baru saja kecopetan di stasiun, kaki saya lemes. Saya belum makan dari tadi pagi.."


Mary tahu mereka sekarang menjadi pusat perhatian.


"Tolong dek, saya harus segera pulang. Kasihan anak saya menunggu di rumah.."


Mary merasa tidak nyaman melihat raut muka wanita itu. Dia mengeluarkan dompet dari tasnya, sedikit ragu-ragu


"Terima kasih dek.."


Mary melongo, padahal wanita itu belum menerima uangnya tapi kenapa sudah mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.


"Semoga adek rejekinya ditambah, semoga sekolahnya lancar.."


Mary tambah melongo melihat wanita itu berlalu meninggalkannya menuju gerbong lain. Tidak bisa dipercaya.


"Kenapa kamu kasih dia uang?" sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Mary. Rupanya Ragil telah mengamati Mary sejak tadi.


Mary cukup terkejut melihat cowok itu ada disini. Ragil menjelaskan dia memang sering naik kereta untuk pulang pergi kuliah, baginya lebih efisien daripada harus mengendarai mobil dan menghabiskan waktu sia-sia di jalanan yang sering macet.


Jika saja Mary tidak ingat Ragil pernah berkata buruk tentang dirinya, mungkin sampai sekarang dia masih kagum dengan cowok itu. Dia tipe cowok leadership, vokal dan prinsipil, kesemua sikap yang tidak dimiliki Mary.


"Jadi kamu nggak tahu wanita itu cuma modus doang? Dengan kata lain wanita itu pengemis dengan cara menipu.." kata Ragil lagi.


Mary tersenyum kecut, "Aku tahu sih.."


"Tahu?"


"Aku pernah membaca modus-modus seperti itu di portal berita online.."


"Terus kenapa kamu kasih uang?"


"Nggak enak.."


Nggak enak?" ulang Ragil.


"Ya nggak enak aja!"


Ragil menggumam tidak percaya. Dia mengamati wajah Mary dengan seksama. Dia ingat pernah tertarik dengan wajah itu sebelum dia melihat wajah aslinya seperti apa.


Apa Sean memang tertarik pada cewek ini?

__ADS_1


Kenapa?


"Aku bodoh ya?" Mary merenung.


"Mmm... Iya?" Ragil tertawa kecil.


"Tapi dia meminta 50 ribu dan hanya aku kasih 20 ribu. Bukankah itu artinya aku sedikit pintar?"


Kali ini Ragil terang-terangan tertawa lebar. Ini cewek polos atau bodoh sih. Tapi kalau memang bodoh kenapa tante Alexa berkata puas dengan cara mengajar cewek itu ke Misha.


"Kamu masih mengajar Misha kan?"


"Masih," Mary mengangguk, "Makasih ya sudah rekomendasiin aku buat ngajar disana. Waktu itu aku belum pernah sempat bilang makasih kan?"


Ragil merasa tidak enak karena sejak dia tahu masa lalu Mary, dia belum pernah menghubungi cewek itu lagi.


"Waktu itu kamu kan?" Ragil tiba-tiba teringat sesuatu.


"Apa?"


"Kamu datang ke ruang klub waktu itu kan?"


Mary tertegun sejenak. Waktu itu sebelum dia cepat-cepat berlari, dia memang sempat melihat Ragil menoleh ke arahnya.


Mary mengangguk pelan.


"Emang waktu itu kamu ada perlu apa? Dan kenapa langsung pergi?"


"Nggak ada apa-apa sih.." Mary menjawab pelan, "Ada sedikit perlu, tapi nggak jadi.."


Mary sedikit terkejut karena Ragil mengetahuinya.


"Jadi waktu itu kamu denger sesuatu?" Ragil bertanya, sedikit khawatir Mary mendengar dirinya yang berkata sedikit buruk tentangnya waktu itu. Dia bukan cowok jahat, dia tentu akan merasa tidak enak jika menyakiti orang lain. Apalagi cewek.


Mary terdiam sejenak, lalu menggeleng.


"Kamu sekarang deket sama Sean ya? Apa karena kalian sering ketemu saat mengajar Misha?" Ragil bertanya lagi setelah sekian lama.


"Kami juga satu kelompok di kelas Prof. Harry.."


Ragil menggumam, dia teringat temannya itu memang mengambil kelas Prof. Harry lagi tahun ini.


"Maaf, kamu nggak nyaman ya aku terkesan kepo?"


Mary menjawab tidak apa. Meskipun dia sedikit heran, tidak biasanya cowok itu mau mengajaknya bicara. Bukankah cowok itu benci cewek seperti dia?


***


Mary sedikit terkejut ketika dia pulang ke rumah dan mendapati Sean tengah menunggu di dekat rumahnya.


Hah? Dia nggak salah liat kan?


"Kak Sean ngapain disini?"


Pipi Sean memerah. Baru saja dia ingin menghubungi cewek itu. Dan sekarang dia tidak bisa menjelaskan kenapa dia sangat ingin kesini.


"Aku mau..." Sean cepat memutar otak, "Besok kamu harus datang lebih awal mengajar Misha. Mamaku yang suruh.." Baru kali ini Sean berbohong atas nama Ibunya.

__ADS_1


"Kenapa repot-repot kesini? Kan bisa SMS saja?"


Tentu saja bisa!


"Aku sekalian lewat daerah sini!" Untuk kedua kalinya Sean berbohong lagi.


"Ohh, oke.." Mary mengangguk-angguk.


Udah gitu aja, Sean merutuk dalam hati.


Melihat Sean yang tetap berdiri, Mary menjadi tidak mengerti.


"Mmm, mau mampir dulu?" Mary sebenarnya merasa canggung bertanya demikian. Dan lebih canggung lagi karena Sean menganggukkan kepala.


"Dia kakaknya murid lesku.." Mary memperkenalkan Sean pada ibunya karena ibunya terlihat bingung Mary pulang bersama cowok. Tampan lagi. Mary pun menjelaskan kenapa Sean datang kemari.


"Ajak temanmu ngobrol. Ibu mau keluar belanja dulu. Sabun kita habis.." Ibu berseru ketika kembali keluar setelah beberapa saat masuk ke dalam. Ibu bukan orangtua kolot, dia sengaja meninggalkan Mary dan teman cowoknya agar mereka bisa bebas berbicara. Ibu berpikir kalau dirinya juga pernah muda. Ibu menduga Sean lagi PDKT dengan putrinya.


"Mau minum?" Mary bertanya canggung.


"Tidak usah.." Sean tidak kalah canggungnya.


Saat itulah mereka berdua melihat segelas jus jambu yang dibawakan ibu baru saja. Mary menggigit bibirnya, sedang Sean melengos karena merasakan pipinya menghangat.


Kenapa suasananya aneh begini?


"Kayaknya aku orang terakhir yang tahu kamu kemarin ulang tahun ya?" Sean berusaha memulai percakapan.


"Ah, darimana Kak Sean tahu?"


"Aku melihat postingan ig-mu tadi pagi.."


Mary ingat tadi malam dia memposting foto bersama teman-temannya sambil membubuhi caption bahwa tahun ini ulang tahunnya yang menyenangkan.


"Ternyata Kak Sean ngefollow aku ya?"


Sean mengangguk, "Dan kamu belum follback aku.."


"Aku jarang buka ig sih. Aku hanya buka saat posting momen-momen tertentu.."


"Oh.."


Mary masih belum bisa mengenyahkan kecanggungan di antara mereka padahal dia sudah berusaha.


"Oh ya," Mary teringat sesuatu dan segera masuk ke kemarnya untuk mengambil gantungan tas yang membuatnya dilabrak Celine.


"Ini. Aku sudah mau mengembalikannya dari kemaren-kemaren, tapi selalu lupa..


Sean menerima gantungan tas itu. Dan sekarang entah kenapa dia merasa bersalah pada Celine padahal dia tidak melakukan apa-apa.


"Apa Celine menyulitkanmu?" Sean bertanya.


"Mmm... Nggak kok!" Mary tidak tahu harus menjawab apa.


"Tapi dia mungkin marah Kak Sean datang kemari.." gumamnya pelan, sangat pelan.


###

__ADS_1


__ADS_2