
Juan tiduran di sofa apartemen rumahnya, saat ini dia hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaus t-shirt hitam berbahan sejuk. Sejak tadi dia memperhatikan foto di tangannya, foto candid dirinya dan Mary yang diambil sewaktu malam bazaar yang lalu.
Di foto itu, Mary nampak tersenyum memperhatikan kamera yang dipegang Juan.
Entah sejak kapan, Juan tahu, dia sangat suka melihat cewek itu tersenyum dibanding melihatnya menangis.
Juan teringat kejadian tadi siang, dia juga melihat Mary menangis. Lagi.
Cewek itu menangis sendirian di dalam perpustakaan sambil pura-pura menekuri buku di hadapannya. Bahunya sesekali terguncang. Juan hanya membuntutinya dan menatapnya dari balik rak buku.
Dia makan sendirian...
Dia menangis sendirian...
Seakan tidak memiliki 'seseorang' untuk berbagi. Kenapa Juan bisa mengerti perasaan itu?
Akhir-akhir ini dia sering memikirkan Mary. Entah sejak kapan Juan sadar bahwa dirinya menyukai cewek itu. Mungkinkah sejak malam bazaar yang lalu? Sejak dia meramalnya, atau sebelumnya, sejak dia memandang Mary yang ikut bergumam menyanyikan lagu, atau bahkan sebelumnya?
Entahlah.
Jauh sebelumnya Juan tahu perasaannya tidak seperti ini. Pertama kali melihat Mary, dia memang sudah tertarik dengan cewek itu. Iya. Tapi semakin mengenalnya, perasaan itu berubah simpati. Dia selalu melihat cewek itu menangis, dia selalu melihatnya sendirian...
Mungkin simpati berubah jadi iba...
Tapi sekarang dia tahu, bukan perasaan iba lagi yang ada di hatinya. Tidak mungkin rasa iba jika dia merasakan dadanya serasa mendidih saat melihat Mary membukakan tutup botol air mineral untuk Sean kan?
Dia tahu perasaan apa itu. Bukan iba.
Juan menghela napas panjang.
Aneh. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Perasaan ingin menjaga, ingin melindungi, ingin menjadi seseorang tempat cewek itu berbagi segala sesuatu.
Tetapi kenapa dia merasa takut untuk menyatakan perasaannya? Seolah dia takut ditolak.
Baru kali ini...
Dia sudah pernah pacaran dua kali. Pertama kalinya dulu dia yang ditembak teman sekelasnya sampai akhirnya mereka jadian. Sedangkan yang kedua, dia sendiri yang nembak kakak kelasnya sewaktu acara karnaval sekolah. Waktu itu dia juga merasa takut, deg-degan. Tapi bukan perasaan seperti ini...
Ini berbeda.
"Kamu suka Mary kan?" beberapa waktu yang lalu Milli menanyainya.
"Emang kelihatan kalau aku suka dia ya?" Juan malah bertanya balik.
Kali ini berbeda karena dia sangat mengerti Mary yang serapuh kaca keramik yang akan hancur berkeping-keping jika jatuh. Cewek itu mudah terluka, mudah menangis dan mudah merasa tidak berarti.
Dan Juan ingin memperlakukannya hati-hati...
Tiba-tiba sebuah tangan menyambar foto yang sejak tadi dipandanginya.
"Foto siapa sih?" Kara seenaknya duduk setelah sebelumnya menyingkirkan kaki Juan dengan kasar. Juan merasa benar-benar harus mengelus dada tinggal bersama adiknya itu.
"Ini pacarmu ya?" tanya Kara, "Boleh juga. Kenalin kesini ya?"
__ADS_1
"Bukan!" Juan merebut foto itu lagi dan menyimpannya di dalam halaman buku tebal teori ekonomi mikro yang tergeletak di meja.
Kara heran, kakaknya itu suka sekali membaca buku pelajaran. Padahal melihat tampangnya, siapapun mengira cowok itu bukan tipe siswa yang suka membaca. Tapi memang begitulah kakaknya yang cakep, baik dan suka belajar sejak dulu. Tidak heran, teman-teman sekolah Kara begitu tergila-gila pada kakaknya itu.
Kara masih ingat sewaktu kakaknya masih kelas 3 SMP sedangkan dirinya baru masuk kelas 1 SMP yang sama, dia sering ditraktir jajan kakak kelas cewek hanya gara-gara dirinya adalah adiknya Juan. Menyenangkan juga punya kakak yang tampan, hehe.
"Oh, jadi kamu ditolak dia?" Kara masih penasaran.
Juan menoyor kepala adiknya yang sok tahu.
"Terus kenapa mukamu ngenes begitu?"
Juan memegang pipinya dengan tampang cute. "Nggak ah, nggak ngenes!"
Kara mencibirkan bibirnya yang tipis. "Iya juga, Kamu gak mungkin ditolak cewek lah. Yang ada, kamu yang nolak cewek.." Kara teringat entah sudah berapa banyak cewek yang patah hati ditolak kakaknya.
"Yang ini beda.." Juan kembali merebahkan badannya.
"Jadi bener kan? Kamu suka sama cewek di foto tadi?"
"Kepo!" Juan meledek.
"Baru kali ini kan kakakku yang cakep galau gara-gara cewek?" Kara balas meledek.
"Nggak galau!" Juan tertawa geli.
"Masak?"
"Siapa yang ulang tahun? Cewek tadi ya?"
Juan mengangguk. Dia masih ingat tanggal kelahiran Mary saat tidak sengaja melihat KTP nya saat dia mengembalikan dompet waktu itu.
"Hmm, apa ya?" Kara kelihatan berpikir, "Tas? Boneka? Bunga?"
"Terlalu biasa.." Juan mengernyitkan kening.
"Dia tipe cewek yang kayak gimana?"
"Mm, gimana ya?" Juan berusaha berpikir, "Pendiam?"
"Setelah kamu macarin cewek model Raya, sekarang kamu tertarik sama cewek pendiam?"
"Emang kenapa?"
"Selera kamu unik!" Kara mencibir.
"Rasa suka itu nggak bisa kamu atur!"
"Gombal!" Kara kelihatan berpikir lagi, "Biasanya sih cewek pendiem itu kutu buku. Kasih kado buku aja!"
Juan menimbang-nimbang. Iya juga sih, Mary kan senang membaca buku.
"Kalau sesuatu yang paling membuat cewek percaya diri jika memakainya apa?"
__ADS_1
"Apa ya?" Kara sedikit kesal karena keinginan kakaknya yang aneh-aneh.
Tiba-tiba dia tersenyum lebar, "Kita mikir hadiah apa yang cocok sambil jalan-jalan ke mall yuk!"
"Bilang aja kamu mau shoping.." Juan tahu Mamanya baru saja mentransfer sejumlah uang ke rekening adiknya.
"Sekalian cari makan.." Kara merajuk.
"Bukannya kamu tadi ceplok telur?"
Kara cengengesan, "Gosong.."
Juan menepuk jidatnya, "Ceplok telur aja nggak bisa?!"
Kara meninju lengan Juan, mengatakan jangan meledeknya begitu. Wajar dia tidak bisa masak, karena selama ini kan Mama tidak pernah memperbolehkannya ke dapur. Siapa yang sangka kedua orangtuanya akan bercerai dan mengharuskannya tinggal di apartemen sendiri seperti ini.
"Aku kan sudah bilang, kamu ikut Mama aja.." Juan menyahut.
"Aku kan ingin mandiri seperti kakak.."
"Mandiri apanya!" Juan mencibir, "Bilang aja kamu ikut kakak biar bisa bebas keluyuran, kan?"
Kara tersenyum geli.
"Tapi awas ya, kalau kamu kelewat batas, kakak gak akan segan mencekik leher kamu!" Juan memiting leher Kara, bercanda.
"Nggak akan!" Kara tertawa.
"Jangan main cowok!"
"Maksudnya aku disuruh main cewek aja?"
Juan menoyor kepala adiknya lagi. Adiknya itu juara satu jika disuruh ngeles dan memutar balikkan sesuatu.
"Jangan pacaran!"
"Mmm... Nggak janji!" Kara tertawa melihat wajah kakaknya yang mendelik lucu.
"Kamu harus kenalin cowok itu dulu ke kakak jika mau pacaran. Jika kakak bilang nggak, jangan pacaran."
"Diih, over protektif!"
"Biarin!" Juan bangkit berdiri, "Ayok, cepat ganti baju!"
"Kemana?"
"Katanya lapar. Kita cari makan di luar.."
Kara cepat berdiri dan masuk ke kamarnya untuk berganti baju dan memoleskan make up tipis. Kakaknya mungkin tidak tahu, tapi dia sangat menyukai kakaknya itu lebih dari cowok manapun di dunia ini.
Jika dia punya pacar, dia akan mencari yang seperti kakaknya.
###
__ADS_1