
"Cukup sampai disini materi hari ini," kata Prof. Harry menutup kelasnya.
"Kita akan mengadakan kuis setiap minggu sampai UTS dimulai, dan diikuti dengan presentasi per kelompok setiap sebulan sekali. Hmm, suara apa itu?"
Prof. Harry mengeluarkan senyum dinginnya mendengar seluruh mahasiswa di kelasnya mengeluh. Dia memang terkenal sebagai dosen paling killer di kampus sekaligus dosen yang paling sering memberi tugas.
"Kalian ini suka sekali mengeluh! Negara kita gak akan bisa bersaing maju jika punya mahasiswa seperti kalian!" Prof. Harry berdecak, "Apalagi bersaing dengan China, dengan Malaysia saja kita sudah jauh ketinggalan!"
"Orang tua kalian menghabiskan banyak uang agar kalian bisa kuliah di kampus ini. Biaya kuliah kalian saja mungkin lima kali lipat gaji saya mengajar. Tugas kalian hanya duduk, mendengarkan dan mengerjakan tugas!" semua mahasiswa di kelas tertunduk terdiam mendengar ceramah membosankan Profesor dengan rambut yang mulai beruban itu.
"Jadilah mahasiswa yang bersemangat! Saya waktu muda dulu tidak seperti kalian, lembek! Waktu muda saya, saya isi dengan menghabiskan semua buku-buku terkenal mulai karya Adam Smith... Robert Wade... Siapa lagi? Stephen Hawking. Tidak seperti teman-teman saya yang lain waktu itu, lebih suka membaca buku Anne Arrow diam-diam sambil mengunci pintu kamar dan memeluk guling.."
Terdengar gelak tawa seisi kelas.
"Who Anne Arrow?" Jeny berbisik.
"Penulis novel ehem-ehem populer tahun 80 an.." Mary menjawab.
"Kamu nggak tahu?" Milli menyambung, sedikit mencemooh wawasan temannya.
"Gimana aku bisa tahu?!" Jeny jengkel. "Tahun segitu kedua orang tuaku mungkin baru saling berkirim surat cinta! Aku justru malah heran, kenapa kalian berdua mengetahuinya!"
Jeny memandang kedua temannya dengan curiga.
"Sekarang lihat saya! Masa muda saya yang penuh pengorbanan berbuah gelar sampai bisa mengajar kalian saat ini." Prof. Harry melanjutkan dengan nada bangga.
"Jadilah mahasiswa yang beprestasi, penuh semangat untuk maju, ikut membangun bangsa dan negara. Begitu. Mengerti?"
Seisi kelas kompak menyahut.
"Untuk tugas kelompok, saya sudah membagi kalian per kelompok 5-6 orang. Kalian bisa mengeceknya di web kelas nanti.."
"Tulis 10 halaman tentang strategis pemasaran sebuah perusahaan menengah. Ingat!" Prof. Harry melanjutkan, "Jika ada yang tidak bekerja di dalam tim, kalian akan mendapat nilai C!"
"Kalian memilih jurusan manajemen, itu artinya kalian siap bersosialisasi, bernegosiasi, siap bekerja dalam tim. Saya juga akan menilai aspek tersebut sebagai nilai plus masing-masing dari kalian. Mengerti?"
"Semoga kita bertiga satu tim.." Milli berbisik sambil mengatupkan kedua tangannya ke dada.
"Ayo kita buka!" kata Jeny membuka ponselnya dengan cepat ketika Prof. Harry memberi salam dan meninggalkan kelas.
Tak lama kemudian dia bersorak kegirangan membuat Mary setidaknya bisa menduga-duga.
__ADS_1
"Kita bertiga kelompok D. Ada tiga nama lagi.." Jeny sumringah.
"Bling-bling, wow. Juan... Oh, Kamasean siapa?" Milli membaca daftar kelompoknya.
Mereka menoleh-noleh.
"Apa kak Sean?" Mary menerka-nerka.
"Oh, senior itu ya?" Milli menoleh ke arah cowok berkaus hitam lengan panjang yang sedang mereka bicarakan, "Bagus! Kita punya senior di kelompok kita. Aku yakin, kelompok kita bakal dapat nilai A+!"
"Prof. Harry membagi kelompok berdasar apa ya? Beruntung banget kita satu kelompok!" Jeny bertanya-tanya.
"Apa berdasar absensi? Absensi kita memang berdekatan kan?" Mary menyambung.
"Nggak usah dipikirin!" ujar Milli, "Yang penting kita satu kelompok. Mary, mohon bantuannya ya... Aku yakin kamu murid pintar kan?"
"Kamu mau menindas dia ya?!" Jeny menyenggol bahu Milli yang sedang cengengesan. Mary tersenyum, dia tahu mereka sedang bercanda.
Tiba-tiba Laura mendekati mereka, "Kalian kelompok D kan?"
Milly dan Jeny saling berpandangan.
"Kenapa?" tanya mereka tak senang.
Milli sekali lagi mengecek ponselnya dan benar, dia melihat nama Laura di urutan nomor tiga di dalam kelompoknya.
"Kenapa dia satu kelompok dengan kita sih?"
"Aku tidak suka!"
"Aku juga!"
"Apa kita meminta Prof. Harry untuk menukar dia dengan orang lain?"
"Ide bagus!"
"Hei!" Laura berseru, "Apa kalian harus berbicara seperti itu di depan orangnya sendiri?!"
"Oh, kamu orang?"
Laura memanyunkan bibirnya. Dia melihat Mary yang menatapnya tapi seketika cewek itu membuang pandang ketika dia menatapnya balik.
__ADS_1
Milli melihat itu. "Dengar ya, rambut jagung! Jangan macam-macam dengan Mary!" Milli menunjukkan kepalan tinjunya.
Laura mencibir. "Apa tadi kamu bilang? Rambut jagung?!" Laura mengamati rambutnya yang panjang berwarna coklat kemerahan seakan tidak percaya.
"Ini namanya warna auburn, ngerti nggak?" dia masih tidak terima rambut indah hasil karya salon terkenal itu dikatai rambut jagung.
"Hai.." tiba-tiba Juan menyapa, "Ini kelompok D kan?"
"Betul sekali!" sahut Milli cepat dengan mata berbinar-binar melihat Juan yang tampak tampan empat kali lipat mengenakan kaus kasual berwarna putih lengan panjang dengan sedikit kombinasi abu-abu.
"Welcome to the team.." Milli membungkukkan badannya membuat Jeny berkata dia ingin muntah melihat tingkah temannya itu. Mary tertawa kecil.
Milli histeris. "Kalian ngerasa gak, kelompok kita tuh paling keren! Mereka semua pasti iri!" dia menoleh ke arah teman-temannya di kelas yang saling berkelompok tak beraturan. Beberapa mahasiswa cewek melihat ke arah kelompoknya sambil berbisik-bisik iri karena Juan ada disana.
"Kamu adalah anugerah!" Milli menepuk-nepuk pundak Juan. Sedang Jeny berseru memintanya berhenti bersikap agresif seperti itu.
Mary tertawa kecil lagi. Juan melihatnya. Mary buru-buru mencari objek lain begitu sadar cowok itu menatapnya. Rasanya aneh sekali setelah hari itu. Dia merasa kikuk sekali setiap melihat Juan setelah hari itu. Apa yang dia pikirkan tentangku ya?
Mary melihat Sean bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mereka.
"Hai kak.." mereka menyapa.
Sean cuma menjawab singkat.
"Kakak satu kelompok dengan kami kan? Mohon bantuannya ya.." Milli bersikap manis. Dalam hati dia sangat senang kelompoknya penuh dengan cowok-cowok tampan. Betul-betul penyegaran mata.
"Oh.." Sean cuma ber-ooh sementara matanya menatap Mary sekilas sebelum akhirnya ngeloyor begitu saja menuju pintu, meninggalkan ruangan kelas.
"Apa itu tadi?" Milli seakan tak percaya melihat ekspresi dingin Sean, "Aku tidak suka dia!"
"Aku suka. Dia tampan.." Jeny menyambung dengan bibir yang tak henti tersenyum lebar, "Dan misterius.."
Milli menganga tak percaya mendengar Jeny ternyata menyukai tipe yang seperti itu.
"Dia memang tampan. Tapi dia tidak ekspresif, kaku kayak robot. Aku lebih menyukai yang seperti ini.." Milli menarik-narik ujung kaus Juan sambil berkedip-kedip.
"Pilihan yang pintar!" Juan justru tertawa, "Aku memang lebih baik!"
"Milli hentikan sikapmu itu!" Jeny meringis, "Aku benar-benar mau muntah sekarang!"
Mary tertawa melihat kedua temannya beradu mulut. Entah kenapa, dia merasa senang. Sepertinya musim dingin kali ini tidak akan begitu dingin. Mungkin sedikit hangat?
__ADS_1
###