
Juan berjalan di sepanjang koridor kampus sambil membuka pesan yang masuk berturut-turut di Hapenya. Dari adiknya.
Kapan pulang?
Cepat pulang! 😤
Aku lapar. Mampir belikan burger udang dan kentang. Cepaaaat! Rasanya aku mau mati karena kelaparan ðŸ˜
Juan tersenyum. Dia tidak habis pikir kenapa dia bisa punya adik perempuan seperti Kara, cewek manja yang tidak bisa memasak sama sekali. Belum bawel, cerewet dan suka memerintah! Tapi meski begitu, Juan tetap akan panik jika cewek itu pergi tanpa memberitahunya. Dia begitu menjaga adiknya hati-hati, dia bahkan pernah mengaku sebagai pacar Kara sewaktu Juan menjemput adiknya di sekolah agar tidak ada cowok yang berani coba-coba mendekati adiknya itu. Hihi.
Dia hanya tinggal berdua dengan adiknya di sebuah apartemen, jadi dia harus bertanggung jawab menjaganya kan?
Juan menghentikan langkah ketika melihat tiga orang cowok yang sedang ribut di bawah tangga, dia tertarik karena sepertinya samar-samar dia mendengar obrolan yang menarik perhatiannya.
"Ada apa?" tanyanya mendekat.
"Ada dompet jatuh.." Juan melihat cowok berkaus biru memegang dompet berwarna pink menandakan bahwa pemiliknya pasti seorang cewek.
"Milik siapa?" Juan bertanya lagi.
"Kayaknya milik cewek muka oplas tadi. Itu, angkatan baru jurusan bisnis kalo nggak salah.."
"Iya, barusan ku lihat dia kesandung saat turun tangga tadi. Kayaknya dompetnya jatuh waktu itu.." cowok lainnya menimpali.
"Boleh aku lihat?" Juan menerima dompet pink itu di tangannya, dia membukanya dan menarik KTP yang terselip di dalam. Benar milik Mary, batin Juan saat melihat foto dan identitas di balik KTP itu.
"Dia teman jurusanku. Biar aku yang kembalikan.." kata Juan. Ketiga cowok itu terlihat ragu tapi kemudian mempersilahkan saat Juan memperlihatkan kartu jurusannya.
Sebelum Juan berlalu, dia menoleh ke cowok berkaus biru dan menatapnya tajam. "Dia punya nama. Jangan panggil dia seperti itu lagi.." katanya kemudian.
Juan berlalu sambil memandangi dompet pink di tangannya. Cukup lama dia menimbang-nimbang sampai akhirnya dia memutuskan untuk membalas pesan adiknya.
Di lemari es ada pop mie, kamu tinggal merebus air untuk menyeduhnya. Aku pulang sedikit sore nanti.
Juan tersenyum dan berbelok menuju gedung administrasi kemahasiswaan.
***
Mary sedang mengiris bawang di dapur rumahnya, dia membiarkan air matanya bergulir dari matanya yang memerah. Bukan cuma bawang ini yang membuat matanya perih, tapi hatinya juga.
"Kamu memang ibu tidak berguna!" Mary bisa mendengar suara keras ayahnya dari ruang tamu. Ayah dan ibunya telah bertengkar sejak tadi.
Mary terkejut ketika sepulang kuliah dia mendapati ayahnya berkunjung. Dia tahu ayahnya akan segera menemuinya cepat atau lambat, tapi tetap saja dia belum tahu bagaimana caranya berbicara jika mereka sudah bertemu.
Seperti dugaannya, ayahnya terkejut melihat perubahan wajah Mary. Ayah bahkan tidak mengenalinya. Tapi semua itu berubah menjadi amarah saat ayah tahu biaya operasi plastiknya dibiayai dari hasil penjualan blok kavling yang dibelikan ayahnya kurang lebih setahun yang lalu.
"Ibu tidak berguna kamu bilang? Memang siapa yang membesarkan anakmu selama ini?!" terdengar jeritan ibunya disusul suara dentuman di dinding. Sepertinya ada suatu benda yang telah jadi sasaran, entah ayah atau ibunya.
__ADS_1
Mary jadi teringat sewaktu dia kecil dulu, teriakan-teriakan seperti ini bukan lagi hal asing. Hampir setiap hari kedua orang tuanya bertengkar, entah apa penyebabnya Mary tidak begitu ingat. Kalau tidak salah, usianya baru 7 tahun saat itu.
Yang terakhir Mary ingat ketika suatu malam di hari ulang tahunnya, dia melihat ibunya menangis sementara ayahnya mengemasi pakaiannya ke dalam tas ransel besar. Mary hanya mengintip di balik pintu ketika keduanya bertengkar dan ia menyaksikan pipi ibunya ditampar dengan keras. Dia menggigil, hanya mampu menggigit bibir menahan tangis dan emosi yang tidak dia mengerti saat itu.
Sebelum pergi, ayahnya sempat menoleh padanya beberapa saat tapi kemudian bergegas keluar rumah dengan cepat dan tidak pernah kembali.
Ayahnya datang berkunjung setahun kemudian dengan membawa cerita tentang seorang bayi mungil yang baru lahir, ayah menyebut itu 'adiknya'. Mary kecil tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tapi dia tahu dia sangat membenci ayahnya lebih dari yang ibunya tahu.
Ibunya sendiri tidak pernah menghasutnya, justru ibunyalah yang mendorongnya menerima dengan lapang dada segala kebaikan yang berusaha diberikan ayahnya sejak saat itu.
"Aku membelikanmu blok itu juga untuk masa depan Mary. Tapi kamu seenaknya menjualnya untuk hal yang tidak berguna. Aku yakin kamu yang mendorongnya untuk operasi plastik kan?"
"Kamu itu ibu macam apa? Kenapa mengijinkan anakmu sendiri operasi plastik? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu!"
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang Mary, jadi diamlah!"
"Tentu aku harus bicara, kamu memakai uangku untuk itu! Kamu mau menjadikan anakmu apa? Apa kamu tahu imej operasi plastik seperti apa di luaran sana? Kamu merusak anakmu sendiri!"
"Apa? Merusak katamu?!"
Mary meringis ketika tangannya tersayat pisau yang sedang dipegangnya. Dia memegangi tangannya yang berdarah. Tangannya yang terluka tapi justru hatinya yang sakit. Sungguh aneh.
Mary menyeka matanya yang basah, juga melepas celemek bermotif hello kitty yang melilit pinggangnya. Dia berjalan keluar menghadap ayah dan ibunya yang tak henti berdamai. Aku sudah lelah..
"Ayah, berhentilah!" katanya. Dia bisa merasakan nada putus asa dalam suaranya sendiri yang bergetar. Dia melihat ayah dan ibunya menoleh.
"Jika ayah ingin marah, marahlah padaku. Aku yang menginginkan mengubah wajahku, ibu tidak bersalah dalam hal ini.."
"Ayah memikirkan akibat dari tindakanku, tapi ayah tidak bertanya kenapa aku sampai melakukan hal itu kan?" Mary merasa air matanya ingin keluar lagi, "Kenapa ayah tidak bertanya?"
Ayah terdiam, kali ini menatap Mary dengan dalam.
"Ayah tahu bagaimana orang jelek sepertiku diperlakukan di dunia ini?" Mary bisa merasakan air matanya mengalir membentuk anak sungai yang panjang.
"Karena hidungku besar, orang-orang menjulukiku babi.." Mary teringat sekelompok anak laki-laki yang membullynya di waktu kecil, "Karena kulitku dekil, orang-orang mengataiku tidak pernah mandi.." Mary teringat beberapa anak perempuan yang membicarakannya di belakang ketika di bangku SMP, "Karena orang tuaku bercerai, orang-orang mengataiku wajar tidak terurus karena ibuku sibuk mencari uang sementara ayahku sibuk kawin lagi.."
"Siapa yang bicara seperti itu?" tanya Ayah pelan setelah tercekat untuk beberapa waktu.
"Tentu saja ayah tidak tahu karena ayah tidak hidup bersamaku untuk waktu lama.." Mary melihat ibunya yang menangis sambil menutup muka.
"Tapi apa ayah tahu apa yang lebih menyakitkan?" Mary berusaha menelan ludah dengan susah payah, berusaha menguatkan dirinya sendiri. "Fakta bahwa ayahku sendiri meninggalkan ibuku untuk wanita lain yang lebih cantik, itulah yang paling menyakitkan.."
Ayah terduduk di bangku sofa berwarna hijau lumut. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya limbung seolah lututnya tidak mampu lagi menyangga beban. Laki-laki berkumis tipis itu terdiam, dia tidak menyangka tentang apa yang disimpan anaknya selama ini di dalam pikirannya.
"Tidak ada tempat di dunia ini untuk orang jelek, Yah. Jikapun ada, tempat itu terlalu pengap dan menyakitkan hanya untuk bernafas sekalipun. Tapi kenapa aku juga harus mendapat caci maki karena meninggalkan tempat yang membuatku rasanya ingin mati?" Mary terisak. Dadanya terasa sakit, seperti ribuan pisau menghujam pelan-pelan ke jantungnya. Semua kejadian-kejadian menyakitkan itu bergulir runut di dalam pikirannya.
"Kenapa tidak ada satu pun yang mengerti?"
__ADS_1
Mary menekan dadanya, dia menggigit kuat bibirnya agar tangisnya tidak meledak. Tapi hal itu malah menyebabkan dia makin terisak dan tersengal. Aku tidak tahan. Aku benar-benar tidak tahan..
Mary mengambil tas selempang yang tadi sekenanya ia lempar ke sofa setelah pulang dari kampus. Dia berjalan keluar tanpa menghiraukan suara ibunya yang bertanya kemana tujuannya pergi.
Dia hanya merasa dia ingin pergi. Pergi. Kemana? Tidak tahu. Pokoknya pergi. Menjauh. Sejauh mungkin. Sejauh-jauhnya. Ke tempat dia bisa menangis, ke tempat dia bisa berteriak sepuasnya tanpa didengar, tanpa ditanya, tanpa dilihat siapa pun.
Mary berjalan lambat menyusuri trotoar, tapi dia tetap merasakan kesendiriannya di tengah bising kendaraan dan klakson yang bergantian terdengar. Dia tetap merasa seorang diri di tengah lalu lalang manusia yang sibuk dengan kehidupannya sendiri-sendiri?
Apa mereka juga punya masalah di dalam hidupnya? Mary bertanya-tanya ketika menangkap seorang berpakaian rapi yang berjalan bergegas sambil berbicara keras dengan ponsel di telinganya.
Apa mereka pernah terluka? Mary kembali bertanya-tanya ketika melihat beberapa anak berseragam putih-biru tua berjalan sambil tertawa-tawa.
Apa mereka pernah merasa hidupnya tidak adil? Mary melihat seorang gelandangan tua yang menengadahkan tangan ketika dirinya melintas. Entah kenapa tangan renta itu membuat langkah kakinya berhenti.
Dia memeriksa isi tasnya, berusaha mencari dompet. Tidak ada, mungkin ketinggalan di rumah. Dia meraba-raba saku celananya berharap ada lembaran uang yang terselip di sana. Tapi dia hanya menemukan satu koin seribu rupiah yang sekarang sedang dia pandangi dengan dalam.
Bahkan tak ada satu pun yang berjalan sesuai apa yang ku inginkan. Kenapa?
Mary meletakkan koinnya ke tangan renta yang terus menengadah itu. Wanita tua itu bergumam mengucapkan terima kasih berkali-kali hanya untuk uang seribu rupiah yang dia terima.
Mary berpikir apa wanita tua itu tetap akan berterima kasih seperti itu jika mengetahui uang yang seharusnya dia dapatkan jika saja dirinya tidak lupa membawa dompet? Apa wanita itu justru akan kecewa dengan ketidak beruntungannya?
Entahlah, begitu banyak yang dia pikirkan. Mary mendongak menatap langit yang bersih tanpa awan, berharap air mata yang rasanya mengambang itu urung untuk meluncur lagi.
Kenapa hidupku begini amat? Apa aku tidak berhak bahagia?
Mary berhenti di dekat zebra crossing, dia melihat lampu pejalan kaki masih berwarna merah sementara banyak kendaraan melintas cepat di depannya, membuat rambutnya berkibar diterpa angin sehingga menutupi pandangnya.
Rasanya ingin mati saja. Rasanya ingin pergi saja dari dunia yang kejam...
Mary merasa kepalanya limbung saat tanpa sadar kaki kanannya melangkah, tapi belum sampai kakinya menjejakkan telapaknya, sebuah sambaran di pundaknya yang berasal dari belakang membuatnya terhuyung.
Tangannya mencoba menggapai sesuatu untuk membantu menopang tubuhnya, sampai tangannya mendarat di sebuah pundak kokoh. Dia terhuyung mendekat, limbung. Dia bisa mencium aroma harum yang dia kenal, harum yang menentramkan, harum yang membuatnya sedetik melupakan beban-beban yang dia hadapi.
"Hati-hati. Kamu bisa terluka.." entah kenapa suara itu membuat Mary membayangkan nyanyian seorang peri di tengah hutan yang sunyi dan gelap. Begitu hangat, seperti perapian di kala musim dingin tiba. Begitu menentramkan, seperti pelukan seorang ibu kepada putrinya yang akan pergi jauh.
Mary menengadah. Kamu lagi, katanya dalam hati begitu melihat wajah Juan yang nampak khawatir.
Selalu kamu...
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Juan kemudian. Dia membantu Mary untuk tegak. Dia menatap mata Mary dalam, seolah berusaha menyelami apa yang terjadi dan sedang dirasakan cewek itu.
Kamu selalu menangis, batin Juan.
Sementara Mary hanya terdiam dengan air mata yang mulai mengalir butir demi butir. Rasanya memalukan selalu tampak menyedihkan seperti ini di depan orang lain. Apa yang dia pikirkan tentang ku?
"Mau ikut aku ke suatu tempat?"
__ADS_1
Mary tertegun.
###