Lovable You

Lovable You
45. Kenapa Aku Nggak Boleh Dekat Dia?


__ADS_3

"Are you okay?" Milli melambaikan tangannya ke depan wajah Mary yang melamun sedari tadi. Saat ini mereka sedang duduk-duduk di atas rerumputan halaman kampus, bersama-sama mengerjakan tugas bahasa Inggris untuk free talking berpasangan minggu depan.


"Ah, okay kok!" Mary berusaha tersenyum padahal pikirannya sedang tidak karuan sekarang. Dia masih membayangkan kejadian semalam dimana mamanya Sean dan Celine memergoki mereka yang sedang makan malam bersama.


"Kami habis pulang dari bakti sosial, Ma..." Sean berusaha menjelaskan pada mamanya yang dengan sorot matanya seolah menuntut penjelasan. Mary juga bisa melihat wajah berang Celine menatapnya dengan tajam seakan ingin menghabisinya saat itu juga.


"Jadi film apa yang akan kita bahas untuk tugas minggu depan. Ada ide?" Milli bertanya pada Mary.


Mary hanya menggeleng pelan.


"Kita harus mengangkat film yang berkualitas, populer dan banyak pelajaran yang bisa diambil. Gimana kalau Game of Thrones?"


"Itu punya kami!" Laura protes karena dia dan Jeny pun sedang menimbang-nimbang film itu juga.


"Siapa cepat dia dapat. Bukannya tadi kalian bilang akan mengambil film Joker yang lagi hits?"


Mary mengusap hidungnya, entah kenapa kepalanya semakin pening menyaksikan teman-temannya yang sedang berdebat.


Dia menghela nafas kemudian bangkit berdiri.


"Aku ke kantin beli minuman dulu ya? Kalian nitip apa?" tanyanya.


"Aku ikut!" Milli ikut berdiri sambil jingkrak. Lumayan lapar sih perutnya.


"Aku juga!"


Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk ke kantin bersama-sama.


"Kamu lagi ada masalah ya?" bisik Jeny pada Mary karena semenjak mereka berjalan beriringan menuju kantin hanya cewek itu yang diam membisu di antara mereka .


"Nggak"


Laura yang tidak sengaja mendengarnya mendesis. Nggak apanya! Dari jidatnya saja ketahuan kalau lagi punya banyak pikiran!


Mereka memasuki kantin yang penuh sesak, merangsek ke depan kasir yang penuh kerumunan para mahasiswa yang sedang berebut memesan makanan. Mereka melihat Juan juga sedang melakukan hal yang sama.


Juan say hai ke arah Mary tepat ketika seorang mahasiswi berbalik badan hingga membuat milkshake berwarna cokelat yang dipegangnya tumpah ke seragam Mary.


"Kalo jalan lihat-lihat dong!" seru cewek itu sambil ngomel galak.


"Eh gila kamu ya! Kamu yang nabrak kamu yang marah!" Milli merasa nggak terima melihat Mary dimarahi seperti tadi. Dia sudah merang


sek maju hendak mengejar cewek itu namun Mary menahan lengannya.


"Udah deh, nggak usah dibesar-besarin. Aku nggak papa kok!"


Melihat itu Juan mengambil tissue dari meja segerombol mahasiswa yang sedang menyantap bakso dan menyerahkannya ke Mary.


"Nih!"


"Hah?" Mary menatap tidak mengerti. Entah kenapa hari ini dia benar-benar linglung.


"Bajumu kotor!" tunjuk Juan. Mary menerima tissue dari tangan Juan.


"Kalian mau beli apa? Biar aku yang antri, sekalian aku juga mau beli minum."


"Trims!" Jeny menyahut dengan mata berbinar dan memberitahu Juan pesanan mereka.


"Kalian tunggu aja sambil duduk disana!" Juan menunjuk bangku kosong yang baru saja ditinggalkan segerombol mahasiswa.


Mereka berempat berjalan keluar dari antrian dan duduk.


"Kamu udah ngasih jawaban ke Juan?" Jeny bertanya.


"Hmm?"


"Jadi kamu akan nerima dia atau nolak dia?"


"Hah?! Jadi Juan nembak Mary?" Laura yang mendengarkan percakapan mereka sejak tadi merasa cukup terkejut. Hebat ya disukai cowok sekeren Juan.


Milli dan Jeny kompak menatap kesal Laura.


"Iihh, udah deh kamu nggak usah ikut-ikutan!" Milli melotot. Sebenarnya juga nggak terlalu serius, toh mereka sudah menjadi dekat akhir-akhir ini.


"Awas! Jangan ember!" Jeny ikut memperingatkan Laura yang cuma disambut cewek itu dengan nyengir kuda.

__ADS_1


"Jadi gimana? Gimana? Kamu udah nerima dia kan?" Milli masih penasaran dengan pertanyaannya yang belum dijawab Mary.


"Belum..." Mary cuma menjawab pelan.


"Kok belum sih? Terima dia dong. Dia itu baik banget tauk, Mer. Kelihatan juga dia beneran tulus banget sama kamu..."


"Aku belum ngerti jalan perasaanku sendiri..." Mary memutuskan untuk berbagi hatinya ke teman-temannya.


"Ya kamu jangan seperti itu dong!" tiba-tiba Laura ikut nimbrung.


"Seperti itu?"


"Kalau kamu juga suka dia, terima. Kalau nggak suka, katakan. Kamu harus membuat batasan yang jelas di antara kalian. Bukan kayak gini, kamu nerima setiap perhatian dia dengan tangan terbuka seolah memberi harapan. Kan bukan cuma perasaan kamu aja yang harus dimengerti, dia juga ada perasaan lho. Gimana kalau dia beneran tulus sama kamu, dengan kamu bersikap kayak gini apa hati dia nggak sakit?"


"Laura!" Jeny menegur.


"Kenapa? Omongan aku bener dong?!"


Mary terkesiap sejenak. Yang dikatakan Laura ada benarnya. Juan begitu baik padanya meskipun dirinya belum memberikan jawaban sampai detik ini.


Dia terus menerus menerima perlakuan hangat Juan dengan senang hati, tapi bukankah sikap seperti ini jahat?


Tapi untuk membuat batasan yang jelas?


Bukankah aku merasa takut?


Mary terkejut dari lamunannya ketika tiba-tiba wajahnya diguyur air yang membuat teman-temannya terpekik. Seketika suasana kantin yang semula berdengung mendadak senyap karena semua pasang mata tertuju pada meja mereka dimana 2 orang cewek berdiri sambil bertolak pinggang seakan menyimpan amarah.


Mary tentu saja mengenali salah satunya.


Celine.


***


"Gila ya!" Sandra menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi yang didudukinya di dalam kantin saat ini. Dia menatap tak percaya pada Celine yang masih terisak di depannya.


"Jadi kamu mergokin Sean selingkuh gitu?" Sandra masih tak percaya mendengar cerita Celine. Sean yang dia kenal, cowok itu anti banget sama yang namanya cewek. Satu-satunya cewek yang dekat dengan Sean ya cuma Celine doang, setahu dia.


Nggak nyangka Sean bisa selingkuh juga. Jadi semua cowok tuh sama aja!


Sean melakukan hal-hal yang tidak disukainya. Kenapa?


Tentu saja jawabannya sangat mudah ditebak.


"Cel, jangan naif. Mana ada berteman tapi jalan berdua aja kan?"


"Cerita sama kamu gak ngebantu aku San!" Celine tetap terisak karena temannya itu bukannya membantunya berpikir positif tapi justru membuatnya makin frustasi.


"Aku bisa ngelabrak cewek itu buat kamu! Mana dia? Seperti apa sih tuh cewek, beraninya ganggu cowok orang padahal kamu juga udah pernah ngasih ultimatum ke dia!" Sandra mengepalkan tangannya, marah melihat sohibnya terluka seperti ini. Dia tahu sesuka apa Celine pada Sean.


"Itu yang aku pikirin. Padahal aku udah pernah memperingatkan dia. Apa itu artinya dia nantang aku?"


"Udah jelas kan? Dia ngremehin kamu, Cel!"


Tiba-tiba mata Celine menatap 4 orang junior yang baru saja masuk ke kantin.


"Itu dia orangnya, San!" lirih Celine dengan suara yang tajam seakan bisa membunuh.


"Yang mana?" Sandra antusias.


"Itu, yang ditabrak cewek bawa minuman!"


"Ya ampun, nggak ada seujung kuku kamu, Cel!" Sandra mencemooh, "Bener-bener nggak tahu malu. Ck. Bisa-bisanya dia tetep bernafas tanpa rasa berdosa setelah menyelingkuhi pacar seniornya. Mau aku habisin tuh cewek?"


"Jangan, San!" Celine menahan tangan Sandra yang sudah bersiap bangkit, "Jangan disini, banyak orang!"


Sandra duduk kembali. Mereka berdua masih memperhatikan Mary yang kali ini didekati Juan.


"Cih! Kayaknya dia emang tipe cewek yang suka menggoda cowok tampan. Nggak bener!" Sandra terus mengomel.


"Muka oplas aja belagu kayak gitu! Jangan-jangan dia oplas juga buat dapetin cowok tajir kali!" Sandra tidak berhenti mengumpat membuat Celine entah kenapa sedikit puas karena semua makian yang dia pendam seolah tersalurkan lewat mulut temannya.


"Aku nggak tahan, Cel!" Sandra bangkit berdiri dan mengambil gelas es tehnya.


"Ayo kita habisi cewek itu di depan umum, sekalian!"

__ADS_1


Sandra melangkah dengan cepat meskipun Celine berusaha melarangnya dari belakang.


Sandra dengan cepat menyiramkan minuman yang dia bawa ke wajah Mary membuat teman-temannya terpekik kaget. Suasana kantin yang semula berdengung pun mendadak terasa senyap.


"Cewek murahan! Lo masih punya muka ya datang ke kampus?!" bentak Sandra.


Mary mengerjapkan matanya yang basah. Air dingin mulai mengalir dari pipinya dan menetes ke baju.


"Apa-apan nih!" Milli bangkit tidak terima.


"Lo ngaca dong! Liat muka lo deh, kalau lo nggak ketolong pisau bedah plastik lo pikir lo bisa bermimpi merebut Sean dari Celine?!"


"Ngaca! Lo nggak ada seujung kuku kakinya Celine. Jadi cewek baik-baik deh!" Sandra tidak bisa menghentikan umpatannya. Dasar sok polos, batinnya ketika melihat wajah Mary yang siap menangis.


"San, udah San..." Celine berkata pelan sambil menyentuh bahu temannya meskipun matanya sendiri tidak bisa lepas menatap Mary dengan tajam.


Jeny yang sejak tadi ternganga, menatap Mary yang sedang tertunduk. Kasihan Mary, batinnya.


"Kalian berdua bisa stop nggak?! Datang marah-marah nggak jelas, nyiram air ke muka orang, terus ngumpat. Mau kalian apa sih?" Jeny mencoba merangkul pundak Mary, mencoba mentransfer kekuatan.


"Lo nggak tahu, temen lo ini kepergok jalan bareng pacarnya temen gue!"


Jeny menatap Celine.


"Terus kenapa?" Kali ini Milli menantang, "Kalau mereka jalan berdua terus kenapa? Baru pacar kan?"


"Kenapa lo takut pacar lo jalan sama Mary? Kalau lo yakin pacar lo emang sesuka itu sama lo, lo nggak akan insecure sama Mary yang nggak ada seujung kuku kaki lo ini kan?"


Kali ini Milli berhasil membungkam mulut Sandra. Sementara dari ujung matanya dia bisa melihat kepalan tangan Celine yang menandakan seniornya itu sangat geram.


"Kenapa? Kenapa lo insecure sama Mary? Karena lo tahu, pacar lo nggak sesuka itu sama lo. Iya kan?"


Celine menggigit bibirnya.


"Oh jadi lo ngebela perbuatan temen lo yang murahan ini?!" Sandra mengumpat.


"Eh jaga deh itu mulut!" Kali ini Laura ikut geram. Nggak tega juga melihat Mary dibantai senior di depan umum kayak begini.


"Terus apa sebutan pelakor selain murahan? Ganjen?"


"Iihh, lo tuh nggak tahu Mary. Jangan seenaknya kalau ngomong!" kali ini Milli tidak tahan juga, dia menjambak rambut pirang Sandra membuat cewek itu menjerit karena tidak menyangka mendapat serangan tiba-tiba. Sandra ikut menjambak balik dan mencakar mukanya.


Melihat Milli kesulitan, Laura secara refleks membantu temannya itu menjambak rambut Sandra. Sebuah pertengkaran sengit terjadi di antara senior junior itu yang tentu saja menjadi tontonan menarik disana.


"Kamu nggak apa-apa?" sebuah suara mengejutkan Mary yang hanya berdiri linglung.


Dia menatap Juan. Cowok itu balas menatapnya dengan pandangan yang selalu membuat Mary ingin memeluknya dengan erat. Air matanya menetes.


"Oh, Juan syukurlah ada kamu. Tolong bawa Mary pergi dari sini, dia pasti sangat syok. Aku akan mencoba menghentikan keributan ini!" kata Jeny.


Juan menggenggam tangan Mary dengan erat.


"Ayo kita pergi dari sini!" Juan membawa pergi Mary menjauhi segala bising keriuhan. Mary bisa mendengar suara bisik-bisik orang-orang di sekitarnya.


Juan menoleh ke arah Mary lagi, kemudian menggenggamnya semakin erat. Lebih erat.


"Tunggu!" Celine yang sejak tadi mengejar mereka berdua menyuruh mereka untuk berhenti.


Mary menoleh dan melihat Celine menghampirinya.


"Aku ingin bicara empat mata dengan dia!" Celine menoleh Juan seakan memberi isyarat agar cowok itu meninggalkan mereka berdua.


"Bicara sekarang atau kita pergi!" tegas Juan sambil memandang Celine dengan tajam.


Celine menyerah. Kali ini dia menatap Mary.


"Aku udah pernah bilang ke kamu kan? Jangan mendekati Sean. Sean itu cowok aku, dia segalanya buat aku."


Mary menggigit bibirnya.


"Kenapa aku nggak boleh dekat sama kak Sean?" tanyanya pelan seperti bertanya pada diri sendiri.


"Kenapa aku nggak boleh berteman sama dia?"


"Apa hak Kak Celine melarang aku?"

__ADS_1


###


__ADS_2