Lovable You

Lovable You
12. Belajar Menerima Diri Sendiri


__ADS_3

Deburan-deburan ombak saling berkejaran menabrak kaki Mary yang telanjang kemudian berubah menjadi buih-buih kecil yang berlarian bagai anak kecil di sekeliling kakinya. Angin berhembus cukup lembut menyentuh anak-anak rambutnya yang berkibar bagai lambaian dedaunan pohon kelapa. Sementara semburat warna orange mulai tampak di langit pertanda sang mentari sudah lelah menyinari bumi hari ini.


Mary menoleh ke arah Juan yang berjalan pelan di belakang. Cowok itu lalu mendekat, berjalan di sampingnya.


Mata Mary tertarik melihat seekor bintang laut kecil berwarna merah yang teronggok sendirian tak jauh dari kakinya. Deburan ombak bagai mengusap lembut benda kecil itu.


"Ah.." Mary memegangi telunjuknya yang tiba-tiba terasa perih ketika tangannya menyentuh air untuk mengambil bintang laut itu. Dia baru ingat telunjuknya yang teriris pisau saat di rumah tadi.


"Kenapa?" Juan bertanya.


"Cuma luka kecil teriris pisau.."


Juan mengambil telunjuk Mary, "Luka sekecil apapun seharusnya kamu tutup.." Juan menatap mata Mary yang membengkak. "Kamu bisa infeksi jika ada benda asing yang masuk."


"Nggak papa.." Mary menarik tangannya, tidak nyaman, "Cuma luka kecil.."


Mary kembali mengambil bintang laut yang menarik perhatiannya, lalu mengamati binatang yang sepertinya sudah tidak bernyawa di tangannya itu. Mery menghela nafas, menperhatikan sekelilingnya. Dia bisa melihat laut lepas berwarna biru terbentang di depannya.


"Damai sekali rasanya," Mary bergumam, "Kamu sering kesini?"


"Dulu iya.." Juan teringat salah seorang mantan pacarnya yang sering mengajaknya ke tempat ini. Sebenarnya dia cukup heran, kenapa cewek terlalu sentimentil pada pantai?


"Kamu suka?"


Mary mengangguk. Dia sekenanya duduk di atas pasir. Juan mengikuti.


"Terima kasih ," Mary bergumam sambil menatap Juan dengan tulus, "Telah membawaku kesini.."


Juan hanya tersenyum.


"Kenapa kamu tidak bertanya?"


"Tentang apa?" Juan tidak mengerti.


"Kenapa aku menangis.." Mary menunduk, memainkan bintang laut kecil yang masih dipegangnya. "Waktu itu juga, kamu tidak bertanya.." Mary kembali terkenang ketika Juan mendekapnya saat dia menangis di kampus.


"Kamu tidak penasaran?" Mary bertanya lagi.


"Aku penasaran.." Juan memainkan pasir di dekatnya, dan menulis nama Mary di atasnya menggunakan batu kecil. "Kenapa dia sering menangis? Kenapa dia selalu bersedih? Kenapa dia begitu tertutup? Aku sering bertanya-tanya seperti itu.."


"Kamu berpikir semua itu tentangku?" Mary memperhatikan namanya yang diukir Juan di atas pasir putih keclokatan. Cowok ini memiliki bentuk tulisan tangan yang indah, pikirnya.


Juan mengangguk. "Tapi aku tidak akan bertanya. Bukankah jika orang tidak mau bercerita, itu berarti dia hanya ingin menyimpannya untuk diri sendiri?"


"Aku tidak terbiasa berbagi cerita dengan orang lain.."


"Aku tahu. Kamu memang cewek pelit, tidak suka berbagi.." Juan tersenyum, bermaksud menggoda Mary dengan mengingatkan cewek itu yang memakan sandwich sendirian di perpustakaan.


"Karena aku tidak punya teman.." Mary menggigit bibirnya tanpa sadar. Kenapa dia berbicara seperti ini? Kenapa dia merasa...seolah aman berbicara dengan cowok ini?


Ini konyol. Dia pasti menertawakanku kan?


"Sekarang kamu punya teman.." Juan menatap mata Mary dengan dalam setelah terdiam beberapa lama.


"Siapa?"


"Aku."


Mary tersenyum geli. "Kita bahkan belum cukup dekat untuk disebut teman kan?"


"Begini tidak dekat?" Juan merangkul pundak Mary tapi langsung melepasnya kembali ketika dilihatnya cewek itu cukup terkejut, "Kita bahkan duduk hanya dengan jarak 5 senti sekarang. Bukan, dua senti setengah!"


Mary tersenyum diam-diam.


"Pasti berat ya?"


Mary menoleh.

__ADS_1


"Selalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu.." Juan melanjutkan, "Kamu tidak akan punya waktu merasa bahagia jika seluruh waktumu hanya kamu gunakan untuk memikirkan pendapat orang lain. Iya kan?"


Mary hanya mendesah. Mungkin saja begitu. Tapi dia bisa mengatakan itu, karena dia tidak pernah menjadi aku...


"Kamu baik sekali.." Mary berkata pelan, dari lubuk hatinya yang terdalam.


"Kamu cewek ke seratus yang mengatakan itu.." Juan bergurau membuat Mary tersenyum lagi, nyaris tertawa.


"Kamu tidak malu berteman denganku meskipun tahu masa laluku seperti apa.." Mary menunduk.


"Memangnya kenapa dengan masa lalumu?" Mary bisa merasakan nada tegas dalam suara Juan. "Aku tidak masalah dengan itu semua."


Mary berpikir dunia ini pasti akan sangat damai jika semua orang berpikir dan bertindak seperti Juan.


"Ahh, aku iri dengan caramu hidup!"


"Iri padaku?" Juan bertanya.


Mary mengangguk. "Kamu selalu tersenyum dan positif. Aku tidak bisa seperti itu.."


"Kamu bisa," Juan mulai menggambar lingkaran besar di bawah nama Mary yang diukirnya di pasir. "Kamu cuma perlu memulainya. Seperti ini!" Juan menambahkan dua buah mata, hidung dan satu garis melengkung besar di dalam lingkaran tadi.


Mary mau tak mau tersenyum melihatnya. "Mataku nggak sipit begini!" Mary merevisi gambar Juan menggunakan bintang laut yang sejak tadi dipegangnya dan menambah potongan rambut panjang di sekeliling lingkaran.


"Kamu secantik ini?" Juan bermaksud menggoda.


"Ya. Ini aku setelah operasi plastik.." Mary berusaha tertawa seolah itu lucu.


"Hei," Juan protes, "Kenapa kamu sarkastik begitu? Membuatku tidak nyaman saja!"


"Kenapa tidak nyaman?" Mary berusaha mencerna, "Aku memang seperti itu kan?"


"Dengar!" Juan menghadap Mary, menatapnya serius. "Nggak ada yang salah dengan operasi plastik. Kamu tahu, setiap hari aku selalu mendengar adikku berkata 'aku ingin melancipkan daguku', 'aku ingin membuat lesung pipi', 'aku ingin begini..', 'aku ingin begitu..', aku selalu mendengarnya setiap hari."


"Adikmu berkata seperti itu?" Mary merasa geli melihat Juan menirukan adiknya.


"Dia fangirl K-Pop.." Juan ikut tertawa membuat Mary membayangkan sosok seperti apa adiknya.


Entah kenapa Mary terkesan dengan cara Juan yang memilih kosa kata mempercantik, padahal cowok itu bisa saja menyebut operasi plastik.


"Mungkin mereka melakukan itu untuk menambah percaya diri kan?"


Kali ini Mary menatap Juan seolah cowok itu spesies terlangka di muka bumi. Rasanya dia ingin memeluk cowok itu, seperti saat dirinya memeluk boneka teddy bear besar di kamarnya.


"Jadi kamu seorang model?" Mary penasaran. Dari awal dia sudah menduga, cowok ini bukan cowok biasa.


"Mmm... Hanya kadang-kadang ikut seleksi dan terpilih," Juan tersenyum simpul, "Cuma model sebuah produk fashion kok, nggak seterkenal seperti yang kamu bayangin. Buat nambah uang jajan aja.."


Mary berpikir cowok ini sangat pintar mengeksplorasi kelebihan visual yang dia punya.


"Jadi sekarang aku punya temen cowok yang tampan, idola kampus, dan seorang model. Aku beruntung ya?"


"Yup. Cuma orang-orang tertentu yang seberuntung kamu.." Juan berkelakar.


"Lalu adikmu? Dia pasti terkenal seperti kakaknya juga?"


"Adikku? Dia jelek, cerewet, suka memerintah. Kamu tidak akan suka jika bertemu dengannya!"


Mary bisa merasakan keintiman yang samar di dalam suara itu, mereka pasti kakak adik yang saling menyayangi.


"Aku cuma tinggal berdua dengan adikku.." Juan memulai bercerita setelah menimbang beberapa lama.


"Orang tuamu?"


"Mereka bercerai dua tahun lalu.."


"Oh.." Mary tertegun.

__ADS_1


"Kenapa? Terdengar menyedihkan ya?"


"Bukan begitu. Aku cuma nggak tahu harus ngomong apa.." Mary menjepitkan rambutnya yang berkibar ke balik telinganya, "Orang tuaku juga bercerai."


"Nasib kita sama. Tos dulu.."


Mary merasa bodoh ketika menepuk telapak tangan Juan yang terangkat ke arahnya. Menyadari mereka yang justru merayakan sebuah nasib buruk yang sama, mereka kompak tertawa.


"Tapi mungkin kamu lebih baik dari aku," kata Mary kemudian.


"Oh ya?" Juan menoleh, "Orang tuaku bercerai dan mereka sekarang sudah punya keluarga masing-masing. Mama hamil anak pertamanya dengan suaminya yang sekarang, sedang papa rajin dinas keluar negeri karena harus menghidupi istri barunya yang hedon. Aku memilih hidup sendiri, tapi herannya adikku yang tidak pandai masak apalagi cuci piring itu lebih memilih tinggal bersamaku. Lihat, menyedihkan kan?"


Entah kenapa Mary terkesan melihat Juan yang tetap tersenyum setelah menceritakan kehidupannya.


"Mereka sering mengunjungimu?"


"Uangnya yang rutin.." Juan tertawa, "Tapi karena aku anak pertama, aku bisa bersikap lebih dewasa untuk menerima. Hanya saja kadang aku kasihan melihat Kara.."


Mary tertegun. Dia memandangi Juan cukup lama dan dalam. Dia berpikir cowok ini selalu terlihat tersenyum dan tanpa beban tapi siapa sangka dia juga menyimpan masalah hidupnya sendiri. Kenapa bisa begitu?


"Lihat. Bukan cuma kamu kan yang punya masalah?" Juan seakan mengerti yang Mary pikirkan.


Mary menghela nafas, dan mengeluarkannya dalam-dalam.


"Kamu tahu, sebelum kamu ngajak aku kesini, aku tadi berpikir untuk pergi ke tempat dimana aku bisa menangis dan berteriak sepuasnya. Tapi hanya berbicara denganmu saja, entah kenapa hatiku merasa lebih baik sekarang.."


"Kamu bisa berteriak dan menangis sepuasnya sekarang jika mau.."


Mary menggeleng. Mana mungkin dia melakukannya di depan cowok ini kan?


"Kamu merasa tidak nyaman karena aku?"


Mary tidak menjawab.


"Aku akan pergi dulu.." Juan berdiri.


"Kemana?" tanya Mary cepat seakan takut cowok itu pergi jauh meninggalkannya sendirian.


"Cuma beli minum.." Juan tersenyum, "Aku akan segera kembali setelah kamu merasa lega."


Tapi sepeninggal Juan, Mary tetap berdiam diri sambil melihat senja yang mulai terbenam. Indah sekali, gumamnya kagum melihat semburat warna kemerahan yang menghias di langit ufuk barat.


"Aku akan mencoba menerima diriku sendiri.." Mary memutuskan. Entah kenapa dia merasa cukup lega setelah mengatakannya. Seperti ada batu besar yang hilang dari hatinya.


Juan baru kembali setelah pelan-pelan matahari merah itu mulai tenggelam seperti ditelan lautan.


"Lama sekali," ujar Mary saat Juan sudah berada di dekatnya.


Juan hanya tersenyum lebar dan memberikan sebotol air mineral kepada Mary.


"Kesinikan tanganmu!" kata cowok itu tiba-tiba.


"Kenapa?"


Juan mengambil tangan Mary dan memakaikan plester ke telunjuknya yang terluka.


"Aku bilang ini cuma luka kecil.."


"Aku juga bilang luka sekecil apapun harus ditutup."


Mary cukup terkesan dengan perlakuan cowok itu padanya. Dia pasti merasa kasihan padaku...


"Ahhh... Rasanya aku tidak mau pulang!" kata Mary setelah menyadari petang yang sedikit demi sedikit mulai menampakkan diri.


"Kamu harus pulang. Ibumu pasti khawatir sekarang."


"Aku akan bilang aku pergi bersenang-senang dengan temanku.."

__ADS_1


Mary tersenyum. Juan ikut tersenyum melihatnya. Dia bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya ke depan Mary. Mary menyambut uluran tangan itu sampai Juan menarik tubuhnya dan mengajaknya pulang.


###


__ADS_2