Lovable You

Lovable You
7. Kamu Baik-Baik Saja?


__ADS_3

Cuaca cerah yang cukup hangat pagi ini tidak cukup membangkitkan semangat Mary untuk pergi ke kampus. Dia turun dari commuter line dengan langkah gontai, berdesak-desakan dengan banyak orang yang juga berkejaran dengan waktu. Berjalan kaki menuju kampus yang berjarak lumayan, sedikit membuatnya mengeluh tapi juga memberinya waktu untuk merenung.


Apa yang akan terjadi hari ini?


Semalaman dia sudah memikirkannya hingga tidak bisa tidur, meyakinkan dirinya sendiri ribuan kali bahwa dia akan baik-baik saja. Ya, orang-orang pasti akan membicarakan tentang operasi plastiknya bahkan menghinanya, tapi bukankah itu sudah biasa dia alami sejak kecil? Kata orang jika sudah seringkali terjatuh, kita tidak akan lagi terkejut melihat darah. Ini sudah biasa. Ini sudah biasa.


Tapi tetap saja dia merasa takut...


Sesampainya di kampus, tak jauh di depannya Mary melihat Ragil berjalan berlawanan arah, cowok itu bersama Okan sedang asyik membahas hal yang sepertinya menyenangkan. Saat cowok itu sudah semakin dekat, Mary yang sedari tadi mengumpulkan tekad untuk menyapa cowok itu mendadak urung karena cowok itu sama sekali tidak menolehnya. Mary merasa sedikit kecewa, dia hanya ingin berterima kasih atas bantuan cowok itu dirinya mendapat kegiatan mengajar les privat.


Dia memang tidak melihatku,


Atau...


"Hei, itu kan orangnya?" Telinga Mary yang peka bisa mendengar obrolan orang-orang yang dia temui selama perjalanan menuju kelas pagi ini.


"Dia cewek yang ramai dibicarakan di grup WA semalam kan?"


"Hei, aku sudah pernah bilang kan? Dari pertama aku sudah tahu ada yang aneh dengan hidungnya?"


"Semalam ada yang share fotonya sebelum OP, gilak jeleek banget.." Hahaha


"Padahal pertama melihatnya, aku suka padanya lho. Sekarang.."


"Meski aku jelek, yang penting aku orisinil.." Hahaha


"Sssttt.."


"Kalau berjalan di bawah matahari, hidungnya meleleh gak sih? Kan plastik?" Hahaha, gila kamu.


Kenapa kalian berbicara seolah aku tidak mendengar? Kenapa orang-orang berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain?


Ingin rasanya dia menjerit dan berlari...


Mary bisa merasakan perubahan suasana kelas yang tadi berisik mendadak senyap ketika dirinya melangkah masuk. Membicarakan aku kan?


Mary melihat Milli dan Jeny duduk di antara sekumpulan cewek. Mereka juga, pikirnya kecewa. Mary meletakkan tas selempangnya yang berwarna pink di meja paling belakang. Duduk sendirian. Baiklah...


Dia menghembuskan nafas panjang.


"Lihat, hidungnya. Kelihatan gak simetris gak sih?" Mary bisa mengenali suara itu berasal dari Reyka, cewek berambut merah menyala yang memang terkenal banyak omong di kelas, terutama ngomongin orang.


"Apa bibirnya juga dia vermak? Bibirnya kelihatan sedikit tebal kan?"


"Pasti semuanya! Perubahannya bisa drastis gitu kok!"


"Ck. Nggak nyangka ya kan?"


"Apa yang dipikirkan cowok-cowok itu sekarang ya? Mereka kemaren kan menggilai dia banget.."


"Haha mampus lah. Aku memang gak suka dia dari awal, sok cantik ya nggak sih?"


"Haha, itu karena kamu cemburu dia lebih cantik dari kamu kan?"


"Hei, buat apa cantik kalau palsu? Jangan bandingin aku dengan dia dong!"


"Sstt, aku dengar dia juga main mata sama senior-senior."


"Ck."


"Sama si Juan itu juga kan, cewek itu suka nempel dan menggodanya. Ngeselin!"


"Masak sih? Kayaknya Juan yang mendekati dia kok.

__ADS_1


"Pokoknya aku nggak rela kalo si prince charming jurusan kita digoda sama cewek kayak dia. Benci benci benci."


"Pasti dia OP biar bisa nggaet cowok ya kan?"


"Ya apalagi? Bukannya orang OP tujuannya emang kayak gitu? Mereka ngerubah fisik biar disanjung dan dicintai?"


Mary bisa merasakan hatinya gerah, sakit dan sedih dalam waktu yang bersamaan. Apa mereka pikir dia tidak memiliki telinga yang bida mendengar ocehan mereka? Mary bangkit dari duduknya, menghampiri sekumpulan cewek penggosip itu dan bersandar di bibir meja. "Yang sedang kalian bicarakan ada disini. Kenapa kalian tidak berbicaralah langsung di depan orangnya?" ujarnya berusaha santai sementara cewek-cewek di depannya saling melirik satu sama lain.


Mary mengamati mereka yang saling melirik satu sama lain. Mereka seperti sekumpulan anak kecil yang kepergok mencuri buah mangga dari halaman rumah orang, pikirnya.


"Ya, aku memang oplas. Kenapa? Aku punya uang untuk itu. Apa salah?" Mary mengamati Reyka dengan tajam, "Kamu. Kamu juga pernah bilang akan mengoperasi pantatmu biar sebesar Nicki Minaj kan jika punya uang?" terdengar suara cekikikan kecil, sementara Reyka terlihat kesal dengan wajah ditekuk.


"Jadi aku memang mengubah hidung dan rahangku. Itu kan yang ingin kalian ketahui?" ujar Mary lagi, "Aku juga ingin secantik kalian, tidak boleh ya?"


"Sorri, kita nggak bermaksud begitu.." cewek berambut sebahu bernama Nena menimpali, sedikit merasa bersalah.


Sorri?


Sorri?


Cih...


Mary merasa kepalanya sedikit berputar. Dia berbalik dan menyadari dirinya menjadi pusat perhatian seluruh isi kelas sejak tadi. Mereka semua menatapnya, menatapnya...


Kenapa?


Kenapa kalian menatapku seperti itu?


Memangnya aku kenapa?


Kalian pikir aku kenapa?


Kenapa?


Mary melangkah mengambil tas selempangnya, dia tahu dia harus segera pergi dari tempat ini sebelum mereka semua melihat air matanya yang telah bangun dari tempat tidurnya. Tapi dia berhenti sejenak, dia ingin mengatakan sesuatu. Dia menoleh kembali ke sekumpulan cewek yang tadi membicarakannya, "Kalian ingin tahu kenapa aku oplas kan?"


Mary memberi jeda sejenak untuknya menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Orang-orang seperti kalianlah yang membuatku melakukannya.."


Mary berjalan pergi, mempercepat langkah, menguatkan hatinya untuk tidak menangis, setidaknya jangan disini. Jangan disini...


Keluar dari pintu kelas, langkahnya terhenti, sedikit terkejut, menyadari seseorang menahan pergelangan tangannya.


"Kamu... baik-baik saja?"


Mary mengenali warna suara itu. Kamu baik-baik saja? Entah kenapa pertanyaan itu justru membuat air mata yang sejak tadi hanya mengambang kini meluncur jatuh dengan mulus di pipinya. Saat itulah dia baru bisa melihat wajah Sean dengan jelas, dia bisa merasakan tangan cowok itu memegangnya dengan erat.


***


Ragil dan Okan masuk ke ruang klub, di dalam sudah ada Sean dan 2 orang cowok lain yang sedang membahas persiapan bazaar kampus mereka bulan depan. Sean membuka chat yang masuk ke hapenya.


Kamu dimana?


Lagi apa?


Sean heran kenapa Celine tidak pernah bosan mengirim pesan untuknya setiap 5 menit sekali, benar-benar tidak ada kerjaan. Apa semua cewek seperti itu?


"Kenapa kamu tadi nyuekin Mary?"


Sean tidak mengerti kenapa tangannya berhenti mengetikkan balasan untuk Celine di layar hapenya ketika mendengar nama cewek itu disebut. Dia mendongak dan melihat Okan yang sedang bertanya pada Ragil.


"Bukannya biasanya kamu excited tiap liat cewek itu?"


Ragil diam sejenak. "Hmm, entahlah.."

__ADS_1


"Apa gara-gara gosip dia operasi plastik itu ya?" Okan bertanya lagi.


"Oh, aku juga lihat di grup WA semalam.." cowok berambut gondrong ikut menyambung, "Jadi cewek itu yang ditaksir ketua organisasi kita?"


"Hei, tidak lagi kok.." jawaban Ragil membuat Sean menatapnya tajam kali ini.


"Kenapa? Menurutku nggak masalah kan fakta dia oplas, yang penting sekarang kan dia cantik."


"Hmmm, sepertinya aku lebih suka yang cantik alami.."


"Katamu, dia typemu!" suara Sean membuat mereka semua kompak menoleh. Mereka melihat cowok itu sedang duduk santai dengan kakinya yang panjang berselonjor di atas meja.


"Hmm... Entahlah. Itu kemaren.." Ragil tidak tahu harus berkata apa, dia pun bingung untuk menjelaskan perasaannya sendiri.


"Bisa ya, selera berubah secepat itu?"


"Hmm, menurutku nggak ada yang aneh kan?" kata Ragil, "Hari ini kita menyukai sesuatu, tapi mungkin besok kita tidak menyukainya lagi karena suatu hal. Menurutku semua orang seperti itu, itu biasa terjadi kan?"


Entah kenapa Sean merasa jengkel. Entah karena HP nya yang berdering menunjukkan wajah Celine yang terpampang di layar Hpnya, atau karena hal yang lain dia sendiri tidak mengerti. Dia hanya merasa saat ini emosinya tidak stabil, dia merasa ingin menendang meja di depannya atau apapun itu.


Sean menurunkan kakinya dari atas meja, bangkit berdiri dan menyangklong tas hitamnya dengan gerakan kasar. Jempolnya cepat menekan tombol matikan ketika Hp dalam genggamannya berbunyi sekali lagi. Sialan, makinya membuat keempat orang di ruangan itu saling melirik satu sama lain.


Dia tidak mengerti sikap Celine yang akan terus menelponnya jika dia belum membalas pesan cewek itu. Menjengkelkan. Membuatnya semakin kesal saja.


Kejengkelannya semakin bertambah ketika dia mendapati pintu ruangan yang sulit dia buka.


"Ahh, kau harus sedikit menekan gagang pintunya. Sepertinya aku harus memanggil seseorang untuk memperbaiki pintu itu.." kata Ragil memberitahu.


Hingga pada akhirnya Sean bisa membuka pintu itu dengan sedikit tenaga, dia membanting daun pintu itu dengan sangat keras membuat teman-temannya saling berpandangan heran.


"Kenapa tuh anak?" Ragil bertanya.


Okan mengedikkan bahu. "Mood-nya kelihatan buruk sekali.."


Sementara Sean berjalan dengan langkah cepat, dia ingat dirinya ada kelas Prof. Harry pagi ini. Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia merasa begitu jengkel, begitu emosi, begitu ingin marah tanpa sebab?


Sean melihat Mary yang baru saja meninggalkan kelas dengan langkah cepat. Bahkan cewek itu tidak memperdulikan tali sepatunya yang lepas yang bisa saja membuatnya tersungkur. Sean teringat pertemuan pertamanya dengan cewek itu di dalam mobil. Dia mengusir Mary yang bercermin di jendela mobilnya dan dia bisa melihat lewat spion mobilnya ketika cewek itu hampir tersungkur saat berlari menghindari gerimis.


Mary semakin dekat seakan tidak mempedulikan siapa pun di depannya. Saat itulah Sean bisa melihat mata cewek itu yang berair. Kenapa?


Sean tidak mengerti kenapa tangannya bergerak menyambar pergelangan tangan cewek itu, membuat langkah kakinya yang cepat itu terhenti mendadak. Mary berbalik hingga Sean bisa melihat jelas air matanya yang hanya menunggu waktu untuk jatuh.


"Kamu...baik-baik saja?"


Tes. Muncul anak sungai yang tiba-tiba terbentuk di kedua pipi cewek itu. Sean semakin merasa kesal, entahlah. Mungkin karena dia sangat membenci cewek cengeng.


"Kamu...lemah sekali sih?" Sean melihat anak sungai di depannya semakin mengalir deras. "Menangis hanya akan membuatmu tampak semakin buruk, kan?"


Mary hanya diam, menggigit bibir. Dia melepaskan tangannya dari genggaman cowok itu dan bersiap pergi, tapi lagi-lagi tangan yang sama menahan langkahnya. Aku tampak menyedihkan ya?


"Diam!" Sean menekan pundak Mary seakan menyuruhnya untuk mematung. Mary terkejut saat cowok itu berlutut di depannya, mengikat tali sepatunya yang lepas yang bahkan dia sendiri tidak sadari. Pemandangan itu sungguh menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa yang berada di koridor.


Sean berdiri dan kembali menatap Mary dengan tajam. "Dan jatuh hanya akan membuatmu semakin menyedihkan. Kenapa kamu suka mempermalukan diri sendiri?"


Memangnya aku yang ingin begitu? Cowok ini selalu saja menyebalkan, menyakitkan, dingin, tapi sekaligus juga membuat Mary merasa hangat di waktu yang sama. Mary tidak bisa menjelaskan, tapi begitulah... Membuatnya ingin menangis lebih kencang saja.


Mary tidak tahu harus berkata apa di depan cowok itu, dia memutuskan untuk segera berlalu dari hadapannya. Rasanya aneh. Dia ingin menangis lebih, lebih dan lebih. Dia berlari. Mary ingin segera sampai di rumah, bersembunyi di balik selimutnya yang tebal sampai dia tertidur berharap semua masalahnya akan lenyap begitu saja saat dia memejamkan mata. Dia berlari semakin cepat. Mary ingin segera sampai rumah, menemukan bahu ibunya yang hangat, menangis diam-diam dan tidak akan menjawab jika ditanya kenapa. Dia berlari lebih cepat. Dia ingin segera menemukan tempat dimana dia bisa menangis dengan nyaman tanpa ditertawakan dan dianggap aneh...


Bruukk.


Mary bisa merasakan bahunya yang sakit ketika dirinya menabrak seseorang di depannya. Aroma wangi yang maskulin menyergap hidungnya, membuatnya tahu, membuatnya merasa nikmat untuk sekejap.


Cowok itu menahan kedua pundaknya dan menatapnya dengan seksama. Kenapa mata itu begitu hangat, begitu membuatnya ingin menangis lagi...

__ADS_1


###


__ADS_2