Lovable You

Lovable You
29. Presentasi


__ADS_3

"Giliran kelompok C.." Prof Harry memanggil kelompok C untuk maju ke depan. Enam orang mahasiswa bangkit dari duduknya dan bergerak maju ke depan kelas.


"Tema yang kita angkat kali ini adalah pabrik kosmetik X yang mengubah image produknya mengikuti fenomena tren hijrah anak muda akhir-akhir ini. Mereka yang selama kurun waktu tiga tahun sempat tenggelam karena gelombang kosmetik Korea Selatan menyerbu negara kita, mendadak menunjukkan tren positif setelah mengubah image produk. Hari ini kita akan memaparkan bagaimana pemilihan image produk tersebut sangat berpengaruh positif terhadap pasar. Seperti yang kita tahu mayoritas masyarakat negara kita.."


Mary menghela nafas. Sejauh ini tiga kelompok yang telah maju ke depan menunjukkan presentasi yang cukup baik menurutnya. Mereka berbicara dengan lantang, artikulasi yang tegas dan pembawaan yang enak dilihat.


Kenapa mereka bisa begitu? Seolah berbicara di depan banyak orang bukanlah hal yang menakutkan, seolah ditatap banyak mata adalah hal yang biasa.


Tidak baginya.


Mary teringat kenangannya saat kecil, dia ditertawakan, dilihat dengan tatapan mengejek, digunjing di belakang...


Tidak. Tidak.


Dia sudah bertekad untuk tidak mengingat kenangan buruk apapun itu. Dia berjanji tidak akan merisaukan segala sesuatu dengan berlebihan.


Hanya maju ke depan kelas, bicara sebentar paling 5 menit, apa yang perlu dirisaukan sampai begini.


Haha.


Tapi tetap saja, kenapa dia yang harus memulai presentasi kelompoknya? Dia tidak suka menjadi yang pertama, dan tidak pernah menjadi yang pertama sebelumnya. Dia selalu menjadi yang terbelakang, dan dia menyukai itu...


"Apa?" Mary menoleh Juan yang sedang bertopang dagu, memperhatikannya sejak tadi.


"Hanya penasaran dengan apapun yang ada di pikiranmu saat ini.." Juan mengulum senyum. Sejak tadi dia memperhatikan Mary yang menggeleng-gelengkan kepala, mengerutkan kening, bibir bergumam-gumam, seakan cewek itu sibuk dengan dunianya sendiri.


"Kenapa sedingin ini?" Juan menyentuh telapak tangan Mary.


Mary cepat-cepat menarik tangannya. Malu.


"Ini cuma presentasi biasa. Tidak perlu tegang begitu.." Juan berbisik.


"Bagimu biasa, tapi bagi orang sepertiku...aku cukup gugup! Rasanya seperti mau pergi perang saja!"


Mary tidak tahu dirinya berbicara apa. Bodoh!


"Pffftt.." Juan berusaha menyembunyikan rasa gelinya, "Imutnya.."


Imut?!


"Ambil nafas pelan-pelan, tenanglah!"


Sean membuang muka, dia merasa kesal melihat kedua orang di depannya yang duduk berbisik-bisik itu. Harus begitu ya di dalam kelas?


Sok PDKT!


Apa mereka pacaran?


Saat diskusi kemaren-kemaren juga, mereka sering bercanda bersama. Bukan, si cowok yang menggoda Mary.


Ya, kelihatannya begitu.


Bola mata Sean membesar begitu menyadari pikirannya yang melantur kemana-mana.


Sampai beberapa waktu kemudian terdengar suara tepuk tangan yang mengakhiri presentasi kelompok C.


Prof. Harry tersenyum, "Kalian cukup baik. Saya suka tema yang kalian angkat, mungkin kamu harus sedikit lebih keras jika berbicara.." Prof. Harry menunjuk salah seorang cewek berambut pendek dari anggota kelompok C.


Si mahasiswa yang ditunjuk hanya bisa menunduk. Dalam hatinya berkata bukan dirinya yang berbicara pelan, tapi faktor umurlah yang mungkin menjadi masalah Prof. tersebut. Hihi.


"Baik, kalian boleh duduk kembali!" Prof. Harry membaca kertas di tangannya, "Sekarang kelompok D maju ke depan.."


Mereka berenam bangkit berdiri. Sean menyerahkan makalahnya yang bercover merah pada Prof. Harry yang langsung membacanya di balik bingkai kaca mata kuno.

__ADS_1


"Ayo!" Prof. Harry menggerakkan tangan, menyuruh Mary dan kawan-kawan memulai presentasi mereka.


"Fighting!" bisik Juan karena melihat Mary nampak ragu-ragu.


Mary menghembuskan nafas dan membuangnya pelan-pelan. Baiklah, seperti kata Juan, ini cuma presentasi biasa.


Buat apa segugup ini? Menggelikan.


"Seperti yang kita tahu, perkembangan industri rokok tidak begitu baik akhir-akhir ini, laba yang menunjukkan tren negatif selama satu dekade terakhir tidak mengherankan jika satu per satu pabrik rokok tumbang. Bukan hanya kampanye hidup sehat yang gencar dilakukan pemerintah maupun berbagai organisasi masyarakat, ataupun serbuan rokok elektrik di pasaran, melainkan bea cukai yang selalu naik cukup signifikan juga ternyata cukup mempengaruhi perkembangan industri ini.." Mary menghela nafas sejenak.


"Tetapi yang seperti kita tahu,  pabrik X tetap menunjukkan eksistensinya selama hampir satu abad. Untuk itu, kami kelompok D akan mencoba mengurai strategi pemasaran pabrik X.."


Terdengar suara tepuk tangan seisi kelas ketika Mary berhenti sejenak.


Sejak kapan dia berani menatap mata orang lain?


Sejak kapan suaranya keras begini?


Sejak kapan dia berubah?


Dia mulai berubah kan?


***


Celine mengunyah pelan-pelan salad buah yang dia bawa dari rumah, sambil sesekali melirik Sean yang tengah asyik dengan nasi uduk di hadapannya. Saat ini mereka sedang di kantin kampus yang tidak begitu ramai.


"Sejak tadi kita cuma diam.." Celine menggumam, sedikit kesal. Selalu begini jika bersama Sean, tapi tetap saja dia menyukai cowok pendiam ini setengah mati.


Sean menghentikan gerak mulutnya sejenak, menatap wajah Celine yang manyun.


"Kamu, kenapa cuma makan buah?" Sean akhirnya bertanya.


Celine tersenyum. Entah kenapa dia selalu suka jika cowok itu ingin tahu tentang dirinya.


"Kenapa?"


"Kenapa? Tentu saja biar kurus kan?"


Sean memperhatikan Celine sekilas, "Badanmu segitu-segitu saja sejak dulu.."


"Aku naik 4 kilo minggu lalu. Lihat lenganku, kelihatan banget kan?"


Sean tidak mengerti, kenapa cewek suka menyiksa diri sendiri hanya gara-gara tubuh yang sedikit berlemak.


"Cuma makan buah, emang kamu tidak lapar?" Sean benar-benar ingin tahu.


"Tentu saja lapar. Tapi cantik itu memang butuh pengorbanan kan?" Celine kembali menyuapkan sepotong irisan buah plum ke mulutnya. Kata orang, buah ini cocok untuk diet.


"Kamu sudah cantik kok.."


Celine tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ternyata cowok ini bisa juga memuji, apa dia memang sengaja ya membuat hatiku berbunga-bunga? Hmmm, imutnya...


"Cantik saja nggak cukup dong, badan juga harus ideal biar pasangan kita nggak ngelirik cewek lain!"


Sean menggumam dirinya bukan cowok yang terlalu memperhatikan penampilan pasangannya.


"Benarkah? Kalau aku nanti sudah melahirkan dan badanku mekar segini, kamu tetap menyukaiku?" Celine merentangkan tangannya.


Sean berpikir sejenak, "Aku pikir jika istriku berubah gendut dan jelek sekalipun tapi dia setia, aku akan tetap menyukainya.."


Manisnya...


Dia bisa menggombal juga ya?

__ADS_1


"Kamu beruntung. Aku cantik, tidak gendut dan setia.." Celine tertawa.


Celine menyodorkan sepotong irisan apel ke mulut Sean ketika dilihatnya dua orang cewek menghampiri meja mereka. Cewek waktu itu, kalau nggak salah namanya Mary...


"Kak Sean.." Jeny menyapa, sedikit merasa tidak enak karena sepertinya dirinya dan Mary sedang menggangu ya?


"Ada apa?"


Jeny menyenggol Mary, dan Mary menyenggol balik.


"Bicara saja, kenapa canggung begitu?" Celine mengulum senyum membuat Mary dan Jeny terpana sejenak, "Kalian ada perlu dengan Sean kan? Bicaralah, dia tidak menggigit kok!"


"Begini.." Mary akhirnya bersuara karena Jeny terus menerus menyenggol bahunya, "Presentasi kita hari ini berjalan sukses kan, jadi yaah, nanti malam kita mau ngadain perayaan kecil di rumah Jeny. Cuma barbeque-an aja kok, kalau-kalau kak Sean mau ikut.."


Mary tidak tahu harus melanjutkan bagaimana. Aneh sekali suasana ini?


"Perayaan?" Sean menggumam.


"Bukan perayaan, mmm, maksudnya.." Mary melihat Jeny, meminta bantuan. Dia sudah bilang tadi, kata 'perayaan' itu sedikit aneh kan?


"Cuma kumpul-kumpul gitu kok.." Jeny menyambung.


"Kalian cuma mengajak dia ya?" Celine menyela pembicaraan itu, "Aku nggak boleh ikut?"


"Sebenarnya ini untuk anggota kelompok saja, tapi tentu saja kakak boleh ikut jika mau!"


Celine tersenyum geli, merasakan aura senior-junior yang sangat terasa disini. Lagipula, dia tadi kan cuma bercanda. Meskipun dia ingin ikut sekalipun ke acara-acara yang diikuti Sean, cowok itu mana mungkin mengajaknya. Tidak mungkin!


"Nanti aku pikirin!" Sean berkata cuek, meskipun begitu matanya menangkap tali sepatu Mary yang lepas.


Lagi.


"Oke, kalau gitu kita pergi dulu!"


Ketika membalikkan badannya dan siap melangkah, Mary bisa merasakan kakinya menginjak sesuatu yang membuat keseimbangannya terhuyung. Beruntung sebuah tangan menahan lengannya.


"Kamu menginjak tali sepatumu tuh!" Sean berkata tajam. Kenapa tali sepatu cewek ini selalu lepas? Apa dia tidak bisa mengikat dengan benar ya?


Benar-benar cewek bodoh dan ceroboh.


"Ahh, aku bisa mengikat sendiri!" Mary mundur menghindar ketika dilihatnya Sean berjongkok. Tapi dia seketika menggigit bibirnya kuat-kuat ketika Sean memperlihatkan sendoknya yang barusan terjatuh ke lantai karena tersenggol tangannya saat menangkap lengan Mary tadi.


Uhh, malunya salah paham begini. kenapa kamu pikir dia akan mengikatkan tali sepatumu lagi?! Apa yang dia pikirin?


Mary merutuki kekonyolannya tadi, dengan cepat berjongkok dan mengikat tali sepatunya yang lepas. Sementara Sean memilih tetap bungkam, namun tersenyum tipis. Sangat tipis.


Tapi Celine melihatnya. Ibarat slow motion, dia melihat mata Sean yang tidak berkedip untuk beberapa detik saat menatap Mary. Dia juga melihat suatu tarikan tipis di sudut bibir Sean saat cowok itu mengalihkan pandangannya dari Mary yang sedang berjongkok mengikat tali sepatu. Senyum yang sangat tipis. Halus. Diam-diam.


Celine tidak menyukai perasaan ini.


Dia teringat sabtu malam yang telah lalu waktu itu. Tidak biasanya Sean langsung menyetujui saat Celine mengajaknya ke bioskop. Cowok itu tidak pernah menyukai nonton film, dan pasti akan membuat banyak alasan untuk menolak ajakannya.


Tapi malam itu tidak begitu. Malam dimana mereka bertemu Mary dan menyelamatkannya...


Apakah ada hubungannya?


Tidak. Tidak mungkin.


Dia memang selalu posesif dan suka berpikiran yang tidak-tidak. Celine ingin tertawa sendiri rasanya memikirkan pikirannya yang melantur begitu jauh.


Saat itulah matanya menangkap sesuatu yang tergantung di tas Mary saat cewek itu mulai berjalan pergi.


###

__ADS_1


__ADS_2