
"Kesinikan saus kecapnya!" Jeny meminta Milli menyerahkan mangkok berisi saus kecap yang berada di dekatnya. Sementara dirinya sendiri sedang sibuk memanggang beberapa irisan daging sapi serta sosis-sosis berukuran jumbo di atas panggangan arang.
Saat ini mereka sedang berada di depan halaman rumah Jeny yang super luas, mendirikan tenda dan menggelar tikar di atas rerumputan. Sementara Jeny dan Milli asyik memanggang makanan tadi, Mary sedang membersihkan jagung-jagung dari kulit dan serabut rambut yang masih menempel. Dia berpikir, sepertinya malam ini akan menyenangkan.
"Si rambut jagung nggak datang ya?" Milli teringat Laura saat melihat jagung yang sedang dikuliti Mary.
"Kayaknya nggak, katanya dia ada acara sendiri.." jawab Mary.
"Oh.."
"Kayaknya kamu sekarang deket sama dia, ya, Mer?" Jeny menyambung sambil mengoleskan saus kecap ke atas sosis-sosis yang dia bakar.
"Nggak juga ah.."
"Iya. Sekarang dia sering ngajak ngomong kamu tuh.."
"Kamu udah maafin dia? Dia kan pernah jahat sama kamu?"
Mary terdiam sejenak lalu tersenyum, "Aku pikir, jika aku terus mengingat kejahatan orang lain padaku, sampai kapan pun hatiku nggak akan bisa bebas.."
Kedua temannya saling berpandangan, "Kami mengerti.."
Tiba-tiba udara malam berhembus cukup sejuk, membuat mereka bertiga merapatkan jaket yang mereka pakai.
Mary menyusun kayu bakar di depan tenda untuk membuat api unggun.
"Kira-kira Kak Sean datang nggak ya?" Jeny bertanya sambil menoleh pada Mary yang berkali-kali gagal menyulut korek api karena udara malam yang cukup lembab.
"Entahlah.." Mary teringat dia memberikan alamat rumah Jeny pada Sean lewat chat, tapi cowok itu sama sekali tidak membalasnya.
"Menurutmu dia akan datang dengan pacarnya?" Jeny bertanya lagi.
Mary hanya bergumam tidak tahu. Sekali lagi dia menyalakan korek api dan kali ini berhasil.
"Pacarnya kelihatan sangat posesif, iya kan?"
Mary membayangkan kejadian setelah dia presentasi di dalam kelas tadi pagi, Sean tersenyum padanya. Senyum yang sangat manis, melegakan dan hangat. Mungkin sehangat api unggun yang sekarang sudah menyala di depannya.
Mary tersenyum sendiri.
Mereka bertiga mendengar suara langkah kaki, terlihat Juan yang berjalan ke arah mereka sambil tersenyum dan menyapa. Cowok itu mengenakan sweater cashmere yang tebal berwarna dark blue, terkesan sangat hangat sekali.
Mary bisa mencium aroma wangi yang khas ketika Juan mendekatinya.
"Baunya enak sekali.." Juan tersenyum pada Mary yang sedang membakar jagung di dalam api unggun.
Cowok itu ikut berjongkok dan membantu Mary.
"Kami pikir kamu nggak dateng.." Milli berseloroh.
"Dateng dong. Kayaknya menyenangkan sih kumpul malem-malem begini.." Juan melirik tenda yang berdiri di belakangnya, "Kita nanti bakal tidur bersama di dalam?"
"Kamu nggak termasuk!" Milli melotot.
"Terus aku?"
"Kamu pulang dong! Cuma kita bertiga yang akan tidur di dalam tenda.." Milli sudah membayangkan betapa menyenangkan malam ini. Terakhir yang dia ingat dia bermalam di tenda bersama teman-temannya saat kelas 2 SMA.
Sementara Juan bergumam bahwa mereka semua berlaku tidak adil. Dia kan juga ingin tidur bersama-sama, hehe. Mary meninju lengan Juan membuat cowok itu tertawa geli.
Milli mengambil sosis-sosis dan daging yang telah matang dari atas panggangan, menyiapkannya ke atas piring-piring berwarna putih kemudian membawanya ke atas tikar yang tergelar di depan tenda.
Juan menyomot sepotong sosis dan langsung diteriaki Milli bahwa tidak ada yang boleh memakannya sebelum segala sesuatunya siap.
__ADS_1
Juan hanya tertawa geli dan tetap melanjutkan gigitannya, dia kembali ke dekat Mary di depan api unggun.
"Kenapa ngliatin aku?" Juan bertanya karena Mary terus memperhatikannya.
"Kamu mau?" Juan menyodorkan sepotong sosis ke mulut Mary. Mary menggeleng, tapi Juan terus memaksanya, membuatnya tidak enak hati.
"Enak kan?"
Mary mengangguk kecil, tersenyum. Dia mengambil jagung yang kelihatan sudah matang.
"Aww, panas!" Mary meniup tangannya.
"Hati-hati. Sini biar aku saja.." Juan melahap semua sosisnya yang tersisa dalam satu suapan, lalu membantu Mary mengambil jagung-jagung yang sudah matang.
"Sedikit gosong.." Juan berkata geli, kemudian menaruh jagung-jagung itu ke dalam nampan.
"Lho Kak Sean!" suara Jeny membuat mereka semua serempak menoleh.
Sean yang baru saja berbalik hendak pergi, mendadak mematung di tempat.
"Kak Sean mau kemana? Kan baru datang?" Jeny bertanya tidak mengerti.
Sean berbalik menghadap mereka, dia tahu dia sudah berbuat konyol.
"Ada barang yang ketinggalan di mobil.." Sean tahu dia hanya beralasan.
Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa untuk sejenak tadi dia ingin memutuskan pulang padahal mereka semua belum menyadari kehadirannya.
Sean menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal. Rasanya sangat aneh sekarang.
***
"Gimana kalau kita bermain permainan?" Milli mengusulkan karena menyadari suasana yang terasa canggung ketika mereka mulai duduk melingkar di atas tikar dan menyantap makanan.
"Permainan apa?"
Mary dan Jeny menyetujui usul Milli barusan.
Milli menyiapkan sebotol sprite kosong dan menyampaikan aturan mainnya bahwa jika dia memutar botol itu dan ujungnya menunjuk pada seseorang, maka seseorang itu harus menjawab dengan jujur pertanyaan yang diberikan padanya. Jika tidak bersedia menjawab jujur, maka orang itu harus memakan satu buah cabai rawit.
"Gila ya?" Mary protes.
"Ini seru tauk! Jadi kalian harus menjawab pertanyaan dengan jujur kalau nggak mau bibir kalian dower!" Milli terkikik membayangkan dirinya akan berusaha mengorek setiap rahasia mereka semua. Pasti seru!
Kenapa aku ada disini sih, Sean merutuk dalam hati. Dia tadi sedang bosan di rumah ketika lagi-lagi Mary mengirimkan chat ke ponselnya menyuruhnya datang. Dia berpikir, tidak ada salahnya ikut acara ini. Dan disinilah dirinya sekarang...
"Kita mulai!" Milli memutar botol sprite itu dan ujung botol itu berhenti tepat ke arah dirinya sendiri.
"Aku. Aku yang ngasih pertanyaan!" Jeny tersenyum jahil, "Aib memalukan apa yang pernah kamu alami?"
Milli menelan ludah. Dia protes kenapa Jeny memberikan pertanyaan seperti itu. Jeny hanya tertawa.
"Kamu harus jawab, atau kalau nggak kamu harus makan cabai ini!" Juan ikutan menggoda sambil mendekatkan semangkuk cabai rawit berwarna kemerahan ke dekat Milli.
Milli menelan ludah lagi. Dia tahu dia tidak akan memakan cabai itu, atau kalau nggak hal memalukan akan terjadi lagi seperti yang akan diceritakannya sekarang.
"Oke!" Milli mendesah pada akhirnya, "Jadi waktu SMP, aku pernah jadi petugas pembaca undang-undang. Dan paginya sebelum upacara, aku makan gorengan sama cabe rawit bersama teman-temanku di kantin sekolah..."
"Selama upacara, perutku muleees banget. Dan waktu giliranku baca undang-undang, aku bener-bener nggak bisa menahan...itu," Milli memejamkan mata menahan rasa malu mengingat kejadian yang dialaminya dulu, "Dan suaranya terdengar kenceng banget di sound sistem sampai-sampai semua yang di lapangan tertawa!"
Milli masih saja kesal jika membayangkan wali kelasnya, seorang pria berkepala botak berkumis tebal yang tertawa terpingkal-pingkal dan selalu membuatnya menjadi lelucon di dalam kelas setelah kejadian memalukan itu.
Milli semakin kesal melihat teman-temannya sekarang yang tertawa sambil menahan perut ketika dia selesai bercerita, bahkan Sean yang biasanya apatis tampak terang-terangan terkekeh.
__ADS_1
"Aku bisa ngebayangin!" Jeny masih terpingkal-pingkal di bahu Mary, sementara Milli menyumpah serapah mengatakan akan membalas mereka semua.
"Oke, lanjut!" Milli berusaha mengalihkan suasana yang membuatnya malu setengah mati. Dia kembali memutar botol.
"Oh, Juan!"
"Biar aku yang tanya!" Milli mencoba berpikir, "Jadi, ada berapa mantan pacar kamu?"
"Kenapa pertanyaannya gitu sih?" Juan mengerucutkan bibirnya, lucu.
"Ayo jawab!"
Juan menggumam sambil terlihat berpikir keras.
"Kelihatannya banyak sekali mantan kamu.." Jeny mendesis.
"Baru dua kok!" jawab Juan sambil tersenyum geli. Dia teringat dia pernah pacaran dua kali sewaktu SMA.
"Masak sih?" Jeny tidak percaya, "Kamu kelihatan yang paling banyak pacaran disini.."
Entah kenapa Mary setuju ucapan Jeny barusan. Mana mungkin Juan hanya pernah pacaran dua kali, dia itu kan tipe cowok yang sering ditembak cewek.
Juan melirik Mary yang tengah menatapnya dan berkata dia tidak berbohong membuat Mary berpikir kenapa cowok itu terkesan meyakinkannya begitu.
"Oke, lanjut!" Milli kembali memutar botol sambil tertawa ala penyihir jahat, "Pokoknya akan aku korek diri kalian sampai sekecil-kecilnya!"
Kali ini ujung botol berhenti tepat pada Sean yang sedang memakan jagung bakarnya yang masih hangat.
"Berapa kali kamu pernah ciuman?" Jeny menyenggol bahu Milli, berbisik bahwa pertanyaan itu sedikit keterlaluan kan?
Sean tetap berdiam diri, tanpa berucap sepatah kata pun.
"Jawab dong!" Milli berteriak kesal karena merasa susah sekali mencairkan kebekuan si manusia es ini. Hiiiihhh...
"Kamu pikir aku bakal mau jawab pertanyaan bodoh begitu?"
Milli semakin kesal mendengar jawaban Sean, dia mempertanyakan kenapa juga cowok itu datang kesini kalau nggak mau menikmati permainan.
"Mungkin dia lebih suka makan cabe rawit ini.." Juan menyerahkan semangkuk berisi cabai rawit. Sean berdecak kesal dan mengambil satu buah, kemudian mengunyahnya.
Mary meringis melihat Sean berusaha menahan rasa pedas. Mary mengambil sobotol air mineral di dekatnya, membuka tutup botol dan mengulurkannya pada Sean.
Mereka melanjutkan permainan, dan kali ini ujung botol tertuju pada Mary.
"Kenangan apa yang paling membuatmu bahagia?"
Mary mencoba berpikir. Kenangan apa? Apa dia memiliki kenangan yang membahagiakan**?
Mary membayangkan masa kecilnya, masa-masa di sekolah...
"Saat ini!" Mary akhirnya menemukan jawabannya, "Saat ini akan jadi kenangan yang paling membahagiakan buat aku.."
"Saat ini?"
"Kenapa?" Jeny ingin tahu.
Mary menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Dulu, aku selalu iri setiap melihat orang lain berkemah bersama teman-teman mereka. Aku selalu berpikir pasti menyenangkan menyalakan api unggun, tertawa, membakar jagung, bernyanyi ataupun mencoba permainan-permainan yang mengasyikkan.."
"Aku selalu iri melihat orang lain melakukan hal-hal menyenangkan di hidup mereka bersama-sama. Hang-out ke mall, menonton bioskop, karaokean bersama... Aku juga menginginkan itu semua, tapi aku tidak punya teman untuk melakukannya. Dan sekarang, berkat kalian.."
Mary tidak melanjutkan kalimatnya, dia merasa hatinya sedikit terbawa suasana sedih yang tiba-tiba muncul.
"Hiks. Kamu membuatku terharu.." Jeny merangkul bahu Mary.
__ADS_1
"Kalau begitu, mulai sekarang, kita akan mewujudkan itu semua untuk kamu.." Milli berjanji.
###