Lovable You

Lovable You
26. Bercanda


__ADS_3

Mary menghias banana cheese dessert yang baru saja dia keluarkan dari dalam lemari es menggunakan buttercream berwarna merah muda yang terkesan manis dan feminim. Dia menambahkan sepotong irisan tebal pisang ke atasnya, semakin mempercantik dessert di dalam cup kecil transparan itu.


Dia tersenyum puas. Hari ini hari Minggu, jadi dia akan sepuasnya berada di dapur mencoba resep-resep makanan yang ditontonnya semalam di youtube Chef Caroline, mungkin akan sedikit dia modifikasi untuk menyesuaikan nilai ekonomisnya namun tanpa merusak cita rasa originalnya.


Sekarang dia tahu apa yang dia sukai, jadi dia akan melakukan sebaik mungkin. Bahkan jika bisa, dia harus menghasilkan uang dari kegiatan ini kan. Mary tersenyum memikirkan mungkin jiwa bisnisnya itu diturunkan dari ibunya.


Mary mengambil ponsel, lalu membuka jendela dapur lebar-lebar agar cahaya matahari bisa masuk. Pencahayaan adalah kunci sebuah foto menjadi luar biasa, begitu kata Juan semalam.


Mary berkali-kali mencoba berbagai sudut pengambilan foto untuk mendapatkan hasil yang maksimal, membuat ibu yang sedang membungkus pesanan ayam goreng menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang sudah mirip orang senewen.


"Apa harus gitu cuma buat ngambil foto aja?" Ibu tidak habis pikir melihat Mary yang sudah ribuan kali memutar letak piring dessert, berdiri, berjongkok, miring dan lain-lain.


"Ibu, di era globalisasi dengan persaingan di pasar yang semakin tajam seperti sekarang, 'estetika' adalah cara paling ampuh untuk menarik perhatian pembeli. Makanya foto produk sangat pengaruh, bu.." Mary menjepret sekali lagi untuk terakhir kali, "Kita harus memilih foto produk yang terbaik biar calon konsumen tertarik untuk membeli.."


Ibu tersenyum mendengar putrinya yang terkesan sedang memberi kuliah, dasar mentang-mentang mahasiswa jurusan bisnis!


"Jadi, kamu mau mencoba jualan kue?" Ibu bertanya.


"Iseng aja sih, bu. Aku coba mau promosiin lewat akun medsos, siapa tahu bisa nambah uang jajan kan?"


"Emang yakin produk jualan kamu enak?"


"Pasti dong!" Mary mengambil sesendok kecil dessert yang telah selesai dipotretnya, dan menyuapkannya ke mulut Ibu.


"Enak kan?" Mary melihat ibunya tersenyum tipis, "Lihat aja! Aku mau bisnis kue, aku bakal beli etalase yang sangat besaaar dan memajang kue-kue bikinanku disana.."


"Udah jangan kebanyakan berkhayal!" Ibu memukul kepala Mary dengan sendok yang dia pegang, "Ayo bantu ibu nganter pesanan ke konsumen. Mas Reno yang biasa jadi kurir kita hari ini sedang libur!"


Mary mengeluh kecil, tapi meskipun begitu dia menuruti perintah ibunya. Dia pergi mengantar 10 box nasi ayam menggunakan sepeda motor matic kesayangannya membelah jalanan kota yang cukup lengang di hari Minggu seperti ini, tidak seperti hari biasa yang macet parah sampai mengular bahkan meski bukan pada jam sibuk sekalipun.

__ADS_1


Mary berhenti di pinggir lapangan sepak bola, dia melihat bergerombol anak laki-laki yang sedang duduk-duduk di pinggir lapangan, sedangkan beberapa anak lainnya masih asyik latihan sepak bola.


Mary mengeluarkan ponsel lalu mengirim pesan ke nomor yang tadi memesan makanan, memberitahukan bahwa pesanannya sudah sampai.


Tidak berapa lama, dia melihat seorang anak laki-laki berjalan ke arahnya. Oh jadi benar, anak-anak itu yang memesan makanan ini.


Mary bisa melihat cara jalan anak laki-laki itu yang sedikit berbeda, tapi Mary berusaha untuk tidak memperlihatkan pandangan penasarannya secara terang-terangan. Entah kenapa dirinya teringat masa-masa dia selalu ditatap aneh dari orang-orang yang melihatnya...


Dia tahu rasanya...


"Kamu yang memesan makanan ini?" Mary bertanya ketika anak itu sudah berdiri di hadapannya.


"Berapa, Kak?" Mary heran saat tidak sengaja melihat lembaran uang ratusan ribu di dalam dompet yang dibuka anak itu. Pasti dia anak orang kaya, Mary membatin.


Anak itu memberi uang pas dan segera berlalu sambil menenteng 2 kresek besar berisi pesanan nasi ayam.


"Hoii, temen-temen! Si pincang beliin kita makanan nih!"


"Sering-sering ya kamu jajanin kita kayak gini!" seorang anak lainnya menepuk pundak anak yang dipanggil 'si pincang'.


"Iya, duit kamu kan banyak. Enak ya punya orang tua kaya?" anak lainnya menyambung.


"Kalau kayak gini, kita bakal seneng ngajak kamu latihan sepak bola setiap hari kan?" anak bertubuh gempal berbicara dengan mulut yang penuh nasi.


"Dia kan cuma menonton di pinggir lapangan?"


"Ya mau gimana? Kaki Carlo kan pincang. Masak kita nyuruh dia berlari sih, mana bisa? Dia cukup menyemangati kita dari pinggir lapangan, dan membelikan kita makanan dan minuman seperti ini. Hehe, iya kan, Carlo?"


Anak bernama Carlo hanya terdiam.

__ADS_1


Mary berjalan mendekati gerombolan anak itu yang menurut perkiraannya baru duduk di kelas 5 SD. Dia berjongkok di dekat anak bernama Carlo yang duduk sekenanya di atas rumput.


"Kok kalian begitu sih? Dia kan temen kalian?" Mary menyentuh pundak Carlo dengan pelan, "Padahal dia sudah baik banget lho beliin kalian makanan pakai uang dia sendiri."


Mary menatap satu per satu anak-anak itu yang menatapnya bingung, "Kalian tau juga nggak, dia tadi berkali-kali ngirim chat nyuruh pesanannya cepet diantar karena katanya teman-temannya sudah kelaparan."


Anak-anak itu terdiam.


"Jangan panggil dia dengan sebutan itu tadi ya. Itu namanya kalimat jahat yang bisa menyakiti hati orang lain. Kalau kalian jadi dia, gimana perasaan kalian jika diperlakukan seperti itu?"


"Sebenarnya kita cuma bercanda kok, Kak.." seorang anak memberanikan diri bersuara.


"Hmm, dengerin kakak ya!" Mary menyuruh mereka semua memperhatikan dia yang akan berbicara serius, "Bercanda itu harus dua pihak merasa gembira. Kalau hanya sepihak yang gembira dan pihak lainnya bersedih, itu namanya menyakiti. Mengerti?"


Anak-anak itu mengangguk. Ternyata mereka masih polos, pikir Mary.


"Sekarang coba minta maaf sama Carlo dan berjanji nggak akan mengulangi hal kayak gitu lagi!" Mary senang melihat mereka semua meminta maaf pada Carlo.


Entah kenapa anak ini mengingatkan akan sosoknya yang dulu...


Carlo memandang ke balik punggung Mary, membuat Mary ikut menoleh ingin melihat juga apa yang dilihat anak itu. Dan dia melihat Laura yang berdiri tertegun di belakangnya.


Sejak kapan cewek itu disini?


Dan ngapain disini?


Mary bangkit berdiri, ingin menyapa dan bertanya, namun urung karena melihat sikap Laura yang seakan tidak mengenalnya.


"Carlo, ayo pulang! Kamu harus segera pergi therapi!" Laura mendekat dan membantu adiknya bangun untuk bergegas pergi.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih pergi melihat teman-temanmu latihan sih? Inget, kakimu itu tidak boleh digunakan menendang bola lagi sampai bener-bener sembuh!" Mary masih bisa mendengar omelan Laura pada adiknya meskipun mereka sudah berjalan menjauh.


###


__ADS_2