
di gerbang sekolah,terlihat seorang perempuan yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang,siang itu begitu bel berbunyi dengan segera dia bergegas meninggalkan kelasnya,dia ingin menemui Rafael.
dia berpikir, harus menunggu Rafael di depan gerbang sekolah saja,karena susah sekali baginya untuk menemui Rafael.
semenjak kejadian di ruang osis beberapa yang lalu,Rafael sudah tidak mau lagi berbicara kepadanya,serta selalu saja menghindarinya.
untuk itu kali ini,dia sudah mendapatkan cara agar Rafael mau berbicara dengannya,dia pun memperhatikan setiap siswa yang melewati gerbang sekolah,jangan sampai dia tidak melihat rafael yang keluar dari sekolah,pikirnya.
dan benar saja,baru beberapa menit kemudian Rafael pun tampak akan melewati gerbang dengan menggunakan motornya, tiba-tiba gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah meri,berteriak memanggil Rafael serta berlari ke arah motor Rafael yang sedang melaju.
sontak saja Rafael kaget,dan segera menginjak Rem motornya,untung saja dia masih melajukan motornya dengan pelan,sehingga dengan mudahnya motor itu berhenti tanpa menabrak tubuh meri.
"syitttt,kamu kenapa sih?kenapa tiba-tiba berlari ke dekat motorku?" Rafaelk berdecak kesal,dia terlihat berusaha menahan amarahnya.
"maafkan aku,tapi aku harus melakukan ini agar kamu tidak menghindariku lagi," jawab meri,sambil menyibikkan bibirnya.
"Aku tidak mau punya urusan denganmu lagi,selain hanya urusan sekolah ataupun urusan Osis,"ucap Rafael sambil menghidupkan kembali motornya.
"tunggu Rafael ! aku mau memberi tahu sesuatu hal,dan setelah aku memberi tahumu,kamu sendiri yang akan berbicara kepadaku,ucap meri sambil tersenyum sinis.
"kalau kamu mau bicara,cepat katakan karena aku tidak mempunyai banyak waktu untuk mendengar omong kosong dari mulutmu," geram Rafael.
"aku sudah mengatakan kepada ayahku,kalau aku ingin di jodohkan denganmu,setelah kita lulus sekolah nantinya,dan ayahku setuju karena kamu kan tahu bagaimana dekatnya orang tua kita," ucap meri,dia terlihat berbicara dengan wajah serius.
"kamu sudah gila ya? Rafael cukup terkejut mendengar ucapan meri,kamu kira aku akan menyetujuinya begitu saja hah?sudahlah meri, hentikan semua ini,kamu kira aku akan mau menikah setelah lulus dari sekolah ini,jangan mimipi kamu!
aku harus mengejar cita-citaku,masih banyak yang yang harusku lakukan,lagian yang jelas aku tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapmu,aku hanya menganggapmu hanya sebagai temanku,tidak lebih,tegas Rafael.
"siapa bilang kamu akan menikah denganku setelah kita lukus sekolah?,aku juga tidak mau cepat-cepat menikah,tetapi kita kan bisa tunangan terlebih dahulu,yang penting kamu sudah menjadi milikku,dan kita terikat satu sama lainnya."
"ciihhh,tinggi sekali Anganmu itu,sekali lagi aku katakan jangan mendekatiku lagi,apalagi hanya untuk membicarakan ini.
__ADS_1
juga harus aku tegaskan kepadamu,buang saja semua keinginanmu tentang perjodohan itu,aku sama sekali tidak berminat!" tegas Rafael.
"terserah kamu mau mengatakan apa saja,yang penting aku akan berusaha sebisa mungkin agar kamu bisa kumiliki.gumam Meri.
Dari jauh Raisya,Resi,Ika dan Amy menyaksikan perdebatan Rafael dan Meri,mereka yang tadinya hendak pulang menaiki motornya,kini harus menunggu Rafael dan meri pulang terlebih dahulu,karena Raisya tidak ingin melewati mereka di depan gerbang sekolah.
"kalau sudah tidak ada yang ingin kamu katakan,aku akan pulang," ucap Rafael.
"kamu tidak akan bisa menghindar dariku Rafael,aku akan buat kedua orang tua kita segera menyetujui perjodohan ini,lihat saja kamu tidak akan bisa menolak permintaan orang tuamu" ucap meri sambil tersenyum menang.
"cukup meri!" teriak rafael dia menatap tajam ke arah meri.
"hentikan semua ini! aku masih menghargai kamu sebagai teman,untuk itu aku tidak ingin menyakitimu dengan ucapan yang akan membuatmu terluka nantinya."
"cihhh,begitu kerasnya hatimu Rafael,padahal aku sudah merendahkan harga diriku sebagai wanita, hanya untuk memintamu membalas cintaku." ucap meri sambil berkaca-kaca.
"sepertinya aku tahu penyebab ini semua, pasti kamu begini,karena Perempuan genit itu kan? sindir meri sambil memunjukkan jarinya ke arah Raisya,dia juga melototkan matanya ke arah raisya, sebenarnya dari tadi dia sudah melihat Raisya di tempat parkir itu.
"tolong jaga ucapan kamu tadi! Raisya bukan perempuan yang seperti kamu bilang,dan juga jangan melibatkan Raisya dalam masalah ini,Rafael berkata dengan sangat marah,dia sudah muak melihat sikap meri
"kamu akan menyesal Rafael,karena sudah menolakku begini! kamu lihat saja apa yang akan kulakukan kepada cewek itu," ujar Meri dia segera berjalan dengan emosi mendekati Raisya..
"dasar cewek tidak tahu diri," ucap meri begitu dia sampai ke dekat Raisya,dimana saat ini posisi Raisya sedang duduk di atas motor,dia juga mendorong tubuh Raisya dari belakang dengan sangat keras.
jelas saja Raisya terjatuh dan tersungkur ke tanah, dia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya,karena mendapatkan serangan yang tiba-tiba tersebut.
"aduhhh" teriak Raisya,dia terjatuh dengan posisi sujud di tanah,untung saja di atasnya ada rumput jadi wajahnya tidak ada yang terluka..
"melihat itu Rafael dengan segera meletakkan motornya asal,dia segera berlari kesana.
"apa kamu sudah gila hah?" teriak Amy kepada Meri.
__ADS_1
Ika juga mendorong meri dengan sangat kuat,sehingga meri juga jatuh dan terduduk di tanah.sementara itu Resi membantu Raisya untuk berdiri..
sahabatnya itu sangat marah melihat Raisya diperlakukan seperti itu,sehingga mereka melupakan kalau meri adalah seniornya.
"Raisya kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Rafael begitu sampai disana,wajahnya terlihat mencemaskan Raisya,kemudian dia melihat ada rembesan darah pada rok Raisya,yang sepertinya goresan luka dari lutut Raisya.
tiba-tiba saja Rafael berjongkok di depan Raisya dia memperhatikan Rok Raisya yang sedikit robek di bagian lututnya,kemudian berkata kepada Raisya..
"ayo kita ke UKS,untuk mengobati luka mu," itu pasti sangat perih,ucapnya dengan wajah bersalah dan juga cemas.
melihat Rafael yang begitu peduli terhadap Raisya,meri sangat marah,sementara dirinya yang juga jatuh karena di dorong,sama sekali tidak dilihat oleh Rafael.
"maaf kak,biar kami saja yang bawa Raisya," ucap Ika.
Rafael hanya diam saja,dia tidak menjawabnya,karena dia sangat cemas memikirkan Raisya.
"kakak sebaikny selesaikan masalah kakak sama cewek kurang ajar itu," timpal Resi.
"Jangan sampai dia berbuat kasar lagi kepada Raisya,lihat saja apa yang akan kami lakukan" ucap amy dengan nada yang mengancam..
"berapa kali aku katakan,tolong jangan libatkan Aku dalam urusan kalian!" teriak Raisya.
Rafael yang mendengar itu masih saja diam, saat ini dia hanya berharap semoga luka yang di lutut Raisya tidak terlalu parah,karena dari tadi darah yang mengenai rok Raisya bertambah banyak,itu berarti darahnya masih saja keluar.
"Benar, selama ini kami masih menghargaimu sebagai senior disini,tetapi mulai hari ini kami tidak akan pernah menghargaimu lagi," camkan itu ucap Amy kepada Meri.
meri bangkit berdiri dan dengan segera dia menghampiri Raisya.
Plakkkk ...
meri menampar Raisya dengan keras, Rafael yang dari tadi sudah geram dengan tingkah meri, dia langsung mendorong meri sehingga tubuh meri terhuyung ke belakang...
__ADS_1