Love Heartfelt

Love Heartfelt
episode 9.Perasaan Rafael


__ADS_3

Raisya Pov


kami semua bersalaman dengan om Wijaya,dan makan pempek bersama,


aku heran melihat Om wijaya dari tadi memperhatikanku terus -menerus.


kadang om Wijaya tersenyum sendiri setelah melihatku,awalnya Aku agak risih dan hampir salah faham dengan sikapnya,tetapi setelah mendengar perkataannya barulah aku mengerti mengapa om Wijaya terus saja melihatku sambil tersenyum, dia mengatakan, ketika melihatku om Wijaya teringat akan anaknya yang sudah meninggal,kalau anaknya itu masih hidup,mungkin sekarang dia seumuran denganku.


"Raisyaa kamu sekarang kelas berapa?"tanya om wijaya sembari menatapku dengan genangan air mata yang terlihat di tahannya.


"sudah kelas dua om," jawabku.


"kenapa ya dengan melihatmu, Om selalu saja teringat pada Nadin?sepertinya kalau dia masih ada kalian sekarang ini seumuran."


"yang sabar ya wijaya,kamu bisa kok menganggap Raisya seperti anakmu sendiri."ucap Ayah yang berusaha menghibur om Wijaya."oh ya Rey,kembarannya Nadin juga kelas dua kan sekarang? tanya ayah kembali."


"Yaa reyhan juga sudah kelas dua,tapi anak itu sekarang sering di luar daripada di rumah,banyak kegiatan katanya,kadang juga lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya daripada bersama kita orang tuanya."


"ya di maklumi saja lah Pak,namanya juga Anak laki-laki kalau sudah besar yaa begitu",ibu pun ikut menimpali obrolan ini.


"untungnyaa ada Kayla,si bungsu yang masih sering di rumah,kalau tidak Aku sudah tidak tahu lagi, pasti Mamanya kesepian di rumah sendirian",ucap Om Wijaya kembali.


"kapan-kapan kalian sekeluarga berkunjunglah ke rumahku,pasti istriku senang".ucap om wijaya.


"ya,kapan-kapan ada waktu luang atau pas ana-anak libur,kita berkunjung ke rumahmu", jawab ayah.


******


Pagi itu aku dan Resi sudah berada di sekolah ,kamipun berjalan menuju ke kelas masing-masing,setibanya di kelas aku membuka handpone dan ternyata ada chat dari Rafael.


"Raisya kamu sudah di sekolah?bisa tidak ke ruang Osis sekarang?".


"ada apa ya,kenapa Kak Rafael nyuruh aku kesana sih?"


aku awalnya Ragu untuk pergi,namun akhirnya aku pergi menemuinya.


sesampainya di dalam ruangan,Aku mendengar isak tangis perempuan,dan juga suara laki-laki yang sudah tidak asing lagi di telingaku.


"Meri,maafkan aku ya aku tidak bisa menerima perasaanmu,Aku sudah menganggapmu teman,tidak lebih dari itu,sudahlah jangan menangis lagi! Aku tidak pantas untuk kau tangisi mer".


aku segera menghentikan langkahku,dan berdiam diri di balik pintu.mungkin sekarang belum waktu yang tepat untuk bertemu Rafael, aku pikir lebih baik aku kembali ke kelas saja.


Namun,ketika aku hendak kembali,suara kak meri yang sedikit berteriak menghentikan langkahku.

__ADS_1


"Tapi kenapa kamu tidak menyukaiku?apa kurangnya Aku?apa aku tidak cantik di matamu?atau kamu menyukai orang lain?jangan bilang kamu menyukai dia",meri mengatakannya sambil tersenyum sinis.


"kamu juga menanggapi perkataan orang-orang di sekolah yang mengatakan kalian pasangan serasi?,atau kamu juga merasa begitu?"ucapnya lagi sambil menangis."


kak Rafael hanya diam saja,dia tidak menanggapi ucapan kak meri.


"sudahlah meri kamu kembali saja ke kelasmu,sebentar lagi jam pelajaran mau di mulai,ucap kak Rafael.


"tapi kamu harus menjawab aku Rafael! kamu tahu tidak sejak kita di kelas satu aku sudah menaruh hati padamu,harusnya kamu merasa dengan perhatian yang kuberikan,aku sudah tidak tahan lagi memendam perasaan ini, makanya aku ungkapkan sekarang.Namun aku tidak menyangka hanya penolakan yang kudapat".


kulihat meri memukul-mukul lengan Rafael sambil terisak-isak.


"apa benar kamu menyukai Cewek kecentilan itu?"tanyanya kembali.


"kamu jangan menyebut dia begitu!,dia punya nama ucap Rafael dengan suara yang keras".


"ooh bahkan sekarang kamu marah,kalau aku menyebutnya begitu..."


"Aku tahu sekarang,kamu memang menyukainya ucap meri kembali."


"Aku menyukai dia atau tidak,itu bukan urusanmu,yang jelas aku minta maaf lagi, karena harus mengatakannya kembali,aku tidak menyukaimu kembalilah ke kelasmu."


"ciih aku tidak menyangka,gadis itu yang awalnya kamu benci,karena begitu keras kepala,bagaimana bisa kamu begitu menyukainya?


Aku sebenarnya penasaran dia yang di maksud mereka siapa ya?apa Aaaaku?tapi rasanya tidak mungkin.


"cukup meri!,Kalau kamu tidak pergi dari sini biar Aku yang keluar"


ucap Rafael sambil melangkah pergi.


Tapi tiba-tiba meri menarik tangan kak Rafael,dan seketika rafael menghentikan langkahnya.


"Lihat saja Rafael aku pastikan akan membuat Raisya,si cewek ganjen itu menderita",karena sudah berani mau merebut orang yang kusuka,ucap meri.


Aku terkejut mendengar ucapan meri.


aaaaaapa????jadi orang yang di sukai Rafael itu aku??


"Apa yang kau ucapkan meri,jangan sampai cinta membuatmu berbuat jahat kepada orang lain",Raisyaa tidak salah disini, jangan coba-coba kau berani mengusiknya,kau mengerti!,


lagian ini hanya urusanku dengan kamu saja jangan libatkan dia"


ucap Kak Rafael,wajahnya kulihat memerah karena menahan amarah.

__ADS_1


"kau kira aku takut dengan perkataanmu! kita lihat saja nanti".ucap kak meri kembali sambil berlalu pergi.


"Meri.....meri .......kamu jangan macam-macam! teriak Kak Rafael dan berusaha mengejar kak meri..


aku yang di balik pintu segera berlari keluar secepat mungkin,Namun kakiku mengenai salah satu kursi yang ada di luar ruangan. kemudian aku pun tidak sengaja menjerit


"Aaawwwww ,aduhhh sakit" Rintihanku di dengar oleh meri dan juga Rafael yang sekarang ternyata sudah berada di pintu.


"Ow ternyata kamu menguping pembicaraan kami dari tadi?sebanyak apa kau mendengarnyaa, apa kamu sudah tau kalau Rafael menyukaimu? apa kamu senang sekarang?ucap meri sambil menatapku dengan tajam dan sinis.


"kamu tidak apa-apa?tiba-tiba Rafael mendekatiku dan mengulurkan tangannya untuk menolongku..


"terima kasih kak,tapi aku bisa sendiri" ucapku.


"maaf tadi aku tidak sengaja menguping pembicaraan kalian berdua,aku kesini karena kak Rafael tadi yang memintaku,dan aku juga hendak segera kembali ke kelas ,Namun aku urungkan setelah memdengar namaku di sebut.


"kamu tidak salah apa-apa,nanti aku akan menemuimu kembalilah ke kelasmu sekarang!", ucap Rafael.


"kenapa kamu tidak jujur saja kepadanya sekarang Rafael! ayoo kataakan kepadanya kalau kamu menyukainya",ucap meri dengan tersenyum masam..


"kamu jangan ikut campur urusanku!" Teriak Rafael.


"dasar cewek ganjen tidak tahu diri"ucap kak meri dia mendekatiku dan melihatku dengan pandangan matanya yang tajam.


"tutup mulutmu!"ucap Rafael sembari mengacak Rambutnya yang frustasi karena tingkah meri yang sedari tadi makin melonjak."


sejak aku mengenalmu,sampai sekarang di mataku, kamu selalu saja sama,tidak ada etikanya,selalu berkata yang tidak sopan terhadapku.aku sudah berusaha selalu ramah terhadapmu,tetapi kamu tetap membenciku.


aku sendiri tidak tahu apa salahku,aku tahu kamu tidak menyukaiku karena sikapku ketika Mos dulu,tapi itu semua tidak salahku.


kalau saja kakak selaku senior bisa berbicara baik dan sopan,akupun tidak akan melawanmu,namun sekarang aku sudah menganggapmu sama seperti Anak-anak, merengek ketika tidak mendapatkan keinginannya.


dan dengan sifatmu yang begini pantas saja kak Rafael menolakmu."


aku pun mengatakan itu karena sudah tidak tahan mendengar perkataannya terhadapku.


"berani sekali kamu berbicara begitu kepadaku! kamu menghina Rafael yang menolakku,karena dia menyukaimu?kau


jangan terlalu percaya diri,jangan sok cantik,ucap meri kembali.


"selesaikanlah masalah kalian berdua,jangan melibatkan aku di dalamnya,karena aku juga tidak mengetahui sebelumnya mengenai perasaan kak Rafael terhadapku!"


akupun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


kulihat Rafael mengejarku..


__ADS_2