Love Heartfelt

Love Heartfelt
Episode 15. Ide Jahil


__ADS_3

"Meri,Hentikan!! teriak Rafael.


aku tidak mau berbuat kasar kepada perempuan.


kamu jangan memancing emosiku lagi.dan tadi aku sudah mengingatkan kepadamu.


mulai detik ini aku tidak ingin memiliki teman seperti dirimu lagi! dan mulai saat ini juga kamu orang asing bagiku!!


aku tidak peduli dengan kedekatan orang tua kita lagi, kali ini aku sudah muak melihat tingkahmu yang kasar dan kekanak-kanakan itu," Bentak Rafael.


"Mulai saat ini kalau kamu menyakiti Raisya


lagi aku tidak akan tinggal diam! aku akan membuat perhitungan denganmu! Rafael lebih menekankan suaranya kepada meri.


Raisya terlihat masih kaget akibat menerima tamparan dari Meri,dan Raisya juga tidak menyangka Kalau Rafael akan membentak meri begitu,dia tahu kalau meri dan Rafael telah berteman sejak mereka kecil.


Raisya masih mengusap pipinya yang merah akibat bekas tamparan tadi.


"Dasar perempuan kasar,hatimu begitu busuk!" sindir Ika.


Meri melototkan matanya kepada Ika.


Amy terlihat mengangkat tangannya hendak membalas menampar Meri,tapi segera di tepis oleh Raisya.


"Hentikan my,biarkan saja dia,jangan membalasnya! kalau kamu menamparnya,apa bedanya kamu sama dia," ujar Raisya.


"Rafael kamu tega berkata seperti itu kepadaku,hanya karena perempuan ini?


kita sudah berteman dari kecil Rafael


ingat itu!


ucap Mery dengan berlinang air mata.


"Aku sudah tidak ingin melihatmu meri,sebaiknya kamu pergi dari sini!" Tegas rafael.


Sebelum melangkah meri menatap Raisya dan sahabatnya satu persatu.


"cihhh beraninya main keroyokan,kalau berani satu-satu dong," sindirnya.


"plaaaakkkk,


Akhirnya tamparan itu melayang di pipi Meri,Ika yang dari tadi sudah tidak tahan lagi melihat meri,dengan geram berkata.

__ADS_1


"ayo lawan aku saja,balas tamparanku kalau kamu berani!" ucapnya lagi.


"Cukup ka,kalau kalian tidak berhenti juga aku pergi sendiri ke Uks" teriak Raisya,dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang Uks.


ketiga sahabatnya segera menyusul Raisya,mereka berusaha menahan tubuh Raisya agar tidak jatuh,karena lutut Raisya yang terluka tadi menyebabkan Raisya susah berjalan.


Rafael juga berjalan mengikuti mereka dari belakang,dia meminggalkan meri sendirian di sana.


setelah kaki Raisya mendapatkan perawatan,semuanya terlihat lega,karena kakinya tidak terlalu parah,setelah di bersihkan dan di berikan desinfektan,Raisya hanya perlu diberikan obat luar saja untuk di olesi.


Rafael berjalan mendekati Raisya,dia berniat ingin mengantarkan Raisya pulang.


"Raisya aku antarin kamu pulang ya.


maafin Aku,ini semua terjadi karena Aku,tetapi akan kupastikan meri tidak akan mengganggumu lagi," ucapnya dengan wajah yang bersalah.


"kenapa kakak belum pulang juga? bukannya dari tadi sudahku bilang,kalau kita gak butuh bantuan dari kakak!" ucap Raisya yang menatap tajam Rafael.


"Aku tidak bisa meninggalkan kamu dengan keadaan begini Raisya,aku harus memastikan kalau kamu baik-baik saja sampai di rumah," tegas Rafael.


setelah melalui perdebatan yang panjang,akhirnya kini Raisya bersedia di antarkan oleh Rafael,semua itu tidak lepas dari bujukan sahabat-sahabatnya juga ,mereka bilang tidak bisa menjelaskan semua yang terjadi kepada orang tua Raisya,mungkin Rafael akan bisa menjelaskan semua,makanya mereka berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan Raisya agar Raisya bersedia pulang bersama Rafael.


di atas motor Rafael, Raisya duduk menyamping, dari tadi dia hanya diam saja,Raisya hanya fokus menatap jalanan.


sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.


"Raisya,maaf sebelumnya tetapi sebaiknya kamu berpegangan kepadaku," ucap Rafael dengan pelan.Rafael juga sedikit khawatir jika posisi duduk Raisya begitu, sementara dia tidak berpegangan.


"maaf kak, tapi aku malah semakin tidak nyaman kalau berpegangan pada pinggang kakak."


"tetapi kamu tidak masalah kan, kalau aku bawa motornya pelan begini?aku hanya takut, kamu terjatuh jika aku menambah kecepatannya," ucap Rafael.


"tidak masalah kak," jawab Raisya..


Raisya sedikit canggung,karena hanya berdua saja dengan Rafael..


"Raisya,apa Orang tuamu galak?" Rafael berusaha memecah keheningan diantara mereka dengan bertanya terlebih dahulu.


"Kenapa kakak bertanya begitu?kakak takut ya, di marahain sama ayah dan bunda?" ucap Raisya,tiba-tiba muncul ide di kepalanya untuk mengerjai Rafael.


"gak sih,tapi kan aku harus tahu, jadi bisa siap-siap dari sekarang kalau nantinya orang tuamu memarahiku," jawab Rafael.


"Ayahku sangat pemarah kak,apalagi sampai melihat anaknya terluka begini,dan kalau Ayahku sampai mengetahui bahwa orang yang menyebabkan anaknya terluka itu,adalah orang yang mengantarkan anaknya pulang,bisa saja ayahku akan memukulinya tanpa ampun," ucap Raisya dengan serius.

__ADS_1


mendengar ucapan Raisya membuat Rafael terlihat sulit untuk menelan ludahnya.


"see....rii..usskah?, ucapnya dengan terbata, diapun membayangkan di hajar habis-habisan oleh Ayah Raisyaa.


kemudian Rafael mendadak menghentikn motornya dan menepikannya ke pinggir jalan.


"Raisya bukannya aku tidak mau bertanggung jawab atas kejadian ini,tetapi bisakah kita nanti bilang ke ayahmu kalau penyebab lukamu itu karena kau tidak sengaja terjatuh di sekolah dan aku yang menolongmu?"


Raisyaa sedikit menarik bibirnya ke atas.


"apa kakak takut? dasar tidak bertanggung jawab" sindir Raisya sambilbmenyebikkan bibirnya.


bukan seperti itu Raisya,kamu boleh memarahiku,dan boleh juga membalasku, asal jangan ceritakan semuanya kepada orang tuamu,karena aku tidak mau terlihat jelek di mata orang tuamu...


"cihhh bilang saja kakak takut !! lagian kenapa harus takut,kan bukan kakak pelakunya," ucap Raisya.


"tapi kan meri berbuat kasar kepadamu karena Aku," balas Rafael.


"Aku Rela jika nantinya di pukuli oleh ayahmu,kalau seandainya dengan memukuliku bisa meredakan amarahmu dan kamu juga bisa memaafkanku."


yang aku takut hanya jika mereka nantinya tidak menyukaiku karena masalah ini,makanya aku memintamu untuk tidak menceritakan semuanyaa.


tetapi kalau kamu mau jujur tidak apa,aku akan berusaha meminta maaf kepada orang tuamu sampai mereka mau memaafkankanku," ucapny lagi dengan wajah sendu.


"memangnya kenapa kalau orang tuaku tidak menyukaimu?orang belum kenal juga,dan entah kapan juga bertemu kembali" ucap Raisya.


"Raisya Aku sangat menyukai putri mereka,walaupun kamu belum menyukaiku,tapi setidaknya aku akan berusaha mengambil hati orang tuamu!" balas Rafael.


Raisya hanya tertegun mendengar semua itu.dan dia tidak membalas perkataan Rafael.


setibanya di kediaman Raisya,dengan langkah berani Rafael berjalan di belakang Raisya dia sudah menyiapkan diri untuk menerima amarah dari orang tua Raisya.


Raisya masuk ke dalam rumah dengan berjalan terpingkal-pingkal,sementara Rafael di suruh menunggu di teras rumahnya.


Bunda yang tengah berada di dapur segera meninggalkan masakannya begitu mendengar ucapan salam dari Raisya.


setelah menjawab salam,bunda segera menghampiri Raisya,betapa terkejutnya bunda Hana melihat noda Darah yang menempel pada Rok Raisya.


"Kak,kamu kenapa?kenapa bisa banyak darah begini?" tanya bunda Hana,dia terlihat panik..


"kakak baik-baik saja bun," ucap Raisya sambil menjatuhkan badannya ke atas sofa Ruang tamu.


"bagaimana bisa baik-baik saja, apa yang terjadi sebenarnya? ayo ceritakan sama bunda,yang sakit apa?atau kita kerumah sakit sekarang," bunda Hana memberikan pertanyaan beruntun kepada Raisya.

__ADS_1


mendengar Suara bunda Raisya yang sangat panik,tiba-tiba Rafael langsung masuk ke dalam Rumah.


__ADS_2