
Tepat pukul 5 sore, Maurin selesau bekerja. Dia sudah mengambil jaket dan memakainya. Mengambil tas gendongnya. Dia sudah bersiap untuk pulang.
"Yuk Rinn, kita pulang bareng" ajak Firman
Maurin mengangguk dan mengikuti langkah Firman. Mereka berjalan keluar dari kantor itu.
Lagi lagi Maurin di buat terkejut dengan kehadiran orang yang sama dengan yang datang tadi siang.
Dia ini mau apa si datang kesini terus.
"Rin, itu suami kamu kan? Dia mau jemput kamu kali" Firman menyenggol lengan Maurin
Daniel tersenyum dengan penuh keterpaksaan. Lagi lagi Dia harus menahan gemuruh di dadanya saat melihat istrinya lagi lagi bersama pria yang sama.
Meskipun mereka hanya berteman, tetap saja Daniel merasa tidak rela saat istrinya selalu bersama sama dengan pria lain.
"Ayo, biar Mas antar pulang Rin" kata Daniel
Maurin berjalan mendekat ke arah suaminya "Gak usah Mas, Rin bisa naik angkot. Lagian arah rumah Mas sama kosan Rin kan gak searah. Jadi Mas pulang aja, biar Rin pulang bareng Firman"
Daniel menahan gejolak di dadanya saat istrinya lebih memilih pulang dengan pria lain.
"Apa kamu gak kasihan sama Mas? Udah jauh jauh loh kesini buat jemput kamu" kata Daniel mencoba menutupi perasaan nya
"Kan Rin gak minta Mas jemput Rin" kata Maurin polos
"Plisss kali ini aja izinin aku antar kamu pulang Rin" kata Daniel memelas
Maurin mengehela nafas "Baiklah, Man maaf ya aku gak jadi pulang bareng sama kamu"
Firman mengangguk mengerti "Iya Rin, selesaikanlah masalah kalian. Jika masih bisa di perbaiki kenapa gak kembali bersama aja Rin"
Maurin menggeleng dan tersenyum "Aku gak mau bahas ini dulu untuk saat ini Man. Lagian Mas Daniel gak cinta sama aku dan aku juga akan melupakan semuanya. Termasuk perasaan cintaku padanya"
Deg
Daniel yang mendengar perkataan Maurin bagai tertimpa beban yang sangat berat. Dadanya sesak, wanita yang kini mulai mengisi relung hatinya sudah terlanjur di kecewakan olehnya.
Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Rin. Jika kau ingin melupakan cintamu padaku. Maka akan ku buat kau mencintai aku lagi.
Setelah berpamitan pada Firman. Maurin akhirnya pulang dengan mobil Daniel. Di dalam mobil, keduanya hanya diam. Maurin lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela.
"Rin" panggil Daniel
__ADS_1
Maurin menoleh "Apa?"
"Apa kamu gak mau kembali lagi ke rumah?" tanya Daniel ragu ragu
Maurin terdiam, tidak menyangka kalau Daniel akan menanyakan itu.
"Rin kan sudah bilang Mas, kalau Rin ingin memulai hidup baru. Rin ingin melupakan semuanya tentang kehidupan rumah tangga kita selama ini"
"Rin sadar kalau selama ini Mas tidak mencintai Rin. Dan sekarang Rin juga akan menghapus rasa cinta ini untuk Mas. Jadi Mas tidak perlu merasa bersalah pada Rin. Mas bisa menikah dengan wanita yang Mas inginkan setelah mencerai....."
"Cukup Rinn. Jangan pernah kau membahas lagi soal perceraian. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu" potong Daniel melirik tajam pada istrinya
Maurin terdiam, merasa takut dengan nada suara suaminya yang tegas.
Dia ini kenapa si, kalau Dia tidak akan menceraikan ku lalu apa Dia akan mamaduku?
"Sekali lagi aku dengar kau mmebahas soal perceraian jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa menahan diri lagi" kata Daniel dengan suara dingin
"Ta...tapi kenapa?" Maurin mmeberanikan diri untuk bertanya
"Jika Mas tidak mencintaiku, kenapa Mas tetap mempertahankan ku? Kenapa?" tanya Maurin dengan suara gemetar
Daniel menghentikan mobilnya di depan gang menuju kosan Maurin. Dia melepas sabuk pengaman, sedikit memiringkan tubuhnya untuk menatap Maurin.
Maurin terdiam, tentu saja Dia ingat saat Daniel mengatakan itu. Tapi saat itu Maurin hanya mengartikan kalau suaminya mengucapkan itu karna rasa bersalah nya saja. Maurin tidak menganggap serius ucapan suaminya waktu itu.
"Karna saat itu kamu hanya merasa bersalah padaku Mas. Kau tidak serius mengucapkan itu. Jelas jelas kau tidak mencintaiku" kata Maurin
"Baiklah kalau kau berfikiran seperti itu maka akan aku buktikan kalau aku benar benar mencintaimu dengan tulus" kata Daniel tegas
Daniel langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Maurin masih diam mematung dengan semua ucapan Daniel yang baru saja di dengarnya.
"Keluarlah dan segera istirahat" kata Daniel
Maurin tersadar, Dia mengangguk dan keluar dari mobil suaminya.
"Terimakasih"
Daniel hanya mengangguk, Maurin pun berjalan masuk ke dalam gang. Daniel menunggu sampai punggung Maurin tidak terlihat lagi. Setelah itu barulah Dia masuk dan melajukan mobilnya.
...🌻🌻🌻🌻...
Maurin berguling ke sana kemari di tempat tidurnya. Dia masih kefikiran tentang ucapan suaminya tadi sore.
__ADS_1
Apa benar apa yang Dia katakan? Kenapa aku masih merasa ragu. Takut kecewa lagi.
Di tempat yang berbeda dan kamar yang berbeda. Daniel juga sedang di landa gelisah. Berguling di tempat tidurnya.
Sedalam itukah luka yang telah kubuat di hatimu Rin? Sampai kau mengira aku mengatakan itu hanya karna rasa bersalah saja.
"Kau terlalu takut untuk memulai kembali denganku Rin. Maaf, maaf karna sudah membuatmu terluka Rin"
Penyesalan sudah semakin Daniel rasakan. Melihat bagaimana tatapan mata Maurin yang menyimpan banyak luka itu membuat Daniel semakin merasakan penyesalan itu.
...🌻🌻🌻🌻...
Maurin berjalan melewati gang, Dia sudah siap untuk berangkat kerja. Sampai di ujung gang, Maurin sudah di sambut dengan senyum manis suaminya yang sedang duduk menyandar di mobilnya.
Dia datang lagi.
Maurin melanjutkan langkahnya, mendekat ke arah Daniel.
Daniel segera membukakan pintu untuk istrinya "Silahkan masuk istriku"
"Tidak perlu capek capek menjemputku Mas. Rin bisa pergi sendiri" kata Maurin
"Aku tidak menawarkan untuk menjemputmu. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai suamimu" kata Daniel santai
"Lalu selama ini kau kemana Mas? Apa selama dua tahun lebih, kau tidak menjalankan tugasmu sebagai suami?" tanya Maurin sinis
Deg
Daniel merasa tertampar dengan ucapan Maurin. Benar apa yang di katakan nya. Selama ini apakah Daniel sudah menjalankan tugas nya dengan benar sebagai seorang suami.
Daniel tidak menjawab, Dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya. Maurin hanya diam di dalam mobil Daniel.
Apa perkataanku keterlaluan? Apa aku sudah menyakiti perasaan nya?
Sesekali Maurin melirik ke arah Daniel yang hanya diam saja dan hanya fokus menyetir.
Aku akan mmebuatmu melupakan masa sakit itu Rin. Aku akan mengganti semua masa masa sakit itu dengan kebahagiaan mulai sekarang.
Jujur Daniel merasa sakit mendengar perkataan Maurin. Tapi bukan sakit karna ucapan Maurin, melainkan karna Dia sadar kalau dulu Dia tidak menjalankan tugasnya sebagai suami.
Daniel merasa kalau Dia adalah laki laki berengsek yang membuat wanita yang mencintainya dan menjadi istrinya menderita karna egonya sendiri.
Bersambung
__ADS_1