Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Kemarahan Windi


__ADS_3

Plak


Daniel sudah memperkirakan kemarahan Ibunya saat tahu apa yang telah Daniel lakukan. Tamparan keras tangan itu, tidak sebanding dengan rasa kecewa yang di rasakan Ibunya. Juga rasa sakit yang di rasakan istrinya.


"Kau benar benar bajingan Daniel, kau memprlakukan istrimu dengan begitu menyakitkan. Mama tidak menyangka kalau kamu bisa melakukan ini" kata Windi penuh emosi


"Ma, udah Ma" Maurin mencoba melerai perdebatan itu.


"Jika kau tidak mnecintai Maurin, ceraikanlah Dia Mama ikhlas jika harus melepas menantu sebaik Maurin. Dari pada Dia harus tersakiti dengan anak Mama" kata Windi lagi


"Enggak!! Aku gak akan pernah melakukan itu Ma. Aku sudah sadar di mana letak kesalahanku, aku janji aku akan berubah dan mencintai Maurin. Aku akan membahagiakan nya Ma. Aku mohon, jangan suruh aku menceraikan nya" kata Daniel menggenggam tangan


Ibunya


"Ma udah Ma, Rin sudah memaafkan Mas Daniel. Mas Daniel berhak mendapat kan kesempatan kedua Ma" kata Maurin


Windi menghela nafas "Lihatlah! Betapa baik dan lembutnya istrimu itu. Apa kau masih ingin menyia nyiakan nya?"


Daniel menggeleng cepat "Tidak Ma. Aku benar benar menyesali semua yang pernah ku perbuat pada Maurin dan menyakiti hatinya"


"Ini adalah kesempatan terakhirmu Daniel, jika kau berani menyakiti Maurin lagi. Maka jangan salahkan Mama kalau Mama sendiri yang akan membawa Maurin pergi dari hidupmu" ancam Windi


"Iya Ma, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku mencintai Maurin Ma" kata Daniel


Windi berjalan menghampiri ranjang Maurin. Mengelus lembut kepala menantunya itu.


"Apa yang terjadi padamu Rin? Kenapa kamu gak cerita sama Mama kalau kamu hanya anak angkat di keluarga Antoni. Dan dengan kejamnya mereka memperlakukan mu seperti ini" kata Windi menatap iba pada menantunya


Maurin tersenyum "Sudah takdir Rin untuk menjalani hidup seperti ini Ma"


"Kau benar benar wanita yang hebat Maurin. Mama bangga bisa punya menantu sepertimu" kata Windi tersenyum


Maurin hanya tersenyum, melihat ke arah Daniel yang sedang menelpon seseorang.


"Aku kasih kau waktu 2 hari, pokoknya kau harus menemukan donor yang cocok untuk istriku"


Daniel langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya di sebrang sana. Dia berjalan kembali ke arah Maurin dan Ibunya.


"Mas habis telpon siapa?" tanya Maurin


Daniel mengelus kepala istrinya "Telpon suruhan Mas buat carikan donor yang cocok untukmu Sayang. Pokoknya kamu harus yakin pasti akan sembuh"


Maurin mengangguk "Mas, Rin mau mengunjungi makam Ibu dan Ayah"


"Nsnti ya, kalau kondisi kamu sudah benar benar pulih. Kita akan kesana sama sama" kata Daniel lembut


"Tapi kalau aku gak sembuh giman......"


Cup Cup Cup


Daniel langsung mengecup beberapa kali bibir istrinya itu "Sudah ku bilang jangan pernah bicara seperti itu lagi. Mengerti! Kau pasti sembuh"

__ADS_1


Maurin hanya mengangguk, Dia juga sangat ingin sembuh. Tapi hatinya tetap saja merasa takut kalau Dia tidak bisa sembuh.


"Ma tolong jaga Maurin ya, aku ada urusan sebentar" kata Daniel pada Windi


"Mas mau kemana?" Maurin menyahut


Daniel menoleh pada istrinya "Mas ada urusan sebentar Sayang. Kamu di jagain sama Mama dulu ya, Mas gak lama kok"


Maurin menoleh ke arah Ibu mertuanya, jujur Dia merasa was was dengan kata urusan yang Daniel maksud. Windi yang mengerti kecemasan di tatapan mata Maurin hanya mengangguk. Seolah berkata kalau semuanya akan baik baik saja.


"Baiklah Mas, hati hati ya. Jangan membuat kami cemas" kata Maurin


Daniel tersenyum, lalu mendekat ke arah istrinya. Mencium seluruh bagian wajah Maurin.


"Mas gak akan membuatmu cemas Sayang. Ya udah kalau gitu Mas pergi dulu ya" Daniel kembali mencium kening istrinya


Maurin mengangguk "Iya"


...🌻🌻🌻🌻...


Daniel turun dari mobilnya, membuka kaca mata hitam yang di pakainya. Menatap penuh permusuhan pada rumah di depan nya.


Daniel melangkah masuk ke dalam rumah itu. Terlihat semua anggota keluarga yang sedang berkumpul begitu terkejut melihat kedatangan Daniel.


"Da...Daniel" sepasang suami istri paruh baya langsung berdiri dari duduknya dan mengangguk hormat.


Daniel tersenyum sinis, berjalan mendekat ke arah mereka. Duduk di sofa tunggal tanpa di persilahkan oleh tuan rumah.


Tatapan mata mengintimidasi membuat semua anggota keluarga itu ketakutan. Terkecuali seorang pemuda yang terlihat tenang dan tidak terintimidasi dengan tatapan mata Daniel.


"Maksud Nak Daniel apa?"tanya Yuna dengan gemetar


"Hmm" Daniel tersenyum sinis "Siapa lagi jika bukan anak angkat yang dengan tega kalian terlantarkan"


Deg


Yuna dan Antoni merasa terintimidasi dengan ucapan Daniel barusan. Tidak... Mereka tidak menyesal, tapi mereka hanya takut dengan Daniel.


"Memangnya apa yang terjadi dengan Kak Rin?" tanya Raka yang terlihat khawatir


Daniel menoleh ke arah Raka, menatapnya "Apa kau tidak tahu kalau Kakakmu sedang dalam keadaan antara hidup dan mati"


Raka terlihat begitu terkejut mendengar ucapan Daniel barusan "Apa maksud Kak Daniel?"


Sepertinya anak ini tidak tahu apa apa.


Daniel menceritakan semua yang terjadi pada Maurin pada Raka. Benar saja Raka tidak tahu soal penyakit Mauirn. Jika Dia tahu, mana mungkin Dia membiarkan Kakaknya menderita.


Selama ini Raka membiarkan Maurin bersama Daniel karna Raka yakin kalau Kakaknya itu akan bahagia bersama pria yang di cintainya. Tapi soal panyakitnya, sungguh Raka tidak tahu apa apa.


"Sekarang, apa yang bisa kalian lakukan Hah? Aku memberikan kalian waktu dua hari untuk bisa menyesali perbuatan kalian juga mencarikan donor yang cocok untuk istriku. Kalau tidak..." Daniel menatap satu persatu anggota keluara ini

__ADS_1


"Siap siap perusahaanmu hancur di tanganku" kata Daniel dengan tatapan tajam pada Antoni


"Ba.....Baik Nak, saya akan melakukan apa yang kamu inginkan" kata Antoni gemetar


Daniel beranjak dari duduknya "Aku tunggu penyesalan kalian"


Daniel pun berjalan menuju pintu keluar


"Tunggu Kak" teriakan Raka membuat langkah Daniel terhenti


"Aku ingin ikut dan melihat keadaan Kak Rin" kata Raka


"Cepatlah, aku tunggu di luar" kata Daniel tanpa menoleh ke arah Raka dan melanjutkan lagi langkahnya


...🌻🌻🌻🌻...


Ceklek


Maurin menoleh ke arah pintu ruangan nya yang terbuka. Tersenyum saat melihat suaminya telah kembali.


"Mas sudah pulang" kata Maurin tersenyum


Maurin terbelalak kaget saat melihat seseorang yang berada di belakang Daniel.


"Raka, kenapa kamu bisa tahu Kakak disini?"tanya Maurin


Raka tersenyum, Dia mendekat ke arah Maurin dan memeluk kakanya yang sedang duduk di ranjang pasien itu.


"Kenapa Kakak gak pernah cerita sama aku soal keadaan Kakak ini?" Kata Raka


Maurin mengelus punggung adik kesayangan nya itu "Kakak gak papa Raka. Makasih karna kamu selalu peduli dengan Kakak"


"Karna aku sayang dengan Kakak, jadi aku akan selalu peduli dengan Kakak" kata Raka


"Ekhem"


Deheman dari Daniel membuat adik kakak itu tersadar dan langsung melepaskan pelukan nya. Maurin tersenyum ke arah suaminya, sementara Raka duduk di pinggir ranjang pasien sambil memijat lembut kaki Maurin.


"Kalian berpelukan di depanku tanpa menghiraukan perasaanku. Aku cemburu Sayang" Daniel berjalan mendekat dan mencium kening istrinya


"Ish kau ini selalu saja aneh aneh, Raka ini adik aku Mas" kata Maurin


"Iya tau deh, adik kesayangan kan" kata Daniel pura pura kesal


"Iya, dan kamu itu adalah suami kesayangan" kata Maurin tersenyum


"Udah pinter ngerayu ya" Daniel mencium gemas pipi istrinya itu


"Hahaha" Maurin hanya tertawa, sementara Raka tersenyum bahagia melihat keharmonisan rumah tangga kakaknya itu.


"Oh ya, Mama kemana Sayang?"tanya Daniel

__ADS_1


"Tadi ke kantin bentar katanya" jawab Maurin


Bersambung


__ADS_2