
Beberapa bulan kemudian.....
Usia kandungan Maurin sudah memasuki bulan ke sembilan. Daniel sengaja tidak ingin tahu tentang jenis kelamin calon anaknya. Biarkan saja menjadi kejutan nanti.
Maurin duduk di sofa samping suaminya dengan sedikit susah karna perutnya yang sudah besar. Daniel membantu istrinya untuk duduk.
"Belum ada tanda tanda kontraksi kan?"
Pertanyaan itu sering kali Daniel tanyakan karna menurut perkiraan dokter kelahiran nya masih seminggu lagi. Tapi juga bisa kurang bisa juga lebih dari waktu perkiraan.
Daniel selalu menanyakan itu pada istrinya karna Dia takut kalau Maurin melahirkan saat Dia sedang tidak ada di sampingnya.
"Mulai besok aku gak akan ke kantor" kata Daniel
Maurin menoleh "Kenapa? Aku kan belum merasakan tanda tanda akan melahirkan"
Daniel mencium kening istrinya "Sayang, aku takut kau kontraksi saat aku sedang tidak ada di rumah"
Maurin tersenyum "Ya udah terserah kamu aja"
Daniel mengelus perut buncit istrinya "Jangan siksa Ibumu ya baby"
Seolah mengerti bayi dalam kandungannya merespon. Dia menedang membuat Daniel antusias.
"Aww..." Maurin mengelus perutnya, merasakan tendangan sang bayi yang semakin keras.
"Sayang kenapa?"tanya Daniel panik
"Gak papa, cuma baby nendangnya keras banget" Maurin kembali mengelus perutnya
Daniel merunduk mencium perut buncit Maurin "Baby jangan keras keras nendangnya. Kasihan Ibu, jangan menyiksa Ibumu"
Maurin tersenyum, Dia mengelus rambut suaminya yang terus mencium perut buncit Maurin.
"Sayang, kalau kamu udah merasa sakit jangan di tahan ya. Langsung bilang sama aku" kata Daniel menatap wajah istrinya
Maurin mengangguk "Iya Hubby"
...🌻🌻🌻🌻...
"Maaf Sayang, tadinya seharian ini aku mau temenin kamu. Tapi tiba tiba ada client aku yang dari luar negri. Kalau gak di temui sekarang, Dia susah banget waktu untuk bisa ketemu langsung kaya gini. Apalagi kita sedang ada proyek baru" kata Daniel
Maurin yang sedang memasangkan dasi di leher suaminya hanya tersenyum "Gak papa By, aku juga baik baik aja kok"
Cup
Daniel mencium kening istrinya "Kalau ada apa apa langsung hubungi aku"
__ADS_1
Maurin mengangguk "Iya"
Sebenarnya sejak bangun tidur tadi pagi Maurin sudah merasakan tidak enak pada perutnya. Namun karna rasa itu hilang kembali mmebuat Maurin tidak mau terlalu cemas. Dia akan merasakan dulu apa benar ini tanda tanda akan melahirkan.
Maklumlah inikan kehamilan pertama untuknya, jadi Maurin belum tahu bagaimana rasa sebenarnya saat akan melahirkan.
Setelah kepergian Daniel, Maurin memilih diam di dalam kamarnya sambil merasakan rasa tidak enak pada perutnya itu.
Maurin terus mengelus perut buncitnya, tendangan dari sang bayi semakin terasa dan itu membuat rasa mulas yang Maurin rasakan semakin menjadi.
Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya. Maurin mencoba berjalan keluar kamar untuk memanggil pelayan dan meminta bantuan.
Arghhh. Benarkah aku akan melahirkan. Tapi ini rasanya sangat sakit sekali.
Seorang pelayan datang dengan tergopoh gopoh saat mendengar teriakan Maurin.
"Nona kenapa?"
"Tolong saya, sepertinya saya akan melahirkan. Tolong siapkan mobil dan bawa tas itu " Maurin menunjuk tas besar yang sudah Dia siapkan dengan keperluan bayi dan dirinya saat melahirkan nanti.
"Baik"
Pelayan yang terlihat panik juga segera mengambil tas itu dan menyuruh pelayan yang lain agar menyiapkan mobil pada supir.
Dengan di bantu pelayan, Maurin menuruni anak tangga. Rasa mulas di perutnya semakin terasa, Maurin merasa sulit untuk melangkah. Dia bahkan lupa untuk menghubungi suaminya.
Maurin masuk ke dalam mobil dengan di bantu pelayan. Satu orang pelayan ikut menemaninya, melihat kondisi Maurin yang sudah sangat lemah.
...🌻🌻🌻🌻...
"Apa???"
Daniel langsung berdiri dari duduknya. Dia masih berada di ruang metting. Membuat semua yang ada di ruang metting menatap heran pada atasan nya.
"Semuanya saya minta maaf karna tidak bisa melanjutkan metting ini. Istri saya mau melahirkan dan sekarang sedang menuju ke rumah sakit. Saya minta doanya dari semuanya untuk proses kelahiran istri saya" kata Daniel
"Wah selamat ya Tuan Daniel, semoga proses lahiran nya lancar"
"Selamat Tuan Daniel, sekarang sudah akan menjadi seorang Ayah"
"Semoga baby dan Ibunya sehat dan selamat"
Begitulah ucapan para rekan kerjanya, Daniel hanya menjawab dengan senyuman dan menganggukan kepalanya. Dia pun segera keluar dan menyerahkan semua pekerjaan nya pada Firman.
Mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Daniel begitu gelisah, apalagi saat Dia harus terjebak di lampu merah. Beberapa kali Dia mengumpat dan memukul setir.
Sesampainya di rumah sakit Daniel segera mencari di mana ruangan istrinya. Bertanya pada salah satu perawat, Daniel segera berlari menuju ruangan istrinya.
__ADS_1
Brakkk
Daniel membuka pintu ruangan Maurin degan keras. Sudah tidak sabar untuk melihat keadaan istrinya. Di lihatnya Maurin yang sedang merintih kesakitan di tempat tidur di temani seorang pelayan yang tadi ikut mengantarnya.
"Hubby" lirih Maurin
Daniel segera menghampiri istrinya "Sayang, kenapa gak langsung hubungi aku" Daniel mengecup kening istrinya
"Sejak kapan? Sejak kapan terasa kontraksinya?" Tanya Daniel
"Sejak bangun tidur" jawab Maurin lirih
"Kenapa gak bilang? Kalau sampai aku gak bisa cepat cepat datang kesini gimana? Aku kan udah bilang kalau udah merasa kontraksi langsung bilang sama aku jangan di pendam sendiri" kesal Daniel bercampur rasa khawatir
"Awwww....." Maurin kembali merintih saat kontraksi semakin Dia rasakan. Daniel semakin cemas melihat wajah pucat istrinya.
"Sayang, mana yang sakit hmm? Baby ayah mohon jangan siksa Ibumu seperti ini" Daniel mengelus perut istrinya. Dia benar benar gila saat melihat istrinya kesakitan seperti itu.
"Arghhhhhh" Maurin semakin menjerit kesakitan, keringat sudah membasahi dahinya.
"Cepat panggil dokter" teriak Daniel pada pelayan rumahnya yang ada di ruangan itu
"Baik Tuan"
Tak lama kemudian, dokter dan datang dan beberapa perawat. Dia segera mengecek keadaan Maurin.
"Sudah waktunya, siapkan semuanya"
"Baik Dok"
Maurin pun di bawa ke ruang bersalin dengan di dampingi suaminya. Daniel terus menggenggam erat tangan istrinya.
Maurin mengikuti arahan dokter untuk mengejan. Rasa sakit yang luar biasa benar benar baru kali ini Dia rasakan.
Ibu... Maafkan Rin yang belum bisa berbakti pada Ibu. Beginikah rasanya melahirkan.
"Sakitttt" lirih Maurin
"Sayang kuat, kamu pasti bisa Sayang" bisik Daniel di telinga Maurin
"Ayo Nona, kepalanya sudah kelihatan. Anda pasti bisa, tarik nafas Nona dan mengejanlah sekuat tenaga"
Maurin mulai mengikuti arahan dokter, Dia mengejan sekuat tenaga sampai suara tangisan bayi memenuhi ruangan bersalin. Maurin tersenyum lirih lalu memejamkan matanya membuat Daniel panik.
"Sayang, bangun... Jangan pejamkan matamu... Sayang... Dokter istri saya tidak sadarkan diri"
Dokter pun menjadi panik dan segera melakukan tindakan. Daniel merasa dunianya hancur saat melihat istrinya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung