Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Mengantar Windi ke Bandara


__ADS_3

Maurin sedang di landa kebingungan, sudah tiga hari berlalu tapi Dia belum memberitahu suaminya tentang Ibu mertuanya yang akan pindah. Bahkan sampai saat ini ponsel Daniel tidak bisa di hubungi.


"Bagaimana ini? Aku harus berbuat apa? Alamat apartemen nya pun aku tidak tahu"


Maurin berfikir bagaimana caranya Dia bisa bertemu dengan suaminya dan memberitahukan kalau Windi akan pindah minggu depan.


Drett...Drett


Maurin di kejutkan dengan ponselnya yang berdering. Dia langsung mengambil ponselnya yang diletakan di atas meja makan.


"Aduhh. Mama nelpon lagi, gimana ini?"gumam Maurin sedikit panik


"Ha...halo Ma"


"Hallo Rin, gimana? Apa kau sudah memberi tahu Daniel? Soalnya ponselnya masih belum bisa di hubungi"


Aduh apa yang harus aku lakukan? Aku harus jawab apa.


"Hmmm. I..ya Ma, Mas Daniel sedang sibuk mungkin"


"Ya sudah yang penting kamu udah kasih tau Dia kalau Mama akan pindah minggu depan"


"I..iya Ma"


Maurin mengakhiri telponnya, menatap ponselnya itu sambil berjalan mondar mandir. Mengetuk ngetukan ponselnya di dagu, Maurin sedang berfikir keras.


"Ahh. Kenapa aku tidak temui ke kantornya saja. Iya benar, aku kan tahu di mana alamat kantornya"


Maurin pun segera bersiap siap untuk pergi ke kantor suaminya. Dia tidak mungkin tidak memberi tahukan kalau Windi akan pindah. Jika menunggu Daniel pulang, tidak mungkin karna Daniel belum tentu akan pulang lagi ke rumah ini.


...🌻🌻🌻🌻...


Maurin menatap gedung yang menjulang tinggi. Hanya sekali Maurin pernah datang ke perusahaan milik suaminya ini. Dan hari ini adalah kali kedua Maurin datang ke perusahaan ini.


Jika dulu Dia datang kesini dengan bangga sebagai istri dari Presdir perusahaan ini. Tapi sekarang, bahkan untuk mendongakan kepalanya saja Maurin tidak berani.


Dia merasa sangat rendah, menjadi seorang istri yang tidak di anggap sama sekali.


Ting


Pintu lif terbuka, Maurin segera melangkahkan kakinya menuju meja sekertaris Daniel yang berada di depan ruangan Presdir.


"Permisi Mbak" kata Maurin sopan


Sekertari Daniel langsung berdiri dan mengangguk hormat "Iya Nona, ada keperluan apa?"


Maurin tersenyum "Saya mau bertemu dengan Mas Daniel. Ada yang ingin saya sampaikan"

__ADS_1


"Ohh. Silahkan masuk saja ke ruangan nya, Tuan Daniel sebentar lagi akan datang. Tadi keluar sebentar untuk makan siang"


Maurin mengangguk dan tersenyum "Terimakasih"


Maurin pun masuk ke ruangan suaminya. Duduk di sofa sambil melihat lihat isi ruangan suaminya ini.


Maurin menyadari satu hal, dulu saat Dia pernah datang kesini ada foto pernikahannya dengan Daniel di atas meja kerja itu. Tapi sekarang tidak ada.


Merasa penasaran, Maurin pun berjalan ke arah meja kerja suaminya. Membuka laci meja dan benar saja foto pernikahan mereka ada disana.


Bahkan kamu gak mau memajang lagi foto pernikahan kita Mas.


Daniel benar benar pandai bersandiwara. Dulu Dia sangat manis dan perhatian pada Maurin membuatnya tidak curiga sama sekali kalau Daniel tidak mencintainya.


Ceklek


"Mau apa kau kesini?"tanya Daniel masih berdiri di ambang pintu


Maurin tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Mas"


Daniel menutup pintu dan berjalan ke sofa, duduk di sana. Maurin pun ikut duduk di sofa tunggal.


"Ingin bicara apa? Cepatlah aku tidak ada waktu" kata Daniel dingin


"Waktu itu Mama datang ke rumah, Dia...."


"Rin gak bilang apa apa sama Mama, Rin kesini cuma mau bilang kalau waktu itu Mama ke rumah karna mau kasih tau kita kalau Mama akan pindah ke kota kelahiran nya" jelas Maurin


Daniel terlihat sedikit terkejut mendengar penjelasan Maurin "Terus kapan Mama akan pindah?"


"Minggu depan, sebelum Mama pindah lebih baik Mas temui dulu Mama ke rumahnya" kata Maurin


Daniel mengangguk "Baiklah nanti malam kau bersiap karna kita akan ke rumah Mama"


Maurin mengerutkan keningnya "Kita? Maksudnya Rin ikut?"


"Tentu saja kau harus ikut, kau mau Mama tahu semuanya Hah? Kau mau membuat penyakit jantung Mama kumat? Iya?" Kata Daniel ketus


"Ti...tidak Mas, baiklah nanti malam Rin akan ikut Mas ke rumah Mama" kata Maurin gugup


...🌻🌻🌻🌻...


Malam harinya Maurin dan Daniel telah sampai di rumah Ibu mertuanya. Windi langsung menyambut hangat kedatangan anak dan menantunya itu.


"Kenapa ponselmu selalu tak bisa di hubungi?"tanya Windi menatap pada putranya


"Daniel sibuk Ma, lagian Mama kenapa harus pindah si? Apa Mama gak betah tinggal disini?"kata Daniel

__ADS_1


"Bukan begitu, Mama hanya ingin menghabiskan masa tua Mama di kota kelahiran Mama. Kamu mengartikan? Makanya cepatlah kasih Mama cucu biar Mama gak kesepian lagi" kata Windi


"Daniel akan memberikan Mama cucu, semoga ya. Doakan saja" kata Daniel manatap sinis pada istrinya


Maurin hanya menunduk melihat tatapan suaminya. Dia benar benar merasa di rendahkan oleh suaminya sendiri. Daniel berkata seperti itu sambil menatapnya seolah olah kalau Dia adalah wanita tidak sempurna yang tidak bisa memberikan keturunan.


"Iya Mama selalu mendoakan supaya kalian segera di kasih keturunan" kata Windi tersenyum


"Rin kenapa diam saja? Apa kamu sakit?"tanya Windi


Maurin mendongak dan memaksakan tersenyum pada Windi "Gak papa kok Ma, Rin baik baik aja"


"Syukurlah. Sekarang ayo kita makan malam" ajak Windi


Akhirnya mereka pun makan malam bersama. Disini Daniel kembali bersikap baik pada istrinya.


...🌻🌻🌻🌻...


Pagi pagi Daniel sudah menjemput Maurin ke rumah. Hari ini mereka akan mengantar Windi ke bandara untuk pergi ke kota kelahiran nya.


Maurin merasa sedih saat Ibu mertuanya akan pindah ke kota yang berbeda. Seseorang yang menyayangi nya dengan tulus malah harus jauh darinya.


Kini Maurin tidak yakin dengan hudupnya. Ibu mertuanya sudah jauh darinya, maka Maurin tidak yakin bisa bertahan dengan situasi seperti ini.


"Mama pergi dulu ya, jika kalian ada waktu maka mainlah ke kota Mama" kata Windi tersenyum


"Iya Ma, kami pasti akan berkunjung ke sana jika ada waktu senggang. Mama baik baik ya disana" kata Daniel memeluk Mamanya


"Rin, jaga Daniel baik baik ya. Mungkin Daniel memang sedikit dingin dan datar. Tapi percayalah kalau Dia sudah mencintai seseorang maka akan sepenuh hatinya mencintai orang itu" kata Windi


Dan orang yang di cintai dengan sepenuh hati adalah Jesika Ma, bukan aku.


"I..iya Ma, Rin mengerti" jawab Maurin tersenyum


"Mama baik baik disana ya, jaga kesehatan" tambahnya lagi


"Iya Rin, kalau begitu Mama pergi dulu ya" kata Windi


Maurin dan Daniel menatap punggung Windi yang semakin menjauh.


Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Saat Maurin akan membuka pintu mobil, namun langsung di hentikan oleh Daniel.


"Kau pulanglah naik taxi, aku mau pergi menjemput kekasihku" kata Daniel datar dan langsung masuk ke dalam mobil


Maurin hanya diam, menatap mobil Daniel yang sudah melaju dengan mata berkaca kaca.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2