
Ceklek
Daniel masuk ke dalam kemarnya, melihat istrinya yang sedang duduk di sofa dekat jendela. Menatap langit sore.
Daniel segera menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya "Sayang"
Maurin menoleh dan tersenyum "Mas sudah pulang"
"Iya, kamu gak papakan?" Daniel menatap lekat wajah istrinya itu
Maurin tersenyum "Gak papa kok, emang aku kenapa?"
Apa jangan jangan ada yang bilang tentang kejadian tadi ya?
"Beneran gak papa? Apa gak ada yang mau kamu ceritain sama Mas?" Daniel menyipitkan matanya dengan tatatpan menyelidik
Benar. Sepertinya Dia tahu soal perdebatan ku dengan Jesika tadi.
"Mas tahu?"tanya Maurin
Kenapa harus menyembunyikan semuanya *dari*ku Sayang?
"Tahu? Tahu apa?"kata Daniel pura pura tidak mengerti
"Kalau Jesika tadi datang ke sini" jelas Maurin
"Kenapa gak bilang sama aku? Atau menelponku?"kata Daniel
Maurin menunduk "Aku gak papa kok"
Daniel meraih dagu Maurin dan mengangakat wajahnya "Lihat mata aku, kamu gak akan pernah bisa bohong lagi sama aku. Mas kan sudah bilang kalau sampai ada apa apa tolong kasih tahu Mas"
"Apalagi ini Dia sampai datang ke rumah. Dia gak ngelakuin apa apa kan sama kamu? Dia gak nyakitin kamukan?" Kata Daniel khawatir mengingat bagaimana emosional nya Jesika.
Maurin menggeleng dan tersenyum "Aku baik baik aja kok Mas, Dia gak ngapa ngapain aku"
"Tapi kata pelayan kamu sampai nangis tadi, beneran Dia gak ngapa ngapain kamu?"tanya Daniel
Tuhkan bener pasti pelayan tadi bilang sama Mas Daniel.
"Dia... Dia tahu soal identitasku Mas dan Dia juga ngancem aku bakalan sebarin tentang keluarga angkat ku yang menabrak Ibu sampai meninggal juga memperlakukan ku dengan tidak baik" jelas Maurin
Terlanjur bercerita, Maurin akhirnya menceritakan semuanya pada Daniel. Tidak ada lagi yang di tutup tutupi dari suaminya.
Daniel mendesah saat mendengar cerita istrinya. Jika saja tadi Daniel ada di sana, sudah pasti Daniel akan menympal mulut kurang ajar Jesika.
"Sudah ya jangan terlalu banyak fikiran. Aku akan menyelesaikan masalah ini. Yakinlah kalau Jesika tidak akan mengancam mu lagi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi" kata Daniel sambil mengelus kepala istrinya
__ADS_1
Maurin mengangguk "Iya Mas, kamu tenang aja. Lagian aku juga gak akan gampang takut gitu aja dengan ancaman Jesika"
"Cukup Sayang, jangan menyebut namanya lagi. Aku benar benar malas jika mendengar nama wanita itu di sebut oleh bibirmu itu" kata Daniel serius
Maurin terkekeh "Kenapa? Apa jantungmu masih berdebar saat mendengar namanya di sebut? Wah.. Mas masih mencintainya ya?"
Daniel mendengus kesal, tahu istrinya hanya menggodanya saja "Kau ini, aku bahkan menyesal karna telah mencintai wanita seperti Dia"
Maurin tersenyum "Jangan gitu, dulukan sangat mencintainya. Bahkan sampai mengorbankan rumah tangga sendiri demi Dia"
Mungkin Maurin tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Daniel.
Tapi Daniel merasa sakit di hatinya, mengingat bagaimana dulu Dia menyakiti perasaan istrinya dengan kejujuran yang di katakan nya.
Maaf
Terlalu sering berucap maaf sampai kali ini Daniel tidak sanggup lagi mnegucapkan nya. Dia hanya bisa bergumam dalam hati.
"Mas mandi dulu sana" kata Maurin
Daniel mengangguk dan langsung berjalan ke arah ruang ganti. Maurin segera mengikutinya untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
Daniel masuk ke kamar mandi dan Maurin menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.
Di dalam kamar mandi, Daniel berendam di bathup. Memejamkan matanya, menghela nafas berat.
Penyesalan demi penyesalan semakin Daniel rasakan. Apalagi melihat ketulusan dan keikhlasan istrinya itu.
...🌻🌻🌻🌻...
Sepertinya sepasang suami istri ini hanya ingin menghabiskan waktu berdua di kamar. Jarangkan Daniel sudah berada di rumah saat masih sore seperti ini.
Maurin memeluk tubuh suaminya, menyandarkan kepala di atas dada Daniel.
"Pokoknya kamu jangan memikirkan apapun lagi. Hanya perlu percaya padaku mulai saat ini dan seterusnya" Daniel mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Maurin
Maurin mengangguk "Iya"
"Tapi kalau misalkan Jesika benar benar menyebarkan tentang insiden itu pada piblik bagaimana? Ini akan membuat usaha Ayah terancam" kata Maurin
Jujur saja Maurin merasa sangat takut dan cemas saat ini. Takut kalau ucapan Jesika akan benar benar di lakukan nya.
"Ck. Sudah berapa kali aku bilang jangan menyebut nama wanita itu lagi Sayang. Aku malas mendengarnya, membuat telingaku sakit saja" kata Daniel kesal
Maurin terkekeh "Ya maaf, lagian kenapa sensitif banget si kalau soal mantan"
Daniel mendelik kesal "Sayang. Cukup ya kamu terus godain aku, atau kau akan menyesal"
__ADS_1
Aaaa. Kenapa Dia tersenyum seperti itu si?
Maurin menjadi takut sendiri melihat senyum menyeringai dari bibir Daniel.
Dengan satu gerakan kini Maurin sudah berada di dalam kungkungan Daniel.
"Dia sudah lama beristirahat Sayang, dan sekarang Dia ingin berolah raga lagi bersamamu" kata Daniel dengan senyum menyeringai
"Ta..tapi inikan masih sore Mas" kata Maurin mencoba mencari alasan yang tepat
Sadarlah, ini masih sore.
"Memangnya kenapa kalau masih sore? Tidak ada larangan nya kan kalau melakukan olah raga sore hari" kata Daniel santai
Kalau olah raga biasa tentu tidak masalah. Tapi inikan olah raga yang..... Arghhh. aku bingung harus menjelaskan nya.
"Tap..tapi kan Mas.... Hemmmpt"
Ucapan Maurin terpotong dengan ciuman di bibirnya dari Daniel. Bahkan Daniel tidak memberikan celah pada istrinya untuk protes lagi.
Lum@tan lembut Maurin rasakan, akhirnya Dia juga menikmatinya dan membalas ciuman suaminya itu.
Tangan Daniel sudah tidak bisa di kondisikan. Wajar saja, sudah lama Dia tidak melakukan dengan istrinya itu.
Sejak Maurin di rawat di rumah sakit sampai Maurin melakukan operasi. Daniel masih harus menunggu sampai Maurin benar benar pulih dan jahitan bekas operasinya benar benar telah sembuh.
Sore hari ini sepasang suami istri ini menghabiskan waktunya di atas ranjang.
...🌻🌻🌻🌻...
Malam hari tepat pukul 8 malam, Maurin baru terbangun dari tidurnya sehabis melakukan kegiatan yang membuatnya lelah itu.
"Sudah bangun Sayang"
Daniel mengusap lembut lengan Maurin yang tertutup selimut. Merapikam anak rambut yang menghalangi wajah istrinya.
Maurin menggeliat sambil menguap "Lapar" rengeknya
Daniel terkekeh, karna kelakuan nya istrinya sampai kelaparan seperti itu.
"Kamu mandi dulu sana, biar aku suruh pelayan untuk menyiapkan makan malam untuk kita" kata Daniel
Maurin bangun terduduk, menarik selimut sampai ke bahu untuk menutupi tubuh polosnya.
Menguap lagi yang langsung di tutup oleh tangan kanan nya "Iya"
Daniel tersenyum gemas melihat istrinya yang terlihat begitu kelelahan. Dia mencium kening istrinya sebelum berjalan ke luar kamar.
__ADS_1
Maurin pun segera turun dari tempat tidur dan berjalan ke ruang ganti untuk mandi dan bersiap untuk makan malam karna perutnya benar benar sangat lapar.
Bersambung