
"Semuanya sudah berlalu, biarlah semuanya menjadi pelajaran untuk kita semua. Jangan pernah kamu mengulangi kesalahan yang sama Jesi. Cukup aku, wanita yang pernah tersakiti oleh perlakuan mu selama ini. Jangan ada lagi Maurin, Maurin yang lainnya" kata Maurin
Jesika mengangguk, menghapus air mata yang mengalir begitu saja di pipinya. Sungguh, Dia sangat menyesal dengan semua yang pernah Dia lakukan di masa lalu.
"Sekarang bangunlan, tidak baik Ibu hamil lama lama berlutut seperti itu"
Maurin membantu Jesika berdiri, setelah mereka berdiri Maurin memeluk Jesika dan mengusap punggungnya yang bergetar akibat menangis.
"Aku benar benar menyesal telah menyakitimu Rin. Sekali lagi aku benar benar minta maaf" Jesika membalas pelukan Maurin dengan tangis yang belum mereda.
Maurin menepuk punggung Jesika "Sudahlah. Jangan menangis lagi, aku sudah memaafkanmu. Mulai sekarang hiduplah dengan baik dan bahagia"
Jesika mengangguk, Dia melepaskan pelukannya. Menggenggam kedua tanya Maurin sambil tersenyum.
"Dulu saat aku putuskan untuk pergi dari kota ini. Aku pernah berjanji dalam diriku sendiri, aku akan kembali menemuimu saat aku sudah menemukan kebahagiaanku" kata Jesika tersenyum
"Dan sekarang, aku sudah menepati janjiky Rin. Aju sudah bahagia dengan suamiku dan juga sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ibu, sama sepertimu" tambahnya lagi
Maurin tersenyum, Dia menghapus sisa air mata Jesika "Terimakaih karna sudah merelakan Mas Daniel untuku dan terimakasih karna sudah hidup dengan baik dan bahagia selama ini. Aku ikut senang mendengarnya"
Jesika tersenyum "Semuanya berkat kesabaran dan ketulusanmu Rin. Kau berhak hidup bahagia, sekali lagi aku minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan padamu"
"Mau sampai kapan kamu terus terusan minta maaf padaku? Aku sudah memaafkanmu. Sekarang marilah hidup dengan baik dan bahagia" kata Maurin
Jesika menggangguk, mereka pun kembali berpelukan. Para suami mereka hanya tersenyum, merasa bahagia melihat adegan di depannya.
"Maafkan aku juga, karna sudah menyakitimu dulu" Dimas sudah berpindah duduk menjadi di samping Daniel. Dia menepuk bahu pria itu
Daniel menoleh dan tersenyum "Aku sudah melupakan semuanya. Belajar dari istriku yang mencoba untuk ikhlas dan memaafkan. Ternyata memang benar, memaafkan itu lebih indah dari pada saling menyimpan dendam"
Dimas mengangguk "Kau beruntung bisa mendapatkan istri seperti Maurin. Jangan pernah sakiti Dia lagi"
Daniel mangangguk "Tentu saja, aku sangat beruntung bisa memiliki istri sepertinya. Tidak akan pernah aku ulangi kesalahan ku dulu"
Pada akhirnya, saling memaafkan dan mengikhlaskan semua yang telah terjadi adalah sumber kebahagiaan yang utama. Saling mencintai, saling menyayangi dan menerima segala kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita.
__ADS_1
Termasuk masa lalu yang mungkin bisa menyakiti kita jika di ingat. Makanya, lupakanlah masa lalu yang menyakitkan itu dan cobalah untuk memulai hidup lebih baik lagi agar kita bisa menemukan kebahagiaan itu sendiri.
...🌻🌻🌻🌻...
"Apa?? Benarkah? Baiklah aku akan segera kesana. Terimakasih sudah memberi tahuku"
Maurin menutup telponnya, tersenyum bahagia saat mendapat kabar bahagia itu. Daniel keluar dari ruang ganti, Dia baru saja selesai mandi.
Hari ini adalah hari weekend, sudah menjadu tradisi kalau setiap hari libur Daniel akan membawa istri dan putrinya untuk jalan jalan. Sekedar menghilangkan penat karna pekerjaan juga mengisi waktu luang dengan menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Siapa yang telpon?"tanya Daniel
Maurin berjalan menghampiri suaminya "Dimas. Katanya Jesika sudah lahiran tadi malam, anaknya laki laki. Aku ingin kesana"
Daniel mengecup kening istrinya "Nanti sore saja, sekarang kita harus pergi dulu ajak Naura jalan jalan. Udah gak sabar banget Dia"
Maurin mengangguk "Ya udah ayo, aku sudah siap kok. Keperluan Naura juga sudah aku siapkan"
Keluarga kecil ini pergi ke taman bermain, menyenangkan putri mereka yang sudah bisa berjalan meski masih sering terjatuh karna belum sepenuhnya seimbang.
Maurin tersenyum melihat Daniel sedang menemani Naura di mandi bola. Naura terlihat begitu gembira, tawanya menghiasi wajah gembulnya.
Lelah bermain, Daniel menggendong Naura kembali menghampiri istrinya yang duduk di kursi tunggu. Maurin tersenyum melihat wajah lelah putrinya. Bahkan Dia sampai lupa minum asi karna asyiknya bermain.
"Mimi..Mimi..." kata Naura dengan gaya bicara bocah 14 bulan
"Uhhhh. Sayangnya Ibu mau mimi ya, keasyikan main jadi lupa mimi ya" Maurin mengambil alih Naura dari gendongan Daniel
"Kita pulang aja Yank, kasih miminya di mobil aja. Disini banyak orang" kata Daniel
Maurin mengangguk, cukup mengerti maksud suaminya. Dia tidak mungkin membiarkan istrinya menyusui Naura di tempat umum seperti ini.
Setelah berada di dalam mobil, Maurin segera memberi susu pada Naura. Daniel sudah melajukan mobilnya keluar dari kawasan taman bermain.
Karna terlalu lelah, Naura pun terlelap di gendongan Ibunya. Tapi bibirnya masih menyesap susu Ibunya, terlihat begitu lucu.
__ADS_1
"Si Adek, gak ada puasnya ya. Jangan di habisin dong Dek, Ayah juga mau" kata Daniel menoel pipi gembul anaknya
Plak
Maurin memukul lengan suaminya "Mesumnya belum ilang juga, udah punya anak juga"
"Apaan si Yank, gak papalah mesum sama istri sendiri" jawab Daniel santai
"Ish. Dasar kamu ini, sekarang kita ke rumah Mama dulu aja. Aku mau titipin Naura, soalnya aku mau langsung jenguk Jesika sama bayinya" kata Maurin
Daniel mengangguk, semenjak mempunyai Naura Winda kembali menetap di kota ini. Dia tidak mau jauh dari cucu juga menantu kesayangannya. Sehingga sering kali Winda datang ke rumah Daniel dan menginap di sana. Begitupun sebaliknya.
Setelah menitipkan Naura pada Windi, Daniel dan Maurin segera pergi ke rumah sakit di mana tempat Jesika melahirkan anaknya. Sesampainya di rumah sakit, Maurin segera menuju ruangan Jesika karna tadi Jesika sudah mengirim pesan pada Maurin memberi tahukan ruangannya.
Ceklek
Maurin dan Daniel masuk ke dalam ruangan Jesika. Di sana terlihat ada Dimas, kedua orang tuanya juga kedua orang tua Jesika.
"Rin, sini" kata Jesika melambaikan tangannya
Maurin tersenyum, berjalan mendekat ke arah Jesika yang sedang menggendong bayinya. Maurin mengambil alih anak Jesika dari gendongannya.
"Hai ganteng, siapa namanya Jes?"tanya Maurin sambil menoel pipi bayi mungil itu
"Naufal, biar mirip sama nama anak kamu. Hehe" kata Jesika
Maurin hanya tersenyum, sementara Daniel sudah mulai bercengkrama dengan yang lainnya.
"Jadi ini istri kamu Niel? Cantik sekali, maafkan anak Om yang dulu pernah berniat menghancurkan rumah tangga kalian" kata Ayah Jesika
"Bukan hanya salah anak Om, saya juga ikut andil dalam kesalahan itu. Sekarang semuanya sudah berlalu, mari kita lupakan semua itu Om" kata Daniel
Maurin tersenyum saat mendengar ucapan suaminya itu. Kini kebahagiaan tengah Dia rasakan. Bersyukur, Maurin sangat bersyukur karna telah memutuskan untuk kembali pada Daniel dan mencintainya lagi.
Aku telah bahagia, semoga kebahagiaan ini akan terus datang menghampiri ku dan keluargaku. Maurin
__ADS_1
Terimakasih karna sudah mau mencintaiku lagi Sayang. I Love You, more. Daniel
...End...