
Windi memutuskan untuk menginap beberapa hari di rumah Daniel. Dia sangay merindukan anak dan menantunya.
Hari ini Windi dan Maurin baru saja sampai di sebuah TPU. Windi ingin berziarah ke makam suaminya.
Selesai berdoa dan membersihkan rumput rumput liar yang tumbuh di atas makam Andi Zein. Maurin dan Windi langsung pulang. Daniel tidak bisa ikut karna terlalu banyak pekerjaan yang harus di selesaikan nya.
Di dalam mobil, Maurin hanya menatap keluar jendela. Sebenarnya Dia sangat ingin mengunjungi makam kedua orang tuanya. Namun sayang, Windi belum tahu kebenarannya. Jadi Maurin tidak bisa mengajak ibu mertuanya itu.
Ayah, Ibu Rin akan mengunjungi kalian suatu saat nanti. Maafkan Rin yang belum bisa mengunjungi kalian saat ini. Doa Rin selalu menyertaimu Ayah, Ibu.
"Rin, kenapa?"
Suara Windi menyadarkan Maurin dari lamunannya. Maurin menoleh dan tersenyum ke arah mertuanya.
"Gak papa kok Ma, Rin cuma lagi inget mendiang Papa yang baik banget sama Rin dulu. Padahal dulu Rin belum menjadu menantunya" kata Maurin tersenyum
"Iya, Papa emang baik sama semua orang. Mama juga kangen banget sama Papa, tapi ya mau gimana lagi. Semua sudah takdir" kata Windi sendu
Maurin langsung memeluk Ibu mertuanya "Mama harus ikhlas, semua sudah takdir Tuhan Ma"
"Iya Sayang, Mama sudah iklhas. Hanya saja Mama masih suka rindu dengan Papa" kata Windi
"Itu perasaan Manusiawi Ma" kata Maurin tersenyum
Sampai di depan rumah, supir membukakan pintu untuk kedua majikan nya itu. Windi keluar lebih dulu, di susul oleh Maurin.
Masuk ke dalam rumah, Windi langsung menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah.
Maurin duduk di sofa, meringis saat rasa sakit di bagian pinggang dan perutnya kembali hadir. Sudah minum obat, tapi sepertinya tidak mempan lagi.
Sakit....
Maurin hanya bisa merintih kesakitan. Rasa sakit itu semakin lama semakin menjadi. Keringat dingin bercucuran di keningnya. Maurin sudah benar benar tidak tahan, penglihatan nya mulai berkunang kunang, matanya buram.
Brukkk
Windi yang baru keluar dari kamar terbelalak kaget saat melihat Maurin tersungkur di lantai.
"Maurin...." Windi berlari menghampiri Maurin. Melihat wajah Maurin yang sudah pucat.
"Tolong... Tolong..." teriak Windi panik
Para pekerja rumah ini pun berlarian menghampiri Windi yang sedang memangku kepala Maurin dan menepuk pipinya agar Maurin sadar.
"Cepat siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang" teriak Windi panik
Para pekerja pun segera membantu Windi untuk mengangkat tubuh Maurin dan membawanya keluar rumah.
Pak supir sudah berada di dalam mobil, setelah Maurin dan Windi masuk. Mobil segera melaju dengan cepat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Di dalam mobil, dalam kepanikan nya Windi mengambil ponselnya dalam saku bajunya. Windi segera menghubungi Daniel.
"Hallo Ma, ada apa?"
"Daniel cepat kau ke rumah sakitxx. Istrimu pingsan dan sekarang sedang di perjalanan menuju rumah sakit"
"APA??"
...🌻🌻🌻🌻...
Daniel yang sedang duduk di kursi kebesaran nya langsung berdiri dengan panik dan juga cemas. Firman yang baru saja masuk ke ruangan bosnya langsung menghampiri Daniel.
"Ada apa Bos?"tanya Firman
"Man, kau hendel semua mitting hari ini. Istriku masuk ke rumah sakit" kata Daniel panik
"Apa?? Maurin kenapa Bos?"tanya Firman ikutan panik
"Aku juga gak tahu, sekarang aku harus pergi dulu. Kau bisa urus semuanya kan?"kata Daniel lagi
"Siap Bos, saya bisa mengurus semuanya. Bos pergi aja sekarang" kata Firman
Daniel menepuk bahu Firman "Aku percaya padamu"
Daniel langsung berlalu pergi dari ruangan nya. Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar benar di buat khawatir dengan keadaan istrinya sekarang.
Sampai di parkiran rumah sakit, Daniel keluar dari mobil dan berlari menyusuri lorong rumah sakit. Setelah bertanya pada perawat, Daniel segera menuju ruangan istrinya.
"Ma sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Daniel
Windi menoleh dan langsung memeluk putranya itu sambil menangis terisak "Mama juga gak tau Niel, tapi sekarang dokter sedang periksa keadaan istrimu"
Daniel mengelus punggung Ibunya, mencoba menenangkannya. Padahal Dia sendiri sudah sangat cemas dan khawatir. Namun Daniel mencoba untuk menutupinya dan berusaha untuk tetap tenang.
Kumohon jangan sampai terjadi apa apa dengan istriku.
Ceklek
Windi segera melepaskan pelukannya, berdiri dan berjalan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"tanya Daniel
"Kebetulan sekali Maurin adalah pasien saya selama ini. Tapi baru kali ini saya melihat Dia datang bersama keluarganya" jelas Dokter Lala
Daniel dan Windi merasa bingung dengan penjelasan Dokter. Sampai Daniel teringat saat Maurin memasukan sesuatu dengan terburu buru ke dalam laci nakas di sampingnya.
Tanpa sepengetahuan Maurin Daniel membuka laci nakas itu dan Dia menemukan beberapa obat. Sebenarnya Daniel akan menyelidiki apa yang sedang di sembunyikan istrinya itu. Namun semuanya keburu terbongkar hari ini.
"Sebenarnya istri saya sakit apa Dok?"tanya Daniel lagi
__ADS_1
"Sudah sangat lama Maurin memiliki ginjal yang bermasalah. Selama ini Dia bertahan hidup dengan melakukan cuci darah setiap bulan nya. Namun beberapa bulan ini Maurin menghentikan pengobatna nya dan akhirnya kondisinya semakin parah" jelas Dokter Lala
Daniel dan Windi begitu terkejut mendengar semua penuturan itu. Mereka hanya diam mendengarkan penjelasan selanjutnya dari dokter.
"Dan saya sudah menyarankan agar Maurin mencari donor ginjal yang cocok juga sehat untuknya. Namun sampai saat ini Maurin tidak memberi keputusan pada saya" kata Dokter Lala
"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok. Apapun itu dan berapapun biayanya" kata Daniel memelas
"Baiklah, tolong bantu saya untuk mencarikan donor yang cocok untuk Maurin" kata Dokter Lala
Daniel mengangguk lemah, setelah Dokter Lala pergi. Daniel merasa sangat lemas, Dia terduduk di kursi tunggu. Mengusap wajah kasar, Dia benar benar frustasi.
Kenapa kau menyembunyikan ini dariku Sayang?
Daniel dan Windi masuk ke ruang rawat Maurin. Ternyata Maurin telah sadar, Dia tersenyum hangat pada dua orang yang baru saja masuk ke ruangan nya.
Daniel menatap sendu bibir pucat yang tersenyum itu. Dia menghampiri istrinya dan mencium keningnya.
"Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan ini semua dariku?" tanya Daniel menatap intens wajah istrinya yang pucat
Maurin tersenyum lirih "Aku tidak mau merepotkan semua orang"
"Merepotkan? Kau itu adalah istriku, mana mungkin aku merasa di repotkan Sayang" kata Daniel kesal juga sedih bercampur jadi satu
"Sudahlah Mas, aku tidak papa" kata Maurin
"Sejak kapan?" tanya Daniel
Maurin mengerti apa maksud pertanyaan suaminya "Sejak SMA Mas"
Daniel terbelalak "Itu artinya sudah sangat lama Sayang. Apa keluargamu tahu?"
Maurin mengangguk "Tahu"
"Lalu apa mereka membiarkan mu? Tanpa mau mengobatimu?" tanya Daniel
Maurin kembali tersenyum getir "Aku hanya anak pungut Mas, mereka tidak akan peduli aku hidup atau mati sekalipun"
"Mas, aku ingin mengunjungi makam Ayah dan Ibu. Ini adalah keinginan terakhirku sebelum aku......."
Daniel langsung mencium bibir istrinya sebelum istrinya berbicara lebih ngawur lagi.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku akan menyembuhkanmu. Aku janji" kata Daniel
"Apa maksud dari yang kalian bicarakan? Anak pungut? Siapa yang anak pungut?"
Windi yang sedari tadi diam mendengarkan mengeluarkan suaranya saat Dia tidak mengerti dengan apa yang d bicarakan anak dan menantunya itu.
Daniel menoleh ke arah Ibunya, sudah tidak gunanya lagi di sembunyikan. Daniel menceritakan semuanya pada Windi termasuk keberengsekan nya dulu.
__ADS_1
Plak
Bersambung