
"Dokter, tolong selamatkan istriku. Ku mohon" Daniel sudah merasa lemas melihat istrinya masih belum membuka matanya.
Dokter menghela nafas lega, Dia berjalan menghampiri Daniel yang berdiri di pojok ruangan.
"Tuan tenanglah, istri anda baik baik saja. Dia hanya kelelahan dan tadi sempat mengalami pendarahan. Tapi Tuan tenang saja, semua sudah baik baik saja"
"Tapi kenapa Dia belum sadarkan diri Dok?" Masih belum merasa tenang saat melihat Maurin belum juga membuka matanya.
"Tuan tenang dulu ya, nanti juga istri anda akan segera sadar"
Daniel sudah bisa sedikit bernafas lega.
...🌻🌻🌻🌻...
Maurin telah di pindahkan ke ruang perawatan. Daniel masih menunggu istrinya yang masih belum sadarkan diri.
"Sayang bangun, jangan tinggalkan aku" Daniel terus menggenggam tangan istrinya dan menciumnya
Daniel mendongakan kepalanya, menatap wajah istrinya saat merasakan gerakan tangan istrinya itu. Mata Maurin mulai mengerjap.
"Sayang, kamu udah sadar?? Bentar ya aku panggil dokter dulu" Daniel memencet tombol darurat samping tempat tidur Maurin untuk memanggil Dokter.
Tak lama kemudian Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Maurin "Semuanya baik baik saja, Nona hanya perlu di rawat beberapa hari untuk masa pemulihan karna tadi sempat mengalami pendarahan"
Maurin megangguk "Bayi saya dimana Dok? Bayi saya laki laki atau perempuan?"
"Tenanglah, sebentar lagi bayi kalian akan di bawa kesini. Bayi anda perempuan Nona"
"Benarkah?" Maurin terlihat begitu antusias mendengarnya
Dokter mengangguk "Iya Nona, bayi anda perempuan dan sang cantik"
Dokter pun pamit undur diri, kini di dalam kamar itu tinggal Maurin dan Daniel. Sang suami yang sedang di landa khawatir itu terus saja duduk di samping Maurin. Mengelus tangan Maurin dengan sesekali menciumnya.
"Aku gak mau punya anak lagi" kata Daniel tiba tiba
Maurin mengerutkan keningnya "Kenapa?"
"Ck. Aku gak mau lihat kamu kaya tadi, kesakitan terus tadi kamu sempat gak sadarkan diri. Aku hampir gila melihat keadaan kamu, aku gak kebayang kalau sampai kamu ninggalin aku. Hidupku akan hancur Yank" kata Daniel
Maurin tersenyum dan mengelus punggung tangan suaminya yang sedang menggenggam sebelah tangan nya.
"Aku akan baik baik saja, aku juga gak akan ninggalin kamu Hubby. Percayalah" kata Maurin
__ADS_1
Daniel menggeleng "Pokoknya aku gak mau kamu hamil lagi. Aku trauma Yank, lihat kamu kaya tadi. Satu anak sudah cukup"
Maurin hanya bisa pasrah, di saat seperti ini suaminya tidak akan bisa di bantah. Apalagi Maurin juga mengerti bagaimana perasaan Daniel tadi.
"By, kamu udah kabarin keluargaku dan Mama Windi?" Tanya Maurin
Daniel menepuk keningnya "Ya ampun Yank, saking panik nya aku sampe lupa belum kabarin mereka"
Saat Daniel sedang mencari kontak Mama Yuna dan Mama Winda. Tiba tiba pintu ruangan terbuka, keluarga angkat Maurin langsung masuk bersama dengan Firman.
"Kalian ini gimana si? Kok ngabarin kita kalau Rin udah lahiran" omel Mama Yuna
Daniel menggaruk tengkuk nya yang tidak baik "Hehe. Maaf Bu, aku lupa saking paniknya tadi"
"Ish kau ini, untung saja tadi asisten mu ngabarin kami" kata Yuna
Daniel langsung menatap Firman, asistennya ini memang selalu tahu keadaan Tuannya.
"Saya juga sudah menghubungi Nyonya Winda Tuan. Di sedang dalam perjalanan kesini" kata Firman
Daniel mendekat ke arah Firman dan menepuk bahunya "Terimakasih Man"
Ceklek
"Ya ampun inikah cucuku" Yuna menghampiri roda bayi dan langsung menggendong bayi mungil itu.
"Bu, bayinya harus di beri asi dulu"
"Baiklah suster, biar saya yang berikan pada Ibunya" kata Yuna yang langsung berjalan ke arah Maurin
Maurin dan Daniel terlihat begitu antusias melihat bayi mungil dalam gendongan Yuna. Sungguh keduanya merasa sangat bahagia saat melihat anak pertama mereka lahir dengan sehat dan selamat.
"Rin, kamu kasih asi dulu baby kamu" Yuna menyerahkan bayi Maurin
Dengan senang hati Maurin langsung memberi asi pada anaknya. Tidak lupa Daniel sudah membeli kain khusu penutup untuk Ibu yang sedang menyusui. Dia tidak mau kalau sampai aset berharga miliknya di lihat oleh orang lain meskipun itu Antoni, ayah angkat istrinya.
Selesai menyusu bayi Maurin kembali terlelap dengan lucunya. Daniel terus saja menoel pipi anaknya itu.
"Kalian akan memberi nama siapa anak pertama kalian ini?"tanya Antoni
"Naura Zien Putri" jawab Daniel.
Dia sengaja memberi nama yang hampir mirip dengan nama istrinya. Daniel berharap kalau putrinya juga akan memiliki sifat seperti istrinya yang lemah lembut dan penyabar.
__ADS_1
"Nama yang bagus" Antoni mengangguk nganggukan kepalanya
"Ayah mau gendong Rin" Antoni jalan mendekat ke arah ranjang pasien
Maurin memberikan Naura pada Antoni "Hai baby Naura, cantiknya cucu Opa ini"
Brakkk
Semua orang menoleh ke arah pintu. Winda berdiri di ambang pintu dengan nafas yang tidak beraturan, sepertinya Dia habis berlari.
"Ma, kapan sampai? Kok gak ngabarin si? Kan bisa Daniel suruh Firman buat jemput Mama" kata Daniel
Winda berjalan masuk ke dalam ruangan. Dia menatap kesal pada putranya itu, sudah dari tadi Winda ingin sekali mengomeli anak semata wayangnya ini.
"Kamu ini gimana si? Maurin lahiran gak ngabarin Mama. Untung aja asisten kamu ini bijak, Dia segera memberi tahu Mama" Omel Winda pada anaknya
"Maaf Ma, aku juga panik banget tadi. Jadi, lupa hubungin Mama. Apalagi tadi Maurin sempat gak sadarkan diri" jelas Daniel
"Apa????"
Semuanya berteriak kaget, pasalnya saat mereka datang kondisi Maurin sudah baik baik saja.
Plakk
Satu pukulan mendarat di bahu Daniel "Kamu ini gimana si? Keadaan Maurin udah seperti itu sampe gak ngabarin Mama" Winda sepertinya belum puas mengomeli putranya itu.
"Iya maaf"
"Sudahlah Ma, lagian Rin juga gak papa. Rin baik baik aja, Mama gak mau lihat cucu Mama apa? Kok malah ngomel" kata Maurin
Kata cucu berhasil mengalihkan kekesalan Winda pada anaknya. Dia beralih menatap bayi mungil dalam gendongan Antoni.
"Cucu Mama perempuan atau laki laki?" tanya Winda sambil mengambil alih Naura dari gendongan besan nya
"Perempuan Ma" jawab Maurin tersenyum
"Uhhhhh. Cucu Oma cantik banget kaya Ibunya, jangan sampe kamu kaya Ayah kamu ya Nak. Dia bodoh" kata Winda tanpa memperdulikan Daniel yang sudah membelalakan matanya
"Apaan si Ma" protes Daniel
"Siapa namanya?"tanya Winda tanpa memperdulikan protes dari anaknya
"Naura Zein Putri" jawab Maurin
__ADS_1
Bersambung