Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Berziarah


__ADS_3

Pagi pagi sekali Maurin sudah terbangun, hatinya sangat bahagia karna akan mengunjungi makam kedua orang tuanya setelah sekian lama Maurin tidak kesana.


Maurin sudah turun ke lantai bawah dengan sangat hati hati karna bekas jahitan pasca operasi masih terasa saat di pakai berjalan seperti ini.


Maurin melihat Ibu mertuanya sedang duduk santai di ruang keluarga dengan di temani secangkir teh hangat.


"Pagi Ma" Maurin duduk di sofa tunggal


"Lih Rin, kok udah turun. Mana Daniel?"tanya Windi


"Masih tidur Ma, bosen aja di kamar terus" kata Maurin tersenyum


"Mau kemana kamu? Kok udah rapi?"tanya Windi yang memperhatikan penampilan Maurin


"Rin mau berziarah ke makam Ayah sama Ibu Ma" jelas Maurin


"Tapikan kamu baru pulang dari rumah sakit Rin. Keadaanmu juga belum baik" kata Windi khawatir pada menantunya itu


Maurin tersenyum "Gak papa kok Ma. Rin udah gak sabar pengen pergi kesana. Udah lama Rin gak kesana, Rin akan hati hati kok. Mama gak usah khawatir"


Meski khawatir namun Windi mencoba untuk menepis pemikiran buruk tentang keadaan Maurin sekarang.


"Baiklah, maaf karna Mama belum bisa kesana. Mama lelah banget, pengen istirahat" kata Windi


Maurin mengangguk "Gak papa kok Ma, mendingan Mama istirahat aja sekarang.


...🌻🌻🌻🌻...


Daniel mengerjapkan matanya saat sinar matahari mulai masuk lewat jendela kamar. Meraba raba tempat tidur di sampingnya, mencari sosok yang biasa tidur di sampingnya.


Daniel bangun terduduk, menyibak selimut yang menutupi tubuhnya "Kemana Maurinku"


Daniel segera beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah kamar mandi. Selesai mandi dan berganti pakaian, Daniel segera turun ke bawah untuk menyusul istrinya.


"Sayang" panggil Daniel di anak tangga terakhir, menatap tajam pada istrinya yang sedang menata makanan di atas meja makan. Sementara Windi sedang berada di taman untuk berjemur.


"Mas sudah bangun, sini sarapan dulu" kata Maurin


Daniel berjalan mendekat ke arah istrinya, memeluknya dari belakang "Kenapa turun sendiri? Kalau kamu jatuh gimana? Kau itu masih belum pulih sepenuhnya. Kenapa gak pernah dengerin perkataan ku si"


Maurin tersenyum dan menoleh ke arah suaminya "Maaf, lagian aku gak papa kok. Aku udah gak sabar buat ke makam Ayah sama Ibu. Mas gak lupa kan?"


Daniel menggeleng pelan lalu mencium pipi istrinya itu "Mas gak lupa sayang, tapi kalau kelakuan kamu kaya gini aku bisa aja jadi lupa"


Maurin membalikan tubuhnya, menatap suaminya dengan heran "Emang aku lakuin apa?"

__ADS_1


"Kau masih nanya apa? Kau turun ke bawah sendiri tanpa menunggu aku bangun. Kalau sampai kau jatuh bagaimana? Kau kan belum pulih total" kata Daniel kesal


Ish masih aja bahas itu. Apa aku harus bahagia saat ini karna begitu di perhatikan oleh suamiku. Tapi aku juga kesal karna Dia terlalu berlebihan.


"Iya maaf, gak akan ulangi lagi" kata Maurin


"Awas saja kalau sampai terulang lagi, aku takut kalau kau sampai kenapa napa Sayang. Kau tahu bagaimana khawatirnya aku saat melihat kau pingsan waktu itu" kata Daniel menatap penuh kasih sayang pada istrinya


Sebesar itukah sayangmu padaku Mas.


Maurin benar benar tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Terimakasih Mas, terimakasih karna telah menyayangi dan mencintaiku dengan tulus" kata Maurin di dalam pelukana suaminya


Daniel mencium puncak kepala istrinya "Aku sangat mencintaimu Sayang. Jadi ku mohon jangan membuatku gila karna mengkhawatirkan keadaanmu"


Maurin mengangguk lalu Dia melepaskan pelukan nya. Menatap wajah tampan suaminya itu.


"Mulai saat ini jagalah dirimu, jangan sampai terluka dengan orang lain ataupun dirimu sendiri. Cukup aku yang banyak menanamkan luka padamu" kata Daniel memebelai lembut pipi Maurin


Sebesar itukah cintamu padaku? Kenapa aku jadi terharu kaya gini. Aaaa. Aku ingin menangis sekarang, tapi aku malu.


"Masss" tidak bisa berkata apa apa lagi, Maurin hanya memeluk erat suaminya. Sungguh saat ini hatinya begitu bahagia, merasa dicintai adalah hal yang selalu semua wanita harapkan.


Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu Sayang. Daniel


...🌻🌻🌻🌻...


Daniel membukakan pintu mobil agar istrinya keluar dari dalam mobil. Maurin tersenyum dan menyambut uluran tangan suaminya, Dia keluar dari mobil.


Maurin mengedarkan pandangan nya ke sekeliling. Tiba tiba hatinya terasa sesak, mengingat bagaimana dulu Maurin kecil mengantarkan jenazah orang tuanya ke pemakaman ini.


"Sayang" Daniel paham apa yang istrinya rasakan sekarang. Dia merangkul bahu Maurin, mencoba memberi kekuatan untuk wanita yang dicintainya itu.


Maurin menoleh dan memaksakan senyumnya meski matanya sudah mulai berkaca kaca.


Daniel menuntun istrinya menuju ke tempat peristirahatan terakhir kedua orang tua kandung Maurin. Berjongkok di antara dua pusara itu. Maurin mencabuti rumput rumput nakal yang tumbuh di pusara kedua orang tuanya.


Bu, Ayah Rin datang. Kali ini Rin datang bersama suami Rin. Bagaimana? Dia tampan kan? Rin sangat mencintainya Bu, Ayah. Rin bahagia disini, semoga kalian juga bahagia di sana.


Ibu, Ayah. Maaf karna baru bisa datang sekarang. Aku Daniel suaminya putri kalian yang sangat cantik ini. Daniel melirik ke arah Maurin di sampingnya. Merangkulkan tangannya di bahu Maurin.


Aku sangat mencintainya, maaf karna dulu aku sempat mencampakan nya dan menyakitinya. Tapi mulai sekarang aku janji akan membuat Dia bahagia. Jadi restuilah kami.


Begitulah isi hati mereka yang mengadu pada kedua orang tua Maurin. Setelah cukup lama disana, Daniel pun mengajak Maurin untuk pulang karna tidak mau istrinya terlalu lelah.

__ADS_1


Di dalam mobil, Daniel terus menggenggam tangan istrinya. Maurin membiarkan saja, asalkan Daniel tetap fikus pada kemudinya.


"Sayang, kita makan dulu ya" kata Daniel


Maurin menoleh, lalu mengangguk "Iya Mas"


Daniel memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Mereka turun dan berjalan masuk ke dalam restoran dengan bergandengan tangan.


Daniel menarik kursi untuk di duduki oleh istrinya. Setelah memesan makanan, mereka duduk sambil menunggu makanan pesanan datang.


Maurin memandang ke luar jendela restoran. Mengerutkan keningnya saat melihat seseorang yang tak asing baginya berjalan masuk ke dalam restoran.


"Mas itukan...."


"Silahkan makanan nya Nona dan Tuan"


Ucapan Maurin terpotong dengan datangnya pelayan yang mengantar pesanan mereka.


"Ayo makan Sayang" kata Daniel


Maurin mengangguk dengan mata fokus pada pintu restoran yang terbuka dan munculah orang yang tadi Maurin lihat di luar restoran.


Orang itu menoleh ke arah Maurin, Dia sangat terkejut melihat Maurin. Dengan angkuh Dia berjalan ke meja Maurin dan Daniel.


Daniel yang duduknya membelakangi tentu tidak melihatnya.


"Hai Sayang" Dengan tidak tahu malunya Dia memeluk leher Daniel yang duduk membelakangi nya.


Daniel terperanjat dan langsung menghempaskan tangan yang melingkar di lehernya. Daniel menoleh ke arah orang yang dengan tidak sopan memeluknya itu.


"Kau" Daniel langsung berdiri dengan wajah merah padam menahan amarah.


"Beraninya kau memeluk ku di depan istriku Hah? Ku ingatkan sekali lagi ya, jangan pernah mengganggu kehidupan ku lagi jika kau tidak mau menyesal" kata Daniel penuh dengan nada ancaman


"Kau benar benar telah berubah Daniel. Mana Daniel yang dulu sangat mencintaiku dan tidak pernah berkata kasar padaku" kata Jesika mengepalkan tangannya dan menatap benci pada Maurin


"Hahaha. Apa kau lupa Hah? Aku seperti ini karna siapa? Tapi setidaknya aku bersykur karna Tuhan telah membukakan mata hatiku. Hingga sekarang aku tahu siapa yang pantas aku cintai" kata Daniel penuh dengan penekanan


Daniel menyimpan beberapa lembar uang di atas meja untuk membayar makanan yang belum mereka sentuh sama sekali.


Daniel menarik tangan Maurin dan membawanya keluar dari restoran. Selera makan nya jadi hilang seketika. Maurin hanya mengikuti saja.


Kau akan menyesal Daniel karna telah meninggalkan aku dan lebih memilih wanita kampungan itu. Jesika


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2