
"Selamat ya Rin atas kehamilanmu. Sehat sehat selalu ya, maaf aku gak bisa ke sana"
"Iya gak papa kok, doain aja semoga semuanya sehat dan lancar sampai lahiran"
"Iya pasti aku do'ain kok"
Begitulah percakapan antara Maurin dan Jesika di sambungan telpon. Jesika memang kembali ke kota B, karna Dimas sang suami melanjutkan berkerja di sana dan Jesika pun merasa nyaman tinggal di sana.
Ceklek
Pintu kamar terbuka, Maurin menoleh dan melihat suamibya yang masuk dengan nampan berisi susu dan buah yang sudah dipotong kecil kecil.
"Makan buah sama minum susunya dulu" kata Daniel sambil menyimpan nampan di atas meja dekat sofa.
Maurin berjalan ke arah sofa dan duduk di sana "Naura dimana By?"
"Tidur sama pengasuh nya"
Maurin mengangguk lalu mengambil garpu dan menusuk buah yang ada di piring. Memasukan nya ke dalam mulut, segar dan manis mendominasi mulutnya sekarang.
"Mau makan nasi gak? Sedikit aja Yank" Daniel ikut duduk di samping istrinya
Maurin menggeleng "Enggak ahh, belum mau. Mual kalo makan nasi"
Daniel mengelus kepala istrinya "Ya udah gak papa, makan buah aja yang penting ada yang kamu makan"
Maurin mengangguk dan menlanjutkan makan buahnya. Setelah sepiring buah buahan habis Maurin meminum susunya hingga habis.
Daniel tersenyum saat istrinya memakan buah dan meminum susunya sampai habis.
"Langsung istirahat aja ya, udah malem juga" kata Daniel lalu mengecup kening istrinya
Maurin mengangguk patuh membuat Daniel gemas sendiri dengan tingkah istrinya itu.
"Ayo" Daniel berdiri dan mengulurkan tangannya pada sang istri
Maurin tersenyum lalu meraih tangan Daniel dan ikut berdiri. Mereka berjalan menuju tempat tidur dengan bergandengan tangan.
"Sini aku peluk" Daniel merentangkan tangannya di tempat tidur
Maurin beringsut masuk ke dalam pelukan suaminya. Menyamankan posisi tidurnya sebelum akhirnya Dia terlelap.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1
Kehidupan Maurin terasa semakin sempurna dengan kehadiran baby yang masih dalam perutnya itu.
Daniel pun meraskan bagaimana hidupnya terasa begitu sempurna saat ini. Seorang anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Istri yang sangar sabar dan lembut juga calon anak dalam perut istrinya.
Jika dulu kau tidak mau kembali padaku dan mnecintaiku lagi. Apa mungkin hidupku akan sebahagia sekarang?
Daniel sangat bersyukur karna tidak terlambat untuk menyadari kesalahannya saat itu.
"Ayahh" teriakan cempreng membuat Daniel tersadar dari lamunan nya
Daniel tersenyum melihat anak gadisnya yang sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
"Kata Ibu makan dulu, Ibu cudah menunggu di bawah" kata Naura
Daniel mengangguk "Baiklah, ayo kita ke bawah"
Daniel menghampri anak gadisnya lalu menggendongnya dan membawanya ke lantai bawah untuk ke ruang makan.
Di meja makan Maurin sedang menata makanan yang sempat Dia masak di bantu oleh bibi pelayan tadi.
"Jangan kecapean Yank" kata Daniel
Maurin menoleh dan tersenyum "Gak kok By, ayo makan dulu"
Kehangatan keluarga semakin terasa saat Maurin makan bersama dengan anak dan suaminya. Hal yang dulu sangat mustahil dalam fikiran Maurin.
"By besok jadwal aku periksa kandungan" kata Maurin saat mereka telah menyelesaikan makan malamnya
Daniel menyimpan gelas yang tinggal berisi setengah air putih "Iya, besok aku pulang cepat"
"Kslo sibuk gak papa kok By, gak di anter juga bisa sama supir"
Daniel menggeleng "Enggak Yank, aku ingin melihat langsung perkembangan anak kita. Apa sudah bisa terlihat jenis kelaminnya?"
"Kayaknya si belum, soalnya'kan baru tiga bulan"
Deniel mengangguk mengerti "Ya sudah, sekarang kita tidur. Naura mau tidur dimana? Sama Sus?"
Naura menggeleng "Pengen tidur cama Ayah cama Ibu aja"
"Ya udah ayo" Maurin hendak menggendong Naura, namun langsung di hentikan oleh suaminya.
"Jangan Yank, Naura udah berat loh kamu'kan lagi hamil jadi jangan gendong Naura dulu untuk saat ini" kata Daniel
__ADS_1
Maurin menghela nafas lalu mengangguk patuh "Baiklah, Kakak di gendong Ayah aja ya"
"Yeeee.. cekalang Naula di panggil Kakak sama Ibu" teriak anak itu kegirangan sendiri
Maurin dan Daniel tersenyum melihat tingkah putri mereka "Kakak Naura harus jadi Kakak yang baik ya. Yang sayang sama adeknya bisa jagain adek nya juga" kata Maurin
Naura mengangguk "Iya Bu, Naula bakal jadi Kakak yang baik buat adek bayi"
"Ya sudah sekarang ayo kita tidur" kata Daniel yang langsung menggendong Naura
Keluarga bahagia ini berjalan menuju kamar untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah beraktifitas seharian ini
...🌻🌻🌻🌻...
Beberapa bulan kemudian...
Kehamilan Maurin sudah memasuki bulan ke tujuh. Perutnya sudah sangat membuncit membuat Daniel gemas melihatnya.
Seperti pagi ini, Maurin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Perutnya yang buncit membuat bagian depan handuk sedikit terangkat dan menampakan paha mulus Maurin.
Daniel menelan salivnya dengan susah payah saat melihat tubuh istrinya yang sangat menggiurkan.
"Sayang, sengaja ya goadain aku" Daniel langsung memeluk tubuh Maurin dan menyandarkan dagunya di bahu sang istri
"Apaan si? Godain apa coba?" Maurin sudah merasakan sesuatu yang keras di bawah sana menusuk langsung ke area pahanya
"Salah kamu sendiri sudah betani menggodaku, sekarang tanggung jawablah" kata Daniel melerai pelukannya dan menatap intens wajah istrinya
"Ishh.. Apaan si? Siapa juga yang goda kamu, awas ahh aku mau pakai baju" kata Maurin mencoba menyingkirkan tubuh suaminya
"Ngapain pakai baju si Yank kalo nanti di buka lagi" goda Daniel yang langsung menggendong istrinya keluar dari ruang ganti
"By, mau ngapain si?" tanya Maurin pura pura tidak tahu
Cup
Daniel mencium bibir istrinya sekilas "Mau olah raga di oagi hari sayang. Awas saja kalau masih nanya dan pura pura gak tau"
Maurin hanya mendengus kesal. Akhirnya mereka pun melakukan nya di pagi hari. Maurin yang baru selesai mandi terpaksa harus mandi lagi.
Bersambung
Aku lagi gak enak badan, jd kayanya gak bisa up beberapa hari ini. Tapi, semoga aja masih bisa sempetin up ya. Doain saja biar aku bisa up dan segera sehat kembali ya..
__ADS_1