Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Berbohong


__ADS_3

Maurin baru saja selesai belanja, Dia langsung masuk ke mobil yang sudah terparkir di pelataran super market.


"Kita ke rumah sakit sebentar Pak, saya ingin menengok teman saya" kata Maurin pada supirnya itu


"Tapi Nona, tadi Tuan Muda menyuruh saya langsung mengantarkan Nona ke rumah setelah selesai belanja"


"Tadi waktu di dalam super market saya sudah menghubungi suami saya dan meminta izin. Jadi Bapak tenang saja" terpaksa Maurin harus berbohong sekarang


Maafkan aku Mas, tapi aku perlu memastikan sesuatu.


"Baiklah Nona kalau begitu, kita mau ke rumah sakit mana?"


"Ke rumah sakitxx"


Sesampainya di tempat tujuan, Maurin segera turun dari mobil. Dia menyuruh supirnya untuk menunggu di luar.


Maurin duduk di kursi tunggu, menunggu namanya di panggil untuk melakukan pemeriksaan.


"Nona Maurin" teriak perawat di ambang pintu ruang pemeriksaan penyakit dalam


Maurin berdiri dan berjalan masuk di ikuti oleh perawat itu. Maurin tersenyum pada dokter yang sudah menanganinya semenjak kejadian itu terjadi.


"Kemana saja Rin? Kenapa tidak datang untuk berkontrol dan juga cuci darahmu malah terhenti" kata Dokter Lala


Maurin tersenyum dan duduk di kursi depan meja dokter "Aku ada sekikit urusan yang harus di selesaikan Dok"


"Tapi menghentikan cuci darah yang selalu kau lakukan sebulan sekali sangat berseiko Rin. Kau tahukan resikonya, pengobatan harus di mulai dari awal lagi" jelas Dokter Lala


"Itu sebabnya aku datang sekarang, aku ingin memeriksa keadaanku Dok" jelas Maurin


"Baiklah, ayo kita periksa keadaan mu"


Maurin mengikuti langkah dokter ke ruang pemeriksaan yang terhalang oleh tirai saja. Maurin berbaring di atas ranjang, Dokter Lala pun segera memeriksa keadaan Maurin.


Selesai di periksa, Maurin kembali duduk di kursi depan meja dokter. Terlihat Dokter Lala menghela nafas dan Maurin sudah biasa dengan ekfresi itu.


"Rin, ini sudah saat nya kau mnecari donor dan melakukan operasi" jelas Dokter Lala


"Apa tidak bisa dengan cuci darah saja Dok? Seperti yang biasa aku lakukan" kata Maurin


"Kau tidak melakukan nya sudah beberapa bulan ini Rin. Bersyukurlah kau masih bisa bertahan selama itu, tubuhmu cukup kuat Rin dengan satu ginjal yang sudah tidak berfungsi" jelas Dokter Lala


"Baiklah Dok, kalau begitu aku akan fikirkan dulu" kata Maurin


"Cepatlah ambil keputusan Rin, sebelum terlambat" kara Dokter Lala


Maurin mengangguk "Kalau begitu aku minta obat pereda nyeri Dok, untuk sementara aku minta obatnya dulu sebelum mengambil keputusan"

__ADS_1


Dokter Lala mengangguk "Baiklah"


Setelah mendapatkan obat yang diminta, Maurin pamit undur diri. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan mata kosong. Kebahagiaan yang baru saja Dia rasakan seakan akan hilang seketika.


Apa yang harus ku lakukan sekarang?


Kebingungan tengah melanda fikiran nya, Maurin tak tau apa yang harus di lakukan nya sekarang. Memberi tahu Daniel? Entahlah Maurin tidak kefikiran sampai kesana. Dia tidak mau merepotkan siapapun tentang penyakitnya ini.


...🌻🌻🌻🌻...


Malam harinya Daniel baru pulang dari kantor. Maurin segera menyambut suaminya dengan senyuman manis.


Selesai makan malam, sepasang suami istri ini kembali ke dalam kamar. Daniel masuk ke kamar mandi, sementara Maurin menyempatkan untuk meminum obat dari dokter.


Ceklek


Daniel keluar dari kamar mandi, Dia melihat istrinya segera memasukan sesuatu ke dalam laci nakas dengan terburu buru seperti takut ketahuan sesuatu oleh dirinya.


"Sayang" Daniel berjalan mendekat ke arah Maurin


Maurin menoleh, tersenyum ke arah suaminya "Iya Mas"


Cup


Daniel mencium kening istrinya "Lagi apa hmmm?"


"Emang lagi cari apa" Daniel ingin membuka laci nakas namun tangan nya langsung di tahan oleh Maurin.


"Gak ada Mas, udah gak usah di cari. Tadi aku lagi nyari pulpen buat nyatet resep masakan yang baru aku lihat di internet. Tapi ya udah, aku juga udah males nyatet nya" kata Maurin mencoba mencari alasan yang masuk akal


"Ohhh. Ya udah kalo gitu kita tidur aja" kata Daniel merangkul bahu Maurin


Akhirnya Maurin dan Daniel naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuh mereka. Maurin terlelap lebih dulu, sementara Daniel kembali membuka matanya yang sebenarnya Dia hanya pura pura tidur.


Menatap wajah wanita yang di cintainya, wajah polos tanpa make up. Terlihat begitu menggemaskan di mata Daniel.


Sebenarnya apa yang kau sembunyikan.


Daniel kembali teringat bagaimana tadi saat di kantor Dia menghubungi supir yang mengantar Maurin.


Dimana Nona? Apa sudah pulang ke rumah?


Jawaban dari supir membuat Daniel terkejut dan juga bingung.


Tadi Nona meminta untuk di antarkan ke rumah sakitxx. Nona bilang kalau ada teman nya yang sakit. Nona juga bilang kalau sudah minta izin pada Tuan.


Daniel berharap saat pulang, Maurin akan menceritakan semuanya. Namun ternyata tidak, Maurin malah bersikap seolah olah tidak terjadi apapun.

__ADS_1


Apa kau menemui Dia.


Hanya satu nama yang Daniel fikirkan, Jesika. Karna Jesika juga di rawat di rumah sakit itu. Tapi untuk apa Maurin menemuinya? Entahlah Daniel belum bisa ambil keputusan apapun saat ini. Karna jawaban nya hanya Maurin yang tahu.


...🌻🌻🌻🌻...


Drett....Dretttt


Tidur Maurin terganggu saat suara getar dari ponselnya yang berada di atas nakas mengganggu pendengaran nya.


Maurin meraih ponsel di atas nakas tanpa membuka matanya. Menggeser ikon hijau lalu menempelkan ponselnya di telinga.


Sementara Daniel sama sekali tidak terusik. Dia masih betah di alam mimpinya dengan tangan melingkar di pinggang Maurin.


"Hallo"


"Hallo Rin, ini Mama"


Mata Maurin langsung terbuka saat mendengar suara Ibu mertuanya. Sungguh Maurin sangat merindukan kelembutan sosok Ibu mertuanya.


"Mama. Rin kangen banget sama Mama. Gimana kabar Mama?"


"Mama baik Rin, mana Daniel? Suruh jemput Mama di Bandara sekarang"


"Hah? Maksud Mama? Mama ada di Bandara sekarang?" Maurin terkejut saat mendengar ucapan Mama mertuanya di sebrang sana.


"Heem. Kalian tega si gak nengokin Mama kesana. Jadi biar Mama aja yang kesini"


Seandainya Mama tau apa yang telah terjadi di rumah tanggku beberapa bulan lalu.


"Ma, kayanya Mas Daniel gak bisa jemput deh soalnya Dia masih tidur. Kalo di jemput sama supir gak papa?"


"Iya sama siapa aja, yang penting Mama ada yang jemput"


"Oke kalau gitu Mama tunggu aja, nanti supir bakalan jemput Mama ya"


"Iya"


Maurin menyimpan kembali ponselnya di atas nakas. Maurin menggoyangkan tubuh suaminya.


"Mas bangun ihh, Mama kesini sekarang Dia ada di Bandara" kata Maurin


"Hemmm. Ya udah suruh supir aja buat jemput Mama Sayang. Mas masih ngantuk" kata Daniel masih dengan mata terpejam


"Ish. Ya udah aku mau suruh supir dulu buat jemput Mama" kata Maurin seraya melepaskan tangan suaminya yang masih memeluknya


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2