Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Menyerah


__ADS_3

Satu bulan kemudian.....


Kehidupan Maurin sampai saat ini belum menemukan titik terang. Rumah tangganya dengan Daniel sudah di ujung jurang kehancuran.


Malam ini Maurin sedang duduk merenung di sofa ruang keluarga. Bohong! jika Maurin berkata Dia baik baik saja. Nyatanya Dia tidak baik baik saja.


Hidup dua tahun dengan pria yang sangat di cintainya. Tapi kenyataan nya sungguh sangat menyakitkan. Selama dua tahun ini suaminya sama sekali tidak mencintainya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Maurin juga bingung dengan keadaan nya sekarang. Jika pergi, Dia harus pergi kemana?


"Padahal aku sudah sangat behagia saat melihat foto kecil suamiku waktu Mama menunjukan nya padaku"


Maurin ingat bagaimana dulu hidupnya sangat sulit. Tapi masih bisa merasakan kebahagiaan. Karna menurut Maurin bahagia itu sederhana, tergantung bagaimana kita mneyikapinya.


Tapi sekarang, Maurin hidup di rumah yang layak. Namun kebahagiaan tidak Dia rasakan. Kehidupan nya lebih menyedihkan di bandingkan seperti dulu saat Maurin masih jadi seorang pemulung. Tapi hidupnya tidak sehancur sekarang.


Kasih sayang orang orang terdekatnya masih bisa Maurin rasakan. Tidak seperti sekarang. Maurin mempunyai suami, tapi suaminya bahkan tidak peduli padanya.


"MAURINNNNN"


Maurin tersentak kaget saat me dengar teriakan seseorang yang sangat Dia kenal. Maurin segera berdiri dan menghampiri suaminya.


"Mas kamu kenapa?"tanya Maurin kaget saat melihat suaminya yang berjalan sempoyongan


Maurin segera menangkap tubuh Daniel yang akan ambruk ke lantai "Mas kau mabuk"


Maurin memapah Daniel menuju sofa dengan susah payah karna tubuh Daniel yang tinggi tegap. Maurin merebahkan tubuh suaminya di atas sofa.


"Sebenarnya kau kenapa Mas?"kata Maurin sambil menatap wajah suaminya yang tertidur


Huwek Huwek


Daniel muntah karna terlalu banyak minum. Daniel tertawa setelah Dia muntah. Maurin yang melihatnya langsung membawa lap pel untuk membersihkan bekas muntah Daniel yang berceceran di lantai.


Tanpa rasa jijik sedikit pun, Maurin membersikan pakaian Daniel dan mengagantinya dengan pakaian yang lebih bersih.


"Aku menyayangi Mas. Cup"


Entah keberanian dari mana Maurin sampai mencium kening suaminya dengan air mata yang menetea mengenai kening Daniel.

__ADS_1


"Heh apa yang kau lakukan wanita muarahan" teriak Daniel sambil mendorong kuat tubuh istrinya hingga terjungkal ke lantai.


"Awww" rintih Maurin saat merasakan sakit di tanganya yang menahan tubuhnya saat terjatuh ke lantai.


Daniel bangun dan menatap nyalang pada Maurin "Kau hanya istri yang tidak aku inginkan. Aku hanya mencintai Jesi, dan kau harusnya sadar itu. Kenapa berani sekali kau mencium ku Hah? Dasar wanita murahan"


Daniel yang sedang ada masalah di tambah dengan pengaruh alkohol membuatnya begitu kasar. Entah apa yang terjadi sampai Daniel bisa mabuk seperti ini.


"Kau harusnya sadar diri, kau harusnya pergi dari rumah ini karna rumah ini aku bangun untuk aku dan Jesi bukan untukmu" kata Daniel lagi


Maurin menghapus kasar air mata yang mengalir begitu saja di pipi nya. Dia berdiri dengan kaki yang gemetar. Sudah cukup Dia berkorban selama ini, sudah cukup Dia menderita. Maurin ingin mengakhiri semuanya.


"Baiklah Mas, kalau itu yang kamu inginkan. Aku akan pergi, jangan pernah menyesali semuanya Mas" kata Maurin


Maurin berbalik dan berjalan menuju tangga untuk mengambil barang barang nya. Di tengah anak tangga Maurin berhenti, kembali Dia menghapus air matanya.


"Jangan pernah mencari gadis kecil yang menolongmu dulu Mas. Karna Dia sudah pergi" Maurin melanjutkan lagi langkahnya


Daniel yang masih dalam pengaruh alkohol tidak memperdulikan ucapan Maurin. Dia malah tidur di sofa.


Maurin kembali dengan koper kecil di tangan nya. Dia menatap suaminya yang tidur di sofa. Maurin kembali menghapus air matanya.


Semoga kau bahagia Mas.


Maurin pergi meninggalkan rumah itu dengan sejuta luka dan kecewa. Air mata menemani perjalanan nya malam ini.


...🌻🌻🌻🌻...


Maurin tidak tahu harus pergi kemana. Uang yang Dia miliki hasul jualan online tidaklah banyak. Akhirnya Maurin mengambil ponsel dari ras selempangnya. Maurin menghubungi seseorang yang Dia yakin bisa membantunya saat ini.


"Hallo Raka"


"Kak Rin, iya ada apa Kak?"


"Kamu bisa bantu Kakak? Jemput Kakak sekarang"


"Jemput? Kakak mau kemana?"


"Nanti Kakak ceritakan semuanya. Sekarang Kakak mohon kamu bantuin Kakak. Jemput Kakak sekarang, tapi jangan sampai Ayah, Ibu dan Rena jangan sampai tahu dulu"


"Baiklah Kak, tapi janji ya nanti cerita sama aku"

__ADS_1


"Iya. Makasih ya Dhe"


Maurin mematikan sambungan telpon nya. Dia menunggu di pinggir jalan depan rumah suaminya itu. Hanya Raka yang bisa membantu dan yang bisa Dia percaya saat ini.


Umur Raka masih 17 tahun, tapi pemikiran nya sungguh dewasa. Dia tahu kalau Maurin bukanlah kakak kandungnya. Tapi Raka tetap menyayangi Maurin seperti kakak kandungnya sendiri.


Tin


Maurin langsung masuk ke dalam mobil saat suara klakson mobil yang Dia kenali itu. Raka pun segera melajukan mobilnya.


"Kak, sebenarnya Kakak mau kemana? Kenapa Kakak bawa koper?"tanya Raka sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.


Maurin menghela nafas berat, Dia memejamkan matanya dan setetes air mata kembali meluncur di pipinya.


"Kak, ada apa? Kenapa Kakak sampai menangis?"tanya Raka semakin bingung


Maurin sudah janji akan menceritakan semuanya pada Raka. Maka Dia pun langsung menceritakan semua kisa rumah tangga nya pada Raka.


"Apa Kak Daniel tidak punya perasaan sampai Dia memperlakukan Kak Rin seperti itu" geram Raka mencengkram kuat setir kemudinya.


"Sudahlah Raka, sekarang Kakak sudah menyerah. Kakak ingin pergi dari hidupnya, jika kita memang di takdirkan untuk bersama mungkin akan ada cara untuk bisa kita bersama lagi" kata Maurin


"Terus sekarang Kakak mau kemana?"tanya Raka


"Kakak mau cari kos kosan dan apa bisa kamu bantu Kakak untuk mencari pekerjaan. Apa saja yang penting bisa dengan ijazah SMA" kata Maurin menatap ke arah Raka


"Nanti aku usahakan ya Kak. Sekarang kita cari tempat tinggal dulu buat Kak Rin" kata Raka


Maurin mengangguk "Jangan sampai Ibu, Ayah dan Rena tau tentang ini ya Ka"


"Maafin Ibu ya Kak, Dia bahkan tidak mengizinkan Kakak pulang dan kembali tinggal di rumahnya. Aku juga gak bisa berbuat apa apa Kak" kata Raka


Maurin tersenyum dan mengelus kepala adiknya "Tidak papa. Kakak mengerti kok, kamu udah mau bantu Kakak aja Kakak udah bersyukur banget"


Akhirnya Maurin menemukan kamar kos yang kosong dengan harga yang murah di pinggiran kota. Ini membuat Maurin senang karna Daniel tidak akan bisa menemukan nya.


Percaya diri sekali kau Rin, berharap suamimu akan mencarimu.


Setelah berpamitan pada Kakaknya, Raka langsung pulang. Dia juga sudah mulai menghubungi beberapa temannya untuk mencari pekerjaan buat Maurin.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2