Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Maaf


__ADS_3

Drettt....Drettt


Daniel mengambil ponselnya di dalam saku celana. Melangkah keluar dari ruang rawat Maurin. Maurin cukup mengerti jika suaminya mengangkat telpon di luar. Mungkin memang telpon penting.


"Hallo Tuan, pendonor yang cocok juga dengan kondisi ginjal yang sehat telah bersedia mendonorkan ginjalnya pada Nona Muda. Namun Dia meminta imbalan agar bisa membiayai kuliah anaknya"


Daniel tersenyum puas "Berikan apa yang Dia mau, bahkan beri lebih dari sekedar untuk biaya kuliah anaknya"


"Baik Tuan"


Daniel memutuskan sambungan telpon, memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Saat Daniel ingin kembali masuk ke ruangan istrinya, langkahnya terhenti saat melihat tiga orang datang menuju ke ruangan istrinya itu.


Cih. Mereka datang juga.


Daniel menatap dingin pada mereka


"Gimana keadaan Maurin Niel?"tanya Yuna mengangguk hormat


Daniel tersenyum sinis "Untuk apa kalian datang kesini"


"Kita ingin menjenguk Rin, Nak" kata Antoni


Cih.


"Baiklah, karna kalian sudah berbaik hati ingin menjenguk istriku. Silahkan" Daniel membukakan pintu ruang rawat Maurin dan mempersilahkan tamunya masuk.


Maurin terkejut saat melihat orang tua angkatnya dan Rena yang masuk ke dalam ruangan nya. Mengerutkan keningnya saat meliahar Ibunya tersenyum ke arahnya.


Senyum itu? Sudah lama sekali Ibu tidak tersenyum seperti itu padaku.


Sejak kelahiran Rena, sikap Yuna yang awalnya baik dan hangat selalu saja tersenyum pada Maurin mulai berubah. Senyum yang tak pernah lagi Maurin lihat, hanya cacian dan makian yang sering Maurin dengar dan lihat dari bibir Ibunya.


"Bagaimana keadaanmu Rin?"tanya Yuna


Maurin tersenyum "Rin baik baik aja kok Bu, terima kasih kalian sudah mau repot repot datang menjenguk Rin"


Sayang, kenapa kau terlalu baik seperti itu. Kau bahkan tidak tahu kalau mereka tidak akan datang jika bukan karna gertakan dariku.Daniel


Antoni mengusap kaki Maurin yang berselonjor di atas ranjang "Kami tidak repot kok, semoga kamu cepat sembuh ya"


Maurin menepuk lembut punggung tangan Ayahnya yang ada di kakinya "Terimakasih Yah atas doanya"


"Kak Rin" kata Rena lirih


Maurin terkesiap saat mendengar Rena memanggilnya dengan sebutan Kak. Selama ini Rena tidak pernah menganggapnya Kakak dan tidak pernah sekalipun Rena memanggilnya Kakak seperti sekarang.

__ADS_1


"I...iya Rena?" Kata Maurin sedikit gugup juga terkejut


"Maaf, maaf atas semua yang pernah aku lakuin sama Kakak. Mungkin semua perkataanku yang menyakiti Kakak, sekali lagi aku minta maaf Kak" kata Rena menatap Maurin dengan mata berkaca kaca


"Iya Rin, Ibu dan Ayah juga minta maaf karna sudah menelantarkanmu selama ini. Maafkan kami karna sudah membuatmu menderita selama ini Rin. Ibu, Ayah dan Rena benar benar menyesal" Yuna ikut mneimpali


"Iya Rin, Ayah benar benar menyesali semua perbuatan Ayah yang bahkan tidak mampu mendidik anak dan istri Ayah untuk bisa menghargai orang lain" kata Antoni menunduk


Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi.


Cih.


Di tengah kebingungan nya Maurin mendengar suara decihan dari suaminya. Daniel memasang wajah dingin pada istrinya.


Ada apa ini? Apa yang sebenarnya telah terjadi. Kenapa Ibu, Ayah dan Rena tiba tiba meminta maaf padaku. Apakah..... Ahhh tidak tidak, aku gak boleh berburuk sangka pada suamiku sendiri.


Tapikan, melihat dari reaksi Mas Daniel aku jadi yakin kalau perubahan mereka ada hubungannya dengan nya.


Maurin menarik nafasnya dalam lalu menghembuskan dengan perlahan "Ayah, Ibu dan Rena tanpa kalian minta pun aku akan memaafkan kalian. Karna mau bagaimana pun kalianlah yang telah merawat gadis kecil yang malang ini hingga dewasa"


Daniel menatap Maurin dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.


Kau terlalu baik Sayang, bahkan untuk aku yang berengsek ini. Tapi kali ini aku ingin serakah dan memiliki mu seutuhnya dan selamanya. Daniel


Yuna dan Rena langsung memeluk Maurin "Terimakasih Rin, terima kasih karna telah memaafkan kami"


"Terimakasih Rin"


Pada akhirnya Maurin tidak bisa membenci mereka ataupun mempunyai dendam pada mereka. Meskipun sangat ingin sekali Maurin membenci keluarga yang telah membesarkan nya ini. Namun Maurin tidak bisa.


Di balik semua hal buruk yang mereka lakukan padanya. Maurin tetap mengingat hal baik yang pernah mereka lakukan padanya.


Karna tidak hal yang buruk saja yang harus aku ingat. Tapi pasti ada kebaikan juga yang pernah mereka lalukan. Jangan melihat seseorang dari segi negatifnya saja karna pasti ada segi positif nya. Itulah kenapa semua orang mempunyai kelebihan juga kekurangan. Tidak ada yang sempurna.


Begitulah Maurin, selalu melihat sisi positifnya sebelum Dia melihat segi negatifnya.


Setelah keluarga angkatnya pergi, kini Daniel duduk di pinggir ranjang pasien sambil menggenggam tangan Maurin. Di ciumnya berkali kali tangan itu.


"Kenapa kau sebaik ini Sayang? Apa kau tidak ada sedikit pun rasa benci atau dendam di hatimu?"tanya Daniel menatap penuh rasa penasaran pada istrinya


Maurin tersenyum hangat "Kalau aku tidak punya rasa benci dan dendam berarti aku tidak normal"


"Tentu saja aku punya rasa itu, namun aku tidak mau di kendalikan dengan perasaan dendam dan benci. Karna sejatinya memaafkan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi lebih indah" kata Maurin


Sungguh kau benar benar seperti malaikat Sayang.

__ADS_1


"Jika aku menjadi seorang pendendam, mungkin aku tidak akan pernah memaafkanmu dan kembali padamu"tambahnya


Deg


Benar apa yang di katakan Maurin barusan. Daniel merasa bersykur dengan kelembutan juga kebaikan hati istrinya. Sehingga Dia bisa kembali memilikinya dan Maurin juga mau memaafkan nya dan kembali hidup bersamanya lagi.


"Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya Sayang. Aku mencintaimu" kata Daniel


"Aku juga Mas"


...🌻🌻🌻🌻...


Sudah dua hari Maurin berada di rumah sakit. Daniel bahkan rela tidak masuk kantor dan mengerjakan pekerjaan nya di rumah sakit. Untung sudah ada Firman yang bisa Dia andalkan sekarang.


Firman akan mengantarkan berkas yang perlu tanda tangan Daniel ke rumah sakit. Seperti hari ini, Firman sudah berada di ruangan Maurin untuk memberikan beberapa berkas pada atasan nya itu.


"Rin bagaimana keadaanmu?" tanya Firman


Daniel yang sedang serius membaca berkas yang di berikan Firman langsung mendongakan kepalanya saat asisten nya itu mengajak bicara istrinya.


Entahlah sampai saat ini, Daniel selalu saja merasa takut kalau Maurin akan pergi meninggalkan nya saat menemukan laki laki yang lebih baik darinya. Termasuk Firman.


Maurin tersenyum, membuat Daniel semakin menajamkan tatapan nya. Tidak suka saat istrinya tersenyum seperti itu pada laki laki lain.


"Sudah lebih baik kok Man, makasih ya udah mau di repotin sama Mas Daniel. Kamu pasti capekan harus bolak balik kantor rumah sakit" kata Maurin lembut


"Kenapa harus berterimakasih Sayang. Dia kan aku yang gaji, sudah seharusnya Dia melakukan apa yang aku perintahkan" kata Daniel tidak suka dengan ucapan istrinya barusan.


Ya ampun Tuan, kenapa kau begitu tega padaku. Hiks hiks... Baiklah karna memang aku di gaji dengan cukup besar olehmu, jadi aku tidak akan sakit hati dengan perkataan mu barusan. Firman


Ish. Suamiku ini benar benar ya.


Tidak mau berdebat dengan Daniel yang selalu saja tidak pernah mau kalah. Maurin memilih diam dan memainkan ponselnya. Membiarkan Daniel segera membereskan pekerjaan nya.


Setelah selesai semua berkas yang harus di periksa oleh Daniel dan di tanda tangani. Firman langsung pergi untuk kembali ke kantor.


Saat ini Daniel sedang menyuapi istrinya "Lusa kau akan menjalankan operasi"


"Apa semuanya akan baik baik saja? Aku takut" kata Maurin


Daniel kembali menyuapi Maurin "Tidak perlu takut, aku akan selalu bersamamu. Percayalah semuanya akan baik baik saja dan kau akan segera sembuh"


Maurin mengangguk mengerti "Terimakasij Mas"


"Hei, tidak perlu berterimakasih. Aku adalah suamimu, jadi kau adalah tanggung jawabku. Aku akan membuat mu bahagia Sayang. Percayalah padaku" kata Daniel

__ADS_1


Maurin mengangguk dan tersenyum


Bersambung


__ADS_2