
Daniel terus membujuk Maurin agar mau di periksa. Apalagi saat tadi pagi Maurin kembali muntah muntah bahkan sampai pingsan membuat Daniel begitu panik.
Akhirnya setelah melalui drama panjang Maurin pun mau di periksa. Mereka sudah berada di ruang pemeriksaan dan Maurin pun sudah selesai di periksa.
"Keluhannya apa saja Nona?" tanya Dokter
"Akhir akhir ini saya sering mual dan muntah muntah di pagi hari. Di tambah sering merasa pusing juga. Tapi, saya fikir mungkin karna kecapean atau kurang tidur karna beberapa hari lalu saya sibuk menemani ayah saya yang di rawat di rumah sakit"
Dokter mengangguk mengerti mendengar setiap penjelasan Maurin.
"Kalau begitu mari kita langsung lakukan USG saja"
Maurin dan Daniel menatap heran pada Dokter. USG..? Apa maksudnya? Mungkinkah sekarang Maurin sedang...
"Mari Nona"
Maurin mengerjap tersadar dari lamunan nya. Segera Dia berdiri dan berjelan ke balik tirai yang ada di ruangan ini. Daniel pun mengikuti istrinya itu.
Maurin berbaring dan Dokter oun segera melakukan pemeriksaan nya menggunakan alat USG.
"Selamat ya Nona, dan Tuan. Kalian akan memiliki bayi lagi" jelas Dokter masih menggerakan alat di atas perut Maurin.
Daniel dan Maurin saling menatap. Seolah tidak percaya kalau sekrang mereka telah di percaya lagi untuk memiliki seorang anak.
"Benarkah Dok?" tanya Maurin seolah tidak percaya
Dokter mengangguk dan tersenyum "Iya, usia kandungan kalian baru saja memasuki usia ke 2 bulan. Masih masa rentan, jadi harus di jaga baik baik ya Nona, Tuan"
Daniel mengangguk dengan wajah yang begitu antusias "Baik Dok, terimakasih banyak"
Daniel menggenggam erat tangan istrinya, mengecuonya dengan penuh kasih sayang. Jika saja dulu Daniel benar benar berpisah dengan Maurin. Belum tentu Dia bisa sebahagia sekarang.
"Terimakasih Sayang, sudah memberi kebahagiaan dalam hidupku" ucap Daniel lalu mengecup kening istrinya
Maurin mengangguk "Rin juga bahagia, By"
Dokter tersenyum dengan keharmonisan pasangan di depannya. Tidak tahu saja apa yang pernah mereka lalui selama ini.
...🌻🌻🌻🌻...
__ADS_1
Daniel begitu bahagia saat ini. Sebentar lagi Dia akan menjadi ayah dari dua orang anak.
Tak hentinya Dia mengecup tangan sang istri yang di genggamnya.
"Fokus nyetir ihh, kebiasaan deh" kata Maurin melepaskan tangannya dari genggaman suaminya
Danile melirik sekilas pada istrinya "Aku bahagia banget Yank"
Maurin tersenyum "Aku juga bahagia By, semoga kita sehat selalu ya. Beby nya juga sehat sampai waktunya lahir"
Daniel mengangguk dengan semangat. Hidupnya terasa begitu sempurna sekarang.
Sampai di rumah, mereka langsung di sambut oleh Naura dan Windi.
"Bagaimana?" tanya Windi
Maurin dan Daniel saling melempar pandangannya lalu tersenyum.
"Istriku hamil lagi Ma" jawab Daniel tersenyum bahagia
Windi tersenyum "Syukurlah, akhirnya Naura punya adik juga"
Windi menoleh pada Naura "Iya Sayang, Naura bakal punya adik bayi. Naura seneng gak?"
Gadis kecil itu langsung meloncat loncat dan bertepuk tangan denga riang.
"Yeeee. Naula seneng Oma, Neula mau punya adik bayi" kata gadis kecil itu begitu menggemaskan
Maurin berlutut di depan anaknya, mensejajarkan tubuhnya dengan Naura.
"Naura harus jadi Kakak yang baik ya untuk adik bayi. Naura harus sayang sama adik bayi" kata Maurin lembut
Naura mengangguk dengan lucunya "Iya Ibu, Naula bakalan jadi Kakak yang baik buat adik bayi"
Daniel tersenyum lalu menggendong tubuh anaknya itu. Mencium gemas pipi gembul itu.
"Anaknya Ayah memang paling pintar" puji Daniel membuat Naura tersenyum senang
"Iya dong" jawabnya dengan lucu
__ADS_1
Daniel semakin gemas dengan tingkah anaknya. Dia mencium berkali kali pipi gembul itu.
Terimakasih Tuhan. Maurin mengelus perutnya yang masih rata.
Tidak pernah terfikirkan kalau hidupnya akan sebahagia ini. Jika saja dulu Dia benar benar melupakan dan menghapus cintanya pada Daniel. Mungkin, hidupnya tidak akan sebahagia sekarang.
Aku tidak pernah menyesal karna telah mencintamu lagi. Maurin
Terima kasih karna sudah mencintai ku lagi. Daniel
...🌻🌻🌻🌻...
Jika kehamilan yang pertama Maurin hanya mengalami mual di pagi hari dan itupun hanya terjadi dintrimester awal saja. Maurin masih bisa makan apa saja saat itu.
Tapi, berbeda dengan kehamilan sekarang. Bahkan mencium bau bawang goreng saja Maurin langsung mual dan berujung muntah muntah di kamar mandi.
Bahkan Daniel merasa kewalahan menghadapi istrinya. Dia tidak tega melihat istrinya yang sangat sulit untuk makan. Daniel bahkan harus ekstra sabar membujuk sang istri agar mau makan demi anak dalam perutnya juga kesehatan Maurin sendiri.
"Sedikit lagi aja ya, kasihan adik Bu kalau Ibu gak mau makan. Terus adik makan apa dong?"
Begitulah cara Daniel membujuk istrinya sampai akhirnya Maurin mau makan walau hanya sedikit.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya, jangan kecapean. Paksain makan lagi nanti siang. Susunya juga di minum" petuah Daniel sebelum berangkat bekerja
Maurin mengangguk, meraih tangan suaminya lalu menciumnya "Iya By, bawel banget si kamu"
Cup
Daniel mencium kening istrinya "Bukan bawel Yank, tapi aku khawatir sama keadaan kamu. Apalagi kamu yang susah banget makan"
"Enggak kok, nanti siang aku paksain makan lagi. Kalau gak percaya aku video call kamu lagi deh"
Memang akhir akhir ini Daniel selalu meminta Maurin untuk melakukan video call agar Dia bisa tahu kalau istrinya itu benar benar makan atau tidak.
"Iya. Yaudah sekarang aku pergi dulu ya" kata Daniel yang di jawab anggukan oleh Maurin
Bahagianya hidupku sekarang Tuhan. Terimakasih karna telah mmeberikan aku kebahagiaan ini.
Maurin kembali masuk ke dalam rumahnya saat mobil Daniel sudah keluar dari gerbang.
__ADS_1
Bersambung