
Dengan perut yang semakin membuncit membuat Maurin sedikit kesusahan dalam pergerakan nya. Seperti saat ini, Dia sedang menyuapi Naura yang tiba tiba sangat manja dan tidak mau di suapi oleh pengasuhnya.
"Naura, jangan lari lari Nak nanti jatuh. Makan dulu" teriak Maurin sambil mencoba mengejar Naura yang malah lari larian
"Naura makan dulu Nak, jangan lari Ibu susah ngejarnya" teriak Maurin sambil memegangi perutnya sementara tangan satunya lagi memegang mangkuk berisi makanan Naura.
Maurin menyerah, akhirnya Dia duduk di bangku taman dan meminta pengasuh Naura untuk mengawasi anaknya. Nafasnya naik turun dengan tangan yang terus mengelus perut buncitnya.
"Kakak kamu Nak, makin aktif aja sekarang" Maurin berbicara pada bayi dalam kandungannya. Bibirnya tersenyum saat merasakan tendangan dari dalam sana.
Tak lama kemudian, pengasuh Naura berjalan menghampirinya dengan menggendong Naura.
"Makan dulu Nak, jangan lari larian terus" kata Maurin
Pengasuh Naura mendudukan gadis kecil itu di samping Maurin.
"Udah ya mainnya, sekarang habisin dulu makan nya" kata Maurin lembut
Naura mengangguk lucu "Iya Ibu, Naula udah capek"
Maurin mengelus kepala anaknya, merapikan anak rambut yang berantakan itu. Maurin pun mulai menyuapi lagi anak pertamanya itu.
"Makanya jangan lari larian, jadi capek'kan" kata Maurin lembut sambil terus menyuapi Naura
Akhirnya makanan Naura habis juga setelah melewati banyak perjuangan untuk Ibu hamil ini.
"Sekarang mandi ya, nanti langsung tidur siang" kata Maurin
Naura hanya mengangguk dengan lucu "Ciap Ibu"
Maurin terkekeh melihat kelakuan anaknya itu. Maurin pun menuntun anaknya masuk ke dalam rumah untuk mandi.
Setelah memandikan Naura dan memastikan kalau anaknya sudah terlelap. Maurin pun kembali ke kamarnya untuk istirahat karna seharian ini tubuhnya benar benar terasa sangat lelah.
...🌻🌻🌻🌻...
Sore hari Daniel sampai di rumahnya, memang sejak Maurin hamil lagi Daniel menjadi sering pulang cepat. Daniel langsung menuju kamarnya.
Ceklek
__ADS_1
Daniel melihat sang istri sedang terlelap di tempat tidur. Daniel berjalan mendekat ke arah tempat tidur, duduk di pinggir tempat tidur.
Di usapnya perut buncit sang istri yang langsung mendapat respon berupa tendangan dari sang bayi di dalam sana.
"Kasian banget kamu Sayang, lelah gitu wajahnya" gumam Daniel
Tidak mau mengganggu tidur istrinya, Daniel segera berlalu ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Daniel kembali menghampiri istrinya yang masih terlelap.
Cup
Daniel mencium kening istrinya "Maurin, Sayang"
Sepertinya Maurin mulai terusik, terdengar gumaman kecil dari bibirnya. Maurin menggeliat dan menguap, matanya mulai mengerjap pelan.
"By, udah pulang" Maurin langsung bangun terduduk saat menyadari kalau suaminya berada di sana
"Pelan pelan bangun nya, Sayang. Nanti pusing ihh" omel Daniel sambil mengelus kepala Maurin
"Kamu udah lama pulangnya? Udah mandi juga, aduhh maaf ya aku gak tahu kamu udah pulang. Malah tidur" kata Maurin
Daniel meraih tangan Maurin dan menciumnya "Gak papa kok Yank, lagian kamu tidurnya lelap banget. Kelihatan lelah banget, abis ngapain si?"
"Tapi kamu jangan kecapean Sayang, ingat! Kamu itu lagi hamil, apalagi kehamilan kamu udah besar gini" kata Daniel lembut
Maurin tersenyum "Gak papa kok By, mungkin si Kakak takut tersaingi sama adiknya. Katanya si gitu kalo anak pertama mau punya adik"
...🌻🌻🌻🌻...
Malam harinya Maurin benar benar di larang oleh Daniel untuk keluar kamar sejak sore hari tadi. Apalagi saat melihat kaki istrinya yang membengkak.
Bahkan makan malam saja Daniel membawanya ke kamar. Untungnya sekarang Naura lagi anteng sama pengasuhnya.
"By aku bosen ihh, mau lihat si Kakak" kesal Maurin
Daniel yang sedang mencari seauatu di laci itu menoleh ke arah istrinya "Gak liat apa kaki kamu udah bengkak gitu. Sekali kali nurut sama suami kenapa si?"
Maurin menghela nafas "Ini memang biasa terjadi pada Ibu hamil. Kamu gak usah terlalu khawatir gitu"
Daniel berdiri setelah menemukan apa yang Dia cari. Dia naik ke tampat tidur dan duduk di samping kaki istrinya yang sedang berselonjor itu.
__ADS_1
"Tapi, pas kehamilan Naura gak kaya gini Yank" protes Daniel sambil mengangkat kaki Maurin ke pangkuannya
"Kamu mau ngapain By? Kan setiap kehamilan beda beda"
"Mau pijit kaki kamu" Daniel mulai meneteskan minyak urut di kaki istrinya
"Gak usah By, kaki aku gak papa kok"
Maurin mencoba menurunkan kakinya dari pangkuan sang suami karna merasa tak enak hati jika suaminya memijat kakinya.
"Udah diem deh, nurut aja kenapa si Yank" kesal Daniel kembali menaikan kaki istrinya ke atas pangkuannya
"Tapi'kan....."
"Udah diem, nurut sama suami" tegas Daniel
Akhirnya Maurin hanya bisa diam melihat bagaimana suaminya memijat kakinya dengan penuh kasih sayang.
Terimakasih Tuhan, karna sudah memberikan suami sepertinya untuku. Ujian takdirmu di waktu dulu kini membuat aku percaya akan kebahagiaan yang kau sembunyikan di balik segala ujian yang aku hadapi.
Tidak pernah terfikirkan kalau Daniel bisa berubah sedrastis ini. Begitu lembut, penuh kasih sayang seperti sekarang. Sangat berbeda dengan Daniel yang Maurin kenal dulu.
"Udah By, udah enakan kok. Aku juga udah ngantuk mau tidur" kata Maurin setelah cukup lama Daniel memijat kakinya
"Ya udah kami tidur aja sekarang, aku mau cuci tangan dulu" Daniel turun dari tempat tidur dan berlalu ke kamar mandi
Tak berapa lama Daniel keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya sudah terbaring di tempat tidur. Tapi matanya masih belum terpejam.
"Kok belum tidur Yank, katanya ngantuk" Daniel mencium kening istrinya
"Pengen di usapin perutnya" kata Maurin manja
Daniel tersenyum lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping istrinya. Daniel mulai mengelus perut buncit sang istri sampai Maurin benar benar terlelap.
Cup
Daniel mencium pipi istrinya "Selamat tidur sayang, semoga kamu sama anak anak kita selalu sehat ya"
*Bersambung
__ADS_1
Ngebosenin banget ya?? Yah mau gimana lagi, ide author cuma mentok sampe sini aja*..