Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Jaga Mata, Jaga Hati


__ADS_3

Selesai sarapan Maurin dan Daniel duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Mas gak kerja?" Sudah dari tadi Maurin penasaran kenapa suaminya malah memakai pakaian santai.


Cup


Daniel mengecup pipi istrinya "Enggak sayang. Mas pengen seharian ini bersama mu"


"Kalau gitu ayo kita ke rumah sakit" kata Maurin tersenyum


"Untuk apa?"


"Kita jengukin Jesika Mas, Rin penasaran bagaimana keadaan nya. Apalagi Dia habis kehilangan calon anaknya" kata Maurin


"Sayang, Dia sengaja meminum obat penggugur kandungan. Dia tidak akan sedih atau semacamnya karna Dia tidak menginginkan anak itu" jelas Daniel


"Kasihan ya Mas, padahal bayi itu gak salah loh. Dia berhak lahir ke dunia ini, tapi orang tuanya tidak menginginkan nya" kata Maurin sedih, mengingat bagaimana hidupnya yang di tinggalkan oleh orang tua kandungnya untuk selama lamanya.


Daniel mengelus sayang kepala Maurin "Sudahlah, nanti Dia juga akan merasakan penyesalan atas apa yang Dia lakukan"


Maurin menyandarkan kepalanya di bahu Daniel "Seandainya kalau itu anak kamu gimana Mas?"


Entah kenapa Maurin sangat ingin menanyakan itu. Mendengar suaminya bilang kalau Jasika hamil dan sengaja menggugurkan kandungan nya membuat Maurin sedikit was was. Takut kalau itu adalah anak dari suaminya.


"Sayang apa yang kau fikirkan hmmm? Mana mungkin itu anak ku. Seberengsek berengsek nya aku, gak mungkin aku menaruh benih di rahim wanita yang bukan istriku. Selama ini aku hanya menyemburkan benihku di rahim mu Sayang. Itu artinya kaulah yang akan menjadi Ibu dari anak anakku nanti" jelas Daniel


"Tapi setidaknya kamu pernah dong melakukan nya dengan Jesika? Secara kalian pacaran lama, bahkan sebelum kamu mengenal aku Mas" kata Maurin


Daniel menghembuskan nafas kasar "Maaf Sayang, kamu memang bukan yang pertama untuk ku. Dulu aku pernah melakukan nya bersama Dia, tapi hanya sekali karna Dia juga sangat sibuk sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi"


"Tapi kamu tenang saja Sayang, aku sama sekali tidak memberikan benihku di rahim nya. Percayalah hanya kamu yang aku percayai untuk mengandung anak anak ku" tambahanya


Maurin menghela nafas "Terus apa sekarang kamu masih ingin bermain wanita di luar sana Mas?"


Daniel terkesiap mendengar pertanyaan Maurin "Sayang. Apa yang kamu bicarakan? Aku kan sudah bilang, aku hanya melakukan nya sekali dengan Dia. Dan seterusnya aku melakukan nya bersama mu. Percayalah, dan sekarang hanya kamu satu satunya untuk ku"


Maurin tersenyum "Terimakasih karna sudah memilihku Mas"


"Kau bukan pilihan Sayang, tapi kau adalah ketetapan. Aku tidak memilihmu, karna kamu adalah ketetepan yang di takdirkan untukku" kata Daniel


Daniel kembali mengingat bagaiamana dulu saat malam pertama pernikahan mereka. Ada rasa bangga di hati Daniel saat mendapati istrinya masih suci, dan Dialah yang pertama.


Maurin tersentak kaget saat tiba tiba Daniel menggendongnya. Dengan refleks Maurin mengalungkan tangannya di leher Daniel.


"Mas ngapain gendong aku ihh? Turunin, aku bisa jalan sendiri. Lagian kita mau kemana si Mas" kata Maurin mencoba turun dari gendongan suaminya


"Diam Sayang. Kau bisa jatuh kalau terus bergerak seperti ini, aku ingin membawamu ke kamar kita" kata Daniel mebgecup sekilas bibir istrinya

__ADS_1


"Kamar? Sebentar lagi siang Mas, ngapain ke kamar?"tanya Maurin polos


Daniel tersenyum jahil "Mas ingin melanjtkan yang tadi malam"


Yang tadi malam? Maksudnya? Aaaa. Kenapa Dia jadi mesum kaya gini si.


"Kan semalem udah Mas, biasanya juga kamu cuma seminggu sekali menyentuhku" kata Maurin mengingat bagaimana dulu suaminya hanya menyentuhnya seminggu sekali


"Itu berbeda Sayang, saat itu aku masih belum bisa merasakan kenikmatan mu. Sekarang kau adalah candu bagiku. Aku mencintaimu" bisik Daniel di telinga Maurin


Ishh. Kenapa jadi mesum kaya gini si.


"Buka pintunya Yank" kata Daniel


Maurin pun meraih handle pintu kamar dan membukan nya. Daniel langsung masuk ke dalam kamar, menutup kembali pintu kamar dengan kakinya.


Setelah itu entahlah apa yang terjadi di dalam kamar. Hanya mereka berdua yang tahu.


...🌻🌻🌻🌻...


Maurin mengerjapkan matanya, merasa silau pada cahaya yang masuk lewat celah jendela kamar. Melirik ke samping dimana suaminya sedang terlelap sambil memeluknya.


Maurin melirik ke arah jam dinding "Hah sudah jam 2 siang, pantesan mataharinya sudah tinggi banget"


Maurin mengangkat tangan Daniel yang berada di atas perutnya. Setelah Dia terlepas dari pelukan Daniel, Maurin segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Aaa. Aku lapar, Dia benar benar membuatku kelelahan.


Maurin akhirnya kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya agar bisa makan siang bersama.


"Mas bangun, mandi dulu ihhh" Maurin menggoyangkan tubuh suaminya yang sedang terlelap itu


"Hmmm. Iya Sayang, aku bangun nih" kata Daniel dengan suara seraknya


Daniel bangun dan terduduk di tempat tidur. Sedikit mengucek matanya karna merasa masih ngantuk.


"Ayo Mas segera mandi, aku lapar dan ingin makan siang bersama" kata Maurin merengek


"Iya Sayang, iya" Daniel menjadi gemas sendiri dengan tingkah istrinya yang sedang merengek itu.


Cup


"Aku mandi dulu Sayang, tunggulah di bawah" kata Daniel setelah mengecup bibir istrinya


Ish.. Dasar mesum.


Maurin pun turun ke lantai bawah, menunggu suaminya yang masih mandi. Saat tiba di anak tangga terakhir, Maurin merasakan sakit yang sudah beberapa bulan terakhir ini tidak di rasakan nya.

__ADS_1


Ahhh. Kenapa rasa sakit nya kembali lagi. Bahkan aku sudah tidak lagi melakukan pengobatan sejak saat itu.


Maurin mencoba menahan rasa sakit di perutnya. Keringat dingin bercucuran di keningnya. Wajahnya sudah pucat menahan rasa sakit yang luar biasa.


Tuhan, kuatkanlah aku.


Rasa sakit yang selalu di sembunyikan dari siapa pun. Hanya orang tua angkatnya yang mengetahui nya. Namun tidak ada kata peduli atau kasihan pada Maurin yang harus mencari uang sendiri untuk pengobatan nya selama ini.


"Sayang, kenapa?" Daniel sudah berada di ujung tangga atas, melihat istrinya yang hanya diam di anak tangga terakhir.


Maurin segera menetralkan perasaannya, mencoba menahan rasa sakit yang tiba tiba menyerangnya itu.


Maurin menoleh dan memasang wajah penuh senyuman "Gak papa Mas, ayo kita makan siang aku udah laper banget"


Mereka pun makan siang bersama. Rasa lapar yang tadi menyerang nya tiba tiba hilang saat rasa sakit itu kembali datang. Maurin hanya bisa pura pura menikmati makanan nya agar suaminya tidak curiga.


Semoga rasa sakit itu tidak lagi kembali. Padahal aku sudah mengira kalau penyakitku sudah sembuh karna beberapa bulan terakhir ini aku tidak melakukan pengobatan dan rasa sakit itu tidak ada. Tapi sekarang, tiba tiba rasa sakit itu kembali lagi.


...🌻🌻🌻🌻...


Maurin sedang memasangkan dasi di leher suaminya "Mas nanti siang aku izin mau keluar, belanja kebutuhan rumah yang sudah habis"


"Nanti aja sama Mas kalau sudah pulang kerja" kata Daniel


"Emang kamu hari ini gak pulang malem lagi? Apalagi kemarin Mas gak masuk kantor kan" kata Maurin


Benar juga.


Daniel menghela nafas "Baiklah, tapi di antar supir ya"


Maurin mengangguk "Iya Mas"


Selesai memasangkan dasi, Maurin membantu suaminya untuk memakaikan jas.


Cup


Daniel mengecup pipi istrinya yang entah kenapa membuatnya begitu suka mencium pipi Maurin.


"Jaga mata, jaga hati saat keluar nanti" kata Daniel


Ish. Memangnya apa yang akan aku lakukan, hanya belanja saja.


"Iya Mas, jangan berlebihan gitu dong" kata Maurin


Cup


Kembali Daniel mencium pipi Maurin yang sebelahnya lagi "Sayang, kau itu hanya miliku ingat itu! Jadi aku harus benar benar waspada kalau suatu saat ada pria yang menggodamu"

__ADS_1


Cih. Sadarlah, aku ini gak cantik cantik amat kali. Kalo di bandingkan dengan Jesika, aku gak ada apa apa nya.


Bersambung


__ADS_2