
Beberapa hari kemudian.....
Besok adalah hari dimana pernikahan Maurin dan Daniel genap tiga tahun. Jika saja dulu Daniel tidak menyadari kesalahan nya. Mungkin pernikahan mereka akan kandas di usia dua tahun.
Maurin sangat berharap kalau Daniel akan mengingat hari pernikahan ini. Tapi melihat dari sikap Daniel tadi pagi, membuat Maurin pesimis.
"Gak papa lah kalau emang Mas Daniel lupa. Kan wajar, lagian dulu pernikahan ini kan tidak di dasari oleh cintanya. Jadi aku akan mencoba untuk mengerti"
Begitulah cara Maurin menyemangati dirinya sendiri agar tidak sedih jika memang suaminya tidak mengingat sama sekali tanggal pernikahan mereka.
Mungkin bibirnya bisa berkata seperti itu, tapi nyatanya dadanya sudah terasa sesak.
Malam harinya Daniel pulang dari kantor, setelah mandi dan berganti pakaian. Daniel langsung makan malam bersama istrinya.
Ada yang aneh disini, Daniel sama sekali tidak banyak bicara. Maurin pun sama, suasana makan malam yang biasanya terasa hangat dengan perbincangan sederhana mereka. Tapi sekarang, terasa begitu sunyi.
Selesai makan mereka kembali ke dalam kamar. Maurin semakin kesal saat suaminya malah asyik bermain ponsel. Maurin merasa di acuhkan.
"Mas"
"Hemmm" menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Matanya masih fokus pada layar ponselnya.
Maurin mendengus kesal "Besok tanggal berapa ya Mas"
Ayolah.. Ingatlah kalau besok adalah hari sepesial untuk pernikahan kita.
Sudah mulai memancing ingatan suaminya dengan menanyakan tangga esok hari. Tapi sepertinya sang suami malah terlihat biasa saja.
"Tanggal 23" jawabnya acuh
Gitu doang? Ishhh...
"Gak ada jadwal sepesial gitu Mas di tanggal itu?" Pancing Maurin lagi dengan tersenyum penuh harap.
Daniel mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menoleh ke arah Maurin. Mengerutkan keningnya bingung dan tidak mengerti apa maksud istrinya.
"Gak ada, besok aku gak ada jadwal meeting dengan siapapun kok" jawabnya santai
Hah? Bener bener ya...
Meskipun berjanji akan sabar, tapi tetap saja Maurin merasa kesal saat suaminya sama sekali tidak mengingat tanggal pernikahan mereka.
Tidak mau berharap banyak, Maurin memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Daniel tersenyum geli melihat tingkah istrinya itu. Tanpa rasa bersalah Daniel ikut merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh istrinya itu.
Dasar tidak tahu malu, masih berani peluk peluk aku.
__ADS_1
...🌻🌻🌻🌻...
Maurin mengerjap saat cahaya masuk lewat celah jendela kamar. Menggeliat sambil menguap, Maurin mencoba mengumpulkan separuh nyawanya.
Maurin bangun dan terduduk, melirik ke sampingnya sudah kosong. Daniel yang biasanya masih terlelap sudah tidak ada di sana.
"Mass" Maurin turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti. Tidak ada suaminya disana, membuka pintu kamar mandi juga tidak menemukan Daniel di sana.
"Kemana Mas Daniel? Masa jam segini udah pergi ke kantor si?" Maurin merasa aneh saat tidak menemukan suaminya. Tidak biasanya Daniel pergi sepagi ini.
Maurin keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya itu. Menanyakan pada pelayan yang bekerja di rumahnya. Tapi mereka juga bilang tidak melihat Daniel.
Kembali naik ke lantai atas sambil terus memikirkan kemana suaminya pergi.
Kemana si Mas Daniel? Perasaanku mulai tidak enak.
Tok tok tok
Maurin yang baru saja selesai mandi dan sedang duduk di pinggir tempat tidur langsung menoleh saat mendengar suara pintu di ketuk.
"Iya??" Teriak Maurin
"Nona ini saya, ada paket untuk Nona" teriak salah satu pelayan di rumah itu
"Hah?? Paket" gumam Maurin bingung "Masuk aja" teriak Maurin lagi
Maurin menatap pada kotak itu dengan tatapan bingung. Dia tidak pernah memesan paket apapun itu, lalu ini dari siapa? Tapi namanya dan alamat jelas tertera di atas kotak itu.
Perlahan Maurin membuka kotak itu, mengambil isinya yang ternyata sebuah gaun berwarna silver yang sangat indah.
"Cantiknya, tapi ini untuk siapa coba? Apa benar untuk ku? Tapi, siapa yang mengirimnya" gumam Maurin saat tidak ada nama si pengirim paket
Maurin melihat ada lipatan kertas di dalam kotak itu. Segera Dia ambil dan membuka kertas itu.
Pakailah gaun itu dan berdandanlah yang cantik. Aku menunggumu, nanti malam aku akan menjemputmu.
Jangan sampai kau tidak akan datang. Aku menunggumu.
Tidak ada nama si pengirim di kertas itu juga. Maurin semakin bingung, namun Dia malas untuk memikirkan hal yang tidak penting baginya.
...🌻🌻🌻🌻...
Kegalauan tengah di rasakan Maurin, bingung antara harus percaya dengan surat tadi pagi atau malah sebaiknya Dia tidak usah berangkat saja.
"Aaaa. Aku bingung harus bagaimana? Kalau tidak pergi, aku juga penasaran siapa yang mengirim gaun itu padaku. Meski hatiku berkata kalau itu dari suamiku si. Lihat saja sampai sekarang Dia tidak ada kabar sama sekali"
Setelah cukup lama berfikir, akhirnya Maurin pun memutuskan untuk pergi dengan gaun yang tadi.
__ADS_1
Benar saja tak lama setelah Maurin bersiap, seorang pelayan mengatakan kalau sudah ada yang menjemputnya.
Maurin mengerutkan keningnya saat melihat seseorang yang sangat Dia kenal sedang menunggunya di luar rumah.
"Hai, cantik sekali kau malam ini Rin" sapa Firman tersenyum
Maurin tersenyum tipis dan langsung menghampiri Firman yang sedang berdiri bersandar di mobilnya.
"Jadi kamu yang mengirim pakaian ini Man?"tanya Maurin sedikit was was
"Tentu saja, lalu siapa lagi? Aku ingin mengajakmu makan malam" jelas Firman
Maurin menelan salivnya dengan susah payah. Kalau Firman yang mengirimkan nya, lalu kemana suamiku?? Huaaaa.
"Ayo masuk Rin" Firman sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"I....iya"
Mau tidak mau akhirnya Maurin pun pergi bersama Firman. Fikiran nya tiba tiba terasa kacau, banyak pertanyaan dalam benaknya.
Kenapa bisa Dia yang menjemputku? Dan gaun ini juga Dia yang memberikan nya untukku. Sebenarnya ini ada apa si?
"Man kita mau makan dimana?"tanya Maurin memecah keheningan di dalam mobil itu
Firman menoleh sekilas "Nanti kau juga tahu"
Aaaaa. Kenapa perasaanku jadi tidak tenang begini si.
"Man, apa kau tahu dimana suamiku?"tanya Maurin mencoba mengalihkan topik pembicaraan
"Seharian ini Bos Daniel tidak masuk ke kantor karna ada urusan katanya" kata Firman
Hah? Kalau gak ke kantor terus Dia kemana?
"Beneran? Tapi pagi pagi sekali Dia sudah tidak ada di rumah. Bahkan sebelum aku bangun" kata Maurin
Firman mengedikan bahunya "Entahlah, aku juga gak tau"
Terus suamiku kemana?
"Sudah sampai, ayo turun Rin" kata Firman sambil membuka sabuk pengaman
Maurin tersadar dari lamunannya, Dia menatap ke arah depan.
Apaan? Kenapa Firman bisa menyiapkan semua ini dengan sangat indah.
Bersambung
__ADS_1