Love Me Again (Cintai Aku Lagi)

Love Me Again (Cintai Aku Lagi)
Kontraksi


__ADS_3

Daniel merengkuh tubuh istrinya yang bersimpuh di depan dua gundukan tanah.


Maurin sudah terisak pelan, kesedihan selalu saja di rasakan saat Dia berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya.


"Ibu, Ayah Rin datang. Maaf kalau Rin jarang sekali mengunjungi kalian. Sekarang Rin sudah mau menjadi Ibu dari dua orang anak, Bu. Do'ain ya semoga nanti persalinan nya lancar" lirih Maurin dengan terisak pelan


"Ayah, Ibu aku Daniel menantu kalian. Aku janji akan menjaga dan selalu mencintai juga menyayangi putri kalian sampai akhir hayatku. Maaf... Maafkan atas segala perlakuan ku dulu pada putri kalian. Aku memang bodoh telah mebgecewakan dan menyakitinya dulu"


"Tapi, sekarang aku benar benar menyesali semuanya. Tolong restui kami, do'akan kami yang terbaik. Aku janji tidak akan menyakiti putri kalian lagi" ucap Daniel dengan berat seolah penyesalan masih menyergapi relung hatinya.


"Sudahlah By, aku sudah memaagkan mu. Aku yakin Ibu dan Ayah juga pasti sudah memaafkan mu. Apalagi sekarang kamu begitu menyayangiku dan anak anak kita. Kamu sudah membuat kita bahagia sekarang" kata Maurin


Kau memang wanita hebat Rin.


Daniel mengecup kepala istrinya "Sekarang kita pulang aja yuk, udah mau sore juga"


Maurin mengangguk "Ayo, Ibu Ayah Rin pamit pulang dulu ya. Selalu do'akan yang terbaik untuk keluarga Rin. Ibu dan Ayah pun semoga selalu bahagi di sana"


Daniel menuntun istrinya keluar dari kawasan pemakaman. Daniel membantu Maurin masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman untuk istrinya.


"Kamu tidur aja kalau lelah ya" busik Daniel


Maurin mengangguk "Iya By"


...🌻🌻🌻🌻...


Waktu beralalu begitu cepat, kandungan Maurin sudah memasuki bulan ke sembilan. Tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk kelahiran sang buah hati.


"Kok gak pake pakaian kantor yang aku siapin, By? Emang kamu gak ke kantor?" tanya Maurin heran saat suaminya keluar dari ruang ganti dengan pakaian santai


Cup


Daniel mencium kening istrinya yang berdiri di depannya "Aku gak ke kantor Sayang, aku gak mau kejadian saat kelahiran Naura terulang lagi. Aku mau dampingin kamu sampai saat lahiran tiba"


"Terus gimana sama pekerjaan kamu By? Aku gak papa kok kalau kamu mau kerja. Lagian ini bukan lahiran pertamaku. Aku sudah punya pengalaman sekarang" kata Maurin


Daniel mengelus perut buncit istrinya yang langsung mendapat respon merupakan tendangan dari dalam sana.


"Aku bisa kerja dari rumah Sayang. Firman sudah mengatur semuanya" jelas Daniel kembali memberi kecupan di dahi istrinya

__ADS_1


"Hmm. Yaudah kalo gitu kita ke bawah sekarang. Naura sudah menunggu di bawah" kata Maurin


Daniel mengangguk lalu menggandeng tangan istrinya, berjalan keluar kamar.


"Ibu cama Ayah lama"


Bocah kecil yang sedang duduk di kursi meja makan di temani oleh pengasuhnya memberengut kesal saat Ayah dan Ibunya datang.


Maurin tersenyum sambil mengusap kepala putrinya, lalu Dia duduk di kursi samping putrinya.


"Kakak makan duluan aja" kata Daniel


"Udah, Naula udah makan cana cus. Sekarang Naula mau main di taman belakang ya"


Daniel mengangguk "Yaudah, Sus hati hati ya soalnya Naura lagi aktif aktifnya"


Pengasuh Naura menganggyk "Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu"


Daniel dan Maurin mengangguk.


Mereka pun melanjutkan sarapan dengan tenang. Maurin sudah mulai bisa makan makanan berat setelah kehamilannya memasuki trimester terakhir.


"By, kita jalan jalan pagi yuk" ajak Maurin setelah selesai memakan sarapan nya


"Yah, aku'kan pengennya keluar rumah. Jalan jalan di komplek perumahan ini aja" kata Maurin


"Enggak ahh, kamu'kan bisa jalan jalan di taman belakang. Gak usah ke luar rumah" kekhawatiran Daniel memang terlalu jauh. Dia begitu takut akan terjadi sesuatu pada istrinya.


"Ish, emangnya kenapa si kalau jalan jalan di wilayah komplek perumahan kita aja"


"Udah deh Sayang, nurut aja sama aku. Kalau mau jalan jalan di taman belakang aja ya" bujuk Daniel


Maurin menghela nafas, sepertinya keputusan suaminya sudah tidak bisa di tawar tawar lagi.


...🌻🌻🌻🌻...


Akhirnya Maurin hanya berjalan jalan santai mengelilingi taman rumahnya. Melihat bunga bunga yang mulai bermekaran.


Tangannya terus mengelus perut buncitnya "Selalu sehat ya Nak, sampai nanti kita bertemu di dunia ini"

__ADS_1


Daniel mengawasi istrinya dari bangku taman sambil memangku Naura yang tiba tiba menempel padanya. Gadis kecil ini tidak mau bermain dengan pengasuhnya lagi. Sepertinya Dia bosan.


Tendangan di perut Maurin semakin terasa mmebuat perutnya sedikit sakit. Maurin meringis dengan tangan terus mengelus perutnya.


"Kenapa Nak? Nendangnya jangan kenceng kenceng dong. Ibu ngilu rasanya" kata Maurin berbicara dengan bayi di dalam perutnya


Maurin melanjutkan langkahnya, sudah satu putaran Dia berjalan kaki di taman ini. Sekarang Dia akan mengakhirnya, Maurin berjalan mendekat ke arah suami dan anaknya.


Tiba tiba perutnya terasa begitu sakit seiring dengan tendangan dari dalam sana. Maurin masih tidak menghiraukan, melanjutkan kembali langkahnya menuju sang suami yang sedang bermain dengan Naura.


"Awww... Kenapa semakin sakit" lirih Maurin sambil terus mengelus perutnya


Maurin menarik nafas dengan perlahan, rasa sakit di perutnya semakin terasa. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke tempat suaminya berada.


Sepertinya ini sudah mau lahir..


Daniel yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik istrinya mulai tersadar dengan raut wajah istrinya yang sudah pucat dan seperti menahan sakit.


"Sus, jagain Naura sebentar aku akan ke istriku dulu" kata Daniel


"Baik Tuan"


"Ayah mau lihat Ibu dulu ya, sepertinya Ibu kecapean jalan jalan terus" kata Daniel pada Naura yang masih asyik bermain dengan bonekanya


"Iya Ayah"


Daniel pun berjalan cepat menghampiri istrinya yang sedang berdiri di dekat pohon mangga. Tangannya berpegangan pada pohon mangga itu.


"Sayang, kenapa?" tanya Daniel langsug merengkuh tubuh istrinya


Keringat dingin sudah mulai bercucuran di dahi Maurin "By, kayanya aku mau lahiran deh. Sudah mulai kontraksi"


Daniel sudah menduganya, sejak tadi Dia melihat ekspresi wajah Maurin. Daniel sudah meduga kalau istrinya sudah merasakan tanda tanda akan melahirkan.


"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang" kata Daniel


Maurin mengangguk "Iya By"


Tanpa aba aba Daniel langsung menggendong istrinya. Sebelum pergi ke rumah sakit, Daniel meminta pekerja di rumahnya untuk membawa tas besar yang berisi perlengkapan bayi juga persiapan untuk lahiran yanh telah di siapkan oleh Maurin jauh jauh hari.

__ADS_1


Bersambung


Satu episode binscap lagi ya.. Jangan lupa like dan komennya. Jika suka ceritanya boleh kasih hadiah sama vote nya. Terimakasih 🤗🤗


__ADS_2