
Selesai acara makan malam romantis itu. Maurin ingin jalan jalan sebentar menikmati angin malam di pantai itu.
Berjalan dengan bergandengan tangan menyusuri pantai. Daniel telah memberikan jasnya pada Maurin yang terlihat kedinginan.
"Udah ya Sayang, kita pulang. Aku gak mau kamu sakit" kata Daniel
Entah sudah berapa kali Daniel mengatakan itu. Dia terlalu khawatir dengan keadaan istrinya. Apalagi angin laut di malam hari tidak baik untuk kesehatan.
"Kita langsung pulang Mas?"tanya Maurin menoleh ke arah suaminya
"Mas sudah pesan hotel di dekat sini, kita akan menginap di sana. Anggap saja bulan madu yang tertunda" kata Daniel
Maurin tersenyum, bulan madu... Kata itu bahkan tidak pernah terpikirkan oleh Maurin. Pernikahan nya yang tidak baik baik saja membuat Maurin bahkan tidak berani berkata ataupun hanya sekedar memikirkan nya.
Bulan Madu??? Hahaha bahkan aku merasa aneh mendengarnya. Bulan madu di usia pernikahan yang sudah berjalan tiga tahun lamanya.
"Aaaaaa"
Maurin tersentak kaget saat Daniel tiba tiba menggendongnya "Mas kamu ngapain si, turunin ihhh"
"Tidak mau" menjawab acuh sambil terus berjalan menuju di mana mobilnya terparkir
Kini keduanya telah berada di dalam mobil. Daniel melajukan mobilnya menuju hotel yang telah Dia reserfasi.
Sampai di tempat tujuan, Daniel dan Maurin di sambut oleh karyawan hotel. Daniel langsung membawa istrinya menuju kamar mereka.
...🌻🌻🌻🌻...
Sepasang suami istri ini menghabiskan waktu berdua di kamar. Daniel duduk menyandar di tempat tidur sementara Maurin tiduran di pangkuannya.
Daniel sedang membaca majalah bisnis dengan satu tangan yang lain mengelus rambut Maurin yang sedang memainkan ponselnya.
"Mas" panggil Maurin
"Yank, mulai sekarang manggilnya jangan Mas dong" kata Daniel menutup majalah dan menyimpan di sampinya
Maurin mengerutkan keningnya "Terus manggil apa dong? Kalau manggil nama aja kan gak sopan"
Daniel tersenyum, istrinya ini memang sangat mengutamakan sopan satun. Bahkan Dia sangat menghormati Daniel sebagai suaminya. Meskipun dulu Daniel bukanlah suami yang baik.
"Panggil Hubby" kata Daniel dengan tangannya yang merapikan rambut Maurin yang sedikit berantakan
__ADS_1
Ishhh. Kenapa Dia ini? Padahal panggil Mas juga udah lebih baik dari pada manggil nama. Lebay banget deh...
"Kenapa? Gak mau? Dosa loh gak nurutin perkataan suami" kata Daniel yang melihat istrinya malah diam
"I...iya Mas"
"Tuhkan baru aja ngomong, udah salah lagi" gerutu Daniel
"I..Iya Hubby" Maurin langsung menyembunyikan wajahnya di perut Daniel. Sungguh Dia sangat malu saat mengatakan itu.
Daniel terkekeh "Gitu dong, kan manis dengarnya juga"
Maurin hanya mengangguk, masih menyembunyikan wajahnya di perut Daniel. Di pastikan wajahnya pasti sudah memerah.
"Sekarang waktunya kamu membuat aku tidur sayang" kata Daniel
Maurin mendongakan wajahnya bingung. Apa katanya? Membuatnya tidur? Kenapa harus aku yang membuatnya tidur? Kalau ngantuk ya tinggal tidur aja. Gampang kan.
"Maksudnya?"tanya Maurin polos
"Sayang nya bangun dulu" kata Daniel
Maurin menurut, Dia bangun dan duduk menghadap suaminya. Daniel membelai lembut wajah istrinya itu. Cup.. Daniel mulai dari mengecup kening istrinya. Beralih ke pipi dan berakhir di bibir Maurin.
Tangan Daniel mulai beraktifitas di tubuh Maurin. Istrinya itu hanya pasrah menerima perlakuan dari Daniel. Inilah kenapa Daniel selalu merasa bahagia mempunyai istri seperti Maurin. Dia gak pernah nolak saat suaminya meminta hak nya.
Malam yang panjang pun baru di mulai. Menggantikan bulan madu yang seharusnya di lakukan di awal pernikahan.
...🌻🌻🌻🌻...
Daniel meraba tempat tidur di sampingnya. Tangan yang selalu memeluk tubuh istrinya kini terasa hampa. Daniel membuka kelopak matanya yang masih terasa berat karna semalam Dia harus bergadang.
"Sayang"
Daniel turun dari tempat tidur. Menyambar piyama dan memakainya. Daniel mendengar suara dari dalam kamar mandi. Tapi bukan suara orang sedang mandi yang Daniel dengar.
Ceklek
Pintu kamar mandi yang tidak di kuci langsung Daniel buka. Dia berjalan menghampiri istrinya yang sedang menunduk di wastafel.
Huwek Huwek
__ADS_1
Ahhh. Maurin sudah merasa lelah sedari bangun tidur Dia terus mual dan hanya memuntahkan cairan. Sampai tenggorokan nya terasa sakit.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya"
Daniel begitu panik saat melihat istrinya yang terus muntah dengan wajah yang pucat, keringat dingin bercucuran di dahinya.
Maurin menggeleng lemah, Dia basuh wajahnya agar lebih segar. Meski rasa mualnya tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya tidak separah tadi.
"Kayanya cuma masuk angin aja deh gara gara kemarin malam" lirih Maurin
Daniel mengelap wajah istrinya dengan handuk kecil yang menggantung tidak jauh dari sana.
"Tapi aku khawatir Sayang, liat wajah kamu yang pucat banget kaya gini" kata Daniel
"Aku mau tiduran aja, nanti juga baikan" kata Maurin
Daniel segera menggendong Maurin dan membawanya keluar dari kamar mandi. Membaringkan tubuh istrinya dengan perlahan di tempat tidur lalu menyelimutinya sampai pinggang.
"Aku mandi dulu, kamu istirahat aja dulu ya. Cup" Ditya mencium kening istrinya
Setelah Daniel masuk ke dalam kamar mandi. Maurin mulai memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Daniel sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia melihat istrinya yang terlelap, wajahnya masih terlihat pucat.
Daniel meraih ponsel di atas nakas untuk menghubungi sesorang.
"Hallo" ponsel telah menempel di telinganya "Tolong panggilkan dokter ke sini. Istri saya sakit"
Daniel kembali menutup telponnya setelah berbicara pada resepsionis hotel.
Daniel duduk di pinggir tempat tidur, di usapnya kaki Maurin yang ada di sampingnya.
"Jangan sakit, aku gak akan bisa lihat kamu sakit" kata Daniel dengan menatap wajah istrinya
"Hmmmm" Maurin menggeliat dan membuka matanya. Tersenyum saat mendapati suaminya.
"Gimana? Apa masih mual?"tanya Daniel lembut
Maurin bangun dan duduk menyandar "Dikit, Hubby udah mandi? Wangi, aku suka"
Maurin sudah mulai membiasakan panggilan itu pada suaminya. Tak apalah, toh membuat suami senang dapat pahala. Maurin langsung memeluk tubuh Daniel.
__ADS_1
Daniel mengangguk, meski agak heran dengan sikap istrinya yang tiba tiba manja begini. Tapi Daniel tidak mau ambil pusing, Dia membalas pelukan Maurin dan mengecup puncak kepalanya.
Bersambung