
Windi telah sampai di kediaman anak dan menantunya. Dia di sambut hangat oleh Maurin juga Daniel. Bahkan Daniel sengaja tidak masuk kerja karna ingin menyambut Ibunya. Untung saja hari ini Dia tidak ada jadwal mitting.
"Sepertinya aku harus mencari asisten supaya bisa menggantikan ku di saat seperti ini" kata Daniel pada diri sendiri
"Emang selama ini Mas gak punya asisten?" Suara Maurin mengagetkan Daniel
"Sayang, ihh bikin kaget aja deh" kata Daniel langsung berbalik ke arah istrinya
"Mama mana Sayang?" tanya Daniel
"Mama lagi istirahat di kamar, kamu lagi nyari asisten Mas?" Maurin mengulangi pertanyaan nya
"Heem. Mas harus cari orang yang bisa di percaya untuk jadi asisten Mas. Tapi susah cari orang yang benar benar jujur jaman sekarang" jelas Daniel
Firman.
Tiba tiba Maurin mengingat nama sahabatnya itu. Maurin cukup mengenal sifat Firman, dan Maurin yakin kalau Firman bisa di percaya.
"Kalau Firman gimana Mas?"tanya Maurin
Daniel menyipitkan matanya, menatap tidak suka pada istrinya "Berani sekali kau menyebut nama pria lain di depan suamimu"
Hah? Dia gila apa ya? Kalau aku gak nyebut namanya mana mungkin Dia tahu kalau yang aku maksud itu Firman.
"Kamu ini kenapa si Mas? Aku kan cuma mengutarakan isi fikiranku" kata Maurin heran
"Isi fikiranmu? Jadi di dalam fikiranmu ini ada nama pria lain?" Semakin menatap tajam dan menuding kening Maurin
Ck. Kenapa Dia jadi kaya gini si?
"Bukan gitu Mas, tapi menurut aku emang Dia pantas jadi asistenmu. Aku sudah cukup mengenalnya dan aku jamin kalau Dia bisa di percaya" jelas Maurin sengaja tidak menyebut lagi nama Firman.
"Tapi Dia juga harus cerdas Sayang, Diakan hanya menjadi... Maaf bukan maksud aku merendahkan, tapi kan Dia hanya ofis Boy" kata Daniel
"Mas, sebenarnya Firman itu lulusan sarjana. Dia juga cukup cerdas dan berbakat, namun Dia pernah bilang sama aku kalau Dia ingin memulai semuanya dari awal. Firman ingin mengetahui bagaimana rasanya menjadi seorang OB suapaya nanti Dia bisa menghargai orang orang yang bekerja seperti itu" jelas Maurin
"Sepertinya kau begitu tahu tentang nya ya?"kata Daniel tidak suka
Ck. Untung aja Dia gak bahas lagi aku yang nyebut nama Firman di depannya.
"Kitakan teman Mas, dan aku selalu cerita padanya dan Dia pun begitu. Jadi aku sedikit banyaknya tahu tentang Dia" jelas Maurin
Daniel menarik pinggang Maurin sampai tubuh mereka tidak ada jarak. Maurin sampai tersentak kaget karna ulah Daniel.
"Kau tidak menyukainya kan?"tanya Daniel menatap tajam wajah istrinya
Tentu saja aku menyukainya, tapi hanya sebagai sahabat. Tapi aku tidak mau mengatakan nya karna kau pasti salah faham lagi.
"Tidak Mas, aku hanya menganggap nya teman gak lebih" kata Maurin
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menerima tawaran mu untuk menjadikan Firman sebagai asistenku. Tapi ingat, jangan kau jadikan kesempatan untuk dekat dekat dengannya" kata Daniel tajam
Ampun deh sama sikap posesifnya.
Maurin tersenyum manis "Iya Mas, kalau gitu aku akan menghubungi Firman ya"
"Hmmm"
Maurin berlalu ke kamarnya untuk mengambil ponsel. Tidak mau kecolongan dan membiarkan istrunya telponan dengan pria lain. Daniel segera menyusul ke kamar.
Daniel berdiri di ambang pintu kamar, melihat Maurin sedang berbicara di telpon yang Daniel sudah tahu siapa yang di telpon istrinya.
"Iya jadi kamu besok datang ke rumahku. Nanti aku share lokasinya, aku udah bilang sama suamiku kok"
"Oke. Makasih ya Rin udah mau bantuin aku cari kerjaan yang lebih baik"
"Iya sama sama, kamukan sahabat aku. Dulu kamu juga sering banget bantuin aku, jadi sekarang gantian"
"Iya. Besok aku ke rumah mu"
"Hmmm"
Selesai menelpon Firman, Maurin segera mengirim alamat rumahnya pada Firman. Maurin sangat bahagia karna bisa membantu sahabatnya, yang dulu banyak sekali membantu nya.
Daniel berjalan menghampiri Maurin dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan dagunya di bahu Maurin. Mengecup beberapa kali pipi istrinya itu.
"Sayang, sudah nelpon nya? Gimana katanya?"tanya Daniel, tapi setelahnya Dia mendengus kesal mengingat istrinya baru saja menelpon seorang pria.
"Lagi" rengek Daniel
Lagi? Apanya yang lagi?
"Cium aku lagi Sayang" jelas Daniel
Hah? Dasar mesum.
Cup Cup Cup
Tidak mau suaminya merajuk lagi, Maurin memeberikan tiga kecupan di pipi suaminya.
"Terimakasih Sayang" Daniel menghujani pipi Maurin dan lehernya dengan ciuman darinya sampai Maurin tertawa geli.
...🌻🌻🌻🌻...
Pagi harinya Firman sudah sampai di depan rumah Maurin. Dia memencet bel rumah.
Ting tong
Maurin yang sedang menyiapkan makanan di atas meja untuk sarapan. Menghentikan aktifitasnya sejenak dan melangkah menuju pintu utama.
__ADS_1
"Biar saya saja Bi" kata Maurin saat melihat asisten rumah tangganya yang mau menuju pintu utama juga.
"Baik Nona"
"Bibi bantu selesaikan menyiapkan sarapan aja" kata Maurin tersenyum ramah
"Baik"
Maurin melanjutkan langkahnya menuju pintu utama. Membuka pintu, Maurin langsung tersenyum senang melihat sahabat yang di rindukan nya berdiri di depan nya sambil tersenyum.
"Hai Rin, apa kabar?"tanya Firman tersenyum
"Baik, kamu juga gimana kabarnya? Ayo masuk Man" kata Maurin
"Aku juga baik Rin" Firman mengikuti langkah Maurin masuk ke dalam rumah mewah itu.
"Wahh rumahmu besar sekali Rin" kata Firman terkagum kagum
"Rumah suamiku Man, bukan rumahku" ralat Maurin
"Sama aja kali, kan kalian suami istri" kata Firman tak mau kalah
Maurin hanya tersenyum, Bibi asisten rumah tangga datang membawa minum dan cemilan. Menatanya di atas meja, lalu kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Di minum dulu Man, aku mau ke kamar dulu liat Mas Daniel" kata Maurin yang di jawab anggukan oleh Firman
Maurin berlalu ke kamarnya, ternyata Daniel baru saja selesai memakai kemejanya dan akan memasangkan dasi. Dengan sigap Maurin segera membantu suaminya untuk memasangkan dasi dan juga jasnya.
"Terimakasih Sayang. Cup" Daniel mencium kening istrinya
"Iya Mas, oh ya di bawah ada Firman. Dia sudah menunggu Mas" kata Maurin
"Hmmm. Ayo kita ke bawah sekarang, Mama dimana Sayang?"tanya Daniel
"Mama masih di kamarnya, mungkin lelah karna perjalanan jauh kemarin. Nanti biar aku bangunin" kata Maurin
Daniel mengangguk, tangannya merangkul pinggang Maurin dan berjalan ke luar kamar.
Firman menoleh saat mendengar langkah kaki menuruni anak tangga. Ternyata sepasang suami istri yang berjalan secara bergandengan.
Firman berdiri dari duduknya saat sepasang suami istri itu sudah berada di depan nya. Mengangguk hormat.
"Selamat pagi Tuan" sapa Firman
"Hmmm. Kau sudah siap menjadi asisten ku? Dan nanti akan aku kirimkan apa saja tugasmu selama menjadi asisten ku. Aku minta email mu" kata Daniel tegas
"Baik Tuan"
Daniel langsung mengirimkan apa saja yang tugas Firman sebagai asisten nya.
__ADS_1
Bersambung