Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 10 (Berpesta)


__ADS_3

Malam bahagia di puncak kesuksesan Leon atas kerja kerasnya membangun perusahaan yang semakin berkembang membuat Leon merasa terbebani karena dirinya belum mengatakan jujur kepada kekasihnya yang selama ini menemaninya dalam suka duka di hidupnya.


Di dalam kamar Leon merasa gugup sehingga ia berkali-kali menghembuskan nafas kasar sambil bercermin di lemari.


“Aku harus siap konsekuensi atas apa yang kulakukan”, ucap kata hati Leon.


Ana, Lisa, dan lainnya sudah berkumpul di teras dekat pemandangan pantai. Mereka menikmati nuansa pesta yang diadakan di perusahaannya.


“oh ya Lis, gimana perkembangan hubungan kamu dengan Johan?”, tanya Clarisha.


“Ya__, gitu deh”, jawab Lisa dengan senyum-senyum malu.


“Ngomong-ngomong kok kalian juga ikut merayakan pesta yang sama. Padahal kita bekerja tidak sekantor”, ucap Ana.


“Kami juga gak tahu. Aku diajak Chalvien tinggal ikut”, ucap Clarisha.


“Aku diajak suamiku tinggal ikut juga”, ucap Adele.


“Begitu demikian denganku”, ucap Zella.


“Guys, malam ini kalian sadar gak sih. Sepertinya kita sedang melakukan pertemuan seperti reuni”, ucap Clarisha.


“Iya juga”, ucap Lisa dengan tawa.


Ketika mereka asyik mengobrol tiba-tiba sang MC memulai puncak malam pesta. MC mulai menyapa para tamu undangan.


“Selamat malam guys!”, dengan suara teriakan yang lantang.


“Malam ini merupakan malam yang menegangkan yang ditunggu oleh kalian. Dimana pendiri perusahaan akan menyerahkan segala aset untuk putra semata wayangnya beserta atas kerja kerasnya merebut aset hasil lelang yang diadakan di sebuah gedung nan megah”.


“Kita sambut saja Mr. Eddie pendiri perusahaan properti dan teknologi canggih”, ucap MC pria itu.


“Mari Mr. Eddie dipersilakan untuk naik ke atas panggung”.


“Mari kita beri tepuk tangan yang meriah”.

__ADS_1


“Lalu yang kedua di persilakan untuk putra semata wayang Mr Eddie naik ke atas untuk bersanding bersama ayah anda”.


Leon yang merasa terpanggil mulai gugup setengah mati. Ibunya yang berada di sampingnya mendorong Leon untuk segera naik ke atas panggung.


“Leon, cepatlah naik ke atas. Jangan sampai daddy mu menunggu kamu lama. Apalagi para tamu undangan yang menunggu kamu memberikan pidato”, ucap Laviana.


“Ya kak”, ucap Amanda dengan senyum hangat.


Setelah termakan bujukan dan dorongan dari ibunya, Leon berjalan menuju ke atas panggung dengan gagah. Ana yang berada di bawah sana melihat Leon berada di atas panggung merasa bingung dan ia tak bisa berkutik. Ana hanya memandang wajah berseri dia.


“Apakah dia seorang millioner? Apakah dia seseorang yang selama ini memimpin perusahaan dimana aku bekerja? Kenapa? Kenapa seperti ini?”, kata hati Ana.


Di saat Ana tengah kecewa dengan kebohongan Leon selama ini. Ana di kagetkan dengan tepukan dipundak. Orang itu ternyata Lisa.


“Apakah kamu merasa kecewa?”, tanya Lisa.


“...”, Ana hanya diam saja.


“Itulah dunia orang kaya yang selalu mempermainkan perasaan orang-orang seperti kita..”, jeda Lisa dengan melirik ekspresi wajah Ana yang sedih.


Ana yang mendengarkan celotehan dari Lisa membuatnya merasa bertambah kecewa. Sehingga Ana meninggalkan pesta itu sebelum mendengar pidato dari Leon.


Leon yang masih berada di podium merasa bersalah dengan Ana dan khawatir masalah hubungannya dengan Ana.


Sebelum menemui kekasihnya, Leon mempercepat pidatonya agar bisa menyusul Ana.


“Terima kasih atas kalian yang telah membantu saya mencapai puncak seperti saat ini. Selama saya masih mendapat kepercayaan dari kalian terutama daddy aku yang memimpin perusahaan bertahun-tahun, saya tidak akan mengecewakan dan bekerja lebih keras membangun perusahaan sampai penjuru negara. Saya sudahi pidato singkat ini dan nikmatilah pesta malam ini”, ucap Leon.


Setelah selesai berpidato Leon pergi meninggalkan pesta miliknya untuk menyusul gadis pujaannya namun langkah lebar Leon terhenti karena ada beberapa tamu dari ayahnya yang ingin mengucapkan selamat untuknya sehingga Leon tidak dapat langsung menyusul gadis pujaannya.


Di pinggiran pantai ada seorang wanita yang menangis dan berkali-kali mengusap air mata. Wanita itu tak berhenti menangis sampai hatinya mulai tenang. Lalu berjalan ke Villa untuk membereskan pakaian namun langkahnya terhenti karena mendengar suara berat memanggil namanya. Wanita itu menoleh ke sumber suara. Ia melihat sosok laki-laki tegap dengan ekspresi raut wajah yang sedang mengkhawatirkan seseorang. Pria itu berlari menghampirinya dengan nafas menderu. Pria itu tak lain Leon.


“Ana! Tunggu aku..”, dengan menggenggam tangan mungilnya.


“Aku...aku tahu.. kalau aku salah. Kamu de..dengarkan penjelasan aku da..dahulu..”, ucap Leon dengan ekspresi memohon.

__ADS_1


“Tak ada yang perlu dijelaskan...mari kita berhenti berhubungan. Kita anggap tidak terjadi apa-apa... dan lupakan semua yang terjadi diantara kita. Anggap saja ini mimpi buruk”, ucap Ana dengan menahan tangis.


Ana berjalan meninggalkan Leon namun langkah Ana terus dihalangi olehnya. Sekali-kali Leon mencekal lengan ana namun Ana selalu menolak dan meminta Leon menghentikan sikapnya yang seakan tidak ingin pisah dan terus memohonnya. Sampai Ana berteriak untuk meminta Leon melepaskan dirinya sambil menumpahkan tangisan yang amat kesal dan lelah atas kebohongan yang dilakukan Leon.


Leon kemudian mengalah dengan melepaskan cekalan lengan Ana dengan berat hati. Ana berjalan menjauh dari Leon menuju ke Villa. Leon memandang punggung Ana dengan nanar. Setelah Ana menjauh dan punggungnya menghilang, Leon berteriak histeris untuk menumpahkan rasa kesal dalam dirinya.


Leon berjalan melewati koridor menuju ke bar dekat Villanya.


Leon meminta bartender untuk memberinya satu botol whisky. Pelayan itu mengambilkan dan menaruh botol di depan Leon bersama gelas kecil yang diisi dengan es batu.


Lalu pelayan tersebut melayani pelanggan lainnya.


Leon menuangkan minuman itu ke dalam gelas berkali-kali dengan tatapan kosong dan ekspresi marah. Ketika dirinya tengah menyendiri, Dominic dan Jorsh menghampiri dengan duduk bersebelahan.


“Apakah ada masalah?”, tanya Dominic dengan menuangkan whisky yang diambilkan oleh pelayan bar.


“Bro, kenapa kamu meninggalkan pesta? Padahal pesta di sana sangat mengasyikkan daripada menyendiri di bar sini”, ucap Jorsh.


“Pernahkah kamu jatuh hati dengan seorang wanita?”, tanya Leon dengan pandangan mata ke depan.


“ I dont know”, jawab Dominic.


“Kalau aku tidak ingin jatuh hati kepada para wanita namun aku hanya ingin menikmati tubuh molek mereka saja karena mereka terlalu rumit untuk di pahami ketika dia sudah menjadi pasangan kita”, nimbrung Jorsh.


Leon mendengarkan ucapan Jorsh hanya mangut-mangut sambil minum whisky.


“Perempuan itu memang terlalu rumit”, monolog Leon dengan suara lirih.


Dominic yang mendengarkan perkataan Leon tersenyum sinis sedangkan Jorsh tidak mendengar suara monolog Leon karena Jorsh tengah menyapa para wanita sexy yang wara wiri.


Beberapa lama kemudian para tamu undangan kembali masuk ke dalam hotel masing-masing untuk beristirahat. Sementara Leon tengah berusaha meluluhkan hati Ana dengan berkali-kali mengetuk pintu kamar dan terus memanggil nama Ana dalam keadaan mabuk.


Ana yang berada di dalam kamar menangis, meluapkan rasa kekesalannya entah terhadap diri sendiri atau Leon. Ana tidak perduli suara ketukan yang terus mengganggu pendengarannya. Ana mencoba berbaring dengan memiringkan badannya ke arah jendela yang tertutupi tirai dengan menindih telinganya dengan bantal agar dirinya dapat bangun lebih pagi untuk meninggalkan Bali dan menjauh dari Leon.


Leon yang berada di luar kamar tengah tertidur akibat lelah menangisi pujaan hatinya yang menjauh.

__ADS_1


Leon benar-benar menyesal atas kebohongannya dari awal meskipun Leon tak bermaksud untuk menyakiti Ana dengan identitas keberadaan dirinya. Leon memiliki alasan untuk berbohong kepada pujaan hatinya karena Leon tidak ingin dikecewakan oleh seorang wanita yang hanya memanfaatkan harta miliknya. Dia hanya ingin mendapatkan cinta yang tulus. Leon tidak bermaksud menganggap Ana merupakan wanita matre. Leon hanya ingin memastikan ketulusan hati dari wanita yang pertama kali ia temui di cafe.


__ADS_2