
Pada saat Ana tengah memandang ombak lautan pantai dalam kesendirian tiba-tiba Ana mendengar suara yang ia kenal berulang kali untuk memastikan.
“Ana!”
“Ana!”
“Ana!”
Teriak Lisa berulang kali yang pada akhirnya Ana menoleh dengan mata terbelalak sambil mengusap matanya untuk memastikan bahwa matanya benar-benar melihat teman-temannya yang tengah melambaikan tangannya sampai mereka telah mendekatinya.
“Lisa!”, panggil Ana dengan bingung.
“Iya, aku Lisa dan disebelah aku Adele dan Clarisha”, ucap Lisa.
“Kalian datang bersamaan?”, tanya Ana.
Lisa, Adele, dan Clarisha menganggukkan kepala.
“Iya, kami datang bersama menyusul kamu”, ucap Clarisha.
“Oh my god, aku kira kalian itu hanya bayangan aku yang sudah lama di sini karena sepi pengunjung”, ucap Ana dengan perasaan lega.
“Kenapa bisa sepi pengunjung?’, tanya Lisa.
“Entahlah Lis, Leon tidak memberitahuku. Dia hanya menarik lenganku terus tiap kali aku bertanya dengannya”, ucap Ana.
“Aku menduga kalau Leon telah menyewa satu pantai bali di sini”, ucap Lisa.
“Iya An. Aku juga curiga begitu. Mungkin Leon ingin menghabiskan waktu bersama dengan kamu di sini dengan waktu lama. Jadi, dia menyewa pantai kuta ini dengan penuh”, ucap Clarisa.
“Gak mungkin, Leon itu hanya karyawan biasa. Mana mungkin mampu menyewa satu pantai du kuta ini”, ucap Ana yang tidak percaya dengan dugaan teman-temannya.
“Yaudahlah, yang penting sekarang kita berkumpul dan menikmati pantai ini dengan bersenang-senang”, ucap Adele.
“Benar juga”, ucap Lisa.
“Yuk kita ganti pakaian dengan memakai bikini”, ajak Clarisa.
“Iya. Ayo An, biar kita bisa menggoda para pria yang akan haus dengan tubuh molek kita”, ucap Lisa dengan tertawa.
“Ayolah An, jangan banyak bingung dan mikir”, ucap Clarisa menarik tangan Ana.
Di jalan raya tengah perkotaan sedang terjadi keroyokan antar geng motor dari kalangan anak remaja, dewasa sampai anak jalanan pun ikut berpartisipasi dalam keroyokan. Tawuran itu terjadi karena kecurangan antar geng motor sehingga mereka saling beradu jotos. Polisi yang menangani aksi mereka mulai kewalahan sampai polisi turun tangan dengan menggunakan gas air mata agar tawuran dapat dibubarkan hingga mengarahkan senjata api ke atas.
Vita yang ikut tawuran berlari bersama Reino menuju ke tempat persembunyian terdekat agar tidak tertangkap.
Wartawan yang berada di tengah keributan harus waspada agar tidak mengalami luka dan terlibat langsung perkelahian antar geng motor.
Vita dan Reino terus berlari untuk menghindari kejaran polisi. Reino menemukan tempat persembunyian dengan menarik tangan Vita sebelum polisi mendekat.
Vita dan Reino bersembunyi di sebuah garasi bengkel milik pak Toman.
Polisi melewati garasi bengkel milik pak Tomang dan menghampirinya.
“Permisi pak, kami dari kepolisian untuk bertanya kepada anda”, ucap polisi itu.
“Mau tanya apa pak?”, tanya pak Tomang.
__ADS_1
“Apakah anda melihat anak-anak geng motor lewat sini?”, tanya pak polisi.
“Saya melihat mereka uhmmm..”, jeda pak Tomang.
Vita dan Reino yang berada di dalam bok kardus besar merasa kurang nyaman karena harus berhimpitan dan udara kurang masuk.
“Mereka lari ke arah sana”, tunjuk pak Tomang.
“Apakah anda yakin? “, tanya polisi itu.
“Ya, saya melihatnya”, jawab pak Tomang.
“Kalau begitu terimakasih atas kerjasama anda”, ucap polisi itu.
Kedua polisi berlari ke arah jalan yang ditunjuk oleh pak Tomang. Pak Tomang memandang punggung polisi itu semakin jauh lalu pak Tomang memberikan kode mereka untuk keluar karena telah aman. Vita dan Reino keluar dari kardus itu dengan perasaan lega sambil membuang nafas kasar.
“Syukur deh, polisi tidak menyadari gelagat pak Tomang”, ucap Reino.
“Ck, kamu meragukan saya”, ucap pak Tomang.
“Iya nih Reino”, dengan memukul kepala Reino sehingga membuatnya mengadu sakit.
“Kamu itu harusnya percaya dengan pak Tomang yang sudah melindungi kita dari kejaran polisi”, ucap Vita.
“Iya, iya, aku percaya”, ucap Reino dengan bibir manyun.
“Sudah gak perlu bertengkar, sekarang kalian sudah aman. Kalian mau langsung pulang atau mau ngopi dulu..karena sudah lama kalian tidak mampir ke bengkel”, ucap pak Tomang dengan menawarkan minuman.
“Makasih pak, aku harus kembali. Aku hari ini banyak pekerjaan sekolah yang harus saya selesaikan. Kalau Reino mungkin banyak waktu luang”, ucap Vita.
“Enak aja, aku juga memiliki pekerjaan mengurus nyokap aku yang akhir-akhir ini terus mengomel”, ucap Reino.
“Ya sudah, kalian hati-hati di jalan”, ucap pak Tomang.
“Sekali lagi makasih ya pak”, ucap Reino dengan berjalan beriringan bersama Vita.
Vita kembali ke apartemennya. Ketika membuka pintu tiba-tiba disuguhkan tatapan tajam dari Cha Jinwoo yang membuat Vita nyengir sambil menggaruk pantat tidak gatal.
Vita menyapa dengan menampakkan senyuman.
“Hai oppa”.
“Kapan Oppa datang?”
“Apakah oppa sudah selesai dengan urusan kerja sama dengan perusahaan?”
Vita yang hanya di pandang dengan tatapan dingin mencoba mendekati Jinwoo dan merangkul lengan Jinwoo yang duduk di sofa.
“Kamu dari mana saja?”, tanya Jinwoo dengan ekspresi masih datar.
“A..aku habis pulang se..kolah”, jawab Vita dengan senyum.
“Tapi, kenapa wajahmu lebam dan lutut kaki kamu berlumuran darah”, tanya Jinwoo.
“Ini..”, tunjuk Vita di bagian wajah yang lebam. Jinwoo menganggukkan kepala.
“Ini itu...”
__ADS_1
“Busyet deh, aku harus jawab apa? Aku bohong ketahuan gak bohong sama aja aku kena ceramah dan omelan darinya yang terkadang aku sulit mengerti”, batin Vita dengan mata tertutup.
“Vit, jawab’, geram Cha Jinwoo.
“Iya, aku jawab”, dengan menarik nafas dalam-dalam.
“Aku sebenarnya habis ikut membela keadilan bersama teman-temanku”, ucap Vita.
“Keadilan apa?”, tanya Jinwoo.
“Ya keadilan atas..”, jeda Vita dengan memikirkan sesuatu yang tepat agar tidak kena marah dari Cha Jinwoo.
Jinwoo setia menunggu jawaban Vita tetapi tak kunjung ada jawaban sehingga Jinwoo membantu menjawab kalau Vita ikut tawuran. Vita mendengar ucapan Jinwoo tak bisa berkutik sampai dirinya hanya menggaruk tengkuk tidak gatal sambil unjuk gigi.
Jinwoo berdecak dengan tatapan sinis sambil memijat kening yang pusing. Vita yang berada di samping Jinwoo hanya pasrah saja. Lalu Jinwoo menyuruh Vita untuk membersihkan diri dan Vita patuh yang dikatakan oleh Jinwoo. Vita langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian bermain di luar.
Sedangkan Jinwoo sedang membuat sarapan untuk Vita dan dirinya. Jinwoo berkutat membuat soup ayam dengan berbahan dasar tahu, daun bawang, bawang putih, bawang goreng, kaldu dan kimchi sebagai pelengkap soupnya. Lalu Jinwoo membuat minuman simpel. Jinwoo membuat jus strobery.
Tak butuh waktu lama Jinwoo menyelesaikan semua hidangan bersamaan dengan Vita keluar dari kamar.
Vita mencoba memecahkan situasi tak enak dengan memuji masakan dari Jinwoo.
“Wow, oppa baunya harum. Pasti ini dibuat dengan susah”, puji Vita.
“Tidak”, ucap Jinwoo yang masih marah.
“Ok, tapi tetap saja masakan oppa itu enak dan susah”, ucap Vita dengan mengambil sendok dan menyeduh lalu memakannya sambil mangut-mangut.
“Oppa..”, lirih Vita.
“Apa kau marah?”, tanya Vita dengan kepala menunduk.
“Jika aku marah, apakah kamu akan berubah menjadi gadis yang baik?”
Vita menegakkan kepalanya dengan senyum sambil menunjukkan giginya dan menggelengkan kepala.
“Aku tidak bisa menghindari dunia aku semenjak aku di tinggal oleh mereka”, ucap Vita.
“Baiklah, aku mengerti yang kau alami. Paling tidak ketika kamu terluka harusnya kau pergi ke dokter untuk obati lukamu”, ucap Cha Jinwoo.
“Iya oppa. Gomawo”, ucap Vita dengan beranjak dari tempat duduknya sambil memeluk Jinwoo.
“Yahh..”, teriak Jinwoo dengan menyentil dahi Vita dan ia mengadu sakit.
“Auchh.. Oppa harusnya tidak menambah luka di dahiku”, ucap Vita dengan memanyunkan bibir.
“Makanya kalau kamu tahu rasa sakit besok lagi hati-hati dan jangan sampai terluka bodoh”, ucap Jinwoo dengan mengusap bibir dengan kain lalu beranjak dari tempat makan dan menarik tangan Vita yang tengah menyendok soup membuat Vita kaget sehingga soup yang disendok tumpah ke lantai. Lalu Vita protes, “Oppa apaan sih!, aku kan masih lapar dan belum menghabiskan soup yang kamu buat”, ucap Vita.
Jinwoo tidak menggubris ucapan Vita dan ia menyuruh Vita duduk lalu meninggalkan dia sendiri di ruang TV mengambil kotak P3K.
Kemudian Jinwoo kembali dan menyuruh Vita mendekat namun Vita bingung dan membuat Jinwoo harus menarik lengan gadis itu untuk memberinya obat pada wajah yang penuh dengan lebam sambil mengomel.
“Lihatlah wajahmu ini. Wajahmu sudah hampir tidak berbentuk apabila kamu berkelahi terus. Kecantikan wajah kamu akan pudar. Apa kamu tidak malu?”, dengan menekan luka Vita yang mengakibatkan Vita mengadu sakit.
“Jika kamu tahu kalau itu sakit, harusnya kamu sudah berhenti berkelahi dan hidup sebagai seorang gadis yang anggun”, ucap Jinwoo sambil menarik kakinya yang terluka sampai akhirnya selesai mengobati luka-luka yang ada di beberapa bagian tubuhnya.
Di Bali Ana, Lisa, dan sahabat-sahabatnya menikmati ombak pantai dengan tawa. Sementara Leon, Dominic, Lucas, dan beberapa sahabatnya menikmati pemandangan para wanita yang asyik bermain dengan ombak di pantai. Kebahagiaan itu terpancar di wajah Leon juga lainnya.
__ADS_1
Mereka menikmati liburan dengan berbagai permainan dari main bola voli, selancar, dan lain-lain dengan bersorak.
Senja sore hari telah tiba. Mereka bubar dan kembali ke penginapan untuk bersiap menyambut pesta meriah di malam puncak Leon mengumumkan pemindahan alih perusahaan yang telah lama diemban oleh ayahnya dan kemenangan atas kerja kerasnya mengabdi sebagai CEO di perusahaan