Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 17 (Perpisahan yang Menyedihkan)


__ADS_3

Pagi pukul 07.00 Vita telah bersiap untuk meninggalkan tempat milik halmonie yang selama ini menampung dirinya sambil bermonolog dengan mengatakan, “oppa, aku tahu kalau kamu terpaksa. Aku akan menghargai keputusan kamu. Apabila hatimu merindukan aku dan ingin kembali kepadaku. Aku akan menerima dengan tangan terbuka dan memberikan pelukan hangat untukmu. Makasih atas segalanya yang kau berikan untukku. Good bye oppa”.


Vita keluar dari kamarnya dan menemui halmonie yang berada di ruang tamu. Vita menatap mereka satu persatu dengan tatapan sedih. Yoora dan Naeun tidak bisa menahan air mata sehingga mereka menangis berpelukan.


Vita menarik nafas lalu menghampiri halmonie yang menahan air mata untuk melepaskan Vita dari kehidupan keluarganya.


“Halmonie, maaf. Aku tahu saat ini halmonie membenciku. Aku hanya bisa berkata maaf telah menyakiti putrimu.. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan terindah saat bersama halmonie yang telah memberiku kasih sayang layaknya cucumu. Makasih untuk semuanya”, ucap Vita yang tak bisa menahan air mata. Kesedihan itu juga dirasakan oleh Jinwoo yang mengintip dari jauh balik pohon.


Vita bergeser menghampiri Minwoo dan istri serta putrinya.


“Oppa, makasih. Aku sangat menyayangi kalian. Makasih atas kebaikan kamu. Tenang saja, aku akan selalu membuka lebar untuk kita bisa bertemu dimanapun. Aku tak akan dendam denganmu atas kata-kata kasar yang kemarin kamu lontarkan. Aku tidak bisa mengelak semua perkataan itu. Tapi, dari lubuk oppa itu hanya kebohongan untuk dapat mengusirku agar aku tidak kembali lagi ke sini atas permintaan Jinwoo. Aku akan terima itu. Semoga oppa dan Jinwoo selalu bahagia”, ucap Vita.


Vita berlanjut ke Yoora dan Naeun untuk perpisahan.


“Unnie, Naeun, aku sayang kalian.Aku tidak akan melupakan kalian yang telah mengisi kekosongan hidupku meski kita sering berdebat dan bertengkar masalah kecil dan membuat kita tertawa”, ucap Vita lalu memeluk mereka dengan tangisan histeris. Kemudian Vita melepaskan pelukkan perpisahan dan mengatakan good bye dengan tangan melambai. Para tetangga yang pernah dekat dengan Vita menghampiri dan memeluknya. Mereka juga memberikan makanan untuk Vita dibawa ke Indonesia sebagai oleh-oleh. Setelah itu Vita masuk ke dalam taxi dengan melambaikan tangan.


Minwoo menatap taxi itu menjauh dengan berdoa dalam hati untuk Vita.


“Maafkan oppa yang berkata kasar dan menyakiti hatimu. Semoga kamu tetap bahagia dengan kehidupan kamu sekarang dan seterusnya. Semoga kamu mendapatkan orang-orang yang mencintaimu dengan tulus”.


Jinwoo yang berusaha bersembunyi juga mendoakan untuk kehidupan Vita dalam hati.


“Maaf. Oppa tidak bisa bersama kamu untuk selamanya. Aku berharap kamu tetap ceria, kuat, dan tersenyum. Semoga kamu terus bahagia dan bertemu orang-orang yang tulus menyayangimu”.


Setelah taxi itu menghilang. Jinwoo kembali di kediaman Cha dengan kehidupan seperti neraka yang membuat nafasnya selalu pendek dan melelahkan demi ibunya.


Vita telah sampai di bandara Soetta setelah beberapa jam duduk di pesawat. Ia berjalan menuju ke tempat parkiran. Lalu langsung melesat ke apartemen dengan taxi online. Vita duduk dengan tatapan kosong sampai tidak terasa kalau dirinya telah tiba di sebuah apartemen miliknya.


Vita melemparkan tubuhnya ke atas kasur setelah sekian lama perjalanan yang ditempuh lalu menutup mata dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari pelupuk mata dengan memeluk gulingnya.


Di ruang tengah Ana sedang ketawa bersama Lisa. Mereka menertawakan sebuah film komedi yang konyol tanpa henti memberikan gelak tawa kepada penontonnya yang melihat. Di saat mereka asyik tertawa tiba-tiba ada bunyi bel rumah dan mereka merasa terganggu sehingga Lisa dan Ana saling melempar untuk membukakan pintu. Lalu sampai akhirnya Ana mengalah membuka pintu tersebut. Ana terkejut kedatangan tamu diantaranya Leon, Johan, Dante, Alena, Lucas, Chalvien, dan Clarisha. Clarisha menyapa Ana dengan melambaikan tangan.


“Hai An”.


Ana menyuruh mereka masuk dan menutup pintu. Sebelum melangkah menyusul para tamu, Ana menghembuskan nafas dalam-dalam karena Ana tidak begitu suka kondisi saat ini kedatangan para tamu terutama Leon. Namun Ana harus menyembunyikan perasaan ketidaksukanya terhadap Leon di depan para tamu yang dianggap sebagai seorang teman.


“Guys, kalian mau minum apa?”, tanya Ana.


“Terserah kamu saja”, ucap Alena.


“Oh ok. Saya ambil minum dahulu”, ucap Ana melangkah berjalan ke dapur. Sebelum berbelok ke dapur Ana menghampiri Lisa dengan berbisik bahwa tamu yang datang adalah teman-temannya sekaligus pacar Lisa. Lisa kegirangan kedatang kekasihnya. Saat Lisa akan melangkah menuju ruang tamu Johan terlebih dulu menghampiri dirinya ke ruang tengah bersama Chalvien, Clarisha, Leon, Dante,dan Lucas.


Lisa menyapa mereka dengan senyum hangat.


“Hallo semuanya”.


“Hai Lisa”, ucap Clarisha dengan menghampirinya dan memeluk Lisa dengan rasa senang. Begitupun dengan Lisa.


“Hemm, hemm”, suara deheman dari Alena yang membuat mereka melepaskan pelukan.


“Maaf aunty mengganggu acarapelukan kalian. Aunty mau menaruh belanjaan dimana ya?”, tanya Alena.

__ADS_1


“Oh ya, mana biar Lisa bantu”, ucap Lisa menawarkan diri.


“Mari duduk aunty dan semuanya. Lisa akan bantu Ana dahulu menyiapkan camilan dan minuman”, ucap Lisa.


“Aku akan ikut membantu”, tawar Clarisha.


“Kalau begitu ayo”, ajak Lisa.


Clarisha membantu membawakan belanjaan ke dapur bersama Lisa. Sampai di dapur Lisa dan Clarisha menaruh belanjaan di meja lalu membantu Ana menyiapkan camilan dan minuman.


“Ana, apakah minuman ini boleh aku bawa keluar?”, tanya Clarisha.


“Tentu. Sementara aku dan Lisa menyiapkan camilan dahulu”, ucap Ana.


Setelah kepergian Clarisha Ana bertanya kepada Lisa dengan penuh kecurigaan.


“Lisa, apakah kamu yang membuat ide pesta lagi?”, tanya Ana dengan memincingkan matanya.


“Se..sebenarnya aku membantu Clarisha. Dia terus memohon untuk meminjam tempat buat syukuran makan bersama di rumah ini”, ucap Lisa.


“Emangnya kita harus meminta persetujuan dahulu ama Vita ya?”, tanya Lisa dengan menggaruk tengkuk tidak gatal.


“Tidak juga karena Vita sudah membebaskan kita untuk menggunakan rumahnya buat pesta meski syaratnya kita harus izin dengan pak Rt sebagai pemimpin kompleks ini”, ucap Ana.


“Kami sudah minta izin”, sela Clarisha yang baru kembali setelah meletakkan minumannya ke ruang tengah.


“Syukurlah. Jangan sampai kita menyusahkan pemilik rumah ini. Kami di sini sebagai penyewa bahkan tak sepenuhnya. Bukannya aku membatasi hanya saja aku merasa gak enak atas kebaikan Vita selama ini”, ucap Ana dengan sedikit meringis.


“Syukurlah”, ucap Ana.


“Aku mengadakan pesta sederhana dan tidak menggunakan arena belakang. Hanya acara makan bersama seperti keluarga”, ucap Clarisha.


“Sudahlah, kita hari ini bersenang-senang karena sebentar lagi Clarisha bakal menjadi ibu begitu juga dengan Adele”, ucap Lisa.


“What!”, terkejut Ana.


“Jadi yang hamil dua wanita sekaligus. Itu kabar yang mengejutkan dan membahagiakan”, ucap Ana dengan ekspresi senang dan tak lupa mengucapkan selamat kepada Clarisha dan memeluknya.


Sore berganti menjelang malam satu persatu berdatangan ke rumah Vita dengan ekspresi bahagia seperti halnya reuni. Sementara pemilik rumah sedang kejar-kejaran dengan polisi karena tawuran antar geng motor yang dipicu adanya kecurangan dalam balapan yang dilakukan oleh geng raider. Vita terus menancapkan gas sampai ke sebuah gubuk bersama Reino. Vita dan Reino mengganti plat motor agar polisi terkelabui. Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang sampai di rumah Vita yang paling dekat.


“Vit, aku turunin kamu di rumah ini gak apa-apa kan? Sebab jarak rumah kamu dengan arena balap searah”, ucap Reino.


“Iya, gak apa-apa. Thank’s”, ucap Vita.


“Aku pergi dulu karena nyokap meminta aku pulang cepat. Sampai ketemu besok”, ucap Reino.


“Iya”, ucap Vita.


“Jangan lupa obati tuh luka wajah dan kaki kamu. Besok uangnya kita bagi-bagi”, ucap Reino.


“Cepatlah pergi. Jangan banyak bawel. Nanti ibumu ngomel-ngomel dan hubungi aku akibat ulahmu sendiri”, ucap Vita.

__ADS_1


“Iya. Bye Vita!”, teriak Reino dengan menancapkan gas.


Vita memasuki rumah melewati gerbang dan satpam bernama Agus menghentikan langkahnya.


“Vita! Vit!”, panggilnya.


“Ya, ada apa?”, tanya Vita.


“Ada kiriman paket. Sepertinya itu berisi buah-buahan dan seafood”, ucap pak Agus.


“Oh ya, dari siapa?”, tanya Vita.


“Entahlah. Tapi ada suratnya kok Vit”, ucap Agus.


“Baiklah. Biar aku lihat nanti di kamar. Sekarang aku bawa masuk dahulu paketannya”, ucap Vita.


“Sebelum aku bawa masuk makanan ini. Pak Agus boleh mengambil buah-buahan dan seafood dalam box sebanyak mungkin seperti biasa. Setelah itu aku bawa masuk”, lanjut Vita.


“Baiklah”, ucap Agus.


Setelah Agus mengambil hak-nya. Vita membawa masuk paketan tersebut dengan menggunakan troli pengangkut barang dan melangkah berjalan menuju rumahnya yang terlihat ramai.


Vita tak perduli dengan keramaian di rumah miliknya. Ia tetap terus berjalan melewati para tamu milik Ana dan Lisa. Mereka menatap Vita tetapi Vita tak peduli. Vita membawa paketan miliknya ke dapur. Di dapur Vita bertemu dengan Ana. Ana menanyakan kabar Vita yang tidak pulang.


“Vit, kamu dari mana saja?”, tanya Ana.


“Aku habis menjelajah”, senyum singkat Vita.


Ketika akan melangkah Lisa mulai heboh memanggil diri Vita.


“Vita!”, teriak Lisa dengan memeluk Vita meski hanya basa basi.


“Kenapa dengan wajah dan lututmu?”, tanya Lisa.


“Habis kesandung”, jawab Vita dengan singkat dan pergi meninggalkan kerumunan di rumahnya menuju kamar.


“Vita! Ikut bergabunglah!”, teriak Lisa namun Vita tidak mengindahkan dan tetap pergi melangkah ke arah tangga lalu tiba-tiba ada tangan kokoh bertengger di lengan miliknya. Vita menoleh dan melihat tatapan mata elang itu. Ia menyuruh Vita untuk bergabung tetapi lagi-lagi Vita menolak dan meminta untuk di lepaskan. Akan tetapi tangan kokoh masih betah bertengger dan menanyakan luka-luka yang ada di sekitar tubuh dan wajahnya.


“Apakah kamu menghilang dan setiap kali pulang membawa luka-luka itu?”, tanya Lucas.


“Ini bukan urusan anda. Apalagi saya tidak mengenal anda. Jangan sok kenal”, ucap Vi dengan menghempaskan tangan kokoh itu dari lengannya. Lalu Vita berjalan pergi. Alena dan Thomas melihat putranya sedang berinteraksi terheran sebab mereka tidak pernah dekat. Semakin lama Alena merasa kalau Vita itu mirip dengan alm. Monica.


Vita langsung berganti pakaian dan memberikan koyok di bahunya lalu mengobati luka-luka diwajah dan lutut. Setelah selesai mengobati semua luka Vita menghempaskan diri ke kasur dengan pikiran melayang sambil bertanya keadaan Jinwoo dalam hati.


“Oppa semoga kau bahagia di sana”.


“Aku akan mendoakan kebahagiaan oppa di sana. Apapun oppa putuskan aku selalu mendukungmu”.


Lalu Vita memenjamkan mata dengan memeluk boneka besar yang diberikan Jinwoo.


Sementara di bawah Lucas sangat tidak suka dengan sikap Vita. Lucas menyesap wine untuk menghilangkan rasa jengkelnya. Lalu ikut bergabung dengan teman-temannya.

__ADS_1


Mereka menikmati dengan bergurau. Sedangkan Leon terus memandang Ana dari sudut dengan tatapan rasa rindu. Ana yang merasa di pandang menatap Leon lalu mengalihkan pandangan ke teman-temannya yang tengah mengobrol. Leon tersenyum miring melihat sikap Ana yang terus acuh tak acuh membuat Leon merasa dipermainkan oleh gadis itu.


__ADS_2