
Vita membaca isi surat yang ditinggal oleh Jinwoo.
Isi surat:
Dear Vita
Hai Vit, apa kabarmu?
Aku sangat merindukan kamu. Aku tidak bisa melupakan kamu. Kenangan dalam memori adalah kenangan yang terindah. Apakah kau melihat langit yang cerah?
Jika kamu saat ini sedang memandang langit aku harap kamu bisa merasakan hatiku saat ini.
Di malam yang sunyi dan dingin ini aku merasa kesepian. Rasa sepi dalam hidupku ini terasa menyakitkan bagi seorang Jinwoo yang sendirian. Aku menulis ini sungguh konyol hahaha.
Vit!
Aku sangat terima kasih kepadamu yang sudah mengisi hari-hari dalam hidupku. Aku bahagia ketika bersamamu. Apalagi kamu selalu membuatku terus tertawa dengan tingkah konyolmu.
Terima kasih.
Vit!
Maaf apabila aku tidak memenuhi janjiku untuk selalu di sampingmu. Aku harap sikapmu tetap Vita yang dulu. Tetaplah tersenyum dan tertawa. Kamu terlihat cantik saat seperti itu.
Di musim semi kemungkinan aku tidak bisa selalu bersamamu sampai musim semi berakhir.
Maaf,oppa meninggalkan kamu. Jangan salahkan kamu ketika oppa tidak ada di sampingmu. Oppa memberikan sesuatu untuk selalu menemanimu ketika kamu sedih. Meski oppa pergi jauh tapi oppa selalu di sampingmu.
Terima kasih Vita.
Jinwoo untuk Vita.
Setelah membaca isi surat Vita menangis histeris dengan memukul dadanya yang terasa sesak. Tangisan Vita juga dirasakan oleh Minwoo dan halmonie.
“Aigooo”, ucap halmonie dengan meneteskan air mata sambil memukul dadanya.
Di kediaman Cha Gildeon, Park Shin melakukan aksinya yaitu membuka brangkas milik suaminya. Ia mengambil haknya yang harus dia miliki dengan mematikan CCTV. Lalu di pagi buta Park Shin meninggalkan kediaman Cha Gildeon ke rumah halmonie dengan sang sopir pribadinya.
Park Shin di dalam mobil sedang menghubungi seorang wartawan untuk menyebarkan video perselingkuhan dan data korupsi Cha Gildeon namun setelah perceraiannya di proses. Wartawan itu merupakan teman seangkatan Park Shin yang bertahun-tahun mendedikasikan dirinya sebagai wartawan yang selalu mengambil berita kontroversial lewat chat.
Setelah menyelesaikan rencananya, Park Shin menghembuskan nafas kasar lalu matanya mengalihkan pandangan keluar melihat lampu-lampu yang menyoroti setiap perjalanan dirinya.
Beberapa lama kemudian Park Shin telah sampai di pelataran halmonie dengan menarik nafas dalam.
Lalu Park Shin berjalan dengan menarik dua koper setelah memerintahkan sopirnya itu kembali kediaman Cha Gildeon. Park Shin mengetuk pintu.
“Eomma!”
“Eomma!”
“Eomma! Cepat bukain pintunya. Di luar sangat dingin!”, teriak Park Shin.
__ADS_1
Suara teriakan terdengar di telinga seluruh orang di rumah halmonie yang tengah terlelap beristirahat. Halmonie melihat jam weakernya yang masih menunjukkan pukul 04.00 begitu juga yang dilakukan Yoora dan Minwoo.
Halmonie, Minwoo, dan Yoora beranjak dari tidurnya. Mereka terkejut kedatang Park Shin yang sudah duduk setelah dibukain oleh Vita.
“Aigoo, kenapa di pagi buta sudah ribut Park Shin?”, tanya halmonie.
“Aku akan menjawab setelah minum air hangat untuk meredakan rasa dingin di sekujur tubuhku ini”, ucap Park Shin.
Vita keluar dari dapur membawakan air hangat untuk Park Shin. Park Shin meneguk air hangat dengan hembusan nafas seolah air itu menyegarkan dirinya.
“Eomma, kenapa bawa dua koper?”, tanya Minwoo yang sudah tidak sabar mendengar cerita Park Shin.
“Eomma..”, dengan menarik nafas dalam-dalam.
“Eomma, diusir oleh Cha Gildeon”, jawab Park Shin.
“Apa?!”, kaget Minwoo.
“Aigoo, kamu putriku yang bodoh. Kamu gak pernah mendapatkan keberuntungan. Kamu selalu saja tertipu entah masalah bisnis ataupun kehidupan rumah tanggamu. Eomma, merasa tidak bisa memberikan keberuntungan untukmu. Aigoo”, sedih halmonie. Park Shin menghampiri ibunya yang menyalahkan diri atas kurang beruntung hidupnya.
“Eomma! Jangan berkata begitu. Putrimu akan beruntung setelah proses perceraian ini selesai. Jangan salahkan dirimu”, ucap Park Shin memeluk tubuh ibunya. Halmonie membalas pelukan itu dengan memukul punggung Park Shin. Park Shin mengadu sakit.
“Eomma!”, teriak Park Shin.
“Halmonie harusnya bersyukur karena eomma kembali sedia kala sebagai putrimu yang nakal dan manja”, ucap Minwoo.
“Dengarkanlah ucapan cucumu”, kata Park Shin.
“Apakah ada kamar kosong untukku eomma?”, tanya Park Shin.
“Tidak apa-apa. Aku bisa sekamar dengan putriku”, ucap Park Shin mengalihkan pandangan kearah Vita dengan senyum dan mengedipkan mata satu. Vita tersenyum dengan kebaikan Park Shin yang telah berubah.
“Ahhhh.., nyamannya kembali ke rumahku sendiri”, ungkap Park Shin dengan dengan senyum.
“Mumpung kalian sudah bangun, bagaimana kalau kita bercocok tanam dan mengambil hasil panen untuk makan pagi dan pesta setelah aku resmi menjanda?”, tanya Park Shin.
“Itu akan sangat melelahkan eomma. Tapi! Kita bisa menikmati itu dengan canda ria!”, seru Yoora.
“Ommo, ommo, menantuku sudah mulai akrab denganku. Itu sangat bagus”, ucap Park Shin.
“Ommonie!”, panggil Yoora dengan menghampiri Park Shin dan memeluk.
“Ommonie! Aku juga ikutan dong”, seru Vita.
Ketiga wanita saling berpelukan membuat hati halmonie terenyuh begitupu Minwoo. Minwoo berterimakasih kepada adiknya yang telah membantu membuka hati yang keras ibunya. Rasa bahagia tidak bisa tergantikan dengan apapun di keluarga Park.
Mereka pergi bercocok tanam dengan tawa yang terulas di wajah keluarga Park yang sudah mulai akur dan berkumpul bersama. Naeun dan Yoora yang biasanya takut dengan sikap Park Shin kini berani menjahili sampai Park Shin terjatuh ke lumpur. Lalu Park Shin menjahili mereka balik sampai para tetangga ikut merasakan senang setelah keributan yang dibuat Park Shin.
Dalam perjalanan pulang Park Shin terus menyapa tetangganya dan teman-teman di desa dengan wajah berseri dan ekspresi ramah membuat orang-orang tidak percaya.
Pukul 07.00 semua orang sudah terlihat sedih lalu sarapan bersama dengan saling memuji masakan yang dibuat oleh masing-masing orang di rumah halmonie.
__ADS_1
“Slruppp, ahh.. Sangat lezat di santap dan melegakan tenggorokan setelah lama tidak aku nikmati”, ucap Park Shin.
“Iya halmonie”, ucap Naeun.
“Aigoo, cucuku yang malang. Maafkan aku yang sudah membuatmu tidak bisa bernafas lega”, ucap Park Shin dengan mencubit kedua pipi Naeun.
“Eomma, kapan surat perceraian di serahkan?”, tanya Vita.
“Pukul 10.00”, jawab Park Shin.
“Apakah perlu aku temani?”, tanya Minwoo.
“Tidak perlu. Kamu harus mengantar saja. Eomma bisa urus sendiri. Kamu hanya mengantar lalu ajak kedua putriku dan cucuku berkeliling ke supermaket untuk pesta nanti malam”, ucap Park Shin.
“Baiklah”, ucap Minwoo.
“Aku juga akan ikut mengantarmu”, nimbrung halmonie.
“Ya eomma. Aku sebagai putrimu sangat senang hati”, ucap Park Shin dengan diliputi tawa dan diikuti orang-orang sekitarnya.
Pukul 10.00,Park Shin berdandan dan menghembuskan tarikan nafas sambil mengatakan dalam hati, “Jinwoo eomma. Eomma akan menembus dosa-dosa semua yang telah ku lakukan kepadamu maupun Minwoo. Eomma akan menjaga Vita selayaknya putriku. Kamu gak perlu khawatir”.
Jiwa Jinwoo tersenyum di belakang Park Shin yang tidak terlihat dengan berkata, “aku percaya dengan eomma sudah memaafkanmu”.Park Shin keluar dari kamar dengan di sambut senyuman hangat dari orang-orang terdekatnya yang pernah dia benci.
“Eomma sudah siap”, ucap Park Shin.
“Halmonie fighting!”, seru Naeun.
“Fighting!”, seru Minwoo, Yoora, dan Vita.
“Semangatlah, tegakkan badanmu”, ucap halmonie dengan menepuk punggung Park Shin.
Kemudian mereka berangkat dengan mobil sewa menuju seol. Perjalanan yang di tempuh memakan waktu yang lama sampai ke gedung pengadilan. Sampai di pelataran gedung tepat pukul 10.00 mobil yang di sewa Minwoo telah tiba. Park Shin turun dari mobil yang dibukakan oleh Minwoo dan diikuti lainnya. Cha Gildeon melihat Park Shin dan keluarganya akur berdecak dengan ekspresi tak senang. Park Shin tersenyum sinis melihat Cha Gildeon dengan wajah yang menyebalkan dan penuh dosa. Park Shin berpamitan kepada keluarganya lalu berjalan melangkah masuk ke gedung pengadilan dengan mendengar suara teriakan dari anak-anaknya dan cucu satu-satunya menambahkan semangat dalam diri Park Shin. Park Shin berjalan melewati Cha Gildeon yang ingin mencemooh Park Shin tetapi Park Shin mengacuhkan sehingga Cha Gildeon kesal dengan menghembuskan nafas sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Sementara Minwoo membawa mereka memasuki area market. Minwoo dan Yoora memilih bahan makanan sedangkan Vita, halmonie, dan Naeun memilih makanan ringan dan lain-lain.
“Ahjumma, kita cari premen cokelat yuk”, ajak Naeun.
“Menurut halmonie bagaimana?”, tanya Vita.
“Antarkan dia. Aku akan cari tempat istirahat”, ucap halmonie.
“Kalau begitu aku dan Naeun akan antar halmonie ke tempat istirahat baru kami cari makanan ringan. Jika ada makanan yang ingin halmonie mau, katakanlah. Aku akan carikan”, ucap Vita.
“Baiklah”, ucap halmonie.
Naeun dan Vita mengantarkan halmonie ke tempat istirahat setelah itu mereka mencari makanan ringan dan makanan yang diinginkan halmonie.
Beberapa lama kemudian mereka sudah menyelesaikan acara belanjanya dan kembali menjemput Park Shin yang sudah menunggu di depan gedung pengadilan.
Sebelum Minwoo dan lainnya tiba Park Shin sempat adu mulut dengan Cha Gildeon mempermasalahkan mengenai uang yang diambil oleh Park Shin sampai Cha Gildeon harus menyerah karena ada telepon masalah berita skandal yang tiba-tiba mencuat dan menyerang dirinya juga selingkuhannya.
__ADS_1
Park Shin di dalam mobil tersenyum puas mendengar berita bahwa isu itu telah tersebar kemana-mana yang belum diketahui oleh halmonie dan anak-anaknya.
Malam telah tiba Park Shin bersenang-senang bersama keluarganya di desa dengan sesekali cheers merasakan kemenangan yang telah dirinya rancang. Vita pun juga ikut minum dengan kadar alkohol rendah. Kebahagiaan yang dirasakan Park Shin tak bisa digantikan dengan kerakusannya. Suasana di malam ini sangat hangat bagi Park Shin. Ia merasakan suasana hangat itu kembali semenjak berpisah dengan Cha Gildeon begitupun dengan Vita yang sudah mulai tidak bersedih atas ditinggalnya Jinwoo. Jiwa Jinwoo ikut merasakan bahagia di sudut. Senyuman itu memudar bersama dengan jiwanya untuk pergi ke akhirat.