Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 27 (Kembali tawuran)


__ADS_3

Vita kembali ke apartemen dengan menenteng buku lalu meletakkan buku-buku di meja dengan ransel. Kemudian Vita berjalan menuju dapur untuk mengisi perut dan menyegarkan tenggorokan.


Selesai memasak Vita keluar menikmati makanan yang dia buat sambil membaca beberapa pesan yang masuk setelah sekian lama dinonaktifkan.


Vita melihat pesan dari Park Shin, Yoora, dan Naeun dengan kalimat semangat untuk dirinya. Vita tersenyum saat membaca pesan itu. Lalu Vita menghubungi mereka lewat video call. Vita menunggu beberapa menit kemudian Naeun mengangkat dan menyapa bersama seluruh keluarga Park.


“Anyeong ahjumma”, sapa Naeun.


“Anyeong”, sapa mereka.


“Anyeong hasseyo”, sapa Vita.


“Yahh, kamu masih pakai seragam sekolah disaat malam. Kamu gila!”, seru Yoora.


“Diamlah Yoora, kamu jangan begitu. Aigoo”, seru Park Shin dengan memukul Yoora sampai mengadu.


“Bagaimana kabar eomma, halmonie, dan semuanya?”, tanya Vita.


“Sangat, sangat baik”, jawab Yoora.


“Sayang, kenapa kamu baru menghubungi kami? Kami sangat rindu denganmu”, ucap Park Shin.


“Aku juga rindu kalian”, ucap Vita dengan ekspresi sedih.


“Apakah kamu sudah makan?”, tanya Park Shin.


“Sudah”, ucap Vita dengan memamerkan panci yang sudah kosong beserta mangkuk-mangkuknya.


“Aigoo. Ternyata kamu makan cukup banyak. Syukurlah, halmonie senang”, seru halmonie.


“Kapan unnie isi lagi? Adik untuk Naeun”, seru Vita.


“Lihatlah perutku sedikit melar”, ucap Yoora dengan mengusap perut.


“What’s! unnie udah isi lagi”, seru Vita. Yoora menjawab dengan anggukan kepala.


“Selamat unnie”, ucap Vita dengan suara keras dan bahagia.


“Wah, kemana oppa Minwoo?”, tanya Vita.


“Dia lembur”, ucap Park Shin.


Mereka terus mengobrol dan bersenda gurau sampai waktu berlalu dengan cukup lama.


Di perjalanan pulang Ana bertemu dengan teman lamanya bernama Dion. Mereka mengobrol saat masa sekolah di SMA dengan penuh tawa.

__ADS_1


“An, kamu sekarang banyak berubah setelah lama tidak bertemu”, ucap Dion.


“Apanya yang berubah. Aku masih terlihat sama”, ucap Ana.


“Iya, kamu berubah. Dulu kamu pendiam, suka menyendiri, dan sampai-sampai ada yang melabrak kamu gara-gara Uki mendekati kamu”, ucap Dion.


“Oh aku ingat. Waktu itu sangat menyebalkan. Dunia terasa hampa dan hancur setelah gara-gara rumor kalau aku yang menggoda. Padahal Uki nya saja yang mendekatiku. Paling menyebalkan adik tiri ku yang telah membuat berita heboh itu. Semuanya kacau”, ucap Ana dengan ekspresi sedih.


“Sudahlah, kita lupakan masa-masa menyedihkan. Kita bahas topik lain”, ucap Dion.


“Apakah kamu punya pacar?”, tanya Dion.


“Sudah putus”, jawab Ana.


“Oh no, maaf An, aku malah membuka luka lama lagi”, sesal Dion.


“Itu bukan salahmu”, ucap Ana dengan tersenyum kecut.


Di sisi lain tempat berbeda Leon tengah memperhatikan Ana yang sedang asyik bersenda gurau bersama pria lain. Membuat api cemburu di hati Leon meledak sampai Leon menancapkan gas dengan kecepatan tinggi sambil menyalakan klakson dengan keras dan amat panjang membuat Ana dan Dion kaget.


“Dasar bajing*n!”, teriak Dion. Ana mendengar ucapan Dion terkejut dan mengatakan, “kamu banyak berubah”.


Dio tertawa dan Ana ikut tertawa juga entah aliran dari mana Ana tersengat dengan tawa renyah yang ditimbulkan Dion.


“An, maukah aku antar kamu pulang?”, tanya Dion.


“Yaudah, hati-hati”, ucap Dion dengan melambaikan tangan.


Sementara Leon tengah minum-minum di club dengan mata hitam yang menyalang seakan akan menghunus orang yang berbuat salah.


“Ana, kamu membuatku terlihat buruk di matamu. Apakah kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan?”, kata hati Leon.


Pada saat Leon menyendiri dengan tatapan mata kosong tiba-tiba Lucas datang sendirian.


“Apa yang tengah kamu pikirkan?”, tanya Lucas dengan menuangkan wisky kedalam gelasnya.


Leon tersadar dari lamunan setelah Lucas menepuk bahu miliknya.


“Lucas, sejak kapan kamu ada di sebelah ku?”, tanya Leon.


“Itu tidak penting. Kamu sedang memikirkan apa?”, tanya Lucas.


“Aku..”, jeda Leon.


“Apakah kamu belum berbaikan dengan kekasihmu itu?”, tanya Lucas. Leonh Leon hanya diam dan meneguk wishky.

__ADS_1


“Kamu harusnya lebih dahulu memerankan permainan hati wanita. Kamu seorang Leon pengusaha terbesar dan tidak ada kata kalah , mengalah, apalagi berurusan dengan musuh. Meski hati wanita itu rumit pastinya kamu bisa mengambil langkah sebagaimana kamu seorang mafia yang terkenal pemaksa dan arogan”, ucap Lucas dengan meneguk whisky hingga tandas.


Leon mencerna ucapan Lucas dalam pikirannya. “Benar ucapan Lucas, harusnya aku masuk dalam drama itu meski dia akan menamparku bahkan mencemoohku, aku tidak peduli”.


Dalam perjalanan akan pulang Lucas dan Leon mengalami kemacetan dikarenakan jalan yang selalu dilewatinya tutup akibat tawuran antar geng. Di sana Vita ikut melakukan aksi tawuran bersama para geng-nya. Tawuran terjadi karena ada salah satu teman di anggota geng-nya Vita dikeroyok. Tawuran itu membuat masyarakat resah dan polisi kewalahan sampai menembakkan pistol ke atas langit. Para peserta tawuran hamburan. Vita mengambil arah berbeda dengan Reino untuk menghindari kejaran polisi sampai kaki miliknya tersandung oleh batu kecil dan lututnya berdarah sehingga Vita harus bersembunyi di bawah got kembali.


Lucas dan Leon mulai lelah dengan kemacetan mobil sampai berjam-jam dan mereka bisa keluar setelah sampai di jalanan raya yang tidak padat. Hembusan nafas terasa lega dari beberapa pengendara yang terkena kemacetan.


Esok harinya, Vita terbangun karena terdengar suara alarm yang terus berdering. Vita mengecek jam dan ternyata dirinya terbangun kesiangan sehingga Vita langsung terburu bersiap berangkat sekolah dengan membawa susu kotak dan roti tawar di kamarnya dengan berlari dan sedikit pincang.


Vita berjalan sampai halte menunggu ojek online datang sambil melihat jam yang membuat Vita risau. Beberapa menit kemudian ojek online nya datang dan Vita menaiki motor tersebut. Vita meminta driver nya untuk mengambil kecepatan penuh sampai Vita terus menepuk pundak driver nya yang membuat Vita hampir frustrasi.


Driver ojek online terus fokus dan akhirnya membawa pelanggannya selamat sampai tujuan. Vita langsung berlari setelah memberikan uang ongkos dan helm. Namun tidak terkejar. Pintu gerbang lebih duluan tertutup. Vita mencoba bernegosiasi dengan satpam sampai Vita mengeluarkan jurus dari tas yaitu membujuk dengan makanan dalam tas berupa kimbab makanan korea.


Vita terus merayu satpam, “bapak belum pernah merasakan makanan seperti ini kan. Ayolah pak, nanti kalau bapak menyukai akan aku bawakan lagi”, dengan ekspresi memohon. Pak satpam mempertimbangkan lalu menyuruh Vita masuk. Vita bernafas lega setelah pak satpam membolehkan dirinya masuk dan mengucapkan terima kasih dengan berteriak sambil berlari. Vita berjalan menelusuri koridor kelas dan sampai di depan kelas Vita melihat pelajaran sudah di mulai dan pria itu tengah mengabsen murid-muridnya. Vita menghembuskan nafas kasar dan mencoba menyelinap ke kelas dengan berjalan berjongkok saat guru itu tengah fokus mengabsen murid-muridnya namun usaha Vita untuk menyelinap telah pupus karena guru tersebut sudah berdiri di depannya entah sejak kapan guru itu menyadari. Vita membatu dengan raut kesal.


“Berdirilah”, perintah Lucas. Vita berdiri dengan kekeh dan menggaruk tengkuk tidak gatal, “eh mister!”


“Kamu terlambat sepuluh menit setelah saya masuk kelas dan kamu menyelinap di jam mata pelajaran saya. Jadi, kamu saya hukum untuk membantu saya mengumpulkan tugas teman-teman kamu dan membawakan buku-buku baik buku absen maupun pelajaran selama ada jam pelajaran saya”, ucap Lucas lalu pergi meninggalkan Vita yang mematung.


Vita mendengus kesal kepada guru tersebut. Ia duduk sambil memandang dengan ekspresi tidak suka.


Sedangkan Lucas yang berada di depan tidak memedulikannya. Lucas tetap menjelaskan sampai waktu mata pelajarannya habis. Para siswa menghembuskan nafas lega. Lucas menata barang-barangnya dan memanggil Vita lalu ia menghampiri Lucas dengan terpaksa.


“Ya mister, ada apa?”


“Bawakan barang-barang saya ke kantor”, perintah Lucas dengan berjalan tanpa menunggu Vita yang tengah memanyunkan bibirnya. Lucas berjalan dengan menganggukkan kepala setiap murid-muridnya menyapa. Ketika menelusuri koridor bu Dian memanggil dirinya namun Lucas mengacuhkan dengan pura-pura tidak dengar membuat bu Dian kecewa. Vita yang mendengar suara panggilan dari bu Dian dan diabaikan oleh Lucas, Vita terus mengumpat dalam bati, “laki-laki bule ini pura – pura dengar atau bagaimana sih. Dasar, suka pilih-pilih padahal sesama rekan kerjanya”.


Sampai di ruangan Lucas, Vita langsung menaruh barang-barang miliknya di meja kerja lalu bergegas pergi tanpa pamit namun Lucas menarik lengan Vita sampai ia menabrak dada bidangnya yang keras sehingga Vita mengadu sakit dengan tatapan sinis. Lucas mendengar aduan sakit dari mulutnya tersenyum sinis.


“Mister, anda jangan macam-macam! Anda berada di negara Indonesia. Anda tidak bisa berbuat seenaknya begitu! Saya bisa melaporkan tindakan anda ke kepala sekolah!”, ancam Vita.


“Ck, coba saja kamu kalau bisa”, tantang Lucas dengan nada rendah.


“Baiklah, saya akan laporkan!” Vita balik menantang.


“Apakah kamu semalam ikut tawuran?”, tanya Lucas mengalihkan topik.


“Aku tidak ikut tawuran”, ucap Vita dengan penuh percaya diri.


“Oh ya, apakah bukti yang saya dapat harus saya berikan kepada kepala sekolah? Dibandingkan kamu melaporkan saya tentang hal ini, itu, bukti yang saya pegang bisa membuat kamu keluar dari sekolah”, tantang Lucas.


“Si...silahkan a..aku gak takut”, gugup Vita.


Lucas memandang wajah Vita dengan intens membuat Vita menjadi salah tingkah.

__ADS_1


“Ngapain dia menatapku seperti itu. Dia benar-benar pria mesum”, batin Vita mengalihkan pandangan ke arah lain.


Lucas merasa gemas dengan gadis yang berada di depannya. Lucas membawa kepala Vita untuk menatapnya langsung dan membuat pikiran Vita terasa kosong karena tatapan mata elang yang tajam. Lucas mendekatkan wajahnya dengan satu inci. Hembusan nafas menyeruak di hidung Vita dan membuat jantung Vita berdegup kencang. Vita menutup mata saat Lucas terus mendekat. Tetapi Lucas malah mempermainkan dirinya. Dia hanya membisikkan sesuatu di telinganya dengan berkata, “jadilah gadis pintar”. Vita yang sudah salah tingkah membuat harga dirinya rendah. Lalu Vita mendorong tubuh Lucas dengan tenaga penuh kemudian pergi dengan ekspresi marah. Lucas melihat tingkah laku Vita merasa senang karena telah mempermainkan gadis kecil itu sangat menyenangkan.


__ADS_2