Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 31 (Hati Berbunga)


__ADS_3

Dalam dapur Vita tengah menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi. Ketika Vita sedang menggoreng telur gulung tiba-tiba dari belakang Lucas memeluk. Vita memberikan peringatan untuk pria tersebut.


“Uncle lepasin pelukan mu, aku gak mau nanti telurnya gosong dan mereka melihatmu seperti ini. Aku harus bergegas pergi ke suatu tempat. Tolong jangan membuat orang lain yang melihat ini berspekulasi macam-macam”, ucap Vita dengan nada rendah sambil berusaha melepaskan tangan Lucas dari pinggangnya sebelum Lisa turun.


“Baiklah”, ucap Lucas dengan mematikan kompor dan membalikkan tubuh gadis kecilnya kemudian menarik tengkuk Vita untuk mendapatkan morning kiss darinya. Lalu Lucas melepaskan ciumannya sambil mengusap pipi cubby gadisnya dengan tatapan intens.


“Buatkan kopi juga untukku”, ucap Lucas dengan melepaskan pinggangnya dan meninggalkan Vita seperti akan mengumpat dirinya.


“Haishh..hufft.. pria bule apakah semua tingkahnya mes*m seperti dia”, omel Vita.


Vita melanjutkan membuat sarapan kemudian membuat kopi untuk Lucas dan sarapan. Saat sedang makan, Ana dan Leon datang.


“Morning”, sapa Ana.


“Wahh Vit, kamu masak cukup banyak Vit, kebetulan aku sangat lapar”, seru Ana.


“An, semalam kamu kemana?”, tanya Vita tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.


Ana mendengar pertanyaan dari Vita tersedat dan Leon memberikan air minum.


“Hati-hatilah sweety. Gak usah terburu-buru”, ucap Leon dengan mengambilkan tisu.


“A..aku..uhmm”


“Kami semalam habis berolahraga”, tukas Leon dengan mengerlingkan mata kanannya membuat wajah Ana bersemu merah.


“What’s?!”, terkejut Vita.


Ana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Kau gila!”, seru Vita dengan menjatuhkan sendok garpunya.


“Kamu yakin jika dia pria yang setia”, ucap Vita dengan memegang kedua pundak milik Ana.


“Aku sangat setia little girl”, sela Leon.


“Kalau begitu kau nikahi dia”, ucap Vita.


“Tentu”, ucap Leon dengan yakin.


“Aku membenci mendengar hal ini. Ahh~, penganglah janjimu. Dia banyak menderita. Kamu harus menjaganya dari orang-orang jahat terutama ibu tiri, adik tiri, dan pamannya Ana”, ucap Vita dengan ekspresi serius.


“Keluarga dia sangat tidak baik. Apalagi ibu tiri Ana. Dia selalu memanfaatkan ayahnya Ana sehingga Ana terusir dari rumahnya. Yahhh~, pokoknya jaga dia”, sambung Vita.


“Vit...”, Ana memeluk tubuh Vita.


Lucas melihat Vita bersikap dewasa merasa senang namun juga penasaran dengan rahasia yang disembunyikan olehnya begitu juga Leon.


“Little girl, apa yang kau sembunyikan dalam dirimu”, batin Leon dan Lucas.


Ana melepaskan pelukkannya setelah mendengar teriakan Lisa.


“Good morning guys!”, seru Lisa dengan merentangkan kedua tangan.


“Wahh, hidangannya akan habis, harusnya kalian menyisakan makanan untukku”, ucap Lisa dengan bibir cemberut.


“Honey, kita harus buat sarapan sendiri deh”, keluh Lisa dengan menggandeng lengan Johan.


“Maaf Lis, aku sangat lapar, jadi gak ingat kalau kamu ada di rumah dan bangun pagi”, sesal Ana.


“Buatlah sendiri, jangan terlalu manja”, ketus Vita lalu beranjak dari kursi melangkah pergi.


“Vit, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu sering sensian mulu. Lagi PMS ya”, seru Lisa.


Vita mengedikan bahu lalu memberikan pesan kepada Ana, “jangan lupa bergantian tugasnya”.


“Ok Vit”, ucap Ana.


Vita pergi dengan membuang nafas kasar.


“Dadaku benar-benar sesak. Aku harus mengatur emosiku seperti dulu. Aku gak bisa seperti ini terus. Aku harus menghindari Lucas. Hidupku gak bakalan tenang jika aku masih di bawah kungkungannya. Aku harus minta bantuan Gilang”.


Vita melangkah pergi namun lengannya di tarik oleh Lucas hingga tubuh Vita terhuyung ke depan dan Lucas memeluknya.


“Tenangkan dirimu. Masalah apapun yang kamu hadapi jangan menggunakan emosi. Aku akan selalu di sampingmu”, ucap Lucas dengan mencium kepala Vita sambil mengusap punggung gadis kecilnya. Vita bertanya-tanya dalam hati atas ucapan Lucas.


“Apa ia mengetahui sesuatu tentangku? Apa dia mengorek tentang diriku? Padahal aku sudah menutup dengan rapat-rapat”.


Lucas melepaskan pelukan lalu mencium keningnya cukup lama.


“Apakah kamu sudah rileks dan tenang?”, tanya Lucas dengan memegang kepala Vita.


Vita menjawab dengan anggukan kepala.


“Kalau begitu aku akan antar kamu ke tempat temanmu”, tawar Lucas.


“Gak perlu”, tolak Vita.


Lucas mendapatkan penolakan dari gadis kecilnya mengangkat alis sebelahnya. Vita tergagap mencari alasan agar Lucas tidak marah. Vita mendapatkan ide ketika melihat garasi di depannya.


“Maksudku gak perlu itu karena aku mau memanasi motorku sekalian. Sudah lama aku tidak menggunakan motorku. Dia pasti sangat membutuhkan aku untuk memanasi mesinnya”, alasan Vita.


“Jual saja motormu. Aku gak suka kamu menggunakan motor itu. Itu sangat bahaya”, ucap Lucas.


“Yahh! Kalau jual,itu sangat berat. Aku jerih payah mengumpulkan uang untuk mendapatkan motor yang ku impikan”, cemberut Vita.


“Please..”, mohon Vita dengan memegang tangan Lucas.


Ketika tengah berbicara dengan Vita tiba-tiba ponselnya berdering dan Lucas harus mengangkat sambungan telepon dari anak buahnya.


“Hallo!”


“Maaf tuan saya mengganggu. Saya sudah menemukan data yang anda inginkan”, ucap pria di seberang sana.


“Baiklah, kirim lewat email”, perintah Lucas dan langsung mematikan sambungan secara sepihak.


“Nah, uncle kan pasti mendapatkan panggilan kerja..”


“Kata siapa?”, tanya Lucas.


“Tadi ada yang menghubungi uncle”, ucap Vita.


“Hahh~, baiklah kali ini kamu ku ijinkan pergi sendiri. Tapi, awas kalau kamu ikut balapan liar..”, jeda Lucas.


Lalu Lucas menarik pinggang Vita dan membisikkan, “Aku akan menghukummu”.


“Iya, aku tahu”, ucap Vita.


Vita langsung pergi ke garasi mengambil motor gedenya sambil berceletuk dibelakang Lucas, “pria itu selalu saja menekanku. Hufft~, coba aku tidak bertemu dengannya. Haish~”.

__ADS_1


Vita berangkat melewati Lucas yang masih berdiri di tempat yang sama. Lucas mengamati punggung Vita sampai menghilang. Lalu Lucas kembali ke hotel dan menghubungi Devan dan Thomas persoalan mengenai Rajasa.


“Hallo dad, apa kau ada di negara ini?”, tanya Lucas sambil fokus menyetir.


“Ya, aku masih ada di Indonesia”, jawab Thomas.


“Apakah kau juga bersama Devan, dad?”, tanya Lucas.


“Ya dude”, jawab Thomas.


“Ada apa Lucas?”, tanya Thomas.


“Dad, aku memiliki berita penting. Kita harus membahas di kamarku dad. Jangan sampai momy tahu. Apabila momy mengetahui persoalan ini, dia akan gegabah dan sensitif mengenai data yang ku temukan”, ucap Lucas.


“Baiklah, kita ketemu setelah momy kamu pergi. Dia mau pergi berbelanja dengan ibunya Leon. Tunggulah di kamarmu. Daddy akan kabari kepada Devan”, ucap Thomas.


“Ok dad”, ucap Lucas.


Lucas menancapkan gas dengan kecepatan penuh untuk dapat segera sampai ke hotel. Lucas tidak bisa berdiam dan membiarkan Vita bahkan lainnya dalam bahaya. Lucas ingin semua masalah mengenai pria itu diusut sampai tuntas.


...


“Honey, aku berangkat dulu ya!”, seru Alena mengecup bibir Thomas.


“Hati-hatilah sweety”, ucap Thomas.


Setelah kepergian Alena dan punggungnya menghilang Thomas pergi menyusul Devan ke kamar milik Lucas.


“Apa yang kau temukan dude?”, tanya Thomas.


“Dad, duduklah”, ucap Devan.


“Ternyata Rajasa memiliki seorang putri dengan watak yang sama dengan pria busuk itu. Namun Lucas belum menemukan identitas putrinya Rajasa. Kata Lucas menduga kalau Lisa juga ada hubungannya dengan Rajasa”, jelas Devan sambil membaca data-data di kertas.


“Dugaanku benar-benar mengarah kepada Lisa. Namun aku tidak menemukan data lain selain dia pernah melakukan operasi bagian wajahnya yang dahulu pernah kena luka bakar cairan kimia”, jelas Lucas.


“Menurut daddy kita harus membahas ini dengan Leon, Dominic dan lainnya. Agar kita bisa menemukan identitas asli mereka mengenai dana gelap yang dimiliki Raymond. Mereka pasti ada kaitannya dengan Charles. Kita tidak bisa hanya diam saja dan bertindak sendiri”, ucap Thomas.


“Kita jangan libatkan Johan dahulu. Itu akan kacau masalah kita. Dia kini berada di tangan wanita itu”, ucap Devan.


“Benar yang kau katakan Dev”,ucap Lucas.


“Baiklah, aku akan hubungi Xavier untuk membahas para komplotan Charles. Daddy besok juga harus terbang ke Paris untuk menemui kolega mengenai produk sepatu yang diluncurkan anak perusahaan kita. Daddy berharap kamu tetap berada di sini untuk menjaga momy-mu. Sementara Devan aku perintahkan pergi ke Mahattan untuk menangani resort di sana”, ucap Thomas.


“Jagalah mereka dengan baik selama kau di sini”, ucap Thomas kembali.


“Tentu”, ucap Lucas.


....


Leon kini tengah menikmati pemandangan malam bersama Ana yang baru saja kembali bersama. Di atas balkon Leon mengecup pundak Ana dengan rasa senang dan berbunga. Begitu juga yang di rasakan oleh Ana setelah sekian lama mereka beradu sengit atas kesalahpahaman dalam hubungan mereka.


“Sweety, apa kau merasakan bahwa malam ini merupakan malam yang indah?”, tanya Leon dengan memeluk Ana dari belakang dengan erat.


Ana menjawab dengan menganggukkan kepala sambil mengulum senyum bahagia.


“Aku berharap ini bukan mimpi. Jika aku tengah bermimpi aku berharap tidak terbangun dari mimpi ini”, kata hati Ana.


“Sweety, jika ada yang ingin kau ceritakan, berceritalah, aku akan membantumu sepenuhnya meski harus dengan taruhan nyawa. Aku akan menyelamatkan kamu”, ucap Leon dengan mencium ceruk leher wanitanya.


Ana membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Leon. Lalu kedua tangan Ana memegang kepala Leon dengan menatap intens kemudian mengecup singkat.


Leon menarik pinggang Ana lalu mendekatkan wajahnya sampai saling menyentuh dan merasakan kenikmatan yang penuh kasih sampai mereka terbuai masuk ke dalam surga dunia hingga terlelap dalam alam mimpi sambil berpelukan sampai esok akan datang.


Suara burung berkicauan di pagi hari saling bersahutan. Dua sejoli masih di alam mimpi dengan berpelukan. Lalu mereka terusik dengan suara ponsel milik Ana. Ana mencoba mencari ponselnya diatas meja naska samping ranjang kemudian mengangkat sambungan telepon dari Adele.


“Hallo”, sapa Ana dengan suara serak sambil memposisikan diri untuk duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


“Hallo An, kamu baru bangun”, ucap Adele di seberang sana sambil menata sarapan pagi di meja makan.


“Iya”, jawab Ana dengan singkat.


“Kamu tidak lupakan janji kita untuk bertemu di cafe kan?”, tanya Adele.


“Tentu tidak Adele”, jawab Ana sambil mendorong tubuh Leon yang terus saja menggodanya sampai Ana melotot namun Leon tidak menghiraukan.


“Yaudah, kalau begitu sampai bertemu nanti”, ucap Adele.


“Ok”, jawab Ana singkat lalu meletakkan ponselnya sambil mengomel, “Leon, kau apaan sih. Aku hampir saja bersuara aneh gara-gara kamu”.


“Suaramu itu gak aneh kok, suara yang kau miliki sangatlah indah”, goda Leon dengan menarik tengkuk Ana untuk mendapatkan morning kiss meski Ana melakukan pemberontakan namun Leon tidak pernah kehabisan tenaga ataupun akal untuk mendapatkan yang diinginkan.


“Dasar pria mes*m!”, umpat Ana dengan beranjak dari ranjang. Ketika melangkah tiba-tiba tubuhnya merasakan melayang. Ana hampir berteriak jika Leon tidak memberikan kecupan. Leon membawa Ana ke kamar mandi untuk membersihkan diri meski Ana terus menolak namun akhirnya pertahanan Ana runtuh dan terbuai kehangatan yang diberikan oleh Leon.


Satu jam mereka baru bersiap untuk sarapan pagi. Ana menuju ruang makan dan melihat di atas meja terdapat hidangan yang cukup banyak. Ana mencari sosok yang menyiapkan makanan di atas meja.


“Vit”, panggil Ana.


“Apa?”, tanya Vita dengan meletakkan mangkuk soup di atas meja.


“Wahh Vit, kau masak ini semua dalam rangka apa?”, tanya Ana.


“Dalam rangka makan dengan orang dari negeri ginseng”, ucap Vita dengan mengambil posisi duduk dekat Ana.


“Hallo semua”, sapa Yoora


Ana mengangkat sebelah alisnya dan bertanya Vita dengan berbisik, “dia siapa Vit?”.


“Anyeonghaseyo, perkenalkan namaku Yoora dan di samping saya ini adalah putriku bernama Naeun”, ucap Yoora .


“Hallo apa kabar, perkenalkan namaku Ana”, ucap Ana.


“Oh ya, di depanku, dia bernama Leon”, ucap Ana kembali.


Yoora menyapa dengan membungkukkan badan lalu bergabung duduk dengan Vita dan kedua temannya.


“Ahjumma, kenapa kau sangat lama ke rumah halmonie? Aku itu sebenarnya masih membencimu”, seru Naeun dengan bibir cemberut.


“Diamlah, jangan buat keributan di meja makan”, bisik Yoora lalu mengulum senyum untuk ke dua temannya Vita.


“Yahh! Jangan banyak mengeluh lebih baik makan kerangnya biar kau cepat dewasa dan mengerti keadaan orang dewasa. Nanti kalau ada waktu aku akan datang ke sana secepatnya”, seru Vita.


“Haish~, dasar”, umpat Naeun.


“Kamu terus mengomel bisa jadi orang tua”, ejek Vita dengan menepuk kepala Naeun.


“Yahh! Jangan menepuk kepalaku. Kepalaku ini sangat berharga”, seru Naeun.


“Sudahlah, kalian itu jangan ribut!”, kesal Yoora dengan nada tinggi dengan melempar sendok makan di atas piring sampai berbunyi dentingan. Ana melihat sikap Vita dengan temannya membuat Ana bergelak tawa. Leon terheran dengar tawa Ana begitupun Yoora, Naeun dan Vita.

__ADS_1


“Sweety, kenapa kamu tertawa? Gak ada yang lucu”, ucap Leon dengan lirih.


“Bagiku mereka cute, sudah lama aku tidak melihat suasana di ruang makan ada perdebatan”, ucap Ana dengan memasang wajah sedih.


“Ahjumma tidak sakit kan?”,tanya Naeun dengan sekenanya.


“Yahh!”, Vita membungkam mulut Naeun dengan membisikkan, “jangan asal bicara. Kekasihnya akan marah jika kau omong sembarangan”.


“Lepasin”, ucap Naeun di balik tangan Vita.


“Kamu harus berjanji dulu tidak omong sembarangan”, bisik Yoora dan diangguki Vita.


“Iya”, ucap Naeun di balik tangan Vita.


Vita melepaskan bekapannya dari bibir Naeun.


“Yahh! Aku hampir mati”, seru Naeun.


“Mulut anak ini benar-benar turunan Yoora. Haish~”.


“An, maafkan keponakan ku yang bodoh jika menyinggung perasaanmu itu”, ucap Vita.


“Dia tidak salah Vit. Apa yang di katakannya benar. Aku tertawa tanpa sebab”, ucap Ana dengan menghampiri Naeun.


“Sayang kamu gak salah. Aunty gak tersinggung kok”, ucap Ana dengan lembut sambil mengusap kepala Naeun.


“Gomawo, ahjumma baik sekali tidak seperti ahjumma di sampingku dan eomma”, ucap Naeun dengan mencibir Vita dan Yoora.


“Yaahh!”, seru Yoora.


“Wahh, kenapa ramai sekali?!”, seru Alena dengan membawa kantong tas.


“Morning semuanya”, sapa Alena dengan diikuti Lucas juga menenteng kantong belanjaan.


“Wahh, makanannya banyak sekali sayang. Siapa yang masak?”, tanya Alena.


“Vita bersama temannya, dan putri dari negeri ginseng”, ucap Ana.


“Apakah aunty bisa ikut bergabung makan bersama kalian? Kebetulan aunty baru makan roti saja dan masih belum kenyang”, ucap Alena.


“Tentu”, ucap Yoora dengan bergegas mengambil dua piring untuk Alena dan Lucas.


“Thank you”, ucap Alena.


“Sayang, putri cantik ini siapa?”, tanya Alena.


“Oh ya, kami belum perkenalan. Perkenalkan nama saya Yoora dan ini putri saya Naeun”, ucap Yoora.


“Naeun beri salam kepada grandma”, ucap Vita dengan gigi mengetat.


“Anyeong”,ucap Naeun dengan memberikan anggukan.


“Yahh! Seharusnya kamu harus memberi salam dengan membungkukkan tubuh”, ucap Yoora.


“Sudahlah unnie, biarkan dia makan”, ucap Vita yang tak ingin ada keributan kembali.


“Leon bisakah kita nanti bertemu di apartemenmu?”, ucap Lucas.


“Ok”,ucap Leon.


Mereka mengobrol sembari menikmati hidangan sarapan pagi yang cukup mewah. Usai menyelesaikan sarapan pagi Ana ikut membantu membersihkan piring-piring kotor dan mangkuk. Lalu Vita berpamit.


“An, aku, Yoora, dan Naeun mau pergi dulu. Aku harus memenuhi janjiku kepada bocil ini”, ucap Vita.


“Baiklah”, ucap Ana.


Ketika Vita akan melangkah pergi, Alena menghentikan langkahnya.


“Vita! Vita!”, panggil Alena dari arah dapur.


“Vit, kau mau kemana?”, tanya Alena.


“Saya mau pergi jalan-jalan dengan Yoora dan Naeun”, jawab Vita.


“Apa aunty boleh berbicara sebentar denganmu?”, tanya Alena dengan berharap.


“Tapi...”


“Bicaralah dulu dengannya Vit. Kami bisa menunggumu di ruang tengah dan menonton TV”, ucap Yoora memotong ucapan Vita.


“Baiklah, kita bisa bicara di kamar”, ucap Vita dengan melangkah menaiki tangga dan diikuti Alena sambil menenteng tas belanjanya. Lucas menatap punggung Vita hingga menghilang dengan mengulum senyum tipis tanpa diketahui orang lain.


Sampai dalam kamar, Alena membuka suara.


“Sayang, kamarmu sangat unik. Sangat berbeda dengan nuansa anak perempuan”, puji Alena.


“Thank’s, atas pujiannya” ucap Vita.


“Aunty mau berbicara apa?”, tanya Vita dengan menghempaskan bokongnya di kursi belajar dan diikuti Alena duduk di sebelahnya.


“Aunty mau memberikan gaun yang sangat cocok untukmu, nak”, Alena menyerahkan tas belanjaannya kepada Vita.


“Thank you”, ucap Vita.


“Apa kau masih marah dengan aunty?”, tanya Alena dengan memegang kedua tangannya.


Vita menjawab dengan gelengan kepala. Alena mengulum senyum dengan perasaan lega karena Vita telah memaafkan dirinya.


“Aunty senang kamu mau memaafkan aku. Maafkan aunty yang sudah lancang menggeledah kamarmu. Sebenarnya aunty tadi tidak niat. Namun entah dorongan darimana aunty ingin sekali mengetahui tentangmu sejak awal bertemu. Mungkin kamu belum mengenali wajah aunty saat itu. Kamu waktu itu hanya lewat saja tanpa melihat sekelilingmu yang memperhatikan kamu. Lalu kamu pergi setelah kembali dalam sekejap”, ucap Alena dengan mengusap kedua tangan Vita.


“Iya, sudah aku maafkan aunty. Jadi, aunty mau bicara apa?”, tanya Vita.


“Apa kamu tahu kisah ibumu bertemu dengan ayahmu?”, tanya Alena.


“Saya tidak ingin tahu”, jawab Vita.


“Kenapa sayang?”, tanya Alena.


“Hahh~”, hembusan nafas kasar dari bibir Vita dan terdengar oleh Alena.


“Lebih baik aunty mendengar pertanyaanku saja. Aunty kenal dengan momy sejak kapan?”, tanya Vita.


“Waktu itu aunty bertemu dengannya umur sekitar dua puluhan”, jawab Alena.


“Bagimana mama mengenal Rajasa?”, tanya Vita.


“Mamamu mengenal dia sekitar umur 24 tahun dan dia dibutakan oleh rayuan Rajasa lalu pada akhirnya mama kamu menderita”, jawab Alena.


“Apa kau bisa ceritakan singkat tentang mama?”, tanya Vita.

__ADS_1


“Tentu”, ucap Alena.


__ADS_2