
Partiwi akhirnya pergi dengan berjalan terbirit-birit karena merasakan kakinya lemah. Partiwi mencari toilet untuk mengadu sakit hatinya kepada Duran.
“Vit, pulanglah”, usir Duran.
“Kamu membutuhkan tempat untuk istirahat”, perintah Duran.
“Ta..tapi.. “
“Mister bawalah dia pulang”, ucap Duran. Lucas menganggukkan kepala.
“Sweety come on, kamu butuh istirahat sejenak”, ucap Lucas dengan menarik lengannya. Namun Vita mematung dan akan protes kepada Duran tetapi Lucas terlebih dulu mengangkat tubuhnya layaknya karung.
Vita meronta meminta di turunkan namun Lucas tidak menghiraukan sampai di parkiran Lucas menurunkan tubuh Vita di dalam mobil jok depan lalu Lucas bergegas ke tempat pengemudi dan menancapkan gas sampai di apartemen. Kemudian kembali menggendong Vita ala briday stayle dan menurunkan ke ranjang.
“Uncle itu apaan sih?!”, kesal Vita.
“Usstt.., aku hanya ingin kamu istirahat”, ucap Lucas.
“Sekarang aku mau bersihkan diri. Setelah itu kamu bersihkan diri. Aku akan siapkan air untukmu setelah aku selesai bersihkan diri”, ujarnya dengan beranjak dari ranjang.
Vita menghembuskan nafas setelah Lucas pergi dengan memikirkan orang-orang yang hampir mati di tangan Lisa dan Rajasa. Lalu matanya mulai menggelap saat pikirannya sedang kalut dan terbawa ke alam mimpi dengan pulas setelah tiga hari tidak bisa tertidur dengan nyenyak.
Tiga puluh menit Vita terbawa ke alam mimpi Lucas telah merampungkan ritual mandinya dengan handuk yang terbalut di pinggang.
Lucas menghampiri Vita yang terlelap tidur dengan rambutnya yang basah yang terkesan sexy dengan tubuhnya berotot yang membuat para kaum hawa tak bisa mengalihkan pandangan yang sangat di dambakan oleh kaum hawa untuk dijadikan pasangan mereka.
“Tidurlah dengan nyenyak dan bermimpilah yang indah”, bisik Lucas di depan wajah Vita dengan mencium kedua mata yang membengkak karena menangis. Lalu Lucas beranjak mengambil kaos dan celana yang ia simpan di lemari yang sama dengan Vita. Setelah itu ia ikut bergabung tidur di sampingnya dengan memeluk tubuh Vita dengan memindahkan kepala Vita ke tangan kekarnya sebagai bantalan kemudian mengecup bibirnya dengan singkat.
Jam berdetak setiap jarumnya bergerak ke angka-angka yang dilewatinya, Vita terbangun dari alam mimpinya dengan bibir melenguh dan bergerak merenggangkan badannya yang terasa remuk akibat terlalu banyak bekerja. Ia merasakan pinggangnya terasa berat dan Vita melirik ke bawah di sana terdapat tangan kekar yang bertengger di pinggangnya lalu Vita menyingkirkan yang kokoh tersebut. Lucas merasa terusik lalu terbangun dengan wajah bantalnya.
“Hei, tidurmu nyenyakkah?”, tanya Lucas dengan suara serak khas bangun tidur. Vita tidak menjawab dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Lucas bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Ia membuat omlete dan ayam mentega juga tak lupa susu untuk gadis kecilnya sementara dirinya membuat kopi hitam yang disukainya. Beberapa lama kemudian setelah berkutat di dapur ia menata semua hidangan di meja makan lalu menemui gadis kecilnya di kamar. Lucas menghampiri Vita yang sedang mengeringkan rambut. Ia tiba-tiba menghentikan aktivitas Vita yang tengah mengeringkan rambut. Vita menatap dengan bertanya-tanya dari arah kaca. Lucas menjawab tanpa beban, “aku akan membantumu mengeringkan rambutmu”.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri”, ucap Vita. Lucas malah tidak menghiraukan ucapan Vita, Ia langsung merebut dan mengeringkan rambut gadis kecilnya dengan telaten. Vita hanya berdiam dengan bergelut pikirannya yang penuh dengan masalah-masalah yang dialaminya mulai dari para korban dari Lisa sampai kejahatan yang dilakukan oleh Rajasa tanpa merasakan bahwa Lucas telah selesai membantunya mengeringkan rambut.
“Sweety, kamu sedang memikirkan apa?”, tanya Lucas yang menyadari bahwa Vita tengah melamun sambil mencium kepalanya dan menghirup wewangian yang menyeruak dari rambutnya.
“Vita”, panggil Lucas dengan mengusap pipinya namun tak kunjung menghiraukan membuat Lucas merasa gemas. Lalu ia mencium bibirnya. Vita yang tengah melamun merasakan benda kenyal di bibirnya dan ia tersentak dari lamunannya. Vita mencoba menghindar namun sulit karena Lucas terlebih dulu menekan kepalanya untuk memperdalam ciumannya. Kemudian selang waktu cukup lama Lucas menghentikan setelah dirasa nafasnya akan habis. Lucas mengusap bibir ranum Vita dengan ibu jari sambil berkata, “manis”.
“A..pa-a..paan sih uncle?” kesal Vita.
“Aku hanya membangunkan kamu dari lamunan”, ucap Lucas santai.
“Yuk makan, sudah aku siapkan hidangannya. Mungkin sudah mulai dingin karena kelamaan kita berada di kamar”, ajak Lucas dengan mengangkat tubuh Vita sampai memekik.
“Uncle! Aku bisa jalan sendiri”, kesal Vita.
“Itu akan lama”, ujar Lucas.
Sampai ke ruang makan, ia menurunkan Vita di kursi makan lalu duduk di sampingnya.
“Makanlah”, ucap Lucas.
Vita memakannya karena cacing-cacing dalam perutnya meronta.
Lucas mengulum senyum melihat gadis kecilnya makan dengan lahap.
Di suasana hening tiba-tiba ponsel milik Lucas berdering dan dilayar ponselnya tertera momy-nya. Lucas menekan tombol hijau.
“Hallo mom, ada apa?”
“Bagaimana keadaan Vita? Momy mendengar cerita dari Ana kalau dia menyeret Lisa dengan mata memerah. Momy berharap dia baik-baik saja dan.. momy ingin bertemu dengannya”, ucap Alena dengan nada khawatir.
“Dia baik-baik saja. Kini ia sedang makan bersamaku. Besok akan aku ajak menemui momy. Sekarang momy istirahat dulu”, ucap Lucas.
“Syukurlah. Besok kamu harus mengajaknya menemui momy. Kamu jangan macam-macam dengan putriku. Mengerti!”, ucap Alena dengan menekan diakhir kata.
“Ya mom. Sekarang istirahatlah karena putrimu baik-baik saja”, ucap Lucas dengan sesekali melirik Vita.
“Baiklah”, ucap Alena dengan menghembuskan nafas lega lalu mematikan ponsel.
“Syukurlah, dia baik-baik saja. Besok aku bisa menanyakan mengenai permasalahan yang dialami olehnya”, batin Alena.
__ADS_1
...
Dante kini bersama Jorsh dan Johan, pergi ke rumah sakit menjenguk Adele dan sekalian membahas kejadian yang dilakukan oleh Lisa. Sementara Leon tengah mengerjakan proyek yang berkolaborasi dengan Zeno di perusahaan PT. Zen Abadi.
Saat akan masuk ke ruang rawat inap milik Adele tiba-tiba Lucas memanggil mereka.
“Jorsh!”
“Dante!”
“Johan!”
Mereka terhenti di depan pintu. Lucas segera menghampiri mereka bersama Vita yang ia gandeng dengan erat.
“Kita masuk bersama”, ajak Lucas.
“Baiklah”, ucap Dante.
Mereka masuk bersamaan menemui Adele dan Brian.
“Hai guys”, sapa Brian yang tengah menyuapi Adele.
“Hai, bagaimana keadaan kamu, Del?”, tanya Dante.
“Sangat baik”, senyum Adele.
“Syukurlah”, ucap Johan.
“Oh ya, kami perlu sesuatu dengan Brian sebentar. Apakah boleh kami meminjam sebentar?”, ijin Dante kepada Adele.
“Gimana ya?”, dengan telunjuknya di tempelkan pada pipi dengan pura-pura mempertimbangkan permintaan ijin Dante.
“Sweety”, tepuk kepala Adele dengan penuh sayang. “Kamu tidak boleh mempermainkan orang lain. Aku akan keluar dulu sebentar. Di luar ada asistenku dan penjaga. Mereka mungkin telah tiba. Jika ada sesuatu, kamu bisa menghubungiku”, ucap Brian dengan mengecup kepala istrinya.
“Yaudah aku ijinin deh. Tapi, jangan apa-apain suamiku lho”, ujar Adele.
“Tentu saja..”
“Kami akan cincang dia”, sela Jorsh memotong perkataan Dante.
“Tentu saja aku harus ikut”, ucap Vita.
“Padahal aku ingin mengatakan sesuatu”, sedih Adele dengan bibir dimayunkan. “Ya sudah, lain kali saja kita bertemu kembali “,senyum Adele.
“Ya, nanti kita bisa bertemu kembali”, ucap Vita dengan mengulum senyum.
“Kami pergi dulu sweety. Jika ada apa-apa berikan kabar kepadaku”, ucap Brian mengecup pipi kirinya.
Mereka pergi keluar ruangan Adele. Di depan pintu Brian memberikan pesan kepada ke dua anak buahnya dan asistennya untuk menjaga Adele dengan baik. Mereka menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
Setelah memberikan pesan Brian pergi bersama keempat sahabatnya dan Vita menuju rumah sakit jiwa yang jaraknya terpaut jauh dari perkotaan. Beberapa lama kemudian mereka telah tiba di depan rumah sakit jiwa. Mereka turun dari mobil dan masuk menuju tempat inap Lisa yang telah di jaga anak buah dari Lucas dan Leon.
“Bagaimana sikapnya di ruangan itu?”, tanya Lucas kepada anak buahnya.
“Dia terkadang berteriak, mengamuk, dan tertawa sendiri”, jawab salah satu anak buah dari Lucas.
“What?! Dia tertawa, berteriak, dan mengamuk di dalam sana. Ini pasti akal-akalan wanita itu. Aku gak percaya dengan apa yang dikatakan mereka. Aku harus menemuinya. Meski dia emang gila”, batin Vita.
“Apa aku bisa masuk sebentar?”, tanya Vita meminta ijin kepada Lucas.
“No, itu akan berbahaya untukmu”, jawab Lucas.
“Uncle, ini kan rumah sakit, gak mungkin aku dalam bahaya. Di sini juga ada kamu, Jorsh, Johan, Brian, Dante dan anak buah kamu, aku gak mungkin dalam bahaya. Percayalah kepadaku”, ucap Vita sambil memegang kedua tangan kokoh Lucas dengan memberikan tatapan mata memohon.
Lucas menghembuskan nafas kasar. “Baiklah, berhati-hatilah dengannya”, pesan Lucas.
“Iya”, peluk Vita. “Terima kasih”, ucap Vita dengan mengulum senyum.
Vita masuk menemui Lisa yang tengah pura-pura gila di ruangan sana.
“Apa kamu sedang membuat strategi?”, tanya Vita dari belakang punggungnya.
__ADS_1
Lisa menungging senyum.
“Mana mungkin orang gila bisa membuat strategi kecuali orang itu masih waras”, jawab Lisa dengan senyum miring.
“Ya juga, tapi sayangnya kamu masih waras 25% . Sisanya kamu gila. Gak mungkin kamu gak gila setelah menculik orang dan menjual orang dijadikan pundi-pundi uang untuk kesenangan kamu sendiri dan pria tua itu. Dosa kamu melebihi dari seorang iblis”, ucap Vita dengan penuh penekanan.
“Oh ya, aku merasa bahwa pujian itu membuatku bertambah semangat untuk memburu mereka termasuk orang-orang disekitarnya”, bisik Lisa.
“Yahh, inilah putri dari Rajasa yang sebenarnya. Mungkin kamu bukan putri dia. Bisa jadi kamu adalah darah campuran para pria di kasino”, imbuh Lisa dengan berjalan ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya.
“Oh ya, kalau begitu darah yang mengalir di tubuhku lebih baik dari pada keturunan pria tua itu. Namun...”, Vita menjeda dengan melangkah di meja putih itu.
“Menurutku justru orang yang mengaku putri dari pria tua itu malah justru darah yang mengalir dalam tubuhnya milik para pria yang ada di clubbing dan Kasino. Kamu sekarang ini hanya di manfaatkan olehnya. Bukankah Rajasa baik denganmu hanya untuk kepentingan dia saja. Lihatlah waktu kau saat kecil. Apa yang dia lakukan kepadamu?”, ucap Vita dengan berdecak berkali-kali untuk mengejek keadaan Lisa.
“Aku sih gak peduli dengan ucapanmu. Kamu hanya perlu tahu saja. Orang-orang yang ada di sekitarmu akan membencimu dan meninggalkanmu setelah mereka alami dengan wajah duplikat mirip denganmu”, peringatan Lisa.
“Aku tunggu”, senyum Vita dan berjalan pergi meninggalkan Lisa yang berbalik badan menghadap tembok.
Lisa mengeratkan tangannya. “Kamu tahu apa mengenai kehidupanku. Suatu saat aku akan memberikanmu pelajaran setelah merampas hakku dari Rajasa. Akan aku buat kamu lebih menderita dari yang ku alami. Saat ini pun kamu akan mengalaminya”.
Vita keluar dari ruang rawat inap Lisa dengan menghembuskan nafas kasar yang sejak tadi jantungnya berdetak cepat ketika menghadapi wanita gila itu di ruangan sana. Lucas langsung mencerca pertanyaan kepada Vita setelah keluar dari ruangan itu.
“Are you ok?”, peluk Lucas. Vita menjawab dengan anggukan kepala. “Lucas melepaskan pelukan itu dan kembali bertanya, “Apa yang dia katakan kepadamu? Apakah dia mengancammu? Ataukah dia mengatakan lainnya seperti semacam informasi?”
“Tenanglah man”, ucap Dante sambil menepuk pundak Lucas.
“Katakanlah Vit, apa aja yang kalian bicarakan? “, nimbrung Johan.
“Dia hanya mengancamku dan mengatakan sesuatu tentang ibuku. Sudah aku tangani. Jadi kalian gak perlu khawatirkan itu”, ucap Vita.
“Syukurlah”, lega Lucas sambil memeluk tubuh Vita dengan menepuk kepalanya lalu melepaskan pelukannya kembali.
“Sekarang lebih baik kamu menemui Lisa. Siapa tahu dia mengatakan sesuatu kepadamu? Dia pernah menjadi wanitamu. Mungkin saja dia memiliki rasa kepadamu sehingga dia bisa mengatakan sesuatu yang membuat dia bisa terbuka”, jelas Vita.
“Apa yang di katakan Vita ada benarnya Jo”, ucap Lucas.
“Aku sebenarnya ingin menemuinya...” jeda Johan.
“Tetapi, aku mengingat dia yang telah menipuku membuatku geram. Apalagi dia telah bermain dengan berbagai macam pria membuatku merasa jijik dan rasanya diriku bergetar akan mengingat kebohongannya yang sok suci itu”, lanjut Johan sambil membelakangi mereka.
“Huffftt”, hembusan nafas dari bibir Johan mengingat dirinya pernah jatuh dalam pelukan wanita itu.
Dante, Lucas, Vita, Brian dan Jorsh mengerti akan perasaan yang Johan rasakan. Vita gak bisa memaksakan Johan untuk menjalankan rencananya begitupun keempat sahabatnya.
Ketika mereka tengah bergelut dengan pikiran masing-masing tiba-tiba ada suara deringan ponsel milik Vita dari saku celananya membuat mereka kembali dari euforianya.
“Hallo”,ucap Vita sambil berjalan menjauh dari mereka.
“Ada apa?”, tanya Vita dengan menoleh sedikit ke arah keempat pria tersebut.
“Gawat! Lisa memiliki rencana cadangan dalam tahanan rumah sakit jiwa. Sepertinya dia menyembunyikan alat penghubung untuk menjalankan rencana B nya”, seru Gilang dari seberang sana.
“Kamu harus hati -hati. Perasaanku mengatakan ada hal yang buruk akan menimpamu”, imbuh Gilang sambil menggerakkan kursi roda miliknya.
“Dia pasti menjadikanmu kambing hitamnya. Berhati-hatilah”, lanjut Gilang dengan nada khawatir.
“Baiklah makasih atas informasinya dan kekhawatiran kamu. Aku akan atasi masalah ini”, ucap Vita dengan memutuskan sambungan ponselnya.
Vita kembali menghampiri mereka dengan ekspresi normal dan tenang mereka tidak mencurigai dirinya.
“Siapa yang menghubungimu, sweety? “, tanya Lucas dengan menaikkan alis sebelahnya.
“Oh, temanku”, jawab Vita.
“Bagaimana?”, tanya Vita dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Johan.
“Beri aku waktu”, pinta Johan.
“Gak apa-apa, kami gak akan memaksamu menemuinya”, ucap Brian. Vita mengangguk-anggukkan kepala saja sambil memikirkan teman-temannya dalam bahaya termasuk Ana dan sahabat-sahabat Ana lainnya setelah Adele.
Lucas yang sejak tadi memperhatikan Vita dengan gerak gerik gelisah membuatnya ingin bertanya namun dia urungkan terlebih dahulu. Lucas akan menanyakan perihal kegelisahan Lisa saat mereka sedang berdua. Lucas hanya menyalurkan tepukan pada pundak Vita agar gadis kecilnya tenang. Vita menoleh ke arah Lucas lalu mengalihkan pembicaraan Dante.
__ADS_1
“Guys, lebih baik kita cari rencana yang matang dengan berdiskusi bersama Dominic, Leon dan lainnya untuk masalah ini”, ucap Dante.
Mereka mengangguk sebagai tanda setuju. Sebelum pergi meninggalkan rumah sakit jiwa, Lucas memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ketat. Mereka menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti dan melaksanakan perintah dari tuannya.