Loyal And Possesive Mafia Billioner

Loyal And Possesive Mafia Billioner
Episode 13 (Tak sanggup jauh dari Ana)


__ADS_3

Yoora, Minwoo, dan Naeun kembali dari ladang. Mereka masuk ke dalam rumah sambil memanggil halmonie dan mengotak atik isi koper. Halmonie datang membawakan air mineral untuk mereka. Minwoo menuangkan air ke dalam gelas dan diberikan kepada Yoora dann putrinya.


“Halmonie, ini makanan dari siapa?”, tanya Yoora.


“Itu dari adik kalian”, jawab Halmonie.


“Jinwoo?”, tanya Yoora dengan menghembuskan nafas segar setelah meneguk air mineral dingin.


“Iya”, ucap Halmonie.


“Sekarang dia kemana?”, tanya Yoora.


“Dia ada di kamar. Seharusnya mereka sudah selesai membereskan barang-barangnya”, ucap Halmonie.


Tak lama mereka membicarakannya, Jinwoo dan Vita keluar menyapa mereka.


“Anyeonghaseo”.


“Yahh! Siapa yang datang?!”, seru Yoora.


Vita langsung menyapa dan memeluk Yoora.


“Unnie!”, seru Vita.


“Yahh! Jangan peluk-peluk. Aku sedang tidak mood dipeluk olehmu”, seru Yoora.


“Unnie”, seru Vita.


“Unnie..unnie”, dengan memeluk Yoora dan memberikan kecupan di pipinya.


“Kapan kalian datang?”, sela Minwoo.


“Baru”, jawab Jinwoo.


“Wahh.. kalian benar-benar mengejutkan kami”, ucap Naeun.


“Sorry”, ucap Vita duduk di samping Yoora.


“Apakah kalian membawa oleh-oleh untukku?”, tanya Nauen.


“Yahh”, Minwoo memberikan peringatan.


“Ada, sudah aku persiapkan untukmu. Malahan khusus hanya untukmu”, ucap Vita beranjak dari tempat ke kamar mengambil benda yang sejak dulu Naeun inginkan. Vita menyembunyikan barang itu di belakang punggung dan menyuruh Naeun menebak. Lalu Naeun menebak kalau yang dibawa oleh Vita yaitu ponsel versi baru. Vita mengiyakan dan memberikan kepada Naeun. Kemudian Naeun mengucapkan terima kasih dan memberikan kecupan di pipi Vita juga Jinwoo.


“Wahh, apakah kamu menyukainya?”, tanya Yoora.


“Tentu”, seru Naeun dengan membolak balikkan kardus ponsel yang yang masih tersegel.


“Setelah kau dapatkan. Apa yang akan kau lakukan dengan ponsel itu?”, tanya Yoora.


“Tentunya untuk berhubungan dengan kekasihku”, jawab Naeun.


“Yahhh.. siapa ya..yang be..berani memacari pu..putri ayah”, seru Minwoo.

__ADS_1


“Tentunya pria”, jawab Naeun dengan acuh.


“Aku tahu, tapi siapa?”, tanya Minwoo.


“Uhmmm..., cobalah tebak sendiri”, ucap Naeun.


“Sudahlah, kita harus menyiapkan pesta makan-makan”, sela halmonie.


“Baiklah, let’s go”, seru Vita.


Mereka beranjak dari posisi duduk untuk bekerja membuat makan siang.


Sementara di ruang kerja Leon menyibukkan diri mempersiapkan rancangan yang akan dibahas waktu rapat. Leon memilah-milah dokumen hasil kerja karyawan dengan teliti dan tak terasa Leon telah menghabiskan waktu hingga jam makan siang. Leon membereskan semua dokumen lalu memanggil sekretarisnya untuk mempersiapkan ruang rapat. Leon memasuki ruang rapat lebih awal sebelum para karyawan tiba. Leon menatap tajam para karyawan yang memasuki ruang rapat terutama tatapan tajam itu mengarah kepada Ana. Ana merasa kikuk dengan tatapan Leon.


“Apa-apaan tatapan itu untukku. Masa bodohlah. Aku harus segera mengundurkan diri setelah kontrak kerja usai beberapa bulan lagi”, ucap Ana dalam hati.


Leon memulai proses rapatnya. Satu persatu mempresentasikan hasil ide dan pemasaran untuk kelangsungan hidup. Terakhir Ana mempresentasikan hasil ide dari para anggotanya yang telah bekerja keras.


“Di sini saya akan presentasikan hasil ide anggota kami. Dari segi pemasaran produk makanan itu sangat penting apalagi kita menggabungkan makanan cepat saji disediakan dalam resort kita. Itu akan menguntungkan kita. Saya yakin para pengunjung pasti menyukai dan penasaran rasa makanan yang disuguhkan dalam resort meski kita sudah memasarkan di supermaket besar...”, ucap Ana dan Leon menikmati hasil presentasi yang disampaikan oleh Ana. Leon tidak berhenti mengalihkan pandangan di wajah rupa Ana. Leon sungguh tersiksa saat berjauhan dengan kekasihnya.


Ketika Leon tengah melamun Ana telah selesai mempresentasikan ide-idenya bersama anggotanya. Leon kembali ke alam nyata. Leon menambahkan ide di bahan presentasi milik Ana yang sudah di setujui oleh rekan-rekan kerjanya. Lalu mereka membubarkan diri.


Leon menatap punggung Ana dengan tersenyum kecut. Leon mendesah sambil mengusap wajah kasar. Lalu menghubungi sekretarisnya untuk memanggil Ana ke ruang kerjanya. Setelah itu, ia beranjak dari tempatnya ke ruang kerja.


Tak lama Leon menjatuhkan bokongnya tiba-tiba ada suara ketukan dari luar. Leon menyuruh orang tersebut masuk dengan keras. Ana membuka pintu dengan sopan.


“Permisi pak, apakah ada yang ingin bapak sampaikan masalah presentasi tadi?”, tanya Ana di depan meja kerja Leon.


“Bukankah anda sudah menambahkan ide yang harus saya masukkan? Apakah masih ada lagi yang ingin anda tambahkan?”, tanya Ana bertubi.


“Duduklah dahulu”, ucap Leon.


“Pria ini banyak berkelit”, ucap Ana dalam batin.


“Baiklah”, ucap Ana menggeser kursi.


“Saya mau menyampaikan mulai besok kamu saya tempatkan sebagai asisten saya. Membantu dalam pekerjaan saya”, ucap Leon.


“What?!”, terkejut Ana.


“Bukankah anda sudah memiliki asisten yang handal dan membantu anda dalam pekerjaan anda. Lebih-lebih anda memiliki sekretaris yang sudah mampu menangani jadwal kerja anda. Anda tidak perlu menambahkan lagi”, ucap Ana.


Leon sudah beranjak dari tempat duduk sebelum Ana menyadari saat dirinya mengoceh. Leon memutar kursi yang di duduki Ana dan membuat Ana terkejut.


“Apa mau kamu?”, tanya Ana dengan nada marah.


“Ana please, jangan terus menjauh dariku terus”, mohon Leon tanpa perduli pertanyaan Ana dengan nada marah.


“Leon! Kamu jangan kekanakan”, geram Ana.


Leon menunjukkan wajah suram dengan rahang mengeras. Leon lalu memaksa Ana untuk berciuman dengan menekan tengkuknya. Ana tak dapat meronta. Lalu Ana menggigit bibir Leon. Sehingga sudut bibir Leon berdarah.


“Kamu jangan kurang ajar”, geram Ana. Leon malah tersenyum sinis dengan berjalan menjauh dari Ana.

__ADS_1


“Aku tidak perduli yang kamu katakan. Terpenting mulai besok kamu sudah berada di posisi sebagai asistenku. Tidak ada kata membantah. Jika kamu membantah harus membayar royalti yang tertulis dalam kontrak”, ucap Leon memunggungi Ana dengan ekspresi marah.


“Kamu pria egois!”, marah Ana dengan keluar dari ruang kerja milik Leon sambil menutup keras pintu kerja sehingga sekretaris yang berada di dekat ruang kerja Leon memperhatikan. Ana sudah tidak peduli dengan perhatian karyawan di sekitar ruang kerja Leon.


Leon yang masih di ruang kerja masih tersulut emosi sehingga gelas yang ada di gegamannya pecah.


Leon tidak bisa bertahan berjauhan dengan Ana. Leon terus berusaha memperbaiki hubungan meskipun menyakitinya. Sementara Ana tidak bisa menahan amarah dalam dirinya di kamar mandi. Ana menangis dalam diam. Setelah mengeluarkan seluruh emosinya, ia kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang menumpuk. Ana terus fokus bekerja tanpa menghiraukan lainnya. Lisa yang sejak tadi memperhatikan merasa senang dan mengharapkan akan terjadi keributan diantara mereka. Bahkan Lisa berharap hubungan mereka tidak sehat atau saling menyakiti. Bagi Lisa mereka hanya hama untuk di singkirkan.


Lisa menghampiri Ana dengan ekspresi simpati.


“Ana, kamu kenapa?”


“Apakah kamu sudah menyelesaikan masalah pekerjaan kamu kepada bu sofia?”, tanya Ana tanpa memperdulikan pertanyaan yang diajukan oleh Lisa.


“Sudah aku selesaikan dengan baik”, jawab Lisa dengan senyum.


“Sekarang kamu jawab pertanyaan aku. Kenapa ekspresi kamu selalu menekuk?”, tanya Lisa.


“Ahhh”, Ana menghela nafas dan menjawab atas pertanyaan Lisa, “aku tengah tidak habis pikir dengan pria yang begitu egois terhadap masalah dengan kekasihnya. Dia terus memaksakan kehendak yang harusnya tidak boleh dia lakukan. Sebenarnya aku malas membahas ini Lis. Sekarang biarkan aku fokus bekerja”.


“Baiklah”, ucap Lisa dengan menyerah.


Malam nan dingin, Vita bersama keluarga halmonie sedang bersenang-senang pesta malam dengan di sinari rembulan di langit yang begitu nampak. Vita merasakan kebahagiaan di kampung halaman milik halmonie. Begitu juga Jinwoo ikut merasakan bahagia di kampung neneknya yang selama ini tidak ia dapatkan dalam hidupnya yang selalu tertekan karena penekanan dari ibunya.


Jinwoo tersenyum manis di tengah para orang tua paruh baya.


“Jinwoo, ayo ikut bersulang. Jangan melamun. Nanti kekasihmu hilang”, ucap pria paruh baya itu berambut keriting.


“Aigoo, cucumu benar-benar tampan”, ucap nenek itu.


“Tentu, itu bibit yang bagus”, ucap halmonie dengan memukul temannya di paha.


“Vita kamu juga harus ikut bersulang”,tawar Dong Ilkoo.


“Baiklah arrabeoji”, ucap Vita. Ketika Vita menerima minuman itu tiba-tiba Jinwoo merebut dari tangan Vita dan meminumnya sekali teguk membuat para orang tua paruh baya menyalahkan Jinwoo. Jinwoo hanya tersenyum saja. Jinwoo mengambilkan minuman air mineral sambil berkata bahwa Vita alergi terhadap minuman berakohol. Mereka mengerti dan memuji atas pengertian Jinwoo kepada kekasihnya.


Minwoo yang berada di dekat mereka tersenyum apa yang dilakukan sang adiknya terhadap Vita. Minwoo juga memuji Jinwoo namun dalam hati.


“Begitu yang harus kau lakukan. Kamu tidak boleh terkekang oleh kedua orang tua yang membuatmu tak bahagia. Aku akan melindungimu”.


Minwoo mengambil dua teguk minuman tersebut dengan menghembuskan nafas kasar.


Di negara berbeda teman akrab Vita tengah bertengkar dengan kekasihnya yang terus tersulut emosi sehingga Leon merasa frustrasi. Di atas kesedihan mereka ada seseorang menikmati adegan itu.


“Harusnya begitu. Dunia harus memihakku”,kata hatinya dengan senyum jahat yang tak terlihat.


Vita yang berada di Korea tengah menikmati langit malam di teras bersama Jinwoo dengan kepala bersandar di pundak milik Jinwoo.


“Apakah menurutmu malam ini sangat indah?”


“Tentu saja oppa”.


“Semoga hari ini tidak cepat berlalu”, senyum Jinwoo dengan rasa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2